Hakikat Pendidikan Karakter Pada Anak Usia Dini

Pada pendidikan anak usia dini sangat perlu untuk memerhatikan dan menerapkan pendidikan karakter demi masa depan anak-anak Indonesia yang lebih baik. Dengan pendidikan karakter itu diharapkan pula anak-anak tumbuh paripurna dan sempurna. Pada usia 0-6 tahun, pada periode ini otak anak sedang berkembang dengan sangat cepat. Mereka akan mampu menyerap dengan cepat segala sesuatu yang dilihat atau yang didengarkannya.

Hakikat Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter memiliki makna yang lebih tinggi dari pendidikan moral, karena pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan masalah benar atau salah.  Tetapi bagaimana menananamkan kebiasaan tentang hal yang baik dalam kehidupan,  sehingga anak memiliki kesadaran, dan pemahaman yang tinggi.  Serta kepedulian dan komitmen untuk menerapkan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan ini bahwa karakter adalah sifat alami seseorang dalam merespons situasi yang bermoral, diwujudkan dalam tindakan nyata melalui perilaku jujur,  baik,  bertanggung jawab, hormat terhadap orang lain. Dalam konteks islam karakter berkaitan dengan iman dan ikhsan. Menurut aristoteles bahwa karakter berkaitan dengan kebiasaan yang terus menwerus dipraktikkan dan diamalkan.

Wynne (1991) mengemukakan bahwa karakter dari bahasa yunani (to mark) yaitu menandai dan memfokuskan pada bagaimana menerapkan nilai kebaikan dalam tindakan nyata atau perilaku sehari-hari. Kementrian agama republik indonesia mengemukakan bahwa karakter diartikan sebagai totalitas ciri” individu yang melekat dan dapat diidentifikasi pada perilaku individu yang bersifat unik, dalam arti bisa membedakan satu individu dengan individu lain. Denga ini karakter berkaitan dengan kepribadian seseorang. Sebagai mana telah dipaparkan sebelumnya, pendidikan atau mendidik sesungguhanya tidak hanya sebatas mentransfer ilmu (transfer of knowledge), namun lebih jauh dan pengertian itu yang lebih utama adalah mentransfer nilai (transfer of values), dapat mengubah atau membentuk karakter dan watak seseorang agar menjadi lebih baik, lebih sopan dalam tataran etika, estetika maupun perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga :  Memelihara Ikan Koi

Pendidikan sesungguhnya merupakan proses pembudayaan, dan pendidikan juga dipandang sebagai alat untuk perubahan budaya. Proses pembudayaan terjadi dalam bentuk pewarisan tradisi budaya dari satu generasi kepada generasi berikutnya, dan adopsi tradisi budaya oleh orang yang belum mengetahui budaya tersebut sebelumnya. Pewarisan tradisi budaya dikenal sebagai proses enkulturasi (enculturation), sedangkan adopsi tradisi budaya dikenal sebagai proses akulturasi (acculturation). Kedua proses tersebut berujung pada pembentukan budaya dalam suatu komunitas.

Proses pembudayaan enkulturasi biasanya terjadi secara informal dalam keluarga, komunitas budaya suatu suku, atau komunitas budaya suatu wilayah. Proses pembudayaan enkulturasi dilakukn oleh orangtua atau orang yag dianggap lebih muda. Tata karma, adat istiadat, keterampilan suatu suku/keluarga biasanya diturunkan kepada generasi berikutnya melalui proses enkulturasi.

Sementara itu, proses akulturasi biasanya terjadi secara formal melalui pendidik. Seseorang yang tidak tahu, diberi tahu dan disadarkan akan keberadaan suatu budaya, kemudian orang tersebut mengadopsi budaya tersebut. Misalnya, seseorang yang pindah ke suatu tempat baru, kemudian mempelajari bahasa, budaya, kebiasaan dari masyarakat di tempat baru tersebut, lalu orang itu akan berbahasa dan berbudaya, serta melakukan kebiasaan sebagaimana masyarkat di tempat itu.

Adapun tentang karakteristik Pendidikan Nasional, Malik Fadjar (2005) menekankan bahwa pendidikan nasional haruslah mempunyai karakter yang berbasiskan pada budaya dan agama. Perdamaian bisa dicapai dengan mendayagunakan institusi-institusi pendidikan, agama dan kebudayaan. Dengan penggabungan ketiga hal tersebut diharapkan tertanam pandangan hidup bahwa manusia yang paling mulia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Tujuan Pendidikan Nasional termaktub dalam pembukaan Undang-Undang dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk itu setiap warga Negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya tanpa memandang status sosial, ras, etnis, agama dan gender. Pemerataan dan mutu pendidikan akan membuat warga Negara Indonesia memiliki keterampilan hidup (life skills) sehingga memiliki kemampuan untuk mengenal dan mengatasi masalah diri dan lingkungannya, mendorong tegaknya masyarakat madani dan modern yang dijiwai nilai-nilai Pancasila.

Baca Juga :  Manfaat Multimedia dalam Representasi Konsep Kimia

Menurut ASCD for the Language Learning: A Guide to Education Terms, by J.L McBrien & R.S. Brand, Alexandria, VA: Association for Supervision and Curriculum Development (Endang Sumantri:2010) bahwa pengertian karakter telah dicoba dijelaskan dalam berbagai pengertian dan penggunaan, diantaranya dalam konteks pendidikan, karakter seringkali mengacu pada bagaimana tentang kebaikan seseorang. Karena itu, pendidikan karakter senantiasa akan berkaitan dengan bagaimana memberikan pengajaran pada anak-anak tentang nilai dasar manusia yang berkaitan dengan kejujuran, kebaikan, kedermawaan, keberanian, kebebasan, persamaan dan kehormatan.

Menurut Foerster ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter. Pertaman, keteraturan interior dimana setiap tindakan diukur berdasarkan hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normative setiap tindakan. Kedua, koherensi yang memberi keberanian. Ketiga, otonomi. Empat, keteguhan dan kesetiaan. Kematangan keempat karakter ini, lanjut Foerster, memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju oersonalitas. “Orang-orang modern sering mencampur adukkan antara individualitas dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara independensi eksterior dan interior.” Karakter inilah yang menentukan forma seorang pribadi dalam segala tindakannya.

Pendidikan merupakan proses yang paling bertanggung jawab dalam melahirkan warga Negara Indonesia yang memiliki karakter kuat sebagai modal dalam membangun peradaban tinggi dan unggul. Karakter bangsa yang kuat merupakan produk yang pendidikan yang bagus dan mengembangkan karakter. Ketika mayoritas karakter masyarakat kuat, positif, tangguh peradaban yang tinggi dapat dibangun dengan baik dan sukses. Sebaliknya, jika mayoritas karakter masyarakat adalah negatif dan lemah maka mengakibatkan peradaban yang dibangun pun menjadi lemah. Sebab peradaban tersebut dibangun diatas fondasi yang amat lemah.
  
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2019. Hakikat Pendidikan. Surabaya. Makalah.
https://media.neliti.com/media/publications/240598-pendidikan-karakter-anak-usia-dini-4ba56c4e.pdf

Tags: