Manajemen Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini

Anak usia dini merupakan manusia yang berumur 0-6 tahun, dimana masa tersebut disebut dengan masa emas atau golden age.  Sesuai hasil penelitian neuroscience dan psikologi yang menyebutkan pada masa tersebut perkembangan otak bertumbuh dan berkembang dengan pesat hingga 80% dari keseluruhan otak orang dewasa. Oleh karena itu berarti seluruh potensi dan kecerdasan anak mulai terbentuk pada masa itu yang masa itu tidak akan terulang lagi maka harus dimaksimalkan dengan benar. Saat ini, masyarakat Indonesia mulai sadar dan peduli akan pentingnya pendidikan bagi anak usia dini, terlihat dari mulai banyaknya lembaga PAUD di Indonesia sebagai salah satu lembaga penunjang dalam hal memaksimalkan potensi tumbuh dan kembang anak. Namun, nyatanya kondisi paud di Indonesia saat ini hanya terlihat memaksimalkan kognitif/akademik anak, padahal itu bukan hal yang utama, kira-kira apakah yang kurang atau salah dalam proses pembelajaran PAUD di Indonesia saat ini ?

Manajemen Pembelajaran

Tujuan adanya lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) tidak hanya menekankan terkait stimulus pengayaan pengetahuan anak tapi tentang bagaimana menstimulus pengayaan dalam hal pengetahuan anak tapi bagaimana mengembangkan kreativitas anak serta yang paling utama dalam membangun dan membentuk sikap mental serta kepribadian anak yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan norma masyarakat. Dalam mencapai tujuan tersebut diperlukan adanya manajemen yang baik dan tepat dalam pengelolaan manajemen lembaga PAUD.

Dalam hal ini manajemen yang dimaksud dikhususkan pada manajemen pembelajaran yang akan diberikan kepada anak didik. Manajemen secara bahasa berarti mengatur dan mengelola, dalam hal ini lebih tepatnya mengatur dan mengelola serta mengitegrasikan seluruh sumber daya yang ada secara efektif dan efisien guna mencapai tujuan. Secara umum, fungsi manajemen dibagi menjadi lima hal yaitu planning yang berarti perencanaan, organizing atau mengatur sumber daya yang ada, actuating yaitu melaksanakan perencanaan yang sudah diatur, kemudian controlling atau melihat bagaimana proses pelaksanaan rencana dan yang terakhir adalah evaluating yaitu mengevaluasi hasil pelaksanaan rencana yang sudah dilakukan, dalam hal ini untuk melakukan pembenahan untuk perencanaan dan pelaksanaan selanjutnya. Dalam melakukan pembelajaran untuk anak usia dini, kelima fungsi manajemen tersebut bisa difungsikan sebagai berikut :
1.    Planning
Planing atau perencanaan merupakan proses yang sangat penting dilakukan dalam hal apapun apalagi dalam hal melakukan pendidikan yang objeknya merupakan seorang manusia. Dalam pembelajaran anak usia dini, proses planning meliputi perencanaan terkait aspek apa yang yang akan dikembangkan, materi apa yang akan diberikan, metode apa yang akan digunakan, berapa lama perkiraan waktu waktu pelaksanaan dan yang terakhir adalah media dan instrumen apa saja yang akan digunakan dalam menunjang proses pembelajaran. Setidaknya hal-hal tersebut yang harus dipikirkan sebelum melaksanakan pembelajaran.

Baca Juga :  Self Regulated Learning dalam pembelajaran

2.    Organizing
Organizing atau pengorganisasian adalah tahap selanjutnya setelah perencanaan. Setelah perencanaan, pengorganisasian dilakukan untuk memetakan dan menyatukan setiap komponen yang akan berhubungan langsung dengan anak. Setidaknya ada empat komponen yang harus terorganisir dengan baik diantaranya adalah  bagaimana kerjasama antara penyelenggara, kepala sekolah, dan guru. Kemudian, bagaimana guru dengan orang tua, kerjasama dengan masyarakat setempat dan yang terakhir kerjasama dengan pemerintahan setempat. Keempat komponen tersebut harus terintegrasi dalam melakukan pembelajaran/pembinaan terhadap anak, karena jika gagal salah satunya dalam melakukan kerjasama, maka penanaman nilai yang dilakukan selama pembelajaran berlangsung tidak akan tertanam dengan maksimal kepada anak. Sebagai contoh nyata misal, di sekolah guru mengajarkan anak untuk membuang sampah pada tempatnya tapi di rumah dan dimasyarakat anak tidak dibiasakan untuk melakukan hal tersebut maka pembelajaran yang diusahakan guru di sekolah berpotensi besar untuk gagal. Dalam bahasa mudahnya, semua hal yang diusahakan oleh guru dalam memaksimalkan potensi anak di lembaga formal yang dalam hal ini dibantu oleh pemerintah terkait peningkatan kualitas dan kuatitas juga harus dilanjutkan secara kultural oleh keluarga dan masyarakat sekitar anak.

3.    Actuating
Setelah perencanaan dan pengorganisasian dilakukan dengan baik, maka selanjutnya adalah actuating atau pelaksanaan. Dalam hal ini guru selaku pendidik tinggal melakukan sebaik mungkin perencanaan dan pengorganisasian yang sudah dibuat sebelumnya namun dalam hal ini guru harus memiliki dan terus mengasah kreativitas karena apa yang direncanakan belum tentu sesuai dengan kondisi lapangan oleh karena itu guru harus memiliki kreativitas yang tinggi guna mengantisipasi misal terjadi kemungkinan-kemungkinan yang keluar dari apa yang sudah direncanakan.

4.    Controlling
Controling atau pengawasan selalu idealnya dilakukan ketika proses pembelajaran berlangsung, setiap hari yang bisa dilakukan oleh guru dan kepala sekolah, untuk penyelenggara melakukan pememantauan keadaan PAUD setidaknya sekali dalam seminggu. Pengawasan juga bisa melibatkan orang tua atau masyarakat sekitar. Fungsi ini penting agar dapat melihat hal-hal apa saja yang dirasa kurang dalam proses pembejaran sehingga dapat memberikan data untuk proses pada fungsi manajemen selanjutnya. rekomendasi kedepannya.

5.    Evaluating
Evaluating merupakan proses terkahir dalam pelaksanaan fungsi manajemen. Fungsi ini adalah proses evaluasi yang membahas dimulai dari perencanaan sampai pada pengawasan. Semua data yang terkumpul baik itu dari hasil pengamatan selama maupun hasil data instrumen(jika ada) dibahas seluruhnya di proses ini gunanya agar kita dapat memberikan rekomendasi yang tepat terkait hal-hal yang luput dan yang kurang selama proses pembelajaran sehingga pada pembelajaran selanjutnya bisa diperbaiki dan tidak mengulang kesalahan yang sama.

Baca Juga :  Model Latihan inquiry research training model

Dari pemaparan di atas bisa kita simpulkan bahwa kondisi PAUD di Indonesia saat ini seringkali hanya terfokus pada pengembangan kognitif anak sehingga kurang mengembangkan aspek yang lain bisa jadi karena belum melakukan manajemen yang baik tepat atau bahkan tidak melakukan fungsi-fungsi manajemen sebelum melakukan pembelajaran. Oleh karena itu, manajemen wajib/harus dilakukan oleh setiap pendidik atau guru agar proses pembelajaran dapat dilakukan dengan tepat dan tujuan diadakannya PAUD bisa tercapai.

Oleh : Marietta Annisa Wahdini

Daftar Pustaka :
Rohmah, Nur & Dyah Fifin Fatimah. 2013. Pola Pengelolaan Pendidikan Anak Usia Dini di Paud Ceria. Manageria: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam. Vol. 1. No.2. P-ISSN : 2502-9223
Darmayanti, Mursalina. 2017. Manajemen Program Satuan Pendidikan Anak Usia Dini Sejenis (Sps) Di Sps Edelweis Kelurahan Tridadi Sleman Yogyakarta. 101Jurnal Pendidikan Luar Sekolah. Vol.6. No. 1.
Suharni. 2019. Manajemen Pendidikan Anak Usia Dini Pada Paud Bintang Rabbani Pekanbaru. Jurnal Ilmiah Potensia. Vol. 4. No.1.
Suharti. 2018. Manajemen Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dalam Rangka Meningkatkan Mutu Pembelajaran (Studi pada PAUD Negeri  Pembina Curup dan PAUD Pertiwi Kabupaten Rejang Lebong). TADBIR : Jurnal Studi Manajemen Pendidikan. Vol. 2. No. 1. p-ISSN 2580-3581.

Tags: