Contoh Laporan Studi Lapangan ; Organisasi Pondok Modern Darussalam Gontor

Manajemen merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia, yakni sebagai sarana pokok bagi kehidupan umat manusia dalam meningkatkan dan mengoptimalkan sumber daya manusia untuk mencapai suatu tujuan yang diharapkan.

Sehingga dapat digarisbawahi bahwasannya manajemen merupakan suatu aktifitas untuk menggerakkan orang lain atau suatu kegiatan memimpin atas dasar suatu tujuan yang telah ditentukan.1 Sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Johnson bahwasnya manajemen merupakan suatu proses mengintegrasikan sumber-sumber yang tidak berhubungan menjadi sistem total untuk menyelesaikan suatu tujuan, yang dimaksud dengan sumber-sumber tersebut meliputi orang-orang, alat-alat, media bahan, uang dan sarana yang mana kesemuanya itu diarahkan dan dikoordinasikan agar terpusat dalam rangka menyelesaikan tujuan2.

Atas dasar diatas, pelaksanaan manajamen merupakan suatu keharusan yang harus dilakukan dalam organisasi terlebih lagi dilembaga pendidikan pesantren karena dengan adanya manajemen yang baik akan menghasilkan output yang baik pula. Lembaga pendidikan pesantren merupakan lembaga pendidikan islam yang mengintegrasikan seluruh pusat pendidikan, pendidikan pesantren bersifat total, mencakup seluruh bidang kecakapan anak didik; baik spiritual (spiritual quotient), intelektual (intellectual quotient), maupun moral-emosional (emotional quotient). Untuk itu, lingkungan pesantren secara keseluruhannya adalah lingkungan yang dirancang untuk kepentingan pendidikan. Sehingga segala yang didengar, dilihat, dirasakan, dikerjakan, dan dialami para santri, bahkan juga

seluruh penghuni pesantren, semua aktifitas yang ada dilingkungan pesantren dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dengan cara ini pesantren telah mewujudkan sebuah masyarakat belajar yang kini dikenal dengan istilah learning society, dalam pelaksanaannya tidak akan berjalan maksimal tanpa adanya manajemen organisasi pesantren yang baik.

Dalam khazanah pengembangan manajemen organisasi pendidikan pesantren di era milineum ini, Pondok Modern Darussalam Gontor dengan totalitas pendidikannya telah mengukir sejarah dengan banyaknya alumni yang berkiprah di dunia nasional bahkan internasional.

Kemajuan pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor tidak akan lepas dari peran dan fungsi pimpinannya dalam memanaje organisasi pendidikan yang dikelonya, diantaranya adalah Dr KH. Abdullah Syukri Zarkasyi M.A,  beliau menaruh perhatian besar terhadap pelaksanaan manajemen organisasi pendidikan pesantren, dalam pandangan beliau, pimpinan pondok bukanlah birokrat, bukan penjabat administrasi melainkan harus menjadi sosok pendidik dan uswah.

Pemimpin pesantren harus memahami peran dan fungsi pemimpin baik sebagai leader, manajer, administrator, supervisor, mativator, inovator dan evaluator karena pimpinan pondok adalah kyai yang mengatur, mengendalikan, menggerakkan dan menggiatkan keseluruhan totalitas organisasi pondok baik dalam maupun luar dan malaksanakan kontrol dalam tatanan kehidupan pondok secara rapi, rapet dan rapat.

A.    Sejarah Pondok Modern

Pondok Gontor didirikan pada 10 April 1926 di Ponorogo, Jawa Timur oleh tiga bersaudara putra Kiyai Santoso Anom Besari. Tiga bersaudara ini adalah KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi yang  kemudian dikenal dengan istilah Trimurti.

Pada masa itu pesantren ditempatkan di luar garis modernisasi, para santri pesantren oleh masyarakat dianggap pintar soal agama tetapi buta akan pengetahuan umum. Trimurti kemudian menerapkan format baru dan mendirikan Pondok Gontor dengan mempertahankan sebagian tradisi pesantren salaf dan mengubah metode pengajaran pesantren yang menggunakan sistem watonan (massal) dan sorogan (individu) diganti dengan sistem klasik seperti sekolah umum. Pada awalnya Pondok Gontor hanya memiliki Tarbiyatul  Atfhfal (setingkat taman kanak-kanak) lalu meningkat dengan didirikannya Kulliyatul Mu’alimin Al-Islamiah (KMI) tahun 1936 yang setara dengan lulusan sekolah menengah. Pada tahun 1963 Pondok Gontor mendirikan Institut Studi Islam Darussalam (ISID).

Pesantren Gontor dikelola oleh Badan Wakaf yang beranggotakan tokoh- tokoh alumni pesantren dan tokoh yang peduli Islam sebagai penentu Kebijakan Pesantren dan untuk pelaksanaannya dijalankan oleh tiga orang Pimpinan Pondok (Kiyai) yaitu KH Hasan Abdullah Sahal (Putra KH Ahmad Sahal). Dr. KH Abdullah Syukri Zarkasy (putra KH Imam Zarkasyi) dan KH Syamsul Hadi Abdan,S.Ag. Tradisi pengelolaan oleh tiga pengasuh ini, melanjutkan pola Trimurti (Pendiri).

Pandangan Modern KH Ahmad Sahal, sebagai Pendiri tertua dari Trimurti dan kedua adiknya yaitu KH Zainudin Fanani dan KH Imam Zarkasy diwujudkan pula dalam menyekolahkan putra-putrinya selain di sekolah agama (pesantren) juga di sekolah umum. Drs. H. Ali Syaifullah Sahal (alm) alumni Filsafat UGM dan sebuah Universitas di Australia, dosen di IKIP Malang; Dra. Hj. Rukayah Sahal dosen IKIP (UMJ) Jakarta dan lain-lain.

Dan tentu menjadi bahan pemikiran anggota Badan Wakaf saat ini, untuk mewujudkan Pesantren Gontor menjadi semacam Universitas Al Azhar di Mesir, sebuah universitas yang memiliki berbagai bidang kajian (Agama serta Ilmu dan Teknologi) yang berbasiskan Islam. Hingga kini Gontor telah memiliki 12 cabang yang terdiri dari 17 kampus. Tidak seperti pesantren pada umumnya, para pengajarnya pun berdasi dan bercelana panjang pantaloon.

B.    Visi, Misi da Tujuan Pondok Modern

Perlu diketahui prinsip Pondok Modern Gontor Berdiri Di Atas dan Untuk Semua Golongan. Ini berarti, bahwa semua golongan atau sebagai teman seperjuangan berjalan pada rel masing-masing. Bahkan semboyan Pondok Modern bahwa “anak didik sebagai perekat ummat”. Artinya dapat mempersatukan ummat yang sering-sering retak atau berlain-lain cara berjuang.

Sebagai sebuah lembaga pendidikan, seudah barang tentu suatu lembaga memiliki Visi, Misi dan Tujuan didirikannya lembaga tersebut. Adapun visi, misi dan tujuan Pondok Modern adalah sebagai berikut:

Visi:

Sebagai lembaga pendidikan pencetak kader-kader pemimpin umat, menjadi tempat ibadah talab al-’ilmi; dan menjadi sumber pengetahuan Islam, bahasa al- Qur’an, dan ilmu pengetahuan umum, dengan tetap berjiwa pesantren.

Misi:

1.    Membentuk generasi yang unggul menuju terbentuknya khaira ummah.
2.    Mendidik  dan  mengembangkan  generasi  mukmin-muslim  yang   berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengeta-huan luas, dan berpikiran bebas, serta berkhidmat kepada masyarakat.
3.    Mengajarkan ilmu pengetahuan agama dan umum secara seimbang menuju terbentuknya ulama yang intelek.
4.    Mewujudkan warga negara yang berkepribadian Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.

Tujuan:

1.    Terwujudnya generasi yang unggul menuju terbentuknya khaira ummah.
2.    Terbentuknya generasi mukmin-muslim yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas, serta berkhidmat kepada masyarakat.
3.    Lahirnya ulama intelek yang memiliki keseimbangan dzikir dan pikir.
4.    Terwujudnya warga negara yang berkepribadian Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.

C.    Unsur-unsur Yang Menjiwai Organisasi dan Totalitas Pondok Modern

Dalam Lembaga Pendidikan Pondok Modern Gontor menekankan kepada seluruh penghuninya untuk selalu mengetahui (mengingat), memperhatikan dan menjalankan seluruh aktifitas kehidupan Pondok dengan hal-hal sebagai berikut:

1.    Piagam Badan Wakaf Pondok Modern

Pada tanggal 28 Rabi’u-l-awwal 1378 bertepatan dengan tanggal 12 Oktober 1958 jam 10.30 bertempat di aula Pondok Modern Gontor telah dilakukan penyerahan Wakaf Pondok Modern yang pada intinya menyatakan bahwa mulai hari dan tanggal penyerahan tersebut, anak cucu beliau (TRIMURTI) turun-temurun tidak mempunyai hak memiliki harta benda Wakaf Pondok Modern sebagai ahli waris, dan memelihara dan menyempurnakan agar Pondok Modern menjadi Universitas Islam yang bermutu dan berarti.

2.    Sintesa Pondok Modern

Baca Juga :  Laporan hasil penilaian pada anak usia dini

Para Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, pada awal  pembangunan Pondok Gontor Baru telah mengkaji berbagai lembaga pendidikan terkenal dan maju di luar negeri, khususnya yang sesuai dengan Sistem Pondok Pesantren. Di Mesir terdapat Universitas al-Azhar yang terkenal dengan keabadiannya. Al-azhar bermula dari sebuah masjid yang didirikan oleh Penguasa Mesir dari Daulah Fatimiyyah. Universitas ini telah hidup ratusan tahun dan telah memiliki harta wakaf yang mampu memberi beasiswa kepada siswa dari seluruh

dunia. Di Mauritania terdapat Pondok Syanggit. Lembaga pendidikan ini harum namanya berkat kedermawanan dan keikhlasan para pengasuhnya. Syanggit adalah lembaga pendidikan yang dikelola dengan jiwa keikhlasan; para pengasuh mendidik murid-murid siang-malam serta menanggung seluruh kebutuhan santri. Di India terdapat Universitas Muslim Aligarh, sebuah lembaga pendidikan modern yang membekali mahasiswanya dengan ilmu pengetahuan umum dan agama serta memjadi pelopor Revival of Islam. Di India juga terdapat Perguruan Santiniketan, didirikan oleh Rabindranath Tagore, seorang filosuf Hindu. Perguruan yang dikenal dengan kedamaiannya ini berlokasi di kawasan hutan, serba sederhana dan telah mampu mengajar dunia.

Keempat lembaga pendidikan tersebut menjadi idaman para pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, karena itu mereka hendak mendirikan lembaga pendidikan yang merupakan sintesa dari empat lembaga di atas.

3.    Motto Pondok Modern

Pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor menekankan pada pembentukan pribadi mukmin muslim yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas dan berpikiran bebas. Kriteria atau sifat-sifat utama ini merupakan motto pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor.

a.    Berbudi tinggi

Berbudi tinggi merupakan landasan paling utama yang ditanamkan oleh Pondok ini kepada seluruh santrinya dalam semua tingkatan; dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Realisasi penanaman motto ini dilakukan melalui seluruh unsur pendidikan yang ada.

b.    Berbadan Sehat

Tubuh yang sehat adalah sisi lain yang dianggap penting dalam pendidikan di Pondok ini. Dengan tubuh yang sehat para santri akan dapat melaksanakan

tugas hidup dan beribadah dengan sebaik-baiknya. Pemeliharaan kesehatan dilakukan melalui berbagai kegiatan olahraga, dan bahkan ada olahraga rutin yang wajib diikuti oleh seluruh santri sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

c.    Berpengetahuan Luas

Para santri di Pondok ini dididik melalui proses yang telah dirancang secara sistematik untuk dapat memperluas wawasan dan pengetahuan mereka. Santri tidak hanya diajari pengetahuan, lebih dari itu mereka diajari cara belajar yang dapat digunakan untuk membuka gudang pengetahuan. Kyai sering berpesan bahwa pengetahuan itu luas, tidak terbatas, tetapi tidak boleh terlepas dari berbudi tinggi, sehingga seseorang itu tahu untuk apa ia belajar serta tahu prinsip untuk apa ia manambah ilmu.

d.    Berpikiran Bebas

Berpikiran bebas tidaklah berarti bebas sebebas-bebasnya (liberal). Kebebasan di sini tidak boleh menghilangkan prinsip, teristimewa prinsip sebagai muslim mukmin. Justru kebebasan di sini merupakan lambang kematangan dan kedewasaan dari hasil pendidikan yang telah diterangi petunjuk ilahi (hidayatullah). Motto ini ditanamkan sesudah santri memiliki budi tinggi atau budi luhur dan sesudah ia berpengetahuan luas.

4.    Panca Jiwa

Seluruh kehidupan di Pondok Modern Darussalam Gontor didasarkan pada nilai-nilai yang dijiwai oleh suasana-suasana yang dapat disimpulkan dalam Panca Jiwa. Panca Jiwa adalah lima nilai yang mendasari kehidupan Pondok Modern Gontor:

a.    Jiwa Keikhlasan

Jiwa ini berarti sepi ing pamrih, yakni berbuat sesuatu bukan karena didorong oleh keinginan untuk mendapatkan keuntungan tertentu. Segala perbuatan

dilakukan dengan niat semata-mata untuk ibadah, lillah. Kyai ikhlas medidik dan para pembantu kyai ikhlas dalam membantu menjalankan proses pendidikan serta para santri yang ikhlas dididik.

Jiwa ini menciptakan suasana kehidupan pondok yang harmonis antara kyai yang disegani dan santri yang taat, cinta dan penuh hormat. Jiwa ini menjadikan santri senantiasa siap berjuang di jalan Allah, di manapun dan kapanpun.

b.    Jiwa kesederhanaan

Kehidupan di pondok diliputi oleh suasana kesederhanaan. Sederhana tidak berarti pasif atau nerimo, tidak juga berarti miskin dan melarat. Justru dalam jiwa kesederhanan itu terdapat nilai-nilai kekuatan, kesanggupan, ketabahan dan penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup.

Di balik kesederhanaan ini terpancar jiwa besar, berani maju dan pantang mundur dalam segala keadaan. Bahkan di sinilah hidup dan tumbuhnya mental dan karakter yang kuat, yang menjadi syarat bagi perjuangan dalam segala segi kehidupan .

c.    Jiwa Berdikari

Berdikari atau kesanggupan menolong diri sendiri merupakan senjata ampuh yang dibekalkan pesantren kepada para santrinya. Berdikari tidak saja berarti bahwa santri sanggup belajar dan berlatih mengurus segala kepentingannya sendiri, tetapi pondok pesantren itu sendiri sebagai lembaga pendidikan juga harus sanggup berdikari sehingga tidak pernah menyandarkan kehidupannya kepada bantuan atau belas kasihan pihak lain .

Inilah Zelp berdruiping system (sama-sama memberikan iuran dan sama- sama memakai). Dalam pada itu, Pondok tidaklah bersifat kaku, sehingga menolak orang-orang yang hendak membantu. Semua pekerjaan yang ada di dalam pondok dikerjakan oleh kyai dan para santrinya sendiri, tidak ada pegawai di dalam pondok .

d.    Jiwa Ukhuwwah Diniyyah

Kehidupan di pondok pesantren diliputi suasana persaudaraan yang akrab, sehingga segala suka dan duka dirasakan bersama dalam jalinan ukhuwwah diniyyah. Tidak ada dinding yang dapat memisahkan antara mereka. Ukhuwah ini bukan saja selama mereka di Pondok, tetapi juga mempengaruhi ke arah persatuan ummat dalam masyarakat setelah mereka terjun di masyarakat.

e.    Jiwa Bebas

Bebas dalam berpikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depan, bebas dalam memilih jalan hidup, dan bahkan bebas dari berbagai pengaruh negatif dari luar, masyarakat. Jiwa bebas ini akan menjadikan santri berjiwa besar dan optimis dalam menghadapi segala kesulitan. Hanya saja dalam kebebasan ini seringkali ditemukan unsur-unsur negatif, yaitu apabila kebebasan itu disalahgunakan, sehingga terlalu bebas (liberal) dan berakibat hilangnya arah dan tujuan atau prinsip.

Sebaliknya, ada pula yang terlalu bebas (untuk tidak mau dipengaruhi), berpegang teguh kepada tradisi yang dianggapnya sendiri telah pernah menguntungkan pada zamannya, sehingga tidak hendak menoleh ke zaman yang telah berubah. Akhirnya dia sudah tidak lagi bebas karena mengikatkan diri pada yang diketahui saja.

Maka kebebasan ini harus dikembalikan ke aslinya, yaitu bebas di dalam garis-garis yang positif, dengan penuh tanggungjawab; baik di dalam kehidupan pondok pesantren itu sendiri, maupun dalam kehidupan masyarakat.

Jiwa yang meliputi suasana kehidupan Pondok Pesantren itulah yang dibawa oleh santri sebagai bekal utama di dalam kehidupannya di masyarakat. Jiwa ini juga harus dipelihara dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya.

5.    Panca Jangka

Dalam rangka mengembangkan dan memajukan Balai Pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor, dirumuskanlah Panca Jangka yang merupakan program kerja Pondok yang memberikan arah dan panduan untuk mewujudkan upaya pengembangan dan pemajuan tersebut.

Adapun Panca Jangka itu meliputi bidang-bidang berikut : a. Pendidikan dan Pengajaran
Maksud jangka ini adalah berusaha secara maksimal untuk meningkatkan dan menyempurnakan pendidikan dan pengajaran di Pondok Modern Darussalam Gontor. Usaha ini tercatat dalam sejarah perjalanan Pondok ini yang dimulai dengan pendirian Tarbiyatul Athfal pada tahun 1926, Sullamul Muta’allimin tahun 1932. Sepuluh tahun kemudian, 1936, didirikan Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah, setingkat dengan Sekolah Menengah (Tsanawiyah dan Aliyah). Pada tahun 1963 didirikanlah Perguruan Tinggi yang bernama Institut Pendidikan Darussalam (sekarang bernama : Institut Studi Islam Darussalam). Adapun cita-cita selanjutnya adalah mendirikan Universitas Islam Darussalam, sebagaimana tertulis dalam Piagam Penyerahan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor.

Baca Juga :  Laporan Mini Riset Manajemen Pembelajaran AUD

b.    Kaderisasi

Sejarah timbul dan tenggelamnya suatu usaha, terutama hidup dan matinya pondok-pondok di tanah air, memberikan pelajaran kepada para pendiri Pondok tentang pentingnya perhatian terhadap kaderisasi. Sudah banyak riwayat tentang pondok-pondok yang maju dan terkenal pada suatu ketika, tetapi kemudian menjadi mundur dan bahkan mati setelah pendiri atau kyai pondok itu meninggal dunia. Di antara faktor terpenting yang menyebabkan kemunduran ataupun matinya pondok-pondok tersebut adalah tidak adanya program kaderisasi yang baik.

Bercermin pada kenyataan ini, Pondok Modern Darussalam Gontor memberikan perhatian terhadap upaya menyiapkan kader yang akan melanjutkan cita-cita Pondok.

c.    Pergedungan

Jangka ini memberikan perhatian kepada upaya penyediaan prasarana dan sarana pendidikan dan pengajaran yang layak bagi para santri.

d.    Chizanatullah

Di antara syarat terpenting bagi sebuah lembaga pendidikan agar tetap bertahan hidup dan berkembang adalah memiliki sumber dana sendiri. Sebuah lembaga pendidikan yang hanya menggantungkan hidupnya kepada bantuan pihak lain yang belum tentu didapat tentu tidak dapat terjamin keberlangsungan hidupnya. Bahkan hidupnya akan seperti ilalang di atas batu, “Hidup enggan, mati tak hendak”.

Di antara usaha yang telah dilakukan untuk memenuhi maksud ini adalah membentuk suatu badan khusus yang mengurusi dana, bernama Yayasan Pemeliharaan dan Perluasan Badan Wakaf Pondok Modern (YPPWPM). Yayasan ini mengurusi dan mengembangkan harta wakaf milik pondok.

e.    Kesejahteraan Keluarga Pondok

Jangka ini bertujuan untuk memberdayakan kehidupan keluarga-keluarga yang membantu dan bertanggungjawab terhadap hidup dan matinya Pondok secara langsung, sehingga mereka itu tidak menggantungkan penghidupannya kepada Pondok. Mereka itu hendaknya dapat memberi penghidupan kepada Pondok. Sesuai dengan semboyan : “Hidupilah Pondok dan jangan menggantungkan hidup kepada Pondok”.

D.    Organisasi Pondok Modern

Kesuksesan sebuah lembaga, tidak dapat dipungkiri lagi adalah merupakan hasil kerja dari seluruh tim yang selalu bekerjasama dalam melaksanakan tugasnya, bukan kesuksesan yang didapat dari individu.

Jangan salah bertanya mengenai keorganisasian di Pondok Modern Gontor. Beberapa pertanyaan sering terbalik. Kalau ada orang bertanya: “Dapat apa saya setelah menjadi anggota organisasi ini?, Untung apa saya setelah menjadi anggota organisasi ini?” Seharusnya tidak demikian, tetapi: “Jasa apa yang telah saya sumbagkan setalah saya menjadi anggota? Andaikan telah berjasa, ada pula yang masih bertanya: Imbalan apa setelah saya berjasa? Bagi orang yang beriman

akan mendapatkan jawaban yang spontan: Sudah tersedia dari sisi Allah Yang Maha Pemurah, Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.”
1.    Badan Wakaf

Badan Wakaf merupakan lembaga tertinggi organisasi Balai Pendidikan Pondok Modern Gontor yang bertugas melaksanakan amanat TRIMURTI yang tercantum dalam Piagam Wakaf Pondok Modern beserta penjelasan-penjelasan beliau. Mereka berkewajiban meneruskan perjuangan TRIMURTI apabila TRIMURTI sudah tidak ada atau tidak dapat menjalankan tugasnya, dengan syarat-syarat seperti dalam “PIAGAM” penyerahan Wakaf Pondok Modern. Sedangkan selama TRIMURTI masih hidup dan menjalankan tugasnya, maka tugas Badan Wakaf adalah membantu Pondok Modern dalam berbagai bidang.

Tujuan diadakannya Badan Wakaf adalah “Supaya apabila Kiyainya (TRIMURTI) mati, Pondoknya tidak ikut mati karena tidak ada yang meneruskan, dan supaya jangan menyeleweng dari yang dikehendaki TRIMURTI”.
Program kerja Badan Wakaf cukup jelas dengan istilah PANCA JANGA. Tetapi perlu diingat bahwa anggota Badan Wakaf sesuai dengan harapan TRIMURTI harus tetap berjiwa besar. Yang berarti tidak merasa besar, lebih berjasa/lebih berharga dan mengenggap kecil kepada orang lain, kemudian sembrono dalam beramal dan bertindak sesingga merugikan diri sendiri dan Pondok Modern.
Dan juga harus selalu ingat pada falsafah Pondok Modern yang menjadi pegangan perjuangan TRIMURTI adalah “ikhlas lillah”. Perhitungan perjuangannya adalah beramal “li ila’I kalimatillah”. Untung rugi pribadi tidak diperhitungkan, bahkan hak-hak pribadinya ikhlas dikorbankan untuk perjuangan. Mewajibkan kepada tiap-tiap lembaga Balai Pendidikan Pondok Modern melaporkan segala kegiatannya kepada Badan Wakaf Pondok Modern.

2.    Pimpinan Pondok Modern

Pimpinan Pondok Modern adalah mandataris Badan Wakaf yang berkewajiban menjalankan keputusan-keputusan Badan Wakaf dan bertanggung jawab pada Badan Wakaf. Disamping itu berkewajiban mengasuh para santri sesuai dengan sunnah Balai Pendidikan Pondok Modern, dan melaporkan seluruh hasil kegiatan Pondok kepada Badan Wakaf minimal setahun sekali.
3.    KMI (Kulliyatu-l-Mua’allimin Al-Islamiyah)

KMI adalah penanggung jawab dan bertugas penyelenggaraan Pendidikan dan Pengajaran secara menyeluruh. KMI membagi pendidikan formalnya dalam perjenjangan yang sudah diterapkan sejak tahun 1936. KMI memiliki program reguler dan program intensif.

Program reguler untuk lulusan Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) dengan masa belajar hingga enam tahun. Kelas I-III setingkat dengan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs) jika mengacu pada kurikulum Nasional dan kelas IV-VI setara dengan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (MA). Program intensif KMI untuk lulusan SMP/MTs yang ditempuh dalam 4 tahun.

Bahasa Arab dan bahasa Inggris ditetapkan sebagai bahasa pergaulan dan bahasa pengantar pendidikan, kecuali mata pelajaran tertentu yang harus disampaikan dengan Bahasa Indonesia. Bahasa Arab dimaksudkan agar santri memiliki dasar kuat untuk belajar agama mengingat dasar-dasar hukum Islam ditulis dalam bahasa Arab. Bahasa Inggris merupakan alat untuk  mempelajari ilmu pengetahuan/umum.

4.    Pengasuhan Santri

Pengasuhan santri adalah bidang yang menangani kegiatan santri khususnya bidang ekstrakurikuler dan beberapa bidang kurikuler yang dilaksanakan oleh OPPM. Lembaga ini membawahi tiga organisasi santri:

a.    Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM), yaitu organisasi siswa KMI
b.    Koordinator    Gugusdepan    Pondok    Modern    Darussalam    Gontor,    yakni organisasi kepramukaan siswa KMI.
c.    Dewan Mahasiswa (DEMA), yaitu organisasi untuk mahasiswa ISID

Siswa diajarkan untuk bersosialisasi dengan membentuk masyarakat sendiri di dalam Pondok, melalui organ organisasi. Mulai dari ketua asrama, ketua kelas, ketua kelompok, organisasi intra/ekstra, hingga ketua regu pramuka. Sedikitnya ada 1.500 jabatan ketua yang selalu berputar setiap pertengahan tahun atau setiap tahun.

5.    YPPWPM (Yayasan Pemeliharaan dan Perluasan Wakaf Pondok Modern)

Untuk memelihara dan mengembangkan kekayaan yang diwakafkan ini dan untuk menangani berbagai persoalan berkaitan dengan pendanaan Pondok Modern, didirikanlah Yayasan Pemeliharaan dan Perluasan Wakaf Pondok Modern (YPPWPM), tanggal 18 Maret 1959. YPPWPM bertangging jawab atas pembiayaan dan pemeliharaan Balai Pendidikan Pondok Modern dan segala milik Pondok Modern.
Lembaga ini juga bertanggung jawab atas unit-unit usaha yang dimiliki oleh Pondok Modern yang disebut dengan Kompotren La Tansa, dan lembaga- lembaga lain yang didirikan oleh Pondok Modern.
6.    IKPM (Ikatan Keluarga Pondok Modern)

IKPM adalah Organisasi yang menghimpun Alumni dan Keluarga Pondok Modern dalam rangka turut bertanggung jawab atas kelangsungan hidup Balai Pendidikan Pondok Modern. Organisasi ini menangani seluruh alumni yang tersebar di seluruh Indonesia dan di luar negeri. Organisasi ini didirikan pada tanggal 17 Desember 1949 di Yogyakarta, dan diresmikan kemudian pada tahun 1951 bersamaan dengan perayaan Kesyukuran Seperempat Abad Pondok Modern Darussalam Gontor. Lembaga ini berpusat di Pondok Modern Darussalam Gontor.

Baca Juga :  Laporan Praktik Pengalaman Lapangan (Laporan PPL)

Organisasi ini bertujuan untuk mempererat kekeluargaan dan membina persatuan ummat Islam; mempertinggi budi pekerti dan kecerdasan para anggota dalam rangka pengabdian kepada Agama, Bangsa, dan Negara; Mengusahakan kesejahteraan para anggota dan turut serta bertanggung jawab atas kelangsungan Pondok Modern Darussalam Gontor dalam mencapai cita-cita menjunjung tinggi Agama Islam, sesuai dengan Piagam Penyerahan Wakaf Pondok Modern Darussalam.
Dalam pada itu para alumni Pondok Modern tidak terikat secara eksklusif dengan organisasi ini, tetapi mereka tetap bebas menjadi anggota organisasi lain. Hal ini mengingat bahwa Balai Pondok Modern tidak berafiliasi kepada golongan manapun dan tetap berprinsip Berdiri diatas dan untuk semua golongan. Para alumninya diamanati untuk menjadi perekat ummat di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu para alumni tetap dituntut secara moral untuk mempertahankan Ukhuwah Islamiyah di tengah-tengah masyarakat dalam golongan manapun mereka berada. Kegiatan IKPM pada prinsipnya adalah kegiatan-kegiatan untuk mempererat ikatan persaudaraan atau kekeluargaan diantara para alumni. Untuk itu acara silaturrohmi dan halal bihalal terus digalakkan guna mempererat? Shillat al-Ukhuwah” diantara keluarga Pondok Modern yang setiap tahunnya terus bertambah. Program dan kegiatan lainnya terus diupayakan baik  yang menyangkut bidang-bidang dakwah, pendidikan dan ekonomi.
7.    Pondok Cabang

Mengingat tingginya animo masyarakat untuk memasukkan anaknya di Gontor dan keterbatasan fasilitas yang tersedia di Kampus Pondok Modern Darussalam Gontor serta untuk memberikan bekal yang lebih baik kepada para calon santri yang ingin masuk di Pondok Modern Darussalam Gontor, dibukalah cabang-cabang Gontor di beberapa tempat dan daerah sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

8.    OPPM (Organisasi Pelajar Pondok Modern)

Sebagai sarana pendidikan kepemimpinan, Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) Darussalam Gontor terus menjadi penggerak dan pengelola

berbagai kegiatan dan aktivitas santri. Dengan motto “Siap memimpin dan mau dipimpin”, OPPM juga merupakan sarana mencetak kader pemimpin ummat yang kompeten dalam mengatur organisasi. Organisasi intra-sekolah yang berdiri sejak tanggal 6 Juli 1967 ini bagi santri Pondok Modern Darussalam Gontor yang bertugas mengatur dan mengorganisir seluruh kehidupan santri secara mandiri dan bertanggung jawab. Maka, yang terdidik bukan hanya santri, namun juga, pengurus OPPM sendiri. Selain itu, organisasi ini juga sebagai sarana pembinaan mental dan kreatifitas santri yang akan diterapkan di masyarakat kelak. Selain pengurus inti, organisasi ini membawahi 21 bagian. Bertindak sebagai pembimbing adalah Staf Pengasuhan Santri.

9.    Pramuka

Kepramukaan di Pondok Modern Gontor lebih dari di tempat lain, karena berisi maksud membentuk kader untuk menjadi pemimpin pandu/pramuka nanti setelah pulangnya dari Pondok modern. Maka dalam latihan pramuka jangan hanya sekedar latihan, dalam berlatih harus beniat “bagaimana saya nanti memimpin pandu pramuka”. Sebab, semangat kepramukaan di masa yang akan dating akan terus maju seluas-luasnya.

Selain dari pada itu, dalam organisasi pelajar ada pula apa yang disebut dengan bagian non-OPPM. Bagian non-OPPM tidak kalah penting dibandingkan bagian OPPM sendiri. Bagian-bagian yang berada di luar struktur kepengurusan OPPM ini memiliki andil yang cukup besar dalam menjalankan kegiatan pendidikan di pondok ini. Sama halnya dengan OPPM dan Koordinator Gerakan Pramuka.

Dalam kepengurusan bagian non-OPPM terdapat dua bentuk bagian, yakni bagian yang memiliki asisten dan instansi yang mandiri. Bagian yang merekrut asisten mencakup Bagian Diesel, Pembangunan, Administrasi, dan Sekretaris Dapur (Sekda) Keluarga, Darussalam Computer Center (DCC) dan Laboratorium. Adapun bagian yang berbentuk instansi meliputi Language Course Department (LCD), Forum Pengembangan Potensi dan Wawasan Santri (FP2WS), Ilmu

Tarbawy Qur’any (ITQAN), Perpustakaan Darussalam, serta Darussalam Pos (DP).
E.    Pengambilan Keputusan dan Penyelesaian Masalah

Dalam sebuah organisasi, tentu terdapat di dalamnya kendala-kendala yang dihadapi dalam melaksanakan program yang disedang dan akan dijalankan. Oleh karena itu, merupakan tanggung jawab seorang pemimpin untuk dapat mengatasi dan mengambil kebijakan yang tepat terhadap kendala-kendala yang ada, baik yang bersifat intern maupun ekstern.

Di Pondok Modern Gontor pengambilan keputusan dapat berupa: (1) kebijakan mutlak dari Pimpinan Pondok yang dilaksanakan memalui rapat tertutup oleh ketiga pimpinan beserta beberapa guru senior yang diikutsertakan andil dalam pengembilan keputusan; (2) evaluasi yang bersifat mingguan (yang sering disebut dengan istilah kemisan), yaitu permusyawaratan yang diambil berdasarkan musyawarah oleh seluruh guru (senior dan yunior) tanpa terkecuali bersama Pimpinan Pondok terhadap evaluasi seluruh kegiatan dan pengambilan keputusan untuk mendapat mufakat; (3) sidang Badan Wakaf, yaitu permusyawaratan pengurus diadakan sekurang-kurangnya satu kali setahun yang dihadiri oleh seluruh pengurus Badan Wakaf Pondok Modern.

Dalam Sidang Badan Wakaf, tiap-tiap anggota pengurus mempunyai satu suara, setiap keputusan diusahakan sedapat mungkin berdasarkan mufakat, apabila terdapat suara sama antara kedua belah pihak antara setuju dan tidak setuju sampai dengan pemungutan suara yang kedua, maka keputusan akan ditentukan oleh kebijakan ketua, musyawarat dianggap sah apabila oleh lebih dari separuh jumlah anggota juga dihadiri oleh seorang ketua.
Inti dari permusyawaratan ini adalah pelaporan kegiatan Pondok Modern kepada Badan Wakaf, pengambilan keputusan terhadap kendala-kendala yang dihadapi selama satu tahun dan pengambilan keputusan atas perencanaan program selanjutnya.

Dalam permusyawaratan, pengambilan keputusan harus selalu memperhatikan Piagam Badan Wakaf yang merupakan cita-cita TRIMURTI dan segenap Unsur-unsur yang menjiwai Pondok Modern. Selain daripada itu hal yang harus tetap dipegang teguh adalah Orientasi Pendidikan dan Penganjaran Pondok Modern yang berupa keIslaman, keilmuan dan kemayarakan harus tetap menjadi pijakan, sehingga tidak keluar dari apa yang diamanatkan dalam Piagam Badan Wakaf, dengan strategi pendidikan yang berupa totalitas kehidupan Pondok menjadi media pendidikan dan pembelajaran yang berbasis komunitas (segala yang didengar, dilihat, dirasakan, dikerjakan, dan dialami oleh para santri dan warga Pondok Modern dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan.

KESIMPULAN

Organisasi Pondok Modern Gontor adalah organisasi yang didasarkan atas sistem pewakafan, hal ini ditujukan untuk keberlangsungan lembaga pendidikan sesuai dengan cita-cita TRIMURTI yang tercakup dalam Piagam Wakaf Pondok Modern. Badan Wakaf merupakan lembaga tertinggi organisasi Balai Pendidikan Pondok Modern Gontor yang bertugas melaksanakan amanat TRIMURTI dengan dibantu oleh segenap anggota organisasi lain yang saling bekerjasama dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.
Siap Dipimpin dan Siap Memimpin adalah semboyan Organisasi Pondok Modern Gontor jengan selalu berpegang teguh pada PANCA JIWA Pondok Modern. Bondo, bahu, piker,lek perlu sak nyawane pisan itulah yang selalu ditanamkan kepada seluruh masyarakat Pondok Modern. Dengan berorientasikan ke-Islaman, keilmuan dan kemasyarakatan membentuk ulama yang intelek, bukan intelek yang tahu agama.

Tags: