Strategi Dalam Mengatasi Tindakan Bullying di Sekolah

Pendidikan merupakan salah satu infrastruktur vital dalam membangun peradaban dan kemajuan suatu bangsa. Dalam artian, maju atau tidaknya suatu bangsa ataupun negara sangat bergantung terhadap proses pendidikan yang berjalan didalamnya. Maka, dalam konteks ini perkembangan dan pembangunan dari sektor pendidikan menjadi nilai yang sangat penting, karena pondasi sebuah bangsa terletak pada sektor pendidikannya. Begitupun dengan Bangsa Indonesia, meskipun terbilang negara berkembang, Indonesia sangat menomersatukan pendidikan. Seperti bunyi penggalan kalimat pada alinea ke-empat Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi ”… mencerdaskan kehidupan bangsa” yang merupakan sebuah harapan leluhur bangsa Indonesia dalam memajukan pendidikan. Namun, sebuah harapan tidak mungkin terwujud begitu saja, banyak rintangan dan permasalahan yang harus dilalui. Salah satunya tindak bullying di lingkungan lembaga pendidikan atau sekolah.

https://www.edukasikita.web.id/2019/11/strategi-dalam-mengatasi-tindakan.html

Timbulnya tindak bullying terjadi karena berbagai macam hal, kepribadian seorang anak timbul dari setiap apa mereka lihat dan dengarkan, seperti yang kita ketahui di usia anak-anak, khususnya di usia Sekolah Dasar, umumnya belum bersifat mandiri, belum ada rasa tanggung jawab pribadi, serta belum bisa berpikir secara kritis sehingga anak usia Sekolah Dasar yang menjadi pelaku tindak bullying tidak memiliki dukungan dan rasa peduli yang diajarkan oleh orang dewasa. Sehingga mereka pelaku bullying menganggap apa yang ia lakukan sah-sah saja. Orangtua mungkin tidak tahu apa saja yang dilakukan anaknya ketika disekolah. Padahal yang dilakukan oleh anaknya merusak psikis korban yang notabennya teman sekolah pelaku. Bullying tidak memilih umur atau jenis kelamin korban. Seorang korban umumnya adalah seseorang yang lemah, pemalu, pendiam dan spesial (cacat, tertutup, pandai, cantik, atau  punya  diri  tubuh  tertentu),  yang memicu hal tersebut menjadi  bahan ejekan

Maka dari itu bullying harus dihindari dan diantisipasi karena bullying menimbulkan berbagai dampak, seperti korbannya berpikir untuk tidak berangkat ke sekolah karena di sekolahnya ia akan dibully oleh si pelaku. Dan kemungkinan terburuk, bullying juga mengakibatkan efek bullying yang berlangsung seumur hidup berupa kurangnya percaya diri pada diri korban dalam bergaul dengan lingkungannya, karena luka psikis yang masih membekas bertahun-tahun setelah tindak bullying yang menimpanya.

Baca Juga :  Menanamkan Nilai-Nilai Karakter Pada Anak Usia Dini

PEMBAHASAN
Setiap individu memerlukan interaksi dengan manusia lain, yang kemudian muncul sebutan manusia adalah makhluk sosial. Bertumbuhnya manusia membuat ia semakin mengenal lingkungannya, sosialisasi yang dihadapi oleh individu semakin luas. Perilaku setiap individu yang ditemuinya semakin beragam, banyak individu berperilaku baik di Bumi, sebaliknya perilaku burukpun pasti pernah ditemui setiap individu, salah satunya bullying.

Bullying adalah tindakan penggunaan kekuasaan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang baik secara verbal, fisik, maupun psikologis sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tak berdaya3. Saat ini, bullying sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Pelaku bullying disebut dengan bully. Bully sendiri tidak memandang gender atau usia target, namun saat ini sedang marak tindakan bullying di lingkungan anak-anak, terutama sekolah.

Perilaku tidak terpuji berupa bullying ini masih terjadi di beberapa sekolah. Praktik bullying di sekolah bisa kita sebut dengan school bullying. School bullying

Merupakan sifat buruk berupa agresif dan negative dari seseorang atau sekelompok orang yang terjadi secara berulang kali yang menyalahgunakan ketidakseimbangan kekuatan dengan tujuan menyakiti targetnya yang disebut korban, dilakukan secara mental maupun fisik yang dilakukan di lingkungan sekolah4. Berikut beberapa faktor penyebab adanya bullying;

  • Ekonomi, agama, gender, adanya rasisme
  • Tradisi senioritas.
  • Keluarga yang tidak rukun.
  • Situasi sekolah yang tidak harmonis atau diskriminatif.
  • Karakter individu/kelompok seperti dendam atau iri hati, adanya semangat ingin menguasai korban dengan kekuatan fisik

Berbagai macam faktor penyebab anak menjadi bully, diantaranya yaitu, karena mereka pernah menjadi korban bullying, ingin menunjukkan eksistensi diri, ingin diakui, pengaruh tayangan TV yang negatif, senioritas, menutupi kekurangan diri, mencari perhatian, balas dendam, dan iseng.6  Pada masanya, remaja memiliki keinginan untuk tidak lagi tergantung pada keluarganya dan mulai mencari dukungan dan rasa aman dari kelompok sebayanya.7 Selain itu, peran orang tua tentu sangat berpengaruh terhadap perilaku peserta didik khususnya seorang bully. Contohnya Orang tua yang biasa menggoda anaknya sering kali tidak sadar telah membuat anak menjadi kesal. Dan ketika anak memohon kepada orang tua untuk tidak menggoda mereka, orangtua malah semakin senang telah berhasil membuat anaknya kesal atau malu, seorang anak akan meniru perilaku semacam ini kepada teman sebayanya yang secara langsung mengakibatkan adanya bullying

Baca Juga :  Lunturnya Budaya Sopan Santun Peserta Didik Kelas Vi Mi Islamiyah Banjarsari Buduran Sidoarjo

Permasalahan apapun pasti memiliki dampak bagi pelaku ataupun korban begitu pula dampak bullying bagi siswa di sekolah. Oleh karena itu gejala-gejala dampak bullying perlu diketahui guru ketika di sekolah yang diantaranya yaitu, mengurung diri (school phobia), menangis, minta pindah sekolah, konsenterasi anak berkurang, prestasi belajar menurun, tidak mau bermain/bersosialisasi, suka membawa barang-barang tertentu (sesuai yang diminta “bully”), anak jadi penakut, marah-marah, gelisah, menangis, berbohong, melakukan perilaku bullying terhadap orang lain, memar, tidak bersemangat, menjadi pendiam, mudah sensitif, menjadi rendah diri, menyendiri, menjadi kasar dan dendam, ngompol, berkeringat dingin, tidak percaya diri, mudah cemas, cengeng(untuk yang masih kecil), mimpi burukdan mudah tersinggung

Berbagai macam upaya guru dalam menangani tindak bullying, sebagai seorang guru hadapilah pelaku bullying dengan sabar dan jangan menyudutkannya dengan pertanyaan yang interogatif. Guru mengajak sang pelaku bullying untuk merasakan perasaan sang korban saat menerima perlakuan bullying, tumbuhkan empatinya. Angkatlah kelebihan atau bakat sang pelaku bullying dibidang yang positif yang kita ketahui, usahakanbuntuk mengalihkan energinya pada bidang yang positif. Kita mungkin bisa pelan-pelan mengajak sang pelaku bullying membantu korban bullying mengatasi kelemahan dan kekurangannya. Pelaku bullying seperti halnya anak-anak lain, memerlukan perhatian dan kepercayaan orang dewasa bahwa Guru dapat mengatasi perilaku bullying dimulai dengan menanamkan praktik yang dinamakan peer support, yaitu dengan menunjuk beberapa siswa yang berpotensi menjadi sahabat untuk mendampingi teman-temannya yang potensial untuk di-bully dan perlu pendampingan. Sistem ini hadir atas kesadaran bahwa anak- anak cenderung lebih terbuka berbagi rasa dengan teman sebayanya dibanding dengan guru. Selain itu, seorang wali kelas sebaiknya dapat bersifat konseling bagi siswa yang membutuhkan bantuan, khususnya pada masalah bullying. Bila terdapat masalah yang sulit diatasi wali kelas maka diperlukan kerja sama dengan pihak orang tua, mengundang orang tua di sekolah dan mengajaknya berdiskusi. Tidak untuk saling menyudutkan satu sama lain, melainkan bekerja sama dalam rangka mencari titik tengah dari permasalahan yang sedang dihadapi. Mereka akan lebih tersentuh untuk berubah bila kita menunjukkan kekuatan-kekuatan keluhuran kita untuk mempengaruhi mereka.11

Baca Juga :  Pentingnya Zikir Untuk Pengendalian Emosi

PENUTUP
Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa setiap siswa tidak hanya belajar disekolah, mereka juga bersosialisasi dengan teman dan orang-orang di lingkungan tempat ia belajar. Perilaku setiap individu yang ditemui-pun beragam, beragam pula masalah yang ditemui, salah satunya school bullying. Dalam mengatasi perilaku bullying guru harus mampu mengendalikan permasalahan yang terjadi di dalam kelas. Guru dan juga sebagai wali kelas memiliki peran ganda juga sebagai guru BK, sehingga siswa tak sungkan menceritakan pengalaman buruknya, dan segera menindaklanjuti agar masalah segera terselesaikan dan tidak terulang.

Saran
Bicaralah dengan bully dan cobalah cari tahu mengapa mereka merasa perlu berperilaku seperti itu. Cari tahu apa yang mengganggu mereka atau apa yang memicu tingkah laku tersebut. Hendaknya seorang guru memberikan pengertian terhadap murid dan wali murid tentang bullying, sehingga bullying tidak terjadi di lingkungan sekolah maupun rumah, karena bullying memberikan dampak negatif pada masa depan siswa.

DAFTAR PUSTAKA
Ardy Wiyani, Novan. 2012. Save Our Children From School Bullying, Jogja: Ar- Ruzz Media.
Astuti, Ponny Retno. 2008. Meredam Bullying: 3 Cara Efektif Menanggulangi Kekerasan pada Anak. Jakarta: PT Grasindo
Coloroso, Barbara. 2007. Stop Bullying Memutus Rantai Kekerasan Anak dari Prasekolah Hingga SMU. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
Eka, Yustina. 2012. Anakku Peniru Paling Luar Biasa. Sinar Ilmu
R,    Djuwita.    2007.    Bullying:    Kekerasan    Terselubung    di    Sekolah,
http://www.anakku.net, diakses 14 Juni 2019
Sejiwa. 2008. Bullying : Mengatasi Kekerasan di Sekolah dan Lingkungan Sekitar Anak. Jakarta: PT. Grasindo.

Tags: