Fungsi Filsafat Ilmu dalam Pengembangan Pendidikan

Filsafat  mempunyai kedudukan sentral atau pokok di dalam ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia. Karena filsafat pada awalnya merupakan satu-satunya usaha manusia di bidang kerohanian untuk mencapai kebenaran pengetahuan (Djumransah, 2006: 13). Tidak setiap orang perlu mengetahui filsafat, namun jika orang merasa perlu berpartisipasi dalam membangun dunia perlu mengetahui filsafat. Mengapa? Karena dunia dibangun oleh dua kekuatan: agama dan filsafat (Ahmad Tafsir, 2009: 89).
https://www.edukasikita.web.id/2019/11/fungsi-filsafat-ilmu-dalam-pengembangan.html

Filsafat selain sebagai kumpulan teori pemikiran, ia juga sebagai metode pemecahan masalah dan pandangan hidup. Teori-teori filsafat sangat diperlukan karena dunia dibentuk oleh teori-teori itu. Filsafat sebagai metodologi digunakan sebagai cara memecahkan masalah secara mendalam dan universal, karena ia mencari sebab terakhir dan dari sudut pandang seluas-luasnya. Filsafat sebagai pandangan hidup sama dengan agama dalam hal keduanya mempengaruhi sikap dan tindakan penganutnya.

Secara khusus, pada dasarnya filsafat sangat terkait dengan berbagai persoalan kehidupan manusia termasuk masalah pengembangan pendidikan. Mengingat masih terjadi berbagai masalah pendidikan yang selalu timbul dari zaman ke zaman, baik mulai dari permasalahan kurikulum, standarisasi pendidikan, perluasan akses pendidikan, kualitas sumber daya, proses pembelajaran, peningkatan mutu, pengembangan kelembagaan, bahkan kepemimpinan dan manajerialnya.

Lebih dari itu, para ahli telah menyoroti bahwa pelaksanaan pendidikan saai ini kurang bertolak dari atau belum dibangun oleh landasan filosofis yang kokoh, sehingga berimplikasi pada kekaburan dan ketidakjelasan arah dan jalannya pelaksanaan pendidikan itu sendiri. Abdurrahman mengemukakan bahwa pelaksanaan pendidikan saat ini berjalan daktis-metodis. Bukhori juga berkesimpulan bahwa pendidikan saat ini mulai kehilangan jati diri. Berbagai keprihatinan tersebut merupakan indikasi mengenai pentingnya konstruksi filsafat dalam pendidikan, karena bagaimanapun “filsafat bukanlah penyelidikan yang terpisah dan ekslusif, tetapi justru merupakan bagian dari kehidupan manusia dan pendidikan” (Muhaimin, 2004: 29) .

Baca Juga :  Guru pada era revolusi industri 4.0

Sebagai sistem sosial, pendidikan memiliki fungsi dan peran dalam perubahan masyarakat menuju ke arah perbaikan dalam segala aspek. Dalam hal ini pendidikan memiliki dua karakter secara umum. Pertama, melaksanakan peranan fungsi dan harapan untuk mencapai tujuan dari sebuah sistem. Kedua, mengenali individu yang berbeda-beda dalam peserta didik yang memiliki kepribadian dan disposisi kebutuhan, kemudian sebagai agen perubahan yakni berfungsi sebagai alat pengembangan pribadi, pengembangan warga, pengembangan budaya, dan pengembangan bangsa (Oemar Hamalik, 2005: 23).

Maka melihat beberapa fenomena permasalahan yang terjadi dan peran pentingnya pendidikan tersebut di atas, menuntut adanya pemikiran tentang pengembangan pendidikan dalam berbagai jenis dan bentuknya. Sehingga filsafat sebagai salah satu metodologi pemikiran yang sistematis, mendalam, logis, universal, dan radikal, memiliki fungsi untuk mengarahkan dan memberikan pemecahan terhadap persoalan-persoalan yang dialami pendidikan.

Arah dan fungsi filsafat mengarah pada proses mencari kebenaran yang substantif-esensial, juga bisa mempersatukan rasio, empirik, dan tuntutan in action, lebih luas filsafat mengejar tuntutan kebenaran kesejahteraan dan mempertinggi martabat manusia, selain itu ia juga sebagai pengembangan wawasan transdicipline yaitu memahami obyek formal, sistematika, dan metode berbagai cabang ilmu. Dengan pehamaman transdicipliner yang semakin meluas memungkinkan manusia untuk memiliki kemampuan cross discipline yaitu mampu membahasakan ilmu lain menjadi pengembangan disiplin ilmunya sendiri (Noeng Muhadjir, 2006: 4).

Al-Syaibany secara khusus menjelaskan bahwa filsafat dalam kaitannya dengan pendidikan memiliki fungsi untuk membantu para perencana dan pelaksana pendidikan membentuk suatu pemikiran yang sehat tentang pendidikan, upaya menentukan berbagai kebijakan pendidikan, upaya menilai keberhasilan pendidikan, upaya pemberian pemikiran pendidikan dalam hubungannya dengan masalah spiritual, kebudayaan, sosial, ekonomi, dan politik, serta menjadi sandaran intelektual praksis pendidikan (Toto Suharto, 2006: 51).

Baca Juga :  Manfaat Multimedia dalam Representasi Konsep Kimia

Pendapat lain dari Noor Syam yang menukil pendapsat Brubacher mengemukakan bahwa filsafat dalam pendidikan memiliki empat fungsi, yaitu; (1) fungsi spekulatif  yang menekankan bahwa filsafat berusaha memahami berbagai persoalan pendidikan, merumuskannya, dan mencari hubungannya dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya; (2) fungsi normatif sebagai penentu arah dan pedoman untuk menentukan tujuan, norma dan nilai yang akan dibina; (3) fungsi kritik yang memberi dasar bagi pengertian kritis-rasional dalam mempertimbangkan dan menafsirkan data-data ilmiah pendidikan; (4) fungsi teori yang memberikan ide, konsepsi, analisis, dan berbagai teori bagi upaya pelaksanaan pendidikan (Toto Suharto,  2006: 52).

Pada intinya, filsafat ilmu merupakan pegangan dan pedoman yang dapat dijadikan landasan filosofis bagi pelaksanaan dan pengembangan pendidikan dalam rangka menghasilkan generasi baru yang maju dan berkualitas. Pendidikan berkepentingan untuk membangun filsafat hidup agar bisa dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari yang baik, teratur dan terarah. Begitulah fungsi filsafat ilmu dalam pengembangan pendidikan, yang mana filsafat memberikan sumbangan berupa kesadaran menyeluruh tentang asal mula, eksistensi, dan tujuan pendidikan. Tanpa filsafat pendidikan tidak bisa dan tidak tahu harus berbuat apa. Sebaliknya tanpa pendidikan filsafat tetap akan berada dalam dunia utopianya.

Tags: