Manajemen Pendidikan Karakter Aud Di Tk Aba Wonocolo Surabaya

Pendahuluan
Pendidikan karakter memiliki makna yang lebih tinggi dari pendidikan moral, karena pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan masalah benar atau salah.  Tetapi bagaimana menananamkan kebiasaan (habit) tentang hal yang baik dalam kehidupan,  sehingga anak memiliki kesadaran, dan pemahaman yang tinggi.  Serta kepedulian dan komitmen untuk menerapkan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan ini bahwa karakter adalah sifat alami seseorang dalam merespons situasi yang bermoral, diwujudkan dalam tindakan nyata melalui perilaku jujur,  baik,  bertanggung jawab, hormat terhadap orang lain.

Manajemen Pendidikan karakter Anak Usia Dini

Dalam konteks islam karakter berkaitan dengan iman dan ikhsan. Wynne (1991) mengemukakan bahwa karakter dari bahasa yunani (to mark)  yaitu menandai dan memfokuskan pada bagaimana menerapkan nilai kebaikan dalam tindakan nyata atau perilaku sehari-hari. Kementerian agama Republik Indonesia mengemukakan bahwa karakter diartikan sebagai totalitas ciri-ciri individu yang melekat dan dapat diidentifikasi pada perilaku individu yang bersifat unik, dalam arti bisa membedakan satu individu dengan individu lain. Denga ini karakter berkaitan dengan kepribadian seseorang.  Lickona (1992) menekankan pentingnya 3 komponen karakter yang baik yaitu :

1. Moral knowing(pengetahuan tentang moral)
2. Moral feeling (perasaan tentang moral)brupa penguatan (motivasi)
3. Tindakan moral (memberikan contoh)

Dalam perspektif Islam pendidikan karakter sebenarnya telah ada sejak islam di dunia seiring dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW untuk memperbaiki atau menyempurnakan akhlak (karakter) manusia. Ajaran islam sangat menekankan dalam bimbingan akhlak. Pengalaman ajaran islam secara kaffah (utuh)  adalah model karakter seorang muslim dipadukan dengan model karakter Nabi Muhammad SAW, yang memiliki sifat shidiq,  tabligh,  amanah,  fathonah. Di Indonesia pendidikan karakter telah dibahas secara tuntas oleh Ki Hajar Dewantara dalam kedua karya monumentalnya, pendidikan dan kebudayaan. Pendidikan karakter yang sekarang didegung-dengungkan  oleh Kemendiknas sebenarnya hanya istilah lain dari pendidikan budi pekerti dalam pemikiran Ki Hajar Dewantara 1968.

Sebagai mana telah dipaparkan sebelumnya, pendidikan atau mendidik sesungguhanya tidak hanya sebatas mentransfer ilmu (transfer of knowledge), namun lebih jauh dan pengertian itu yang lebih utama adalah mentransfer nilai (transfer of values), dapat mengubah atau membentuk karakter dan watak seseorang agar menjadi lebih baik, lebih sopan dalam tataran etika, estetika maupun perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembudayaan enkulturasi biasanya terjadi secara informal dalam keluarga, komunitas budaya suatu suku, atau komunitas budaya suatu wilayah. Proses pembudayaan enkulturasi dilakukan oleh orangtua atau orang yag dianggap lebih muda. Tata karma, adat istiadat, keterampilan suatu suku/keluarga biasanya diturunkan kepada generasi berikutnya melalui proses akulturasi. Sementara itu, proses akulturasi biasanya terjadi secara formal melalui pendidik. Seseorang yang tidak tahu, diberi tahu dan disadarkan akan keberadaan suatu budaya, kemudian orang tersebut mengadopsi budaya tersebut. Misalnya, seseorang yang pindah ke suatu tempat baru, kemudian mempelajari bahasa, budaya, kebiasaan dari masyarakat di tempat baru tersebut, lalu orang itu akan berbahasa dan berbudaya, serta melakukan kebiasaan sebagaimana masyarkat di tempat itu.

Baca Juga :  Hakikat Penilaian Pendidikan Anak Usia Dini

Adapun tentang karakteristik Pendidikan Nasional, Malik Fadjar (2005) menekankan bahwa pendidikan nasional haruslah mempunyai karakter yang berbasiskan pada budaya dan agama. Perdamaian bisa dicapai dengan mendayagunakan institusi-institusi pendidikan, agama dan kebudayaan. Dengan penggabungan ketiga hal tersebut diharapkan tertanam pandangan hidup bahwa manusia yang paling mulia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Tujuan Pendidikan Nasional termaktub dalam pembukaan Undang-Undang dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk itu setiap warga Negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya tanpa memandang status sosial, ras, etnis, agama dan gender.
   
Menurut ASCD for the Language Learning: A Guide to Education Terms, by J.L McBrien & R.S. Brand, Alexandria, VA: Association for Supervision and Curriculum Development (Endang Sumantri:2010) bahwa pengertian karakter telah dicoba dijelaskan dalam berbagai pengertian dan penggunaan, diantaranya dalam konteks pendidikan, karakter seringkali mengacu pada bagaimana tentang kebaikan seseorang. Karena itu, pendidikan karakter senantiasa akan berkaitan dengan bagaimana memberikan pengajaran pada anak-anak tentang nilai dasar manusia yang berkaitan dengan kejujuran, kebaikan, kedermawaan, keberanian, kebebasan, persamaan dan kehormatan.Pendidikan merupakan proses yang paling bertanggung jawab dalam melahirkan warga Negara Indonesia yang memiliki karakter kuat sebagai modal dalam membangun peradaban tinggi dan unggul. Ketika mayoritas karakter masyarakat kuat, positif, tangguh peradaban yang tinggi dapat dibangun dengan baik dan sukses. Sebaliknya, jika mayoritas karakter masyarakat adalah negatif dan lemah maka mengakibatkan peradaban yang dibangun pun menjadi lemah. Sebab peradaban tersebut dibangun diatas fondasi yang amat lemah.
   

A.    CARA MENANAMKAN KARAKTER PADA ANAK USIA DINI
Klann (2007) mengemukakan bahwa karakter setiap individu dibangun sejak pengalaman awal kehidupan dan pengaruh di masa kecil dan remaja. Hal tersebut beerasal dari kehidupan rumah, sekolah, interaksi dengan rekan-rekan, dan lembaga spiritual. Karakter setiap individu dipengaruhi oleh model peran, seperti orang tua, kakek-nenek, kakak, pendidik, pelatih, pemimpin spiritual, dan masyarakat pada umumnya. Pendapat tersebut memberikan gambaran, bahwa orang dewasa termasuk pendidik dalam konteks pendidikan,baik dalam lingkungan pendidikan informal, formal, maupun non formal turut memberikan konstribusi dalam membentuk karakter anak didik.

Baca Juga :  Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kelas

Agar karakter yang baik dapat diinternalisasikan ke dalam diri anak-anak, maka dalam melaksanakan pendidikan karakter, menurut Kemendiknas (2010) harus memperhatikan prinsip : 1) berkelanjutan; 2) melalui semua mata pelajaran, pengembangan diri, dan budaya satuan pendidikan, serta; 3) nilai-nilai karakter tidak diajarkan, tetapi dikembangkan melalui proses belajar yang mengutamakan anak aktif dan menyenangkan.

Menurut Steinn, dkk (2000), sekolah sebagai suatu sistem umumnya memiliki tujuan, yaitu untuk membantu anak-anak belajar dengan baik. Para anggota sistem, dari mulai dewan pendidikan, pendidik, para staf memiliki peran spesifik dan peran saling kebergantungan satu sama lain untuk memainkan peran dalam mendukung keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuannya. Keberhasilan tersebut dapat dicapai ketika setiap anggota bekerja mengikuti empat prinsip. Prinsip-prinsip ini secara terpadu diterapkan pada pembelajaran sehari-hari. Untuk memudahkan mengingat keempat prinsip tersebut, dibuatlah dalam akronim RCE. Paparan dari maksud tersebut adalah:
1.    Respect
2.    Impulse Control
3.    Compassion
4.    Equility

Sesuai dengan penelitian yang saya lakukan di TK ABA wonocolo Surabaya dalam membentuk karakter disebuah pembelajaran sangat dibentuk dalam pembukaan sampai dengan pulangnya anak – anak TK, guru menggunakan majemen waktu yang baik di sampaikan kepada murid sehingga murid tidak mudah bosan dan di setiap harinya anak juga berganti – ganti tema sehingga pembelajaran berjalan sesuai RPPH dan ada juga berbagai macam ekstrakulikuler di TK ABA tersebut sehinnga anak  ias memilih dan mengembangkan bakat yang dia pilih.

Oleh : Meuthia Romadhini Aisyiyah

Daftar pustaka
Mulyasa. 2010. Menjadi Guru Profesional. Bandung. PT. Remaja Kosdakarya.
 Mujtahid 2010. Manajemen Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara
Padmono, Y. 2011. Manajemen Kelas. Salatiga: Widyasari.
Rohani. 2004. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Tags: