Teori, Model dan Strategi Kognitif dalam pembelajaran

A.    PENDAHULUAN
Setiap anak sebagian berkembang sebagaimana anak-anak lainnya, dan sebagianberkembang dengan cara yang berbeda dengan anak lain. Para psikolog yang mempelajari perkembangan sering lebih tertarik pada karakteristik yang mumnya dimiliki anak-anak. Demikian pula guru yang harus mengelola dan mendidik sekelompok anak yang berumur setara. Perkembangan adalah pola perubahan biologis, kognitif, dan sosioemosional yang dimulai sejak lahir dan terus berlanjut di sepanjang hayat. Kebangakan perkembangan adalah pertumbuhan meskipun pada akhirnya ia mengalami penrunan (kematian).
Teori, Model dan Strategi Kognitif dalam pembelajaran

Pembelajaran menurut aliran kognitif yang menitik beratkan pada pembelajaran aktif adalah pembelajaran melalui interaksi sosial dan belajar berdasarkan pengalaman pribadi. Hal ini di kemukakan oleh Jean Piaget, aliran kognitif berjalan dengan baik pada saat ini dan diterapkan pada kurikulum berbasis tujuan pendidikan yang didalamnya mempunyai aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Jadi siswa di tuntut untuk aktif di dalam kelas, merujuk pada pembelajaran kognitif dimana siswa dapat aktif dalam proses pembelajaran karena guru hanya sebagai fasilitator, sedangkan siswa adalah subjek dari proses pembelajaran

Pembahasan ini sangat penting karena mengingat proses belajar yang terjadi didalam kelas berlangsung dalam proses komunikasi yang berisi pesan-pesan yang
berkaitan dengan fakta, konsep, prinsip dan keterampilan yang sering digunakan dalam sehari-hari. Proses pembelajaran dituntut untuk aktif berpartisipasi. Keaktifan berpartisipasi ini memberikan kesempatan yang luas dalam mengembangkan potensi, bakat yang dimiliki oleh masing-masing siswa. Maka perlu ada kajian mendasar terkait Teori, Model, dan Strategi terkait Kognitif.

B.    PEMBAHASAN
Kognitif pada awalnya adalah aliran psikologi perkembangan. Kognitif adalah kajian studi ilmiah mengenai proses-proses mental atau pikiran. Bagaimana informasi diperoleh, dipresentasikan dan ditransfermasikan sebagai pengetahuan. Psikologi kognitif juga disebut psikologi pemrosesan informasi.
Teori belajar kognitif menekankan pada cara–cara seseorang menggunakan pikiranya untuk belajar, mengingat, dan menggunakan pengetahuan yang telah di peroleh dan disimpan dalam pikiranya secara efektif. Psikologi kognitif menyatakan bahwa perilaku manusia tidak ditentukan oleh stimulus yang berada diluar dirinya, melainkan oleh faktor yang ada pada dirinya sendiri. Faktor-faktor internal itu berupa kemampuan atau potensi yang berfungsi untuk mengenal dunia luar, dan dengan pengenalan itu manusia mampu memberikan respon terhadap stimulus. Berdasarkan pada pandangan tersebut teori belajar psikologi kognitif memandang belajar sebagai proses pefungsian kognisi, terutama unsur pikiran, dengan kata lain bahwa aktivitas belajar pada diri manusia ditekankan pada proses internal dalam pikiran yakni proses pengolahan informasi.
Manusia sebagai makhluk yang aktif berinteraksi dengan lingkungan. Umumnya, setiap orang tidak hanya aktif menerima sesuatu dari lingkungan, melainkan mereka berusaha memberikan perubahan pada lingkungannya. Dalam situasi pembelajaran, seseorang terlibat secara langsung guna memperoleh pemahaman (insight) untuk memecahkan persoalan. Perilaku seseorang tergantung pada pemahaman di mana keseluruhan lebih bermakna dari pada unsur-unsur. Aliran ini menekankan, apa yang dimiliki seseorang tergantung kepada aktivitasnya, mementingkan keseluruhan 
(holistik), kondisi kekinian, serta pembentukan struktur kognitif dan pemahaman

1.    TEORI PSIKOLOGI KOGNITIF
a.    Teori Belajar Gestalt
Teori ini dikembangkan antara lain oleh yaitu Kurt Koffka, Wolfgang Kohler dan Wertheimer. Pengamatan adalah pintu pengembangan kognitif. Beberapa hukum gestalt dalam pengamatan adalah :
1)    Hukum  Pragnanz,  yang  mengatakan  bahwa   organisasi   psikologis selalu cenderung ke arah yang bermakna atau penuh arti (pragnanz).
2)    Hukum kesamaan, yang mengatakan bahwa  hal-hal  yang  sama  cenderung membentuk gestalt (keseluruhan)
3)    Hukum kecenderungan mengatakan bahwa hal hal yang berdekatan cenderung berbentuk gestalt.
4)    Hukum ketertutupan, yang mengatakan bahwa hal-hal yang tertutup cenderung membentuk gestalt.
5)    Hukum    kontinuitas    yang    mengatakan    bahwa    hal-hal    yang berkesinambungan cenderung membentuk gestalt.
Belajar pada hakikatnya adalah melakukan perubahan struktur kognitif. Selain pengamatan, kaum gestalt menekankan bahwa belajar pemahaman merupakan bentuk utama aliran ini. Kondisi pemahaman tergantung pada :
1)    Kemampuan dasar seseorang
2)    Pengalaman masa lampau yang relevan 3) Pengalaman masa lampau yang relevan 4) Pengaturan situasi yang dihadapi
5)    Pemahaman didahului oleh periode mencari atau coba-coba
6)    Adanya pemahaman dalam diri individu menyebabkan pemecahan masalah dapat diulang dengan mudah.
7)    Adanya pemahaman dalam diri individu dapat dipakai menghadapi situasi lain atau transfer dalam belajar.

b.    Teori Belajar Cognitive Field
Teori belajar yang dikembangkan oleh Curt Lewin disebut cognitive field atau teori medan. Lewin menambah unsur baru dari teori belajar gestalt. Menurut Lewin, individu berada dalam suatu medan kekuatan psikologis. Individu bereaksi dengan life space (ruang hidup) yang mencakup perwujudan lingkungan di mana siswa bereaksi dengan orang-orang yang ditemui, objek material yang dihadapi serta fungsi-fungsi kejiwaan yang dimiliki..
Menurut Lewin belajar terjadi akibat adanya perubahan struktur kognitif. Perubahan kognitif adalah hasil dari dua macam kekuatan yaitu struktur medan kognitif dan motivasi internal individu. Beberapa hal baru yang ditambahkan Lewin mengenai belajar.
1)    Belajar adalah pengubahan struktur kognitif
Menurut Lewin , pemecahan masalah dapat terjadi bila struktur kognitif diubah.
2)    Peranan hadiah dan hukuman
Lewin memberi peranan yang cukup besar pada motivasi melalui hadiah dan hukuman, namun keduanya menjadi sarana efektif bila dipakai dengan tepat
3)    Sukses dan Gagal
Pengalaman sukses dan gagal memberi pengaruh kepada individu dalam belajar. Pada umumnya individu yang mencapai sukses akan berusaha belajar lebih maju lagi. Sebaliknya seseorang yang merasa gagal semangat belajarpun menurun.
4)    Taraf Aspirasi
Pengertian aspirasi di sini berkaitan dengan kesuksesan dan kegagalan di atas. Bagi seseorang, prestasi rata-rata sudah dianggap baik sedangkan yang lain tidak demikian.
c.    Teori Belajar Cognitive Developmental
Jean Piaget memandang bahwa proses berfikir sebagai kegiatan bertahap dari fungsi intelektual yang dimulai dari yang konkrit menuju ke abstrak. Teori ini dinamakan cognitive developmental, yang menekankan

bahwa anak-anak membangun secara aktif dunia kognitif mereka; informasi tidak sekadar dituangkan ke dalam pikiran mereka dari lingkungan.
Menurut Piaget inteligensi terdiri dari tiga aspek yaitu :
1)    Struktur yaitu pola prilaku yang dapat diulang untuk menghadapi masalah.
2)    Isi yaitu pola prilaku yang khas ketika individu menghadapi sesuatu masalah
3)    Fungsi yaitu cara seseorang mencapai kemajuan intelektual.

Baca Juga :  Media Pembelajaran Berbasis Visual

Fungsi ini mempunyai dua proses yang mendasari perkembangan dunia individu yakni :
1)    Organisasi, berupa kecakapan seseorang dalam bentuk sistem yang koheren
2)    Ekuilibrasi,    berupa    mekanisme    anak    bergerak    dari    satu    tahap pemikiran ke tahap pemikiran selanjutnya.
Piaget (1954) yakin bahwa kita menyesuaikan diri dalam dua cara yaitu:
1)    Asimilasi    (asimilasion)    terjadi    ketika    individu    menggabungkan informasi baru ke dalam pengetahuan mereka yang sudah ada
2)    Akomodasi (accomodation) terjadi ketika individu menyesuaikan diri dengan informasi yang baru (Santrock, 2007:49).
Jean Piaget juga mengemukakan tiga prinsip utama pembelajaran yaitu : 1) Belajar Aktif

Proses pembelajaran adalah proses aktif, karena pengetahuan terbentuk dari dalam subyek belajar. Untuk membantu perkembangan kognitif anak kepadanya perlu diciptakan suatu kondisi belajar yang memungkinkan anak belajar sendiri, seperti melakukan percobaan, memanipulasi simbol-simbol, mengajukan pertanyaan dan mencari jawabannya sendiri, setelah itu membandingkan dengan miliki temannya.
2)    Belajar Lewat Interaksi sosial
Dalam belajar perlu diciptakan suasana yang dimungkinkan terjadi interaksi di antara subjek belajar. Piaget percaya bahwa belajar bersama, baik diantara sesama, anak-anak, maupun dengan orang dewasa akan membantu perkembangan kognitif mereka. Dengan adanya interaksi sosial dengan lingkunganya siswa akan mengetahui keadaan yang sebenarnya di masyarakat, dengan demikian akan dapat mengembangkan kognitif anak.
3)    Belajar Lewat Pengalaman Sendiri
Perkembangan kognitif anak akan lebih berarti apabila didasarkan pada pengalaman nyata dari siswa tersebut. Melalui pengalaman yang sudah ada di lingkunagnya, siswa dapat menghubungkan materi yang diberikan kepadanya, dan pengetahuan sendiri yang koheren.
Menurut Piaget, intelegen (IQ=kecerdasan) adalah seperti system kehidupan lainnya, yaitu proses adaptasi. Menurut Piaget ada tiga perbedaan cara berfikir yang merupakan prasyarat perkekembangan operasi formal, yaitu; gerakan bayi, semilogika, praoprasional pikiran anak-anak, dan operasi nyata    anak-anak    dewasa. Ada empat faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif yaitu :
1)    Lingkungan fisik 2) Kematangan
3)    Pengaruh sosial
4)    Proses pengendalian diri (Equilibration) (Piaget, 1977)
Untuk Tahap perkembangan kognitif terjadi dalam urutan empat tahap yaitu: 1) Tahap sensorimotor: dari kelahiran sampai umur 2 tahun (bayi membangun pemahaman tentang dunia dengan mengoordinasikan

pengalaman indrawi dengan gerakan dan mendapatkan pemahaman akan objek permanen.
2)    Tahap pra-operasional: umur 2-7 tahun (anak memahami realitas di lingkungan dengan menggunakan fungsi simbolis (simbol-simbol) atau tanda-tanda dan pemikiran intuitif. Keterbatasannya adalah egosentrisme, animisme, dan centration. Ciri-ciri berpikirnya tidak sistematis, tidak konsisten, dan tidak logis
3)    Tahap operasional konkrit: umur 7-11/12 tahun (anak sudah cukup matang untuk menggunakan pemikiran logika atau operasi, tetapi hanya untuk objek fisik yang ada saat ini. Dalam tahap ini, anak telah hilang kecenderungannya terhadap animism dan articialisme
4)    Tahap operasional formal: umur 12 tahun ke atas (anak sudah dapat menggunakan operasi-operasi konkritnya untuk membentuk operasi yang lebih kompleks, ciri pokok perkembangannya adalah hipotesis, abstrak, deduktif dan induktif serta logis dan probabilitas (Ibda, F, 2015: 36-37).
Setiap tahap dimasuki ketika otak kita sudah cukup matang untuk memungkinkan logika jenis baru atau operasi. (Matt Jarvis, 2011:148). .Pada intinya pembelajaran aliran kognitif ini memiliki asumsi – asumsi yaitu :
1)    Aliran ini melihat pembelajaran sebagai suatu proses internal yang melibatkan ingatan, pemikiran, refleksi, abstraksi, motivasi, dan metakognisi.
2)    Aliran ini memahami pentingnya perbedaan individu dan mencakup keragaman strategi belajar
Dalam belajar, seseorang perlu diberi suatu bidang yang belum diketahui agar siswa dapat belajar, karena siswa tidak dapat belajar hanya dari apa yang sudah diketahuinya saja akan tetapi harus ada ketiga prinsip yang dikemukakan oleh jean piaget. Daerah baru yang belum diketahui akan mendorong seseorang mengadakan kegiatan belajar atau melakukan akomodasi . Situasi itulah yang akan mempermudah pertumbuhan kognitif individu. Kunci dari keberhasilan pembelajaran adalah guru harus memfasilitasi agar pembelajar dapat mengembangkan berpikir logis.

Baca Juga :  Keberhasilan Pembelajaran

Tingkah laku seseorang didasarkan pada tindakan mengenal/memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi. Prinsip dasar psikologi kognitif yaitu :
1)    Belajar aktif
2)    Belajar lewat interaksi sosial
3)    Belajar lewat pengalaman sendiri

d.    Teori Kognitif Sosial Bandura
Social Cognitif theory menyatakan bahwa faktor sosial dan kognitif, dan juga faktor perilaku memainkan peranan penting dalam pembelajaran. Faktor kognitif mungkin berupa ekspektasi murid untuk meraih keberhasilan; faktor sosial mungkin mencakup pengamatan murid terhadap perilaku orang tuanya.
Albert Bandura (1986, 1997, 2000, 2001) adalah salah satu arsitek utama teori kognitif sosial. Dia mengatakan bahwa ketika murid belajar, mereka dapat mempresentasikan atau mentransformasi pengalaman mereka secara kognitif. Ingat bahwa dalam pengkodisian peran, hubungan terjadi hanya antara pengalaman lingkungan dengan perilaku. Bandura mengembangkan model determinisme resiprokal yang terdiri dari tiga faktor utama: perilaku, person/kognitif, dan lingkungan.

Faktor-faktor ini bisa saling berinteraksi unuk mempengaruhi pembelajaran: faktor lingkungan mempengaruhi perilaku, perilaku mempengaruhi lingkungan, faktor person (orang/kognitif) mempengaruhi perilaku dan sebagainya. Bandura menggunakan istilah person, kita memodifikasinya menjadi person (cognitive) karena banyak faktor orang yang dideskripsikannya adalah faktor kognitif. Faktor person Bandura yang tak punya kecenderungan kognitif adalah pembawaan personalitas dan tempramen.
Dalam model pembelajaran Bandura, faktor person (kognitif) memainkan peran penting. Faktor person (kognitif) yang ditekankan Bandura (1997, 2001) pada masa sekarang adalah self-efficacy, yakni keyakinan bahwa seseorang bisa menguasai situasi dan menghasilkan hasil positif. Bandura mengatakan bahwa self-efficacy berpengaruh besar terhadap perilaku. Misalnya seorang murid yang self-efficacy rendah mungkin tidak mau berusaha belajar untuk mengerjakan ujian karena dia tidak percaya bahwa belajar akan bisa membantunya mengerjakan soal. (Santrock, 2007:285-286)

e.    Teori Metakognisi
Metakognisi adalah kogisi tentang kognisi atau “mengetahui tentang mengetahui” (Flavel, 1999; Flavel, Miller, & Miller, 2002, Santrock, 2007: 340). Metakognisi mengacu pada pengontrolan kesadaran yang disengaja pada aktifitas kognitif (Brown, 1980; Matlin, 2009; Schunk, 2012: 400). Aktifitas metakognisi terjadi saat murid secara sadar mengetahui dan mengelola strategi pemikiran mereka pada saat memecahkan masalah dan memikirkan sesuatu tujuan.
Terdiri dari dua rangkaian kemampuan yang berhubungan
1)    Orang-orang harus paham kemampuan, strategi, dan sumber apa yang dibutuhkan dalam sebuah tugas. Caranya adalah
a)    Menemukan ide pokok,
b)    Melatih informasi,
c)    Membentu asosiasi atau gambaran
d)    Menggunakan teknik mengingat
e)    Mengorganusir materi
f)    Mencatat dan menggaris bawahi, dan
g)    Menggunakan teknik uji coba.
2)    Setiap orang harus tahu bagaimana dan kapan menggunakan kemampuan- kemampuan dan strategi tersebut untuk memastikan agar tugas bisa diselesaikan dengan sempurna. Aktifitas pengawasan ini mencakup
a)    Pengecekan tingkat pemahaman
b)    Memprediksi hasil
c)    Mengevaluasi keefektifan usaha
d)    Merencanakan kegiatan
e)    Memutuskan bagaimana mengatur waktu
f)    Merevisi atau mengganti dengan kegiatan yang lain untuk mengatasi kesulitan
Metakognisi berkembang perlahan, kemampuan metakognisi berkembang sekitar usia 5 hingga 7 tahun dan berlanjut ketika anak disekolah, meski terdapat keberagaman.
2.    Model Kognitif
a. Proses pemodelan
Pemodelan (modeling) adalah sebuah komponen yang sangat penting dalam teori kognitif sosial mengacu pada perubahan-perubahan perilaku, kognitif, dan afektif yang diperoleh dari mengamati satu atau lebih model (Rosenthal & Bandura 1978; Schnuk, 1987, 1998; Zimmerman, 1977; Schunk, 2012: 168) Dulu pemodelan disamakan dengan peniruan tetap pemodelan adalah konsep yang luas cakupannya.
1)    Peniruan
Sepanjang sejarah orang memandang peniruan sebagai sebuah sarana penting dalam meneruskan perilaku-perilaku pada orang lain (Rosenthal & Zimmerman, 1978).
a) Pemasilitasan respon
b)    Hambatan dan penghilangan hambatan
c)    Pembelajaran observasional
Pembelaaran observasional melalui pemodelan terjadi ketika pengamat menunjukkan pola-pola perilaku baru, yang ketika belum dihadapkan pada perilaku-perilaku model probabililtas keadiannya nol, bahkan motivasinya tinggi (Bandura, 1969). Mekanisme pokok dari pembelajaran ini adalah informasi tentang cara-cara menghasilkan perilaku yang baru disampaikan oleh model kepada pengamat. Pembelajaran observasional terdiri dari  empat proses;
a)    Perhatian
b)    Pemertahanan
c)    Produksi
d)    Motivasi
2)    Pembelajaran keterampilan kognitif
Gambaran-gambaran yang dimodelkan dari keterampilan konitif merupakan karakteristik-karakteristik standar dalam kelas. Dalam rangkaian pelajaran pada umumnya seorang guru menerangkan dan mendemonstrasikan keterampilan-keterampilan yang harus dipelajari siswa, dan setelah itu mengecek apakah siswanya telah memahami apa yang diajarkannya.
3)    Keterampilan pembelajaran motorik
Merupakan cara membangun sebuah model mental yang memberikan representasi konseptual dari keterampilan untuk menghasilkan respond an berperan sebagai standar untu respon-respon perbaikan yang diberikan setelah umpan balik diterima (Bandura, 1986; McCullgh, 1993; Weiss, Ebbeck, & Wiese-DuskBjornstal ,1993).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran dan praktik. Mengamati model tidak menjamin terjadinya pembelajaran atau menjamin bahwa perilaku-perilaku yang dipelajari akan dipraktikkan dilain kesempatan. Beberapa faktor mempenaruhi pembelajaran melalui pengamatan dan mempengaruhi praktik dari perilaku yang dipelajarai,

Baca Juga :  Strategi Dan Metode Pembelajaran Matematika Yang Efektif Bagi Siswa Mi Al Hikmah Kalidawir

3.    Strategi Kognitif
Menurut Pressley (McCormick & Pressley, 1997; Pressley 1983) kunci pendidian adalah membantu murid mempelajari serangkaian strategi yang dapat menghasilkan solusi problem. Pemikir yang baik juga tau kapan dan dimana mesti menggunakan strategi (pengetahuan metakognitif tentang strategi). Memahami kapan dan dimana mesti menggunakan strategi kerap muncul dari aktifitas moitoring yang dilakukan murid terhadap situasi pembelajarannya.
Mempelajari cara mempelajari strategi secara efektif sering kali membutuhkan waktu. Pada awalnya dibutuhkan waktu untuk belajar melaksanakan strategi dan dibutuhkan pedoman dan bimbingan dari guru. Dengan latihan murid belajar melaksanakan strategi secara lebih cepat dan kompeten. Untuk menjalankan strategi secara efektif mereka perlu menyimpan strategi itu dalam memori jangka panjangnya, dan latihan yang ekstensif dan dimotifasi untuk melakukan strategi tersebut.
Penerapan strategi metakognisi dalam memecahkan soal matematika, selama pelajaran matematika, guru membimbing anak yang kurang pandai untuk belajar mengetahui kapan mereka tidak tahu makna dari satu kata, tidak memiliki informasi tentang pemecahan masalah, tidak tahu cara membagi masalah menjadi

langkah-langkah spesifik, atau tidak tau cara melakukan perhitungan. Setelah memberi pelajaran ini, murid yang diberi training metakognitif tersebut diharapkan akan mendapatkan nilai matemaika yanglebih baik dan mempunyai sikap yang lebih baik terhadap matematika.

C.    PENUTUP
Psikologi kognitif adalah kajian studi ilmiah mengenai proses-proses mental atau pikiran. Bagaimana informasi diperoleh, dipresentasikan dan ditransfermasikan sebagai pengetahuan. Psikologi kognitif juga disebut psikologi pemrosesan informasi. Jean Piaget memandang bahwa proses berfikir sebagai kegiatan bertahap dari fungsi intelektual yang dimulai dari yang konkrit menuju ke abstrak. Teori ini dinamakan cognitive developmental, yang menekankan bahwa anak-anak membangun secara aktif dunia kognitif mereka; informasi tidak sekadar dituangkan ke dalam pikiran mereka dari lingkungan. Bandura mengatakan bahwa ketika murid belajar, mereka dapat mempresentasikan atau mentransformasi pengalaman mereka secara kognitif. Ingat bahwa dalam pengkodisian peran, hubungan terjadi hanya antara pengalaman lingkungan dengan perilaku.
Pada tahapam permodelan kognitif sering disamakan dengan peniruan tetapi pemodelan kognitif adalah konsep yang luas cakupannya meiputi peniruan, pembelajaran keterampilan kognitif, dan keterampilan pembelajaran motoric.
Mempelajari cara mempelajari strategi secara efektif sering kali membutuhkan waktu. Pada awalnya dibutuhkan waktu untuk belajar melaksanakan strategi dan dibutuhkan pedoman dan bimbingan dari guru. Dengan latihan murid belajar melaksanakan strategi secara lebih cepat dan kompeten.

DAFTAR PUSTAKA

Ibda, Fatimah. 2015. Perkembangan Kognitif: Teori Jean Piaget. Jurnal Intektualita, vol 5 no 1, (2015) 27-38.

Matt, Jarvis. 2011. Teori-Teori Psikologi. Bandung: Nusa Media.

Santrock, John W. 2002. Life-Span Development Perkembangan Masa Hidup. Jakarta: Erlangga.

Santrock, John W. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Schunk, Dale H. 2012. Learning Theories an Educational Perspective. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Zhang, Jie. 2016. Same text different processing? Exploring how raters’cognitive and meta-cognitive strategies influence ratingaccuracy in essay scoring. Jurnal Personal and Individual Difference 105 (2016) 95-106.

Tags: