Konsep Manajemen Kurikulum PAUD

Edukasi Kita ;
Bab I Pendahuluan
Latar Belakang, Pendidikan PAUD menjadi sangat penting karena potensi kecerdasan dan dasar-dasar perilaku seorang terbentk pada rentang usia ini, Pentingnya masa ini sehingga usia dini sering disebut sebagai the golden age (usia emas). Para peneliti menyimpulkan bahwa perkembangan anak pada tahap beriktnya dan meningkatkan prokdutifitas kerja di masa dewasa. Anak usia dini memiliki potensi untuk menjadi lebih baik dimasa depan, namun potensi tersebut hanya dapat berkembang saat diberi rangsangan, bimbingan, bantuan, dan perlakuan yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan perkembangannya. Dalam upaya pembinaan terhadap satuan-satuan PAUD tersebut diperlukan adanya sebuah kerangka dasar kurikulm dan standar kompetensi adalah rambu-rambu yang dijadikan acuan dalam penyusunan kurikulum dan silabus (rencana pembelajaran) pada masig-masing tingkat satuan pendidikan.

Konsep Manajemen Kurikulum PAUD

Manajemen kurikulum salah satu aspek yang berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran dalam pendidikan nasional. Di samping itu, kurikulum merupakan suatu sistem program pembelajaran untuk mencapai tujuan institusional pada lembaga pendidikan, sehingga kurikulum memegang peranan penting dalam mewujudkan sekolah yang bermutu atau berkualitas. Kurikulum merupakan program pendidikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan (sekolah) bagi peserta didik. Berdasarkan program pendidikan tersebut siswa melakukan berbagai kegiatan belajar, sehingga mendorong perkembangan dan pertumbuhannya sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Untuk menunjang keberhasilan kurikulum, diperlukan adanya upaya pemberdayaan bidang manajemen atau pengelolaan kurikulum. Dengan kata lain, dengan program kurikuler tersebut, sekolah menyediakan lingkungan pendidikan bagi peserta didik untuk berkembang. Itu sebabnya, kurikulum disusun sedemikian rupa yang memungkinkan peserta didik melakukan beraneka ragam kegiatan belajar, kurikulum tidak terbatas pada sejumlah mata pelajaran namun meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan peserta didik, seperti: bangunan sekolah, alat pelajaran, perlengkapan sekolah, perpustakaan, karyawan tata usaha, gambar- gambar, halaman sekolah, dan lain-lain.

Berdasarkan uraian diatas, sangat diperlukan adanya pembahasan tentang manajeman kurikulum, seperti membahas definisi kurikulum, kedudukan kurikulum, sejarah kurikulum, tugas kepalah sekolah dan guru, dan lain sebagainya. Dengan menambah wawasan kami dan para mahasiswa lainnya yang akan menjadi calon pendidik anak usia dini. Dalam hal ini kami membahas tentang “Manajemen Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini”.

B.    Rumusan Masalah
1.    Apa Definisi Kurikulum?
2.    Bagaimana Sejarah Kurikulum Di Indonesia?
3.    Bagaimana Kedudukan Kurikulum Dalam Penddikan? 4. Bagaimana Landasan Manajemen Kurikulum?
5.    Bagaimana Pengembangan Kurikulum?
6.    Apa Tugas Kepala Sekolah Dan Guru Dalam Manajemen Kurikulum? 7. Bagaimana Pembagian Beban atau Tugas Mengajar Guru?

C.    Tujuan
1.    Untuk Mengetahui Definisi Kurikulum.
2.    Untuk Mengetahui Sejarah Kurikulum Di Indonesia.
3.    Untuk Mengetahui Kedudukan Kurikulum Dalam Penddikan.
4.    Untuk Mengetahui Macam-Macam Landasan Manajemen Kurikulum. 5. Untuk Mengeahui Pengembangan Kurikulum.
6.    Untuk    Mengetahui    Tugas    Kepala    Sekolah    Dan    Guru    Dalam Manajemen Kurikulum.
7.    Untuk Mengetahui Pembagian Beban atau Tugas Mengajar Guru.

BAB II PEMBAHASAN
A.    Definisi Kurikulum
Para ahli mengemukakan pandangan yang beragam. Dalam pandangan klasik lebih menekankan kurikulum dipandang sebagai rencana pembelajaran di suatu sekolah, pelajaran-pelajaran dan materi apa yang harus ditempuh di sekolah, itulah kurikulum. Dalam undang-undang No
20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional, pasa 1 butir 19 disebutkan bahwa: Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum menurut Daniel Tanner dan Laurel Tanner, pengertian kurikulum adalah pengalaman pembelajaran yang terarah dan terencana secara terstruktur dan tersusun melalui proses rekontruksi pengetahuan dan pengalaman secara sistematis yang berada di bawah pengawasan lembaga pendidikan sehingga pelajar memiliki motivasi dan minat belajar.

Hmaid Hasan (1988) nmengemukakan bahwa kurikulum dapat ditinjau dalam empat dimensi yaitu:
1.    Kurikulum sebagai suatu ide yang dihasilkan melalui teori-teori dan penelitian-penelitian, khususnya dalam bidang kurikulum dan pendidikan.
2.    Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis sebagai prwujudan  dari kurikulum sebagai suatu ide, yang didalamnya memuat tentang tujuan, baha, kegitan, alat-alat, dan waktu.
3.    Kurikulum sebagai suatu kegiatan, yang merupakan pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis: dalam bentuk praktik pembelajaran.
4.    Kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekuensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan dalam bentuk ketercapaian tujuan kurikulum yakni tercapainya perubahan perilaku atau kemampuan tertentu dari para peserta didik.1

Sementara itu, purwadi (2003) memilih pengertian kurikulum menjadi enam bagian:
1.    Kurikulum sebagai ide.
2.    Kurikulum formal berupa  dokumen  yang  dijadikan  sebagai  pedoman dan panduan dalam pelaksanaan kurikulum.
3.    Kurikulum menurut presepsi pengajar.
4.    Kurikulum operasional yang dilaksanakan atau  yang dioperasionalkan oleh pengajar di kelas.
5.    Kurikulum experience  yakni  kurikulum  yan  dialami  oleh  peserta dididk.
6.    Kurikulum yang diperoleh dari penerapan kurikulum.2

B.    Sejarah Perkembangan Kurikulum di Indonesia
Kurikulum merupakan dasar dan pedoman dalam menjalankan sistem pendidikan nasional. Sepanjang usia kenegaraan, Indonesia telah memiliki sepuluh kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Perubahan ini sendiri merupakan keniscayaan sebagai konsekuensi perubahan zaman. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut berasal dari internal indonesia seperti sistem politik, sosial budaya, ekonomi, serta ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Selain itu faktor eksternal seperti tingkat daya saing antar negara juga turut menentukan arah kurikulum pendidikan nasional. Kemendikbud menyebutkan kurikulum sebagai seperangkat rencana penddikan. Kurikulum perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan peubahan.yang tejadi di masyarakat.  Meski demikian perubahan tersebut tetap mengacu pada pancasila dan UUD 1945. perbedaanya terdapat pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan, serta pendekatan dan merealisasikannya.

1.    Kurikulum 1947
Kurikulum pertama ini disebut rencana pelajaran taun 1947 atau ler plan. Kurikulum ini kental dengan politis. Ia merupakan upaya dalam mengubah orientasi pendidikan yang berorientasi kolonialis belanda, menjadi berorientasi kepentingan nasional berasaskan pancasila. karena pergolakan revolusi, rencana pelajaran tahun 1947 baru dapat diterapkan pada tahun 1950. Susunannya sangat sederhana yaitu daftar mata pelajaran, jam pengajarnya, serta garis-gars besar pengajarannya. Kurikulum ini mengedepankan pendidikan watak, kesadaran bernegara, dan bermasyarakat dari pada pendidikan pikiran. Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian, dan pendidikan jasmani. ada 16 materi pelajaran di tingkat sekolah rakyat dengan pelajaran tambahan bahasa darah di jawa, sunda, dan madura. Metode pengajaran pada kurikulum ini ditekankan pada konsep guru mengajar dan murid mepelajari.

2.    Kurikulum tahun 1952
Ini merupakan pengembangan dari rencana tahun 1947. Kurikulum yang dikenal sebagai rencana pelajaran terurai tahun 1952 ini merinci setiap mata pelajaran dan menghubungkan isi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Ada lima pokok dalam kurikulum ini yaitu pendidikan pikiran harus dikurangi, isi pelajaran harus dihubungkan sengan kesenian, pendidikan watak, pendidikan jasmani, dan kewarganegaraan masyarakat.

3.    Kurikulum tahun 1964
Kurikulum lahir dipenghujung era Presiden soekarno. Kurikulum ini memfokuskan pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (panchawardhana) peserta didik. Didalam kurikulum 1964 ada lima  hal pokok: Indonesia berjiwa pancasila, man power, kepribadian kebudayaan nasional yang luhur, ilmu dan teknologi yang tinggi dan pergerakan rakyat dan revolusi. Secara umum, mata pelajaran juga diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdan, emosional, keterampilan, dan jasmani. Pada tingkat pendidikan dasar, penekanannya cenderung kepada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.

4.    Kurikulum tahun 1968
Tujuan dalam pendidikan kurikulum ini yaitu menekankan upaya dalam membentuk manusia pancasila sejati, kuat, dan sehatjasmani, serta mempertnggi kecerdasan dan keterampilan jasmani , moral, budi pekerti, dan keyakinan beragam. Kurikulum ini merupakan perwujudan dri perubahan orientasi pada pelaksanaan uud 1945 secara murni dan konsekuen.

5.    Kurikulum tahun 1975
Kurikuum ini menekankan efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu. Kurikulum ini dipengaruhui oleh psikologi tingkah laku dengan menekankan stimulus respons dan latihan. Pelaksanaannya menggunakan pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan prosedur pengembangan sistem intrukional (PPSI) sistem ini mengaruh kepada tercapainya tujuan yang spesifik, dapat diukur, dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku sisa.
Setiap satuan pelajaran dirinci menjadi petunjuk umum, tujuan intruksional khusus, materi pelajaran, kegiatan belajar- mengajar, dan evaluasi. Krtitik dari kurikulum ini hadir karena guru menjadi lebih sibuk menulis rincian, yang akan dicapai dari seriap kegiatan pembelajaran.

6.    Kurikulum tahun 1984
Kurikulum ini dikenal dengan pendekatan cara belajar siswa aktif (CBSA). Berdasarkan pendekatan keterampilan (skill approach), guru menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum memberikan latihan kepada peserta didik. CBSA sendiri menempatkan siswa sebagai sumber belajar. Mereka mengamati sesuatu, megelompokkan, mendiskusikan kemudian melaporkan hasil pengamatan tersebut. Orientasi kurikulum 1984 adalah tujuan intruksional.

7.    Kurikulum tahun 1994
Penyempurnaan kurikulum ini mengubah sistem pembagian waktu pelajaran, dari semester ke caturwulan. Dengan begitu , siswa diharapkan dapat menerima materi pelajaran cukup banyak. Penekanan pengajaran adalah pada pemehaman konsep, serta keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan maslah.
Kurikulum Thun 1994 bersifat populis. Artinya satu kurikulum diberlakukan secara merata untuk semua siswa di seluruh indonesia. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial.

Baca Juga :  Strategi Dalam Mengatasi Tindakan Bullying di Sekolah

8.    Kurikulum tahun 2004
Kurikuum tahun 2004 lebih dikenal dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Titik beratnya adalah pengembangan kemampuan siswa untuk melakukan tugas-tugas tertentu, sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditetapkan. Karena berorientasi pada pencapaian kompetensi individu siswa maka penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode bervariasi. Guru bukan satu-satunya sumber belajar. Siswa dapat mencari sumber belajar lain yang memenuhi unsur edukatif. Proses penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

9.    Kurikulum tahun 2006 (KTSP)
Kurikulum ini memberikan otoritas kepada guru dalam mengembangkan kurikulum secara bebas, dengan memerhatikan karakteristik siswa dengan lingkungan di sekolahnya. dalam mengembangkan kurikulum, guru mengacu pada kompetensi dasar (KD), standar kompetensi lulusan (SKL), sttandar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD). Ketiga parameter tersebut sudah dtetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (kini kementrian pendidikan dan kebudayaan-red) untuk setiap mata pelajaran pada tiap jenjang pendidikan.

10.    Kurikulum tahun 2013
kurikulum tahun 2013 dicetuskan pada masa menteri muhammad nuh untuk menggantikan ktsp. ia akan menekankan pemahaman, skill, dan pendidikan berkarakter. pada tahun 2013 siswa dituntut untuk memahami materi, aktif dalam berdiskusi dan presentasi, serta memiliki sopan santun disiplin yang tinggi.
Pada kurikulum 2013, siswa diharuskan untuk mengikuti mata pelajaran wajib dan dapat menentukan sendiri mata pelajaran mereka. kedua kelompok mata pelajaran tersebut (wajib dan pilihan) dikembangkan dalam struktur kuriklum pendidikan menengah yaitu di SMA dan SMK. Kurikulum tahun 2013 menggunakan pendekatan tematik integratif untuk jenjang SD. Kurikulum 2013 menggunakan membelajaran saintifik dan pendekatan integratif untuk jenjang PAUD. pendekatan ini mengintegrasikan seluruh mata pelajarn dalam bentuk tema-tema.3

C.    Kedudukan Kurikulum Dalam Pendidikan
Kurikulum bukanlah kegiatan, melainkan sebuah program yang didesain, direncanakan, dikembangkan, dan dilaksanakan dalam situasi belajar mengajar yang sengaja diciptakan disekolah. Berkaitan dengan hal itu, kedudukan kurikulum dalam pendidikan adalah:
a.    Sejalan dengan Syaodih  (1988)  dalam  Hasibun  (2010:21) mengemukakan bahwa kurikulum merupakan sesuatu yang sangat strategis untuk mengendalikan jalannya proses penddidikan. Berkaitan dengan posisi kurikulum yang demikian akan menjadi semakin dipandang penting apabila kurikulum itu dikembalikan kepada pengertiannya disebut bahwa kurikulum itu adalah segala sesuatu yang
berkaitan dengan aktivitas sekolah yang dapat merangsang berkembangnya kegiatan belajar siswa.

b.    Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum bertujuan sebagai arah, pedoman, atau sebagai rambu-rambu dalam pelaksanaan proses pembelajaran (belajar mengajar). Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainnya tujuan-tujuan pendidikan.
c.    Kurikulum  merupakan  suatu  rencana  pendidikan,   memberikan pedoman dan pegangan tentang jenis, lingkup, dan urutan isi, serta proses pendidikan.
d.    Kurikulum merupakan suatu bidang studi, yang ditekuni oleh para ahli       atau spesialis kurikulum, yang menjadi sumber konsep-konsep atau memberikan landasan-landasan teoritis bagi pengembangan kurikulum berbagai institusi pendidikan.

Dengan demikian, kurikulum adalah syarat mutlak dalam sekolah. Kurikulum mempunyai kedudukan sentral, sebagai pusat proses pendidikan sehingga apabila tidak ada kurikulum maka proses belajar mengajar tidak akan mencapai tujuan dengan baik karena didalam kurikulum berisi rencana pendidikan sebagai pedoman dan juga sebagai bidang studi yang menjadi sumber konsep dan landasan bagi institusi pendidikan.

D.    Landasaan Pengembangan Kurikulum
Kurikulum menjadi begitu penting karena menjadi penentu arah dan kualitaas pembelajaran, kualitas suatu lembaga, dan akhirnya kualitas suatu bangsa. Oleh karena itu menyusun kurikulum bukan pekerjaan yang mudah dan harus memperhatikan sejumlah prinsip yang melandasinya.

1.    LANDASAN FILOSOFIS
Landasan filosofis bersumber dari keyakinan terhadap hakekat manusia, keyakinan tentang sumber nilai, hakekat pengetahuan, dan tentang kehidupan yang lebih baik. Pendidikan, kurikulum dan pembelajaran dipandang sebagai alat yang tepat untuk memfasilitasi terwujudnya nilai-nilai filosofis suatu bangsa. Secara strategis kurikulum menjadi jantungnya pendidikan sedangkan pembelajaran merupakan aplikasi dari kurikulum dan pendidikaan.

Pendidikan Anak Usia Dini merupakan jenjang pendidikan  pertama yang menerima amanah dari keluarga untuk mendidik anak pada rentangan usia nol sampai enam tahun. Di usia inilah nilai-nilai moral spiritual dan nilai moral social ditanamkan melalui pembiasaan sehari-hari. Kurikulum PAUD meletakkan nilai moral sebagai bidang utama yang harus dicapai, karena sejatinya pendidikan moral memerlukan proses sejak dini, berkelanjutan, dan menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat. Sejak dini anak harus dikenalkan dengan berprilaku jujur, penolong, sopan, hormat, sportif, menghormati (toleransi) terhadap agama orang lain, mengenal agama yang dianutnya, dibiasakan untuk mengerjakan ibadah, menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

2.    LANDASAN PSIKOLOGIS
Peran utama guru PAUD tidak terletak pada aktivitas mengajar, tetapi lebih sebagai pembina, model, fasilitator, dan motivator. Oleh karena itu pendidik harus mengembangkan kurikulum dengan menggunakan pendekatan psikologi anak dan psikologi belajar.
a.    Psikologi Anak
Proses belajar seseorang akan mengikuti pola dann tahap- tahap perkembangan sesuai dengan umurnya. Pola dan tahap-tahap perkembangan sesuai dengan umurnya. Pola dan tahap-tahap ini bersifat hararkhis, artinya harus dilalui berdasarkan urutan tertentu dan seseorang tidak dapat belajar sesuatu yang berada di luar tahap kognitifnya. Menurut Piaget (1958) Perkembangan kognisi anak dapat dikelompokkan ke dalam tahapan sebagai berikut :
1)    Tahap sensorimotorik (usiia 0 – 2 tahun)
Pada tahap ini perkembangan kemampuan anak dapat dilihat dari kegiatan motorik dan persepsinya yang masih sederhana. Ciri pokok perkembangannya berdasarkan tindakan yang dilakukan langkah demi langkah. Kemampuan yang dimiliki anak usia ini antara lain; a) melihat dirinya sendiri sebagai makhluk yang berbeda dengan objek di sekitarnya, b) mencari rangsangan melalui arah sinar dan suara, c) tertarik untuk memperhatikan sesuatu lebih lama, d) mengartikan sesuatu dengan memanipulasinya, e) memperhatikan objek sebagai hal yang tetap, kemudian ini merubah tempatnya.
2)    Tahap praoperasional (umur 2 – 7 tahun)
Tahap praoperasional disebut juga dengan tahap simbolik atau bahasa tanda. Pada tahap ini anak mengalami kemajuan perkembangan secara mencolok melalui dua hal yaitu mulai berkembangnya konsep-konsep dan intuitif.5

b.    Psikologi Belajar
Belajar adalah suatu hal yang dianggap sangat penting. Belajar bukan hanya menjadi bidang kajian psikologi saja tetapi juga pendidikan. Walaupun seorang guru bukan psikolog tetapi penting memahami bagaimana proses belajar itu terjadi, dalam keadaan bagaimana belajar itu memberi hasil yang sebaik-baiknya bagi anak, dan bagaimana anak bisa merubah sikapnya menjadi lebih baik melalui belajar. Apabila guru dapat menjawab persoalan-persoalan tersebut, maka kurikulum dapat disusun dan dilaksanakan dalam bentuk pembelajaran yang efektif. Saat ini teori belajar berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Terdapat tiga teori belajar yang penting untuk difahami oleh guru, yaitu teori belajar behavioristik, teori belajar kognivistik, dan teori belajar konstruktivistik.
1)    Teori Belajar Behavioristik
Teori behavioristik merupakan teori belajaar yang paling dasar diantaranya dilandasi hasil para peneliti seperti Petrovich Pavlov, Thorndike, Skinner, Watson, dan Gagne. Teori ini menggunakan teknik belajar assosiasi dengan cara pengkondisian ataau pembiasaan untuk mencapai suatu tujuan. Menurut teori ini, pembelajaran tidak lain daripada memberi stimulus (S) atau rangsangan tertentu keepada anak yang  kemudian mengakibatkan adanya reaksi atau respons (R) yang diharapkan sesuai dengann tujuan. Hasil belajar berbentuk perubahan tingkah laku yang dapat dilihat. Fokus pada pola prilaku baru yang diulang-ulang sampai menjadi otomatis. Dalam perkembangannya teori ini kemudian mengispirasi sejumlah model pembelajaran seperti; a) Belajar tuntas /mastery learning,
b) Pembelajaran langsung/direct nstruction, c) Belajar kontrol diri /learning self control, d) Latihan asertif /assertive training.

2)    Teori Belajar Kognivistik
Teori belajar kognivistik berkembangg atas dorongan ketidakpuasan terhadap teori behavioristik yang sudah berkembang sebelumnya. Teori ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses informasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang sudah ada. Proses mental seperti berpikir, memori, dan pemecahan masalah perlu dieksplorasi.

3)    Teori Belajar Konstruktivistik
Teori konstruktivistik berpendapat bahwa belajar merupakan persoalan yang kompleks karena tidak hanya melibatkan aktivitas fisik, tetapi juga berkenaan dengan aktivitas fisik, tetapi juga berkenaan dengan aktivitas mental. Pengetahuaan dibangun dalam diri seseorang melalui interaksi dengan lingkungan yang berkesinambungan. Menurut teori ini pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikirann guru ke pikiran anak. Artinya, bahwa anak harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Dengan kata lain, anak tidak dianggap sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru.

3.    LANDASAN ORGANISATORIS
Anak dipandang sebagai satu kesatuan yang utuh. Ketika bekerjalah sesungguhnya anak belajar dan ketika itu pula anak merefleksikan semua persoalan yang ada dalam hidupnya. Mereka akan menggunakan kemampuan intelektualnya, kemampuan sosialnya, kemampuan moralnya dengan pembinaan guru. Guru berperan sebagai pembina, pembimbing, motivator, dan fasilitator bagi lahirnya ide-ide dari anak.7
Desain kurikulum humanistik didasari oleh pendidikan konfluen yang ingin menyatukan segi-segi afektif yaitu sikap, perasaan, dan nilai dengan segi-segi kognitif yaitu kemampuan intelektual secara terintegrasi. Model kurikulum ini berupaya memelihara keutuhan pribadi, dimana anak secara individual memungkinkan belajar merespon secara utuh dari pikiran, perasaan, dann tindakan. Terdapat beberapa aktivitas yang dominan pada pendidikan konfluen; a) pembelajaran berbasis tema, b) aktivitas anak menjadi prioritas pembelajaran, c) anak belajar sambil bekerja, d) orientasi pembelajaran pada aktualisasi diri anak.

Baca Juga :  Lunturnya Budaya Sopan Santun Peserta Didik Kelas Vi Mi Islamiyah Banjarsari Buduran Sidoarjo

4.    LANDASAN SOSIOLOGIS
Pendidikan sesungguhnya merupakan proses soialisasi dalam rangka mempersiapkan anak untuk hidup lebih baik di masyarakat. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa sesungguhnya anak berasal dari masyarakat, sehari-hari hidup bermasyarakat, dan dipersiapkan oleh sekolah untuk menjadi anggota masyarakat yang baik. Tiap anggota masyarakat berkewajiban mengembangkannya dan anak wajib dibimbing ke arah itu. Jika bahan pelajaran diambil dari masyarakat dan pengajarannya dilangsungkan ditengah masyarakat maka dapat dikatakan bahwa pengajaran dijalankan oleh masyarkaat, untuk masyarakat, dan dalam masyarakat.

5.    LANDASAN TEKNOLOGI
Seiring dengan kemajuan teknologi terbukti melahirkan beragam pekerjaan yang menuntut keahlian khusus secara professional. Kondisi ini menjadi tantangan bagi dasar pengembangan  kurikulum. Kurikulum harus mampu menghasilkan outcomes yang siap bersaing  di era ini dan kedepannya. Saat ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat, satu hal yang harus dijawab oleh pendidikan adalah bagaimana kemajuan teknologi itu berdampak positif bagi pembelajaran anak?. Saat ini pendidikan yang tepat yaitu yang tidak memisahkan anak dari perkembangan teknologi. Konsekwensinya adalah bagaimana kurikulum dirancang agar tidak hanya menjadikan teknologi sebagai suatu substansi kajian tetapii menyiapkan annak- anak menjadi pelaku teknologi, bermoral baik dan bukan objek dari teknologi

E.    Pengembangan Kurikulum
Pengembangan Kurikulum adalah istlah yang komprehensif, didalamnya mencakup, perencanaan, penerapan dan evaluasi. Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yan akan digunakan oleh guru dan peserta didik. Penerapan kurikulum atau bisa disebut juga implementasi  kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum kedalam tindakan operasional. Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri. Dalam pengembangan kurikulum, tidak hanya melibatkan orang yang terkait langsung dengan dunia pendidikan saja, namun didalamnya melibatkan banyak orang seperti: politikus, pengusaha, orang tua peserta didik, serta unsur-unsur masyarakat lainnya yang merasa berkepentingan dengan pendidikan.9 Sistem Pengembangan kurikulum harus berdasarkan asas-asas sebagai berikut:

1.    Kurikulum dan teknologi pendidikan berdasarkan  pada  asas  keimanan dan ketakwaan terhadap tuhan Yang Maha Esa.
2.    Kurikulum dan teknologi pendidikan berdasarkan  dan  diarahkan  pada asas demokrasi pancasila.
3.    Pengembangan Kurikulum dan teknologi pendidikan berdasarkan pada    asas keadilan dan pemerataan pendidikan.
4.    Pengembanagn kurikulum dan teknologi pendidikan dilandasi dan diarahkan berdasarkan asas keseimbangan, keserasian, dan keterpaduan.
5.    Pengembanagan Kurikulum dan teknologi pendidikan dilandasi dan diarahkan berdasarkan asas hukum yang berlaku.

6.    Pengembangan kurikulum dan teknologi pendidikan dilandasi dan diarahkan berdasarkan asas kemandirian dan pembentukan manusia mandiri.
7.    Pengembangan kurikulum dan teknologi pendidikan dilandasi dan diarahkan asas nilai-nilai kejuangan bangsa.
8.    Pengembangan kurikulum dan teknologi pendidikan dilandasi dan diarahkan bersasrkan asas pemenfaatan, pengembangan, penciptaan ilmu pengetahuan, dn teknologi.10
Tata kelola pengembaangan kurikulum berkenaan dengan rangkaian proses, kebijakan, aturan, dan pola institusi yang mempengaruhi pengarahan, pengelolaan, serta pengontrolan suatu kurikulum. Tata kelola kurikulum juga mencakup hubungan antara para pengambil kebijakan, praktisi pendidikan, dan masyarakat (stakeholders) yang terlibat dalam mewujudkan tujuan pengembangan kurikulum.11
Berdasarkan pengembangaan tugas, wewenang, dan tanggung jawab, tata kelola pengembangan kurikulum secara umum dibedakan antara tata kelola kurikulum terpusat (centralized curriculum) dan tata kelola pengembangan kurikulum tersebar (decentralized curriculum).

1.    Tata Kelola Sentralistik
Tata kelola kurikulum secaara sentralistik mengacu pada kondisi dimana otoritas tata kelola ditangani oleh pemerintah pusat melalui lembaga khusus yang menanganinya. Lembaga pusat ini memiliki kekuatan penuh atas semua sumber daya: uang, informasi, orang, teknologi, termasuk memuttuskaan isi kurikulum, control anggaran, bertanggung jawab untuk pekerjaan, pembangunan fasilitas pendidikan, dan kebijakan.12
2.    Tata Kelola Desentralistik
Tata kelola kurikulum secara desentralistik mengacuh pada sejauh mana otoritas yang diserahkan kepada sekolah masing-masing melalui pemerintah daerah. Tata kelola Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan salah satu contoh pengembangan kurikulum desentralisik. Setiap sekolah dapat membuat keputusan sendiri terkait dengan operasionalisasi kurikulumnya. Tata kelola desentralistik didasari oleh kekuatan yang bersifat grassroots. Masyarakat memiliki hak untuk terlibat langsung dalam memberi dukungan terhadap pengembangan bahkan sebagai penilai objektif terhadap kondisi pendidikan di daerahnya. Pada akhirnya sekolah menjadi tumpuan kekuatan utama sekaligus sebagai ujung tombak peningkatan kualitas suatu bangsa.13

F.    Tugas Kepala Sekolah Dan Guru Dalam Manajemen Kurikulum
1.    Tugas kepala sekolah dalam manajemen kurikulum
Kepala sekolah berada di garda terdepan dalam mengimplementasikan kurikulum dan mempunyai peran yang sangat dominan dalam manajemen sekolah. Kepala sekolah selalu memperatikan kinerja guru dan staf khususnya dalam pendokumentasian daftar prestasi  siswa yang nantinya bisa dipublikasikan ke masyarakat sebagai bagaian dari output yang bisa dibanggakan. Kepala sekolah yang dikatakan manajer sekolah karena mempunyai peran yang sangat penting dalam:
a.    Meningkatkan mutu sekolah.
b.    menghasilkan output pendidikan yang baik.
c.    mendayagunakan sumber daya yang ada secara efisien dan efektif dalam rangka mencapai visi misi tertentu..
Manajemen kurikukulum dan pembelajaran disekolah sanagat memperioritaskan peran kepala sekoah dalam berbagai hal seperti:
a.    Perencanaan pengembanagn kurikulum dan pembelajaran kepala sekolah menjalankan tugasnya sebagai manajer yang bertugas merumuskan program, pemimpin yang berperan sebagai motivator sekaligus supervisor yang mengawasi pelaksanaan kurikulum dikelas, Pemimpin yng engubungkan kepentingan kepala sekolah dengan orang tua siswa yang berkitan dengan penerapan kurikulum, manajer yang menerapkan penyelenggaraan manajemen pengajaran yang harus dilakukan oleh guru saat pererapan kurikulum, Pemimpin yang mengatur pembagian tugas terhadap semua staf.
b.    Melakukan penerapan kurikulum dan pembelajaran disekolah Kepalah sekolah menjalankan perannya sebagai: pemimpin yang selalau memberikan kepercayaan dengan mendelegasikan tugas kepada gurudan kependidikan yang ada isekolah, Pemimpin yang selalu memberi motivasi kepada seluruh tenaga kependidikan untuk melaksnakan tugasnya, pemimpin yang selalau memonitor terhadap pelaksanaan penerapan kurikulum dikelas, pemimpin yang mengendalikan situasi apabila ada permasalahan selama proses penerapan kurikulum.

c.    Perencanaan evaluasi kurikulum dan pembeajaran disekolah.
Kepala sekolah menalankan tugasnya sebagai: pemimpin yang melakukan konsultasi dengan kepala dinas dan meminta pertimbangan dalam proses evaluasi kurikulum dan pembelejaran, pemimpin yang menyebarluaskan informasi yang telah diperoleh dari hasil konsultasi kepada para guru sekolah.
2.    Tugas guru dalam manajemen kurikulum
Guru dan peserta didik merupakan tokoh sentral di dalam proses pembelajaran guru dan peserta didik. Secara kolaboratif menentukan materi dan tujuan beajar sesuai dengan minat dan kebutuhannya, dan menentukan cara yang paling sesuai untuk memperoleh materi dan mencapai tujuan belajarnya.

Dengan demikian dikaitkan dengan penerapan kurikulum terdapat tiga komponen utama yang harus berjalan secara sinergis yakni: Peserta didik, guru, kurikulum, Dalam proses pembelajaran di sekolah, ketiga komponen tersebut terdapat hbungan yan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain.
Dalam penerapan kurikulum disekolah sedikitnya ada sembilan peran guru yang harus dilaksanakan secara menyeluruh
1.    Translator
Guru berperan menerjemahkan disekolah. Proses penerjemahan bermanfaat dalam: memberi sumber inspirasi, wawasan, dan umpan balik terhadap kemajuan mutu pendidikan sebagai kebutuhan yang relevan bagi siswa. Guru disekolah juga merupakan perencana dan pelaksana atas pengembangan kurikulum terdepan di kelas dalam menjalankan tugas dan amanatnya.
2.    Konselor
Guru berperan mengatasi berbagai hambatan yang dapat menggaggu kemajuan belajar siswa, baik yang bersifat pribadi maupun kelompok. Berbagai permasalahan yang dihadapi siswa. Penerapan kurikulum di sekolah hampir seluruhnya bergantung pada kreativitas, kecakapan, kesungguhan, dan ketekunan guru.

3.    Evaluator
Guru di sekolah menjadi penilai dalam ketercapaian terlaksananya proses kurikulum secara komprehensif dan berkesinambungan secara terus menerus terhadap berbagai aspek tingkah laku siswa. Walaupun kurikulum sudah tersusun dengan baik, tapi guru masih mempunyai tugas untuk mengadakan penyempurnaan dan penyesuai-penyesuaian. Penerapannya dimulai dari dimensi evaluasi: konteks dan kebutuhan, desain, implementasi, hasil, dampak, sampai evaluasi terhadap evaluasi kurikulum.

4.    Leader dikelas
Guru mempunyai peran strategi dalam memimpin keberhasilan pelaksanaan kurikulum di kelas selama proses pembelajaran berjalan. Artinya guru di sekolah sebagai pemimpin di kelas memahami karakter siswa masng-maisng dan dapat meyusun perencanaan,    mengatur    pelaksanaan    pembelajara, menyelenggarakan pengawasan, dan mengadakan evaluai dini seefektif mungkin sejlan dengan arah pemberlakuan kurikulum. Usman dan Raharjo, (20013:20) menyimpulkan bahwa strategi kepemimpinan pembelajaran adalah keteladanan, pembelajaran di kelas dan luar kelas, kultur sekolah, dan penguatan.
5.    Fasilitator
yakni berperan memfasilitasi pelaksanaan kurikulum pada mata pelajaran yang diampu masing-masing. Sebagai fasilitator harus menciptakan lingkungan yang dapat memberi bekal ilmu pengetahuan kepada para siswa dengan tingkat kemudahan dan kesulitan sesuai kemampuan siswa, materi untuk pemenuhan kebutuhan siswa yang ditetapkan dalam kurikulum.
6.    Konseptor
Guru bertugas menyususn kurikulum dalam bdangnya untuk jangka waktu satu tahun, satu semester, beberapa minggu atau bebrapa hari saja. Program tahunan hingga satuan program pembelajaran memiliki komponen-komponen yang sama yaitu tujuan bahan pelajaran, metode dan media pembelajaran evaluasi. Guru bertugas menyusun dan memilih bahan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan, minat, dan bahkan anak dengan menggunkan metode dan media mengajar yang bervariasi.

Baca Juga :  Prinsip-Prinsip Evaluasi Pembelajaran

7.    Implementor
Guru menerapkan kurikulum yang telah diaksankan. Dalam penerapan kurikulum, guru harus mempunyai pemahaman yang tepat menegnai konsep kurikulum dan bagaimana suatu kurikulum diciptakan. Oleh karena itu guru dalam melaksanakan tugas profesinya harus memiliki empat standar kompetensi guru, yaitu: kompetensi pedagogis, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.
8.    Partisipator
Guru berpartisipasi dalam pensukseskan keberhasilan kurikulum saat diterapkan di sekolah. tanpa ada partisippasi dari guru, kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Guru bukan hanya pada pelaksanaan kurikulum akan tetapi dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum.

9.    Motivator
Guru dalam melaksanakan kuriklum selalau berusaha memberikan motivasi kepada seluruh anak didik, untuk sealau giat belajar, giat menegerjakan tugas dirumah, giat melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi, giat mengikuti pengayaan atau remidial. Dengan motivasi tersebut siswa selalau berusaha mencapai target kurikulum yang ditentukan.14

G.    Pembagian Tugas Mengajar Guru
Dalam rangka memperlancar pelaksanaan proses beljar mengajar Tk muslimat NU perlu menetapkan pembagian tugas Pendidik atau guru yang bertanggung jawab dalam:
a.    Menyusun rencana pembelajaran.
b.    Mengelola pembelajaran sesuai dengan kelompoknya.
c.    Mencatat perkembangan anak.
d.    Menyusun pelaporan perkembangan anak.
e.    Melakukan kerjasama dengan orang tua dalam program parenting.

Guru Paud diwarisi kurikulum dalam bentuk jabaran Standar Tingkat Percapaian Perkembangan Anak (STTPA)anak usia dini dikelompokkan kedalam aspek perkembangan nilai-nilai agama dan moral, motorik, kognitif, bahasa, sosial emosonal, dan seni, serta sejumlah tema yang dijadikan sebagai alat pembelajaranuntuk menstimulasi perkembangan tersebut. Kurikulum PAUD begitu sederhana, oleh karena itu diperukan guru yang profesional untuk mendesainnya menjadi pedoman yang komperehensif dan memberikan gambaran secara jelas tentang upaya mengimplementasikannya.

Kelebihan dari sifat kurikulum yang sederhana ini: tidak menghambat kreativitas guru Sebagai pengembangan kurikulum, bersifat fleksibel, dapat melahirkan implementasi kurikulum yang sangat beragam dan kontekstual. Tetapi syarat yang tidak dapat ditolelir dari kurikulum yang demikian adalah memerlukan guru yang profesional. Guru dituntut untuk menjadi pengembangan perencanaan, pengembangan pembelajaran, dan penilai pembelajaran. Jadi tugas mengajar guru sudah sesuai dengan aturan dalam STTPA dan kurikulum.

BAB III HASIL MINI RISET HASIL LAPORAN MINIRISET TENTANG KONSEP MANAJEMEN KURIKULUM DAN PROFIL TK MUSLIMAT NU 74 SIDOARJO
A.    Profil TK Muslimat Nu 74 Roudlotul Jannah
1.    Nama    : TK. Muslimat NU 74 Roudlotul Jannah
2.    Alamat    : a. Jl Ketengan no.31
b.    Desa Ketengan
c.    Kecamatan Taman
d.    Kabupaten Sidoarjo
c.    Propinsi Jawa Timur
d.    Kode Pos 61252
3.    Status Sekolah    : Swasta
4.    Gugus Sekolah    : TK Imbas 5. Tahun Pendirian        1978
6.      Kategori Sekolah    : TK Biasa 7.      Manajemen    : Sendiri
8.    Kurikulum    : Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan mengacu pada Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini
9.    Kepala TK    : Umi Harnik, S.Pd
10.    Nama Yayasan    : Yayasan Muslimat NU Bina Bakti Wanita 11.  Alamat Yayasan    : Jln. Raya Ketengan No. 31 Sidoarjo
12.  Akte Pendiri yayasan : Nomor    :No:421.1/4357/404.3.1/2014
No    : 16 Juli 1978
Nama    : TATYANA INRATI
HASIM, SH
13. Nomor Statistik    002050214039
B.    Metode Observasi
Metode yang digunakan adalah sebagai berikut:

1.    Wawancara
Metode wawancara ini dilakukan dengan cara tanya jawab langsung dengan narasumber yang terkait yaitu: Kepala Sekolah, Wakasek Kurikulum yang menjalankan kurikulum 2013.
2.    Waktu dan Tempat
Observasi ini dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 2019 pukul 10.30 yang dilakukan di TK Muslimat NU 74 Sidoarjo.
3.    Topik Observasi : Konsep manajemen kurikulum.

C.    Hasil Observasi
1.    Kurikulum yang berlaku di TK Muslimat NU 74 Sidoarjo
Kurikulum 2013 merupakan suatu kurikulum yang berkualitas bagi pendidikan bangsa dibentuk untuk mempersiapkan lahirnya generasi emas bangsa indonesia dengan sistem dimana siswa lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar (KBM).
Ditahun ajaran 2004-2009, 2013 TK Muslimat NU 74 menggunakan kurikulum 2013. Penerapan kurikulum di TK Muslimat NU 74 Sidoarjo menggunakan kurikulum 2013 dan dipadukan dengan kurikulum tingkat satuan (KTSP) yang ada di sekolah tersebut. Seperti contoh:
Moral Agama

1.1    mengenal adanya Tuhan Yang Maha Esa (ciptaan-ciptaan Allah), sosem.
1.2    mengenalkan tentang lembaga ke NU an (lambang NU).

2.    Pengembangan Kurikulum TK Muslimat NU 74 Sidoarjo
Dasar Penyusunan Kurikulum tingkat Satuan Pendidikan Tk Muslimat Nu 74 Roudhotul jannah ketengan: Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 Tentang satuan Pendidikan nasional, Peraturan presiden Nomer 60 tahun 2013 tentag pengembangan Anak usia Dini Holistik-Integratif, Peraturan Pemerintah Nomer 32 Tahun 2013 tentang perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak usia Dini, Permendikbud nomor 146 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak usia Dini, Peraturan Menteri pendidikan dan Kebudayaan Nomor 160, pasal 7 tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum 2013, pedoman penyusunan KTSP Direktorat pembinaan PAUD tahun 2014, Pergub Jawa Timur No 15 tahun 2013 tentang perubahan atas PERGUB Jawa Timur no. 63 tahun 2011. tentang Pengembanagn Anak Usia Dini tentang HOLISTIK INTEGRATIF Propinsi Jatim, Kurikulum Nu (KE NU an), Visi, Misi, dan tujuan Satuan PAUD.

3.    Tugas kepala sekolah dan guru dalam memanajemen kurikulum
Kepala sekolah sebagai manejer menempati posisi yang telah ditentukan di dalam organisasi sekolah. Kepala sekolah mempunyai posisi puncak yang memegang kunci keberhasilan dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kepala sekolah sebagai pemegang jasa suatu bidang jasa professional yang sangat khusus.
Kepala sekolah sebagai manejer hanya memonitoring atau mengontrol berjalannya suatu kegiatan. Gurulah yang berjalan dalam menyusun dan merancang kurikulum, dari kompetensi inti (KI), dikembangkan oleh guru menjadi kompetensi dasar (KD), sehingga menjadi indikator, dan diringkas menjadi rencana program pengembangan mingguan (RPPM), dan rencana program pengembangan harian (RPPH). Jadi untuk tugas kepala sekolah dalam kurikulum tersebut hanya memantau, bagaimana tingkat perkembangan kurikulum tersebut sudah berdasarkan STTPA atau tidak karena sudah ada standar operasional dalam penyusunan kurikulum.

4.    Pembagian beban tugas atau beban mengajar
Pembagian tugas mengajar untuk surat keterangan (SK) pembagian jam mengajar yang membagi adalah kepala sekolah. Untuk guru yang sudah sertifikasi menyandang beban mengajar 24 jam per minggu maksimal 30 jam. Tapi untuk beban mengajarnya agar jam mengajarnya linieritas dengan profesi yang diajarkan adalah 24 jam. Untuk kepala sekolah sudah otomatis 18 jam menyandang sebagai kepala sekolah di jam mengajarnya. Meskipun kepala sekolah tidak masuk pada saat jam pelajaran, jam mengajarnya tidak merah namun untuk mengantisipasi  agar jamnya linieritas tidak merah ditambah 6 jam, jadi 24 jam.

BAB IV PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum merupakan dasar dan pedoman dalam menjalankan sistem pendidikan nasional.

Kurikulum perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan peubahan.yang tejadi di masyarakat. Meski demikian perubahan tersebut tetap mengacu pada pancasila dan UUD 1945, perbedaanya terdapat pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan, serta pendekatan dan merealisasikannya. Kurikulum mempunyai kedudukan sentral, sebagai pusat proses pendidikan. Dalam menyusun kurikulum harus memperhatikan sejumlah prinsip yang melandasinya, yaitu landasan filosofis, landasan psikologis, landasan organisatoris, landasan sosiologis, dan landasan teknologi.

Berdasarkan pengembangaan tugas, wewenang, dan tanggung jawab, tata kelola pengembangan kurikulum secara umum dibedakan antara tata kelola kurikulum terpusat (centralized curriculum) dan tata kelola pengembangan kurikulum tersebar (decentralized curriculum). Kepala sekolah berada di garda terdepan dalam mengimplementasikan kurikulum dan mempunyai peran yang sangat dominan dalam manajemen sekolah. Sedangkan guru dan peserta didik merupakan tokoh sentral di dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan hasil observasi manajemen kurikulum di TK Muslimat NU
74 Sidoarjo, di sekolah ini menggunakan kurikulum 2013 dipadukan dengan KTSP, seperti memasukkan tentang NU (Ke NUan) dalam kurikulum.

B.    Saran
Demikian makalah ini dibuat agar bermanfaat bagi semua. Diharapkan setelah membaca makalah ini pembaca dapat menggali lebih dalam untuk memahami konsep manajemen kurikulum PAUD. Namun kritik dan saran sangat diperlukan untuk lebih mengevaluasi diri dan membangn kreatifitas kerja.

Daftar Pustaka

Busroh,    Muhammad    dan    Siskandar.    2017.    “Perencanaan    dan pengembangan kurikulum”. Yogyakarta: Media Akademi.
Hamalik,    Oemar.    2007.    “Manajemen    Pengembangan    Kurikulum”.
Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Rohman, Muhammad dan Sofan Amri. 2012. “Manajemen Pendidikan”.
Jakarta: PT Prestasi Pustaka Raya.
Sarinah. 2015. “Pengantar Kurikulum”. Yogyakarta: Deepublish.
Wibawa, Basuki. 2017. “Manajemen Pendidikan Teknologi Kejuruan Dan
Vokasi”. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Een    Y,    Haenilah.    2015.    “Kurikulum    dan    Pembelajaran    PAUD”.
Yogyakarta: Media Akademi.

Oleh : Fadliatur Rohmah

Tags: