Laporan Mini Riset Manajemen Pembelajaran AUD

Edukasi Kita ;
Bab I Pendahuluan
Latar Belakang ; Konsep Manajemen Pembelajaran AUD; Sekolah atau utamanya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai sebuah lembaga pendidikan merupakan ujung tombak dalam upaya mewujudkan cita-cita dan tujuan pendidikan, yakni berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Salah satu elemen penting dalam mencapai tujuan pendidikan tersebut terletak pada pembelajaran. Proses pembelajaran di lembaga pendidikan akan sangat menentukan perubahan pengetahuan, sikap dan tingkah laku dari peserta didik. Memang peserta didik sebagai manusia dianugerahi potensi (fitrah), namun perkembangan selanjutnya ditentukan oleh interaksi dengan lingkungannya. Individu dan perkembangannya adalah produk dari hereditas dan lingkungan, keduanya sama-sama berperan penting bagi perkembangan individu. Maka jelas sekali bahwa pembelajaran memegang peranan penting dalam tercapainya tujuan pendidikan.

Manajemen Pembelajaran AUD

Beberapa komponen penting dalam pembelajaran di antaranya guru selaku pendidik, peserta didik, strategi, tujuan, serta evaluasi. Agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan sesuai yang diharapkan, maka dibutuhkan pemahaman yang mendalam terkait pembelajaran dengan berbagai komponennya. Pemahaman tentang konsep dasar dan paradigma pembelajaran merupakan langkah awal dan pondasi utama dalam memahami hakikat pembelajaran. Dengan demikian seorang pendidik akan dapat dengan benar melakukan proses pembelajaran dan strategi yang tepat ketika dihadapkan pada situasi dan kondisi yang berbeda-beda.

B.    Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud dengan pembelajaran berbasis perkembangan? 2. Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran?
3.    Apa yang dimaksud prosedur pembelajaran?
4.    Apa yang dimaksud pelaksanaan proses pembelajaran? 5. Bagaimana pengembangan pembelajaran pada PAUD?
6.    Apa yang dimaksud dengan pembelajaran berbasis sentra? 7.   Apa yang dimaksud pembelajaran terpadu model sentra? 8. Bagaimana keberhasilan dalam pembelajaran yang baik?
9. Apa yang dimaksud organisasi dan manajemen pembelajaran?

C.    Tujuan dan Manfaat
1.    Agar menambah wawasan pembaca mengenai pembelajaran berbasis perkembangan.
2.    Agar menambah wawasan pembaca mengenai model pembelajaran.
3.    Agar menambah wawasan pembaca mengenai prosedur pembelajaran.
4.    Agar menambah wawasan pembaca mengenai pelaksanaan proses pembelajaran.
5.    Agar menambah wawasan pembaca mengenai pengembangan pembelajaran pendidikan anak usia dini.
6.    Agar menambah wawasan pembaca mengenai pembelajaran berbasis sentra.
7.    Agar menambah wawasan pembaca mengenai pembelajaran terpadu model sentra.
8.    Agar menambah wawasan pembaca mengenai keberhasilan pembelajaran.
9.    Agar menambah wawasan pembaca mengenai organisasi dan manajemen pembelajaran

BAB II LANDASAN TEORI
A.    Pembelajaran Berbasis Perkembangan
Pembelajaran dalam anak usia dini akhir-akhir ini diselenggararakan di lembaga-lembaga PAUD cenderung dilakukan secara formal, dengan orientasi pada guru, serta penekanan pada kemampuan membaca, menulis, berhitung, pemberian lembar kerja dan pekerjaan rumah secara formal. Praktik-praktik pembelajaran seperti ini bukan karena tuntutan dari pihak orang tua terhadap pembelajaran yang bersifat akademik saja, namun lebih ke banyaknya hasil-hasil penelitian mutakhir yang menunjukkan bahwa anak usia dini telah siap belajar secara akademik formal. Meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya perkembangan dan pendidikan anak usia dini sebagai intervensi awal yang dapat memberikan keuntungan lebih besar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Selain itu, hal ini muncul karena danya rasa ingin bersaing dengan bangsa-bangsa lain dalam tatanan global, karena adanya keterkaitan atau keyakinan bahwa memberikan pendidikan lebih awal adalah tonggak awal yang baik untuk masa depan seorang anak.

Uraian diatas menyadarkan kita tentang pentingnya pendidikan bagi anak usia dini, yang bahkan tidak bisa ditawar dan ditunda-tunda lagi. Meskipun begitu dalam pelaksanaannya perlu adanya pengaturan agar tidak terjadi penyimpangan dalam dalam pendidikan (malpractice education). Hal ini sangat penting dilakukan karena banyaknya praktik-praktik pendidikan yang kurang memberikan ruang gerak leluasa kepada anak dalam mengembangkan pribadinya. Mereka banyak melakukan kegiatan belajar yang membosankan, dengan banyak duduk di bangku, mendengar, mencatat, menghafal dan mengikuti keinginan guru, bahkan harus mengerjakan pekerjaan rumah. Kondisi tersebut tetu saja akan membahayakan perkembangan anak usia dini, bahkan tidak menutup kemungkinan banyak yang mengalami stress atau tekanan jiwa karena apa yang mereka alami tidak sesuai dengan perkembangannya. Oleh karena itu, manajemen kurikulum dan sisem pembelajaran anak usia dini perlu lebih diorientasikan pada perkembangannya (Developmentally Appropriate Practice /DAP).

Pembelajaran berbasis perkembangan mengacu pada 3 hal penting, yakni yang pertama berkaitan dengan usia anak, lalu yang kedua berhubungan dengan karakteristik anak secara individual dan yang terakhir berkaitan dengan konteks budaya anak. Dalam implementasinya, pembelajaran berbasis perkembangan menekankan pada hal-hal sebagai berikut :
1.    Perkembangan anak secara holistik 2. Program individual
3.    Pentingnya inisiatif anak
4.    Fleksibel, ketika lingkungan kelas menstimulasi anak 5. Bermain sebagai wahana belajar
6.    Kurikulum terpadu
7.    Penilaian berkesinambungan
8.    Bermitra dengan orang tua serta masyarakat untuk mendukung perkembangan anak usia dini.

Adapun hal lain yang perlu dipahami oleh guru adalah memahami prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini beserta berbagai karakteristiknya. Hal tersebut akan membantu mengenal kebiasaan- kebiasaan anak, contohnya perlu dipahami bahwa anak usia 4 tahun memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak usia 8 tahun.

Pembelajaran berbasis perkembangan dapat dilakukan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut :
1.    Menciptakan iklim yang kondusif dalam belajar.
2.    Membantu kekentalan kelompok dan memenuhi kebutuhan individu.
3.    Memberi kesempatan kepada anak untuk berpartisipasi aktif, mengambil inisiatif, melakukan eksplorasi terhadap objek dan lingkungannya.

4.    Memberi kesempatan kepada anak memilih kegiatannya sendiri, dengan menyediakan pengalaman belajar yang dirancang secara konkret.
5.    Mendorong anak-anak untuk mengembangkan keterampilan berkomunikasi dan berbahasa secara menyeluruh yang meliputi kemampuan berbicara, mendengarkan, membaca dan menulis dini.
6.    Merancang strategi pembelajaran yang memungkinkan anak berinteraksi dengan anak lainnya secara individual dan dalam kelompok kecil.
7.    Memberikan motivasi dan bimbingan agar  anak  mengenal lingkungannya, mengembangkan keterampilan sosial, pengendalian dan disiplin diri.
8.    Mengorganisasikan kurikulum secara terpadu untuk mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak yang meliputi aspek fisik, motorik, spiritual, sosial emosional, kognitif, bahasa dan seni.
9.    Mencatat dan mendokumentasikan hal-hal yang telah dilakukan anak dan cara mereka melakukan kegiatan tersebut1.

B.    Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah suatu pola atau rancangan yang menggambarkan proses perincian dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan anak berinteraksi dalam pembelajaran sehingga terjadi perubahan atau perkembangan. Adapun komponen model pembelajaran meliputi konsep, tujuan pembelajaran, standar kompetensi dan kompetensi dasar (SK-KD), materi, prosedur, metode, sumber belajar, dan teknik evaluasi. Pengembangan model pembelajaran pada pendidikan anak usia dini didasarkan pada silabus yang dijabarkan menjadi Program Semester (PS), Rencana Kegiatan Mingguan (RKM), Rencana Kegiatan Harian (RKH). Dengan demikian, model pembelajaran merupakan gambaran konkret yang dilakukan pendidik dengan peserta didik sesuai dengan rencana kegiatan harian

Model pembelajaran yang biasa dilaksanakan pada satuan pendidikan anak usia dini adalah pembelajaran klasikal; pembelajaran kelompok dengan kegiatan pengaman, pembelajaran berbasis sudut kegiatan, pembelajaran area, dan pembelajaran berbasis sentra. Pembelajaran klasikal adalah pola pembelajaran yang dalam waktu sama, seluruh anak didik melakukan suatu kegiatan yang sama dalam satu kelas. Model pembelajaran ini yang paling tua dan paling awal digunakan di PAUD, dengan sarana pembelajaran umumnya sangat terbatas, monoton dan kurang memperhatikan minat individual. Seiring dengan perkembangan teori dan psikologi pembelajaran, model ini sudah banyak ditinggalkan, tergeser oleh model-model pembelajaran yang lebih variatif

Pembelajaran kelompok dengan kegiatan pengaman merupakan pola pembelajaran, ketika anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok dengan kegiatan yang berbeda-beda. Anak-anak yang sudah menyelesaikan tugasnya lebih cepat daripada temannya dapat mengikuti kegiatan di kelompok lain. Jika tidak tersedia tempat, maka anak tersebut dapat melakukan kegiatan di kegiatan pengaman. Pada kegiatan pengaman sebaiknya disediakan alat-alat yang lebih bervariasi dan sering diganti disesuaikan dengan tema atau subtema yang dibahas

Pembelajaran berbasis sudut keiatan menggunakan prosedur pembelajaran hampir sama dengan model pembelajaran area, hanya sudut- sudut kegiatan selayaknya lebih bervariasi dan sering diganti, disesuaikan dengan tema dan subtema yang dibahas. Pembelajaran berdasarkan area lebih memberikan kesempatan kepada anakdidik untuk memilih dan melakukan kegiatan sendiri sesuai dengan minatnya. Pembelajaran drancang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan spesifik anak serta menghormati keberagaman budaya dan menekankan pada pengalaman mereka, adanya pilihan dan pusat kegiatan belajar, dan adanya keterlibatan keluarga dalam pembelajaran

Pembelajaran berbasis sentra merupakan model paling mutakhir yang dilaksanakan di lingkungan pendidikan anak usia dini dengan karakteristik utamanya memberikan pijakan (scaffolding) untuk membangun konsep aturan, ide, dan pengetahuan anak serta konsep densitas dan intensitas bermain. Model pembelajaran ini berfokus pada anak yang dalam proses pembelajarannya berpusat di sentra bermain dan pada saat anak dalam lingkaran. Pada umumnya pijakan setelah bermain. Pijakan ini diberikan untuk mencapai perkembangan yang lebih tinggi. Sentra bermain dilengkapi dengan seperangkat alat bermain yang berfungsi sebagai pijakan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung perkembangan anak dalam 3 jenis bermain, yaitu bermain sensori motor atau fungsional bermain peran dan bermain pembangunan (konstruktif, yaitu membangun pemikiran anak), sedangkan saat lingkaran dilakukan guru untuk memberikan dukungan kepada anak yang dilakukan sebelum dan sesudah bermain. Pembelajaran terakhir ini sekarang masih berada pada tahap rintisan yang masih dilaksanakan oleh beberapa PAUD yang diperkirakan memungkinkan karena model ini membutuhkan persiapan yang cukup matang dengan sarana bermain yang lebih lengkap.

Baca Juga :  Laporan Praktik Pengalaman Lapangan (Laporan PPL)

Setiap model pembelajaran memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, serta memrlukan kondisi yang berbeda-beda. Oleh karena itu dalam memilih model pembelajaran yang digunakan guru harus mempertimbangkan kemampuan yang dimiliki, sarana dan prasarana yang tersedia, serta faktor pendukung lainnya.

Model-model pembelajaran sebagaimana dikemukakan diatas, pada umumnya menggunakan langkah-langkah pembelajaran yang relatif sama, yang meliputi : kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, makan dan istirahat, serta penutup. Kegiatan pendahuluan adalah kegiatan awal dalam pembelajaran yang ditujukan untuk memfokuskan perhatian, membangkitkan motivasi sehingga anak siap untuk mengikuti pembelajaran. Kegiatan inti, merupakan proses untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD) yang sesuai dengan standar proses, yakni interaktif, inspiratif, menyenangkan, motivatif, menantang dan memberikan ruang gerak yang lebih leluasa kepada anak untuk berkembang secara optimal. Kegiatan inti dilakukan melalui proses eksplorasi, eksplanasi, observasi, eksperimen, elaborasi dan konfirmasi. Kegiatan penutup dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran, dengan cara menyimpulkan, refleksi, umpan balik dan tindak lanjut.

C.    Prosedur Pembelajaran
Prosedur pembelajaran yang paling akhir di lembaga pendidikan anak usia dini adalah prosedur pembelajaran sentra. Selanjutnya, secara realitas guru dapat mengembangkannya dengan sesuai kebutuhan sekaligus karakteristik peserta didik, dan lingkungan masing-masing. Prosedur pembelajaran dalam pendidikan anak usia dini pada umumnya mencangkup mengenai pengelolaan kelas, prosedur kegiatan, dan penilaian.

Sebagai pendidik harus memahami pentingnya pengelolaan dalam proses belajar mengajar dikarenakan proses pembelajaran akan berhasil dengan baik apabila guru dapat mengkondisikan kegiatan belajar secara efektif. Untuk mewujudkan kelas yang efektif maka terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas, sebagai berikut;
a.    Penataan sarana dan prasanaruangan disesuaikan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan.
b.    Pengelompokan meja dan kursi disesuaikan dengan kebutuhan anak sehingga anak memiliki ruang gerak yang lebih leluasa
c.    Dinding dapat digunakan untuk menempelkan  sarana  yang dipergunakan sebagai sumber belajar dan hasil kegiatan anak. Namun jangan terlalu banyak agar tidak mengganggu perhatian anak.
d.    Peletakan dan penyimpanan alat bermain telah diatur sedimikian rupa sesuai dengan fungsinya sehingga dapat melatih anak untuk pembiasaan yang ingin dicapai seperti kemandirian, tanggung jawab, membuat keputusan, kebiasaan mengatur kembali peralatan dan sebagainya.
e.    Alat bermain untuk kegiatan  pengaman  diatur  dalam  ruangan, sehingga dapat berfungsi apabila diperlukan oleh peserta didik.
D.    Pelakasanaan Proses Pembelajaran
Setelah memiliki tujuan yang telah ditentukan dan strategi yang relevan untuk mencapai tujuan itu sendiri, guru kemudian dapat mengimplementasikan strategi tersebut. Cara guru mengimplementasikan materi dalam pembelajaran misalnya mengajukan pertanyaan, menyajikan gambar-gambar, memperagakan, merasakan, mengamati, dan melibatkan siswa untuk berpartisipasi aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Jadi hal utama yang harus ditekankan oleh guru dalam implementasi/pelaksanaan pembelajaran adalah bagaimana guru akan membantu siswa untuk meraih tujuan. Memilih metode yang sesuai sangat tergantung pada tujuan, latar belakang, kebutuhan siswa, materi-materi yang tersedia, serta kepribadian, kekuatan, dan gaya guru mengajar5.

E.    Pengembangan Program Pembelajaran PAUD
Pengembangan program pembelajaran hendaknya memerhatikan beberapa prinsip berikut ini:
1.    Relevansi
Program pembelajaran anak usia dini harus relevan dengan kebutuhan dan perkembangan anak secara individu.
2.    Adaptasi
Program pembelajaran anak usia dini harus memerhatikan dan mengadaptasi perubahan psikologis, IPTEK, dan seni.
3.    Kontinuitas
Program pembelajaran anak usia dini harus disusun secara berkelanjutan antara satu tahapan perkembangan ke tahapan perkembanagn berikutnya dalam rangka mempersiapkan anak memasuki pendidikan selanjutnya.
4.    Fleksibilitas
Program pembelajaran anakusia dini harus dipahami, digunakan dan dikembangkan secara fleksibel sesuia dengan keunikan dan kebutuhan anak serta kondisi lembaga penyelenggara.
5.    Kepraktisan dan akseptabilitas
Program pembelajaran anak usia dini harus memberikan kemudahan bagi praktisi dan masyarakat dalam melaksanakan kegiatan pendidikan anak usia dini.
6.    Kelayakan
Program pembelajaran anak usia dini harus menunjukkan kelayakan dan keberpihakan pada anak usia dini.
7.    Akuntabilitas
Program pembelajaran anak usia dini harus dapat dipertanggung- jawabkan pada masyrakat sebagai pengguna jasa pendidikan anak usia dini6.

F.    Pembelajaran Berbasis Sentra
Pembelajaran berbasis sentra merupakan model pembelajaran yang dilakukan di dalam “lingkaran” (circle times) dan sentra bermain. Lingkaran adalah saat ketika guru duduk bersama anak dengan posisi melingkar untuk memberikan pijakan kepada anak yang dilakukan sebelum dan sesudah bermain. Sentra bermain adalah zona atau area bermain anak yang dilengkapi dengan seperangkat alat bermain, yang berfungsi sebagai pijakan lingkungan yang diperlukan untuk mengembangkan seluruh potensi dasar anak didik dalam berbagai aspek perkembangannya secara seimbang. Setiap sentra mendukung perkembangan anak dalam 3 jenis bermain yaitu; bermain sensori motor atau fungsional, bermain peran dan bermain konstruktif(membangun pemikiran anak). Sentra bermain terdiri dari hal- hal berikut ini:
a.    Bahan alam dan sains
Bahan-bahan yang diperlukan sentra bahan alam kental dengan pengetahuan sains, matematika, dan seni. Sentra bahan alam diisi dengan berbagai bahan main yang berasal dari alam, seperti air, pasir, bebatuan, daun. Di sentra bahan alam anak memiliki kesempatan menggunakan bahan main dengan berbagai cara sesuai pikiran dan gagasan masing- masing dengan hasil yang berbeda. Gunakan bahan dan alat yang ada disekitar. Perhatikan keamanannya. Bahan dan alat yang digunakan harus bebas dari bahan beracun atau binatang kecil yang membahayakan.

b.    Sentra balok
Sentra balok memfasilitasi anak bermain tentang konsep bentuk, ukuran, keterkaitan bentuk, kerapihan, ketelitian, bahasa, dan kreativitas. Bermain balok selalu dikaitkan dengan main peran mikro, dan bangunan yang dibangun anak digunakan untuk bermain peran. Alat dan bahan main Sentra Balok, terdiri dari; balok-balok dengan berbagai bentuk dan ukuran, balok asesoris untuk main peran, lego berbagai bentuk, kertas dan alat tulis.
c.    Sentra seni
Sentra seni dapat dibagi dalam seni musik, seni tari, seni kriya, atau seni pahat. Penentuan sentra seni yang dikembangkan tergantung pada kemampuan satuan PAUD. Disarankan minimal ada dua kegiatan yang dikembangkan di sentra seni yakni seni musik dan seni kriya. Sentra seni mengembangkan kemampuan motorik halus, keselarasan gerak, nada, aspek sosial-emosional dan lainnya.
d.    Sentra bermain peran
Sentra bermain peran terdiri dari sentra sentra bermain peran makro yang dapat menggunakan anak sebagai model, dan sentra bermain peran
mikro, misalnya menggunakan boneka, maket meja kursi, dan rumah- rumahan.
e.    Persiapan
Sentra persiapan lebih menekankan pengenalan keaksaraan awal pada anak. penggunaan buku, alat tulis dapat dilakukan di semua sentra, tetapi di sentra persiapan lebih diperkaya jenis kegiatan bermainnya. Pada kelompok anak paling besar yang segera masuk sekolah dasar, frekuensi main di sentra persiapan lebih banyak. Kegiatan persiapan dapat juga diperkuat dalam jurnal siang.

f.    Sentra IMTAQ
Sentra Imtaq mengenalkan kehidupan beragama dengan keterampilan yang terkait dengan agama yang dianut anak. sentra Imtaq untuk satuan PAUD pada umumnya mengenalkan atribut berbagai agama, sikap menghormati agama.
g.    Sentra musik
Bahan yang diperlukan pada sentra musik adalah botol kaca, tempurung kelapa, rebana, dan tutup botol. Sentra musik memfasilitasi anak untuk memperluas pengalamannya dalam menggunakan gagasan mereka melalui oleh tubuh, bermain musik dan lagu yang dapat memperluas pengalaman dan pengetahuan anak tentang irama, birama, dan mengenal berbagai bunyi-bunyian dengan menggunakan alat-alat musik yang mendukung, misalnya pianika, seruling, dan piano7.

1.    Pengelolaan kelas
Pengelolaan kelas model pembelajaran sentra meliputi pengelolaan secara klasikal, kelompok, dan individual. Pada saat kegiatan pembukaan, penutup, dan makan bersama, guru menggunakan pengelolaan secara klasikal, tetapi ketika kegiatan inti menggunakan pengelolaan secara kelompok atau individual. Hal-hal yang dilakukan oleh guru adalah sebagai berikut:
a.    Sentra bermain dirancang dan direncanakan secara sistematis, sehingga semua anak dapat mengikuti kegiatan untuk mencapai tahap perkembangan.
b.    Kegiatan pembelajaran dilengkapi dengan sentra-sentra yang diperlukan hari itu.
c.    Jumlah kegiatan dan ragam kesempatan masing-masing sentra sesuai dengan kegiatan yang dilakukan dan jumlah anak.
d.    Ada kesesuaian antara pijakan, sentra, dan alat yang akan dipergunakan dalam pembelajaran.

2.    Prosedur pembelajaran
a.    Penataan lingkungan bermain
Guru menempatkan alat dan bahan bermain yang akan digunakan yang mencerminkan rencana pembelajaran yang telah dibuat sehingga tujuan anak selama bermain dengan alat tersebut dapat dicapai.
b.    Kegiatan sebelum masuk kelas
Guru menyambut kedatangan anak dengan sopan, senyum dan salam. Kondisi awal yang harus diketahui guru dari anak-anak ketika datang adalah ekpresi emosi yang menunjukkan rasa nyaman berada di sekolah. Jika kondisi ekspresi emosi anak ketika datang menunjukkan kesedihan, maka guru perlu menetralisasi terlebih dahulu dengan kegiatan transisi, seperti membaca buku cerita, puzzle, dan permainan.
c.    Pembukaan (20 menit)
Guru menyiapkan seluruh anak dalam lingkaran. Kegiatan pembuka dapat berupa gerak musik, permainan, dan jurnal. Anak dikondisikan duduk melingkar (circle time); dalam setiap kelompok melakukan do’a, bercakap-cakap, dan membacakan buku cerita yang berhubungan dengan tema pada hari itu.
d.    Transisi (10 menit)
Selesai pembukaan, anak-anak diberi waktu untuk melakukan “pendinginan” dengan cara bernyanyi dalam