Proses Berpikir Dalam Pembelajaran Sains

Banyak saintis berpendapat bahwa siswa tidak dapat diharapkan untuk mengkonstruk gagasan entitas ilmiah melalui penyelidikan bebas dan tidak dimediasi diskusi dengan sesamanya, karena siswa merupakan pemula dalam masyarakat ilmiah. Guru sains dan penerbit buku teks seyogyanya me”match”kan cara-cara sehari-hari dengan cara-cara ilmiah untuk memahami suatu fenomena dalam merancang dan memilih materi pembelajaran, merancang unit-unit kurikulum dan memilih strategi pembelajaran.

https://www.edukasikita.web.id/2019/11/proses-berpikir-dalam-pembelajaran-sains.html

Sains merupakan suatu cara bertanya dan menjawab pertanyaan tentang aspek fisis jagat raya. Sains tidak sekedar suatu kumpulan fakta atau kumpulan jawaban tentang pertanyaan, namun lebih merupakan suatu proses melakukan dialog berkelanjutan dengan lingkungan fisik sekitarnya.  Saintis dengan keahlian khusus, secara umum memiliki bahasa, metode-metode dan kebiasaan berpikir (habits of mind) untuk mengkonstruk penjelasan tentang alam. Pengetahuan ini kadanga-kadang terpisah bahkan bertentangan dengan  cara mencari tahu yang biasa. Sains memiliki peran untuk melakukan pilihan. Pengetahuan ilmiah sebagai suatu pengetahuan disiplin, dikonstruk secara identik dan secara simbolik di alam. Penalaran ilmiah ditandai dengan formulasi teoritis yang eksplisit yang dapat dikomunikasikan dan diuji dengan bukti-bukti yang mendukung.

Hanya sedikit pakar pendidikan sains yang akan tidak menyetujui bahwa tujuan pembelajaran seyogyanya mempromosikan pemahaman tentang proses inkuiri dan “domain specific scientific concepts’’ daripada menghafal konsep, fakta dan algoritma (Aulls & Shore, 2008). Memorisasi dengan bantuan akumulasi fakta, konsep dan algoritma yang lambat, tidak akan menggantikan belajar bagaimana menggunakan pengetahuan dengan cara menghubungkannya untuk menginterpretasi gejala alam, dan menggeneralisasi konsep sains yang baru kepada siswa, solusi pada masalah sains yang baru bagi siswa, dan dalam suatu disiplin untuk menghasilkan konsep ilmiah atau teori baru.

Esensi dari hakikat sains adalah inkuiri itu sendiri. Inkuiri dalam pembelajaran sains dapat berperan sebagai metode, sebagai pendekatan, sebagai model pembelajaran, sebagai ”tools” untuk mengembangkan keperibadian dengan nilai-nilai dan sikap ilmiah tercakup di dalamnya, bahkan sebagai kemampuan yang perlu dikembangkan dan diukur perolehannya (Rustaman, et al., 2007; Rustaman, 2010). Hubungan antar komponen sains dengan inkuiri digambarkan seperti gambar 1.

Pembelajaran sains yang Hand-on dan Minds-on
Pembelajaran sains sejak kurikulum 1975 hingga kurikulum berbasis kompetensi meminta siswa mengembangkan kemampuannya melalui penggunaan metode ilmiah, kegiatan praktikum, pendekatan keterampilan proses, pelaksanaan eksperimen, inkuiri dan pendekatan yang lainnya, termasuk pendekatan konsep. Hal itu menunjukkan dengan jelas bahwa pembelajaran sains hendaknya melibatkan penggunaan tangan dan alat atau manipulatif. Pendekatan konsep yang ditekankan terus menerus tidak dimaksudkan dengan memberikan konsep dalam bentuk yang sudah jadi. Dengan rumusan konsep berupa working definition yang memberikan batas kedalaman dan keluasannya, dimaksudkan agar pembelajaran sains di lapangan tidak diberikan dalam bentuk definisi. Tidak terjadi proses berpikir apabila siswa belajar sains dengan mendapat definisinya langsung.

Baca Juga :  Contoh RPP Satu Lembar Untuk SD MI Terbaru 2020 Sesuai Surat Kemendikbud No 14 Tahun 2019

Pendekatan konsep yang didampingi dengan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran sains dimaksudkan agar siswa mengalami berinteraksi dengan obyek, gejala alam atau peristiwa alam, baik secara langsung ataupun dengan alat bantu yang ada. Setelah faktanya didapatkan, siswa diajak mendata dan mengelompokkannya, mencatatnya dalam bentuk tampilan yang komunikatif (tabel, diagram, bagan, grafik) agar dapat dimaknai dengan cara menginterpretasikannya, menemukan keteraturan atau polanya untuk selanjutnya membuat dugaan berupa prediksi dan hipotesis. Pengujian prediksi dan hipotesis dapat dilakukan di dalam atau di luar kelas, bahkan dapat dilaksanakan di luar jam pelajaran.  Pembelajaran yang demikianlah yang dimaksudkan dengan pembelajaran yang hands-on dan minds-on.  Pada pelaksanaannya keterkaitan antara mind dengan kegiatan manipulatif tidak selalu terjadi. Siswa melakukan kegiatan pengamatan atau praktikum secara motorik. Alat-alat inderanya tidak difungsikan secara optimal, jawaban yang dianggap benar adalah yang tertulis di dalam buku pelajaran. Verifikasi konsep, prinsip, hukum atau teori tidak terjadi dalam kegiatan-kegiatan yang hands-on. Kegiatan yang memerlukan waktu, tenaga dan biaya tak sedikit tersebut menjadi kurang bermakna.

Kegiatan demikian menjadi lebih-lebih tidak dirasakan manfaatnya oleh siswa yang belajar sains, karena sistem pengujian yang hanya mengukur penguasaan konsep (sesung-guhnya hanya pengetahuan atau definisi-definisi). Pencapaian anak-anak Indonesia dalam tiga periode TIMSS (Trend of International Mathematics and Science Study) berturut-turut (1999, 2003, 2007) selalu berada di papan bawah, begitu pula perolehan anak-anak Indonesia tentang Scientific Literacy dalam PISA (Performance for International Student Assessment) selama beberapa periode (tahun 2000, 2003, 2006, 2009). Pencapaian anak-anak Indonesia dalam olimpiade fisika internasional hanya makin memperkuat keyakinan para pemikir pendidikan sains bahwa pembelajaran sains perlu didudukkan pada porsi seharusnya, pada hakekat Sains dan hakekat pendidikan sainsnya.

Tags: