Peningkatan Kemampuan Guru Dalam Menyusun Rpph Melalui Kegiatan Pelatihan Di Kelompok Bermain Walisongo Jumantono Kabupaten Karanganyar

Edukasi Kita ;Abstrak
Tujuan penulisan artikel ini adalah agar para tenaga pendidik dapat mengaplikasikan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) sehingga sesuai dengan Kurikulum 2013 . Penelitian Tindakan Pengawasan (PTP) ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kompetensi tenaga pendidik di KB Walisongo  yang dilakukan melalui kegiatan pelatihan. Setiap tindakan terdiri dari empat kegiatan:1) rencana tindakan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) observasi, dan 4) refleksi. Kesimpulan dari penelitian sederhana ini adalah kegaiatan pelatihan yang diikuti dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPPH.
Kata Kunci: Menyusun RPPH, Pelatihan

Peningkatan Kemampuan Guru Dalam Menyusun Rpph Melalui Kegiatan Pelatihan  Di Kelompok Bermain Walisongo Jumantono Kabupaten Karanganyar

Pendahuluan
Berdasarkan Permendiknas No. 16 Tahun 2007, ada empat kompetensi dasar yang harus dimiliki seseorang yang berprofesi sebagai guru yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi keahlian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Kompetensi profesional adalah kemampuan dasar tenaga pendidik yang mampu menguasai keahlian dan praktik dalam pembelajaran (Janawi, 2011:48-97). Kompetensi ini erat kaitannya dengan kemampuan guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Keberhasilan sebuah proses pembelajaran ditentukan oleh baik-tidaknya perencanaan.

Setiap tenaga pendidik harus menyusun RPPH yang akan digunakan sebagai acuan dan pedoman dalam melaksanakan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran yang berkualitas akan menentukan mutu proses belajar di sekolah. Oleh karena itu, seorang tenaga pendidik harus memiliki kemampuan dalam menyusun RPPH dengan baik dan sesuai dengan pedoman yang ada di dalam Permendiknas 41 tahun 2007.

Dari hasil penelitian yang diadakan di KB Walisongo, dapat diketahui bahwa guru belum seluruhnya mampu dalam menyusun RPPH secara mandiri. RPPH yang sudah ada merupakan hasil dari kegiatan pada tahun ajaran sebelumnya. Beberapa guru juga menyusun RPPH tidak sesuai dengan pedoman yang berlaku.

Setelah melakukan percakapan dengan guru terkait dengan penyusunan RPPH, disepakati adanya bimbingan dan pelatihan kepada seluruh guru di KB Walisongo, yang diharapkan pada kegiatan ini adalah guru dapat memahami komponen dan aturan penyusunan RPPH yang tepat dan sesuai. Selain itu, guru akan sadar bahwa penyusunan RPPH merupakan tugas pokok profesinya sebagai seorang guru, yang berkaitan dengan keprofesionalitasnya.

Baca Juga :  Membumikan Kesadaran Berliterasi di Kalangan Guru dan Siswa

Guru adalah sebuah profesi, setiap orang yang akan menjadi guru harus memiliki kemampuan kompetensi yang telah dipersyaratkan. Pada Bab I, Ketentuan Umum, disebutkan bahwa guru adalah tenaga pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan menengah.

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa seorang guru profesional minimal harus memenuhi kompetensi keprofesiannya sebagai seorang guru. salah satunya adalah kompetensi merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran.

Berdasarkan PP Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 20 dinyatakan bahwa perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Sesuai dengan Permendiknas  nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses dijelaskan bahwa RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan KD. Setiap guru pada satuan pendidikan PAUD berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar kegiatan pembelajaran terasa aktif, menyenangkan, mengasah kreatifitas dan kemandirian peserta didik.

