Game dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Menurut Ernest Adams dan Andrew Rollings: 2007, dalam buku Fundamentals of game design, game merupakan salah satu jenis kegiatan bermain dengan pemainnya berusaha meraih tujuan dari game tersebut dengan melakukan aksi sesuai aturan dari game tersebut. Sedangkan Education game adalah game yang khusus dirancang untuk mengajarkan user suatu pembelajaran tertentu, pengembangan konsep dan pemahaman dan membimbing mereka dalam melatih kemampuan mereka, serta memotivasi mereka untuk memainkannya (Hurd: 2009). Artinya ketika anak bermain game dengan tema “Diriku”, maka anak akan melakukan apa yang sudah mereka amati selama bermain didalam kehidupan nyata.

https://www.edukasikita.web.id/2019/11/game-dalam-pendidikan-anak-usia-dini.html

Masa anak usia dini adalah masa Bermain, dimana anak sering melakukan Game/ Permainan dan akhirnya anak meniru perilaku yang mereka amati selama mereka bermain.
Dalam Theoretical Framework di jurnal internasional dengan judul Development of a personalized educational computer game based on students’ learning styles, By: Gwo-Jen Hwang, Han-Yu Sung, Chun-Ming Hung, Iwen Huang, Chin-Chung Tsai. 2012, menerangkan bahwa dalam pengembangan game ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya meliputi:

  1. Educational computer games (Pendidikan game computer).
  2. Learning styles and adaptive learning (Gaya belajar dan pembelajaran adaptif).
  3. Personalized educational computer game based on Students Learning Styles (Pembuatan pendidikan permainan komputer berdasarkan Gaya Belajar Siswa).

Berdasarkan dari teori diatas, maka pengembangan game yang dilakukan berdasarkan pada gaya belajar siswa, siswa pada jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) gaya belajarnya identik pada sebuah permainan. Pada saat ini anak sering menggunakan game dalam kesehariannya, maka desain game yang akan digunakan dalam penerapan pendidikan karakter menggunakan game berbasis android yang mudah digunakan oleh anak dalam bermain.

Pengertian Bermain Menurut Triharso (2013) Pendekatan Pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

Menurut Sunar (2007), melalui bermain anak bisa mencapai perkembangan fisik, intelektual, emosi, dan sosial. Secara tidak sadar pula anak telah melatih kekuatan, keseimbangan, dan melatih kemampuan motoriknya. Terapi bermain untuk penyandang autis merupakan suatu usaha mengoptimalkan kemampuan fisik, intelektual, emosi, dan sosial anak. Dan untuk pengembangan kekuatan otot, motorik, meningkatkan ketahanan organ tubuh bagian dalam, mencegah dan memperbaiki sikap tubuh yang kurang baik. Ketika anak bermain, dia akan mempelajari dan menyerap segala sesuatu yng terjadi di lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, perencanaan dan persiapan lingkungan belajar anak harus dirancang dengan seksama sehingga segala sesuatu dapat menjadi kesempatan belajar yang sangat menyenangkan.

Baca Juga :  Pendidikan Moral Harus Diterapkan Sedini Mungkin

Selanjutnya dalam penelitian yang berjudul “Gender differences in game activity preferences of middle school children: implications for educational game design” By: Mable B. Kinzie. Dolly R. D. Joseph Department of Leadership, Foundations & Policy, Curry School of EducationUniversity of Virginia Charlottes ville USA Peabody School Charlottes ville USA:  International Journal of Educational Technology Research and Development: ISSN: 1042-1629 (Print) 1556-6501 (Online), menjelaskan tentang metode yang digunakan dalam pengembangan game yaitu meliputi
1)    Survey development (survey pengembangan)
2)    Demographics and game play behavior (Demografi dan perilaku bermain game)
3)    Character, setting, and help preferences (Karakter, pengaturan, dan bantuan preferensi)
4)    Primary preferences for activity mode (preferensi utama untuk mode aktivitas)
5)    Activity mode attitudes
6)    Participants and procedures
7)    Data analysis.

Metode tersebut bisa digunakan sebagai rujukan dalam pengembangan game berbasis android pada anak usia dini untuk penerapan pendidikan karakter pada anak. 
Teori Cognitive-Developmental dari Jean Piaget, mengungkapkan bahwa bermain mampu mengaktifkan otak anak, mengintegrasikan fungsi belahan otak kanan dan kiri secara seimbang dan membentuk struktur syaraf, serta mengembangkan pilar-pilar syaraf pemahaman yang berguna untuk masa datang. Salah satu cara anak mendapatkan informasi adalah melalui bermain. Bermain memberikan motivasi instrinsik pada anak yang dimunculkan melalui emosi positif. Emosi positif yang terlihat dari rasa ingin tahu anak meningkatkan motivasi instrinsik anak untuk belajar. Hal itu ditunjukkan dengan perhatian anak terhadap tugas. Emosi negative seperti rasa takut, intimidasi dan stress, secara umum merusak motivasi anak untuk belajar.

Penanaman Pendidikan karakter pada anak usia dini dalam tema “Diriku” melalui game merupakan bagian dari education game, sedangkan educational game memiliki kriteria. Berikut ini adalah beberapa kriteria dari education game (Hurd: 2009) yaitu:

  • Nilai Keseluruhan (Overall Value) Nilai keseluruhan dari suatu game terpusat pada desain dan panjang durasi game. Aplikasi ini dibangun dengan desain yang menarik dan interaktif. Untuk penentuan panjang durasi, aplikasi ini menggunakan fitur timer.
  • Dapat Digunakan (Usability) Mudah digunakan dan diakses adalah poin penting bagi pembuat game. Aplikasi ini merancang sistem dengan interface yang user friendly sehingga user dengan mudah dapat mengakses aplikasi.
  • Keakuratan (Accuracy) Keakuratan diartikan sebagai bagaimana kesuksesan model/gambaran sebuah game dapat dituangkan ke dalam percobaan atau perancangannya. Perancangan aplikasi ini harus sesuai dengan model game pada tahap perencanaan.
  • Kesesuaian (Appropriateness) Kesesuaian dapat diartikan bagaimana isi dan desain game dapat diadaptasikan terhadap keperluan user dengan baik. Aplikasi ini menyediakan menu dan fitur yang diperlukan user untuk membantu pemahaman user dalam menggunakan aplikasi
Baca Juga :  Erick Thohir Dan Gebrakannya

Kriteria diatas mengarahkan pada produksi game yang akan digunakan dalam pendidikan khususnya pembelajaran bagi anak usia dini berjalan dengan baik. Pembelajaran yang baik harus mengoptimalkan permainan game dalam proses kegiatan pembelajaran, Karena anak bermain game dapat memiliki rasa ingin tahu yang besar, mampu berpikir fleksibel dan kreatif, hal itu merupakan indikasi umum anak sudah memiliki keinginan untuk belajar.

Konseptualisasi bermain game, belajar, dan belajar game dalam jurnal Designing and integrating purposeful learning in game play: a systematic review, By: Fengfeng, 2015, mengajarkan dasar bagaimana bermain game dengan mudah dan bisa dimanfaatkan dalam kegitan pembelajaran. Konsep tersebut terdiri dari:

  • Play and learning in games (Bermain dan belajar game),
  • Learning games (pembelajaran game),
  • Game mechanics, narrative, and corresponding genres of learning games (permainan mekanik, narasi, dan genre yang sesuai pembelajaran bermain)

Secara tidak langsung bermain sangat berpengaruh terhadap keberhasilan anak untuk belajar dan mencapai kesuksesan tujuan pembelajaran. Hal ini sesuai dengan teori bermain yang dikemukakan oleh James Sully, bahwa bermain berkait erat dengan rasa senang pada saat melakukan kegiatan (Mayke S Tedjasaputra; 2001). Oleh Karena itu, cara yang dapat mengoptimalkan penerapan pendidikan karakter pada anak sejak dini adalah melalui Game/ Permainan.

Tags: