Manajemen Pendidikan Karakter Aud Di Tk Aba Wonocolo Surabaya

  • Whatsapp
Undangan Digital

Pendahuluan
Pendidikan karakter memiliki makna yang lebih tinggi dari pendidikan moral, karena pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan masalah benar atau salah.  Tetapi bagaimana menananamkan kebiasaan (habit) tentang hal yang baik dalam kehidupan,  sehingga anak memiliki kesadaran, dan pemahaman yang tinggi.  Serta kepedulian dan komitmen untuk menerapkan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan ini bahwa karakter adalah sifat alami seseorang dalam merespons situasi yang bermoral, diwujudkan dalam tindakan nyata melalui perilaku jujur,  baik,  bertanggung jawab, hormat terhadap orang lain.

Manajemen Pendidikan karakter Anak Usia Dini

Dalam konteks islam karakter berkaitan dengan iman dan ikhsan. Wynne (1991) mengemukakan bahwa karakter dari bahasa yunani (to mark)  yaitu menandai dan memfokuskan pada bagaimana menerapkan nilai kebaikan dalam tindakan nyata atau perilaku sehari-hari. Kementerian agama Republik Indonesia mengemukakan bahwa karakter diartikan sebagai totalitas ciri-ciri individu yang melekat dan dapat diidentifikasi pada perilaku individu yang bersifat unik, dalam arti bisa membedakan satu individu dengan individu lain. Denga ini karakter berkaitan dengan kepribadian seseorang.  Lickona (1992) menekankan pentingnya 3 komponen karakter yang baik yaitu :

Bacaan Lainnya

1. Moral knowing(pengetahuan tentang moral)
2. Moral feeling (perasaan tentang moral)brupa penguatan (motivasi)
3. Tindakan moral (memberikan contoh)

Dalam perspektif Islam pendidikan karakter sebenarnya telah ada sejak islam di dunia seiring dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW untuk memperbaiki atau menyempurnakan akhlak (karakter) manusia. Ajaran islam sangat menekankan dalam bimbingan akhlak. Pengalaman ajaran islam secara kaffah (utuh)  adalah model karakter seorang muslim dipadukan dengan model karakter Nabi Muhammad SAW, yang memiliki sifat shidiq,  tabligh,  amanah,  fathonah. Di Indonesia pendidikan karakter telah dibahas secara tuntas oleh Ki Hajar Dewantara dalam kedua karya monumentalnya, pendidikan dan kebudayaan. Pendidikan karakter yang sekarang didegung-dengungkan  oleh Kemendiknas sebenarnya hanya istilah lain dari pendidikan budi pekerti dalam pemikiran Ki Hajar Dewantara 1968.

Baca Juga :  Manajemen Sarana Dan Prasarana PAUD

Sebagai mana telah dipaparkan sebelumnya, pendidikan atau mendidik sesungguhanya tidak hanya sebatas mentransfer ilmu (transfer of knowledge), namun lebih jauh dan pengertian itu yang lebih utama adalah mentransfer nilai (transfer of values), dapat mengubah atau membentuk karakter dan watak seseorang agar menjadi lebih baik, lebih sopan dalam tataran etika, estetika maupun perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembudayaan enkulturasi biasanya terjadi secara informal dalam keluarga, komunitas budaya suatu suku, atau komunitas budaya suatu wilayah. Proses pembudayaan enkulturasi dilakukan oleh orangtua atau orang yag dianggap lebih muda. Tata karma, adat istiadat, keterampilan suatu suku/keluarga biasanya diturunkan kepada generasi berikutnya melalui proses akulturasi. Sementara itu, proses akulturasi biasanya terjadi secara formal melalui pendidik. Seseorang yang tidak tahu, diberi tahu dan disadarkan akan keberadaan suatu budaya, kemudian orang tersebut mengadopsi budaya tersebut. Misalnya, seseorang yang pindah ke suatu tempat baru, kemudian mempelajari bahasa, budaya, kebiasaan dari masyarakat di tempat baru tersebut, lalu orang itu akan berbahasa dan berbudaya, serta melakukan kebiasaan sebagaimana masyarkat di tempat itu.

Pos terkait