Guru dalam menyusun RPP dan RPPH harus memperhatikan beberapa prinsip, yang sebagaimana tercantum dalam standar proses, antara lain: 1) memperhatikan perbedaan individu, 2) menumbuhkan pastisipasi aktif peserta didik, 3) berpusat kepada peserta didik, 4) pengembangan budaya baca dan tulis, 5) pemberian umpan balik dan tindak lanjut yang memuat penguatan, remedial, maupun pengayaan, 6) penekanan pada keterkaitan KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian, kompetensi, penilaian, sumber belajar dalam satu pengalaman belajar, 7) mengakomodasi pembelajaran tematik terpadu, 8) penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematif, dan efektif.

Agar memiliki kompetensi yang baik dalam penyusunan RPP maupun RPPH, guru perlu mengikuti pelatihan. Pelatihan merupakan suatu proses belajar mengajar terhadap kemampuan atau keterampilan tertentu serta sikap agar peserta semakin terampil dan mampu melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik dan sesuai standar. Adapun tujuan pelatihan merupakan upaya peningkatan sumberdaya manusia di bidang pendidikan. Pelatihan bagi tenaga pendidik berupa ceramah, tanya jawab, curah pendapat, simulasi, dan praktik.

Baca Juga :  Sifat Kreatif Pada Anak Usia Dini

Dari latar belakang diatas maka dapat dirumuskan bahwa dengan pelatihan dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun komponen-komponen RPP di KB Walisongo.

Hasil dan Pembahasan
Hasil observasi yang dilakukan melalui dialog percakapan dalam bentuk pernyataan yang terkait dengan pembinaan dan pelatihan kompetensi guru di KB Walisongo dalam pemahaman terhadap Standar Proses Pembelajaran dan penyusunan komponen RPPH melalui pelatihan guru.
Dengan kegiatan dialog dan beberapa pengumpulan instrumen, dapat dijelaskan bahwa guru sangat antusias dalam mengikuti pealatihan yang dilakukan oleh pihak sekolah maupun dinas pendidikan setempat, kegiatan pelatihan dilakukan per-gugus. Satu gugus menaungi beberapa sekolahan. Pelatihan dilakukan sekitar sebulan sekali yang dilanjutkan dengan kegiatan rapat kerja bersama. Pelatihan berkala dimulai sejak bulan April hingga Mei yang dipusatkan pada upaya pengembangan RPP, dan total sudah melakukan kurang lebih 2 pertemuan.

Kompetensi guru dalam memahami Standar Proses Pendidikan dan penyusunan RPP, belum signifikan walaupun telah dilakukan pembinaan melalui Kegiatan Pelatihan ke-1. Hal ini menunjukkan bahwa upaya peningkatan kompetensi profesional guru dalam penyusunan RPP belum memadai dan sesuai stadart yang ada. Ini menunjukkan bahwa masih ada berbagai aspek yang dapat meningkatkan kompetensi guru, seperti kesiapan dan kesungguhan guru. Pelatihan guru dalam meningkatkan kompetensi menyusun RPP dan RPPH perlu dilanjutkan ke Kegiatan Pelatihan selanjutnya yang dinamis dan berkesinambungan. Perlu adanya supervisi lanjutan sudah sejauh mana peningkatannya, berjalan signifikan atau tidak.

Simpulan
Dalam observasi ini dapat disimpulkan bahwa dalam upaya peningkatan kompetensi profesional di KB Walisongo Jumantono Kabupaten Karanganyar dalam menyusun RPP dan RPPH sangat diperlukan dengan berbagai pendekatan dan cara, terbukti bahwa kegiatan pelatihan berkelanjutan pelatihan dapat meningkatkan kompetensi guru di KB Walisongo.

Baca Juga :  Stunting Penyebab Menurunnya Kecerdasan Anak

Oleh Ida Ayu Permatasari

Daftar Pustaka
Depdiknas. 2007. Pedoman Penelitian Tindakan Sekolah. Jakarta: Depdiknas.
Depdiknas. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 41 Tahun 2007 tentang Standar      Proses Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.
E.Mulyasa. 2007. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: Rosda Karya.
Sa’abani, Faizuz. Peningkatan Kompetensi Guru dalam Menyusun RPP Melalui Kegiatan Pelatihan pada MTs Muhammadiyah Wonosari. Yogyakarta.

Tags: