Contoh Laporan Mini Research Di Min Jejeran Bantul

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Pendidkan sebagai usaha sadar dan terencana menunjukan bahwa pendidikan adalah sebuah proses yang sengaja dan dipikirkan secara matang, oleh karena itu disetiap level manapun kegiatan pendidikan harus disadari dan direncanakan baik dalam tataran nasional atau regional/  provensi, kota, kabupaten dan desa.

Laporan Contoh Laporan Mini Research

Dalam pendidikan sendiri sebenarnya sudah ada proses pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar berkembang dan tumbuh menjadi manusia yang mandiri, bertanggungjawab, kreatif, berilmu, sehat, dan berakhlak mulia baik dilihat dari aspek jasmani maupun ruhani terutama kurikulum KTSP yang saat ini dilaksanakan di lembaga pendidikan. Manusia yang berakhlak mulia, yang memiliki moralitas tinggi sangat dituntut untuk dibentuk atau dibangun. Bangsa Indonesia tidak hanya sekedar memancarkan kemilau pentingnya pendidikan, melainkan bagaimana bangsa Indonesia mampu merealisasikan konsep pendidikan dengan cara pembinaan, pelatihan dan pemberdayaan SDM Indonesia secara berkelanjutan dan merata. Hal ini sejalan dengan Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah“… agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Proses pendidikan merupakan hasil kesatuan teori yang telah dikaji dari ilmu pendidikan yang bersifat praksis. Ilmu pendidikan tidak dapat dipelajari dibangku sekolah, tanpa peserta didik dan pendidik, tanpa tujuan pendidikan dan kebijakan pendidikan .

Dari permaslah diatas penulis ingin mengetahui implikasi di lapangan dari undang-undang tersebut. Penulis mengambil semple yaitu di Lembaga Pendidikan MIN Jejeran Bantul Yogyakarta, ternyata dari hasil mini research tersebut menemukan beberapa program unggulan, pengembangan dari siswa, lingkungan pendidikan,  suasana sekolahan dan lain-lain yang belum banyak di temukan oleh penulis.

Dari mini research tersebut penulis ingin fokus pada manajemen guru walaupun banyak penemuan yang didapat dilembaga tersebut seperti yang telah disinggung diatas.

A.    Rumusan Masalah
Dalam bab selanjutnya penulis akan memaparkan pembahas:
1.    Biografi MIN Jejeran Bantul?
2.    Bagaimana manajemen Guru dalam MIN Jejeran Bantul?
3.    Bagamana manajemen konflik di MIN Jejeran Bantul?

BAB II
Penmbahasan

A.    Biografi MIN Jejeran Bantul
Madrasah ini terletak di lingkungan masyarakat yang berbasis pondok pesantren dengan kultur religiusitas yang cukup tinggi yaitu Desa Wonokromo Kecamatan Pleret Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Maaf, kata ’istimewa’ tidak disingkat karena mengandung maksud nyengkuyung perjuangan Keistimewaan Yogyakarta) (Lihat peta pada lampiran). MINejer didirikan pada tahun 1928 oleh para Kyai dan ulama terutama KH. Muhyiddin, KH. Ridwan dan KH. Hisyam yang pada awal mulanya bernama Madrasah Diniyah Salafiyah. Latar berdirinya lembaga pendidikan ini tentunya tidak dapat dipisahkan dari berkembangnya ide-ide pembaharuan pemikiran di kalangan umat Islam ketika itu. Sebagaimana yang dikemuakakan Karel A. Steenbrink (1986:2723) ide-ide tersebut karena keinginan umat Islam berpegang teguh pada al-Qur’an dan al-Hadits serta menolak taqlid.

Untuk menuju ke arah itu, maka yang diperbaiki adalah lembaga pendidikan. Langkah ini –di samping karena kebanyakan umat Islam belum puas terhadap organisasi yang telah ada– diambil karena kebanyakan lembaga pendidikan masih menggunakan metode tradisional dalam memperlajari agama Islam.

Sumber yang lain menyebutkan bahwa didirikannya Madrasah Diniyah Salafiyah juga dilatarbelakangi dorongan rasa nasionalisme untuk melakukan perlawanan terhadap penguasa kolonial Belanda. Di samping itu, tentu saja untuk memberikan kesempatan belajar bagi anak-anak bangsa, sekalipun kurikulumnya masih sebatas ”nderek kyai”.

Dalam merespon kemajuan zaman, maka pada tahun 1950 Madrasah Diniyah Salafiyah yang menjadi cikal-bakal MIN Jejeran mulai memperbaharui kurikulumnya. Langkah pertama diambil dengan jalan memasukkan pelajaran umum seperti berhitung, olahraga, kesenian dan laian-lain sebagaimana yang ada pada madrasah umum pada saat itu.

Langkah kedua yang ditempuh pada tahun itu juga adalah merubah nama Madrasah Diniyah Salafiyah menjadi Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah. Di bawah pengelolaan Dewan Penyantun yang dipimpin K.H. R. Ridha Jalal dan dibantu oleh K.H. Zahid Ridwan madrasah ini terus mengayuh perjalanan juangnya dengan menyantuni siswa yang kebanyakan dari keluarga kurang dan tidak mampu.

Baca Juga :  Contoh Laporan Studi Lapangan ; Organisasi Pondok Modern Darussalam Gontor

Keadaan ikni berlangsung hingga tahun 1963. mulai tahun tersebut, Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah Jejeran memasuki era baru dengan menggunakan kurikulum yang disusun Departemen Agama RI.
Keputusan ini untuk memenuhi Peraturan Kementrian Agama RI nomor 1 tahun 1946 dan nomor 7 tahun 1950, bahwa madrasah adalah lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan 70% ilmu pengetahuan agama Islam dan 30% ilmu pengetahuan umum serta tunduk pada perundangan yang berlaku.
Selanjutnya, dalam upaya memperkuat eksistensi madrasah, atas ketulusan pengelola dan didukung oleh Dewan Penyantun, maka pada tahun 1963 Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah Jejeran diusulkan menjadi madrasah negeri. Sejak saat itu diberlakukanlah uji kelayakan untuk menjadi madrasah negeri.

Uji kelayakan ini berlangsung hingga tahun 1967 sampai akhirnya madrasah ini ditetapkan menjadi MI percobaan Negeri. Setelh masa percobaan ini berjalan dengan baik dan dapat diterima, maka pada tanggal 31 Januari 1968 keluarlah SK menteri Agama RI nomor 14 1968 yang menetapkan bahwa Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah Jejeran menjadi Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Jejeran, dengan kurikulum sepenuhnya mengacu pada kurikulum yang dikeluarkan Departemen Agama. Perlu juga diketahui bahwa saat ini Madrasah Ibtidaiyah Negeri Jejeran lebih dikenal dengan ”MINejer” yang dalam perkembangannya kemudian dinegerikan pada tahun 1967.
1.    Visi
Terwujudnya madrasah berwawasan lingkungan yang modern religius dan sehat
2.    Misi
a.    Menyiapkan generasi yang cerdas, sehat, santun taat beribadah dan peduli lingkungan.
b.    Menyelenggarakan pendidikan yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan yang berwawasan lingkungan;
c.    Memanfaatkan teknologi sebagai pendukung proses pembelajaran
d.    Menggalang kerjasaman dengan semua fihak meningkatkan mutu warga sekolah

3.    Tenaga Guru dan Karyawan
Sumber daya manusia di MIN Jejeran terdiri dari : 1 orang Kepala Madrasah, 20 orang guru yang 8 orang diantaranya telah tersertifikasi, 2 kandidat sertifikasi, 3 orang sarjana, dan 6 orang dalam pendidikan S 1. Di samping itu MIN Jejeran juga memiliki 1 orang bendahara rutin, 2 orang staf Tata Usaha, 1 orang pegawai perpustakaan,3 orang guru pendampingan, 1 orang cleaning servise, 1 orang penjaga malam dan 1 orang satpam. Dengan demikian jumlah SDM di MIN Jejeran adalah 31 orang.

4.    Materi Pembelajaran
MIN Jejeran adalah sekolah dasar plus, artinya kurikulum yang berlaku di MIN Jejeran sama dengan kurikulum yang berlaku di tingkat sekolah dasar di tambah kurikulum Pendidikan Agama Islam dari Depertemen Agama. Materi pembelajaran di MIN Jejeran mengacu pada KTSP 2006 ditambah dengan materi pembelajaran berdasarkan kurikulum Pendidikan Agama Islam dari Departemen Agama.

B.    Manajemen Guru dalam MIN Jejeran Bantul
Pada saat ini terdapat beberapa permasalahan pada manajemen guru di setiap lembaga pendidikan, diantaranya:
1)    Guru kurang profesional dalam mengajar
2)    Guru mendapat tugas lain selain mengajar dan mendidik
3)    Guru kurang memenuhi kompetensi yang telah ditetapkan
4)    Kreatifitas guru kurang
5)    Dll

Dari berbagai masalah tersebut maka menimbulkan akibat dan masalah baru, diantaranya:
1)    Asal-asalan dalam mengajar dan tidak disiplin
2)    Guru tidak fokus pada tugas dan kewajiban mengajar karena mendapat beban lain
3)    Tidak bisa menjalankan tugas secara maksimal tidak berkembang dan tidak mempunyai inovasi
4)    Monoton dalam pembelajaran
Pada saat ini eksistensi guru sudah hila
ng, adanya guru tidak lepas dari fungsi guru tersebut. Sebagaimana yang telah diterangkan dalam filsafat Eksistensialisme bahwasanya terciptanya sesuatu itu tidak lepas dari fungsi dari sesuatu itu . Ini kemungkinan kecil pada saat ini kenapa moral siswa pada saat ini berbelok arah dari apa yang telah diharapkan pada undang-undang SISDIKNAS no. 20 tahun 2003 yaitu tujuan dan fungsi pendidikan.

Dari hasil mini research di lapangan penulis mengambil data dengan menggunakan wawancara dan dokumentasi oleh pihak sekolah dan lingkungan sekolahan. Pertanyaan yang penulis tanyakan klepada sekolah adalah:
1.    Berapa jumlah guru dalam lembaga pendidikan (MIN Jejeran Bantul)?
Jawaban atas pertanyaan diatas adalah merata dari mulai S1, S2, PGSD dan PGMI tetapi ada juga yang belum S1 tetapi karena guru tersebut merupakan produk lama maka untuk saat ini Kepala Sekolah menganjurkan kepada para Guru untuk mengambil S1.
2.    SDM guru yang terdapat di MIN Jejeran terdiri dari lulusan apa saja?

Baca Juga :  Contoh Laporan Studi Lapangan ; Manajemen Mutu Pendidikan di Pondok Pesantren

Jawaban atas pertanyaan ini adalah sebagaimana dalam visi dan misi lembaga ini maka seorang guru harus mampu melaksanakan visi misi tersebut terutama dalam kelas. Guru kelas dituntut harus bisa menggantikan jam mata pelajaran yang dari berbagai mata pelajaran walaupu pada kuliah bukan bidangnya. Selain itu guru di lembaga tersebut juga memberikan les tambahan tetapi dalam les tambahan ini tidak diwajibkan karena jam dari les tambahan ini diluar waktu sekolah.
Praktek dari les tambahan ini adalah ketika jam sekolah sudah selesai seorang murid dibebaskan bermain dilingkungan sekolah sampai sore sebelum siswa pulang kerumahnya. Pada saat bermain disekolah inilah guru memberikan les tambahan kepada murid mulai dari mengerjakan PR dan memberikan materi yang belum difahami oleh siswa.
Desain dari sekolah walaupun sangat sempit dalam ukuran sekolah negeri tetapi desain dari lembaga ini membuat siswa betah berlama-lama di sekolah bahkan pulang sekolah siswa sudah bersih kerena sudah mandi disekolah.

Sebenarnya dalam kajian pendidikan karakter sudah disinggung tentang bagaiman karakter siswa bisa terbentuk yaitu seorang pendidik harus malakukan:
(1)    Menunjukkan nilai-nilai moralitas bagi anak-anaknya.
(2)    Memiliki kedekatan emosional kepada anak dengan menunjukkan rasa kasih sayang.
(3)    Memberikan lingkungan atau suasana yang kondusif bagi pengembangan karakter anak.
(4)    perlu mengajak anak-anaknya untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, misalnya dengan beribadah secara rutin.
Berangkat dengan upaya-upaya yang pendidik lakukan sebagaimana disebut di atas, diharapkan akan tumbuh dan berkembang karakter kepribadian yang memiliki kemampuan unggul di antaranya: (1) karakter mandiri dan unggul, (2) komitmen pada kemandirian dan kebebasan, (3) konflik bukan potensi laten, melainkan situasi monumental dan lokal, (4) signifikansi Bhinneka Tunggal Ika, dan (5) mencegah agar stratifikasi sosial identik dengan perbedaan etnik dan agama.

C.    Manajemen konflik di MIN Jejeran Bantul
a.    Definisi Konflik
Menurut kamus ilmiah popular konflik adalah pertentangan paham, pertikaian, persengketaan, perselisihan.
Ditinjau dari akar katanya istilah konflik berasal dari kata con-figere, atau conficium yang artinya benturan menunjuk pada semua bentuk benturan, tabrakan, ketidaksesuaian, pertentangan, perkelahian, oposisi, dan interaksi-interaksi yang bersifat antagonis. Sementara Milles dalam Sulistyorini menjelaskan bahwa istilah konflik menunjuk pada suatu kondisi dimana dua kelompok tidak mampu mencapai tujuan-tujuan mereka secara simultan. Dalam hal ini perbedaan dalam tujuan merupakan penyebab munculnya konflik.

Konflik organisasi (organizational conflict) adalah ketidak sesuaian antara dua atau lebih anggota-anggota atau kelompok-kelompok organisasi yang timbul karena adanya kenyataan bahwa mereka harus membagi sumber daya-sumber daya yang terbatas atau kegiatan-kegiatan kerja atau karena kenyataan bahwa mereka mempunyai perbedaan status, tujuan, nilai atau persepsi.
Sedangkan Prof.Winardi mengartikan konflik sebagai adanya oposisi atau pertentangan pendapat antara orang-orang, kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi.
R. Wayne Pace dan Done F. Faules mengutip Frost dan Wilmot mendifinisikan konflik sebagai suatu “perjuangan yang diekspresikan antara sekurang-kurangnya dua pihak yang saling tergantung, yang mempersepsi tujuan-tujuan yang tidak sepadan, imbalan yang langka dan gangguan dari pihak lain dalam mencapai tujuan mereka.

b.    Penyebab Konflik
Konflik dapat terjadi karena setiap pihak atau salah satu pihak merasa dirugikan, baik secara material maupun nonmaterial. Untuk mencegahnya, harus dipelaji penyebabnya, antara lain sebagi berikut:
1.    Perbedaan pendapat
Konflik dapat terjadi karena perbedaan pendapat dan masing-masing merasa paling benar. Jika perbedaan pendapat ini meruncing dan mencuat ke permukaan, maka dapat menimbulkan ketegangan.
2.    Salah paham.
Konflik dapat terjadi karena salah paham (misunderstanding), misalnya tindakan seseorang mungking tujuannya baik, tetapi dianggap merugikan oleh pihak lain. Kesalah pahaman ini akan menimbulkan rasa kurang nyaman, kurang simpati, dan kebencian.

3.    Salah satu atau kedua pihak merasa dirugikan
Konflik dapat terjadi karena tindakan salah satu pihak mungkin di anggap merugikan yang lain atau masing-masing pihak merasa dirugikan. Pihak yang dirugikan merasa kesal, kurang nyaman, kurang simpati atau benci. Perasaan-perasaan ini dapat menimbulkan konflik yang mengakibatkan kerugian baik secara materi, moral, maupun sosial.

Baca Juga :  Laporan Mini Riset Manajemen Pembelajaran AUD

4.    Terlalu sensitif
Konflik dapat terjadi karena terlalu sensitif, mungkin tindakan seseorang adalah wajar, tetapi karena pihak lain terlalu sensitive maka dianggap merugikan, dan menimbulkan konflik, walaupun secara etika tindakan ini tidak termasuk perbuatan yang salah.
Adapun jenis-jenis konflik dapat digolongkan sebagai berikut.
a.    Konflik dalam diri individu.
Konflik yang terjadi bila seorang individu menghadapi ketidak pastian tentang pekerjaan yang dia harapkan untuk melaksanakannya, bila berbagai permintaan pekerjaan saling bertentangan, atau bila individu diharapkan untuk melakukan lebih dari kemampuannya.
b.    Konflik antar individu dalam organisasi yang sama
Konflik yang terjadi dimana hal ini sering diakibatkan oleh perbedaab-perbedaan kepribadian. Konflik ini juga berasal dari adanya konflik antar peranan (seperti antara manajer dan bawahan)
c.    Konflik antara individu dan kelompok..
Konflik yang berhubungan denga cara individu menanggapi tekanan untuk keseragaman yang dipaksakan oleh kelompok kerja mereka.
d.    Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama.
Konflik yang terjaadi karena terjadi pertentangan kepentingan antar kelompok.

e.    Konflik antar organisasi.
Konflik yang timbul sebagai akibat bentuk pesaingan ekonomi dalam system perekonomian suatu Negara, konflik ini telah mengarah perkembangan produk baru, teknologi, dan jasa, harga-harga lebih rendah, dan penggunaan sumber daya lebih efisien.
Diatas merupakan teori dari manajemen konflik dan berbagai macam timbulnya konflik disuatu lembaga atau organisasi. Dalam Lembaga Pendidikan MIN Jejeran Bantul terkait dengan manajemen konflik dilembaga gtersebut sepertinya sudah terselesaikan, buktinya dilihat dari manajemen sekolah yang sangat bagus dan program-program di embaga tersebut sangat maju, begitupun sebaliknya ketika konflik diantara guru itu tidak terselesaikan maka manajemen guru yang terdapat di lembaga tersebut akan tidak teratur.

BAB III
Kesimpulan
Walaupun dari letak lembaga MIN Jejeran Bantul bisa dikatan jau dari perkotaan tetapi pembelajaran dan lain sebagainya tidak kalah dengan Lembaga pendidikan di Perkotaan. Dalamaspek guru pun lembaga ini ternyata sangat bagus dalam manajemen guru. Profesionalisme guru di lembaga ini sangat dijunjung tinggi bahkan jadwal masuk guru sebelum siswa datang kesekolah.
Dari hasil wawancara yang telah dilakukan oleh penulis dapat disimpulkan bahwasanya isu-isu yang gencar saat ini dalam lembaga pendidikan adalah kurangnya guru dalam mengisi mata pelajaran dilembaga pendidikan. Untuk mengatasi ini MIN Jejeren Bantul mengatasi dengan tugas dualisme guru kelas yang mana tugas guru kelas tidak hanya mengajar satu mata pelajaran tetapi harus bisa mengajar dari mata pelajaran yang kosong ketika guru pengajar tidak masuk. Tidak hanya itu saja seorang guru juga mamberikan les tambahan kepada siswa diluar jam sekolah.
Dari tenaga guru dilembaga tersebut juga merata dari mulai S1, S2, PGMI, dan PGSD. Karena guru dilembaga ini merupakan produk lama maka kepala sekolah memberikan kebijakan target lulusan dari guru belum S1 maka harus S1.

Daftar Pustaka

H.A.R Tilaar, dan nuggroho, Riant, Kebijakan Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka pelajar
Megawangi, Ratna, 2004, Pendidikan Karakter; Solusi yang tepat untuk Membangun Bangsa, Bogor:Balai Pustaka
Baca Eksistensialisme dan Humanisme: Jean Paul sarter, Eksistensialisme dan Humanisme dari judul asli: Existentialisme and Humanisme Methuen & Co. Ltd. London 1960. Alih bahasa: yudi Murtanto, Yogyakarta, Pustaka pelajar
E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Professional;Dalam Konteks Menyukseskan MBS dan KBK (Bandung:Remaja Rosdakarya,2005).
Imam Moedjiono, Kepemimpinan dan Keorganisasian (Yogyakarta:UII Press,2002)
Jalal dan Supriadi. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah, 2001, Yogyakarta: Adicita Karya Nusa
Jalal dan Supriadi. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah, 2001, Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.
Hasil dokumentasi dan wawancara di MIN Jejeran Batul
Pius A Partanto & M.Dahlan Al Barry,Kamus Ilmiah Popular (Surabaya:Arkola,1994).
Sulistyorini,Manajemen Pendidikan Islam;Konsep,Strategi dan Aplikasi (Yogyakarta:Teras,2009)

Tags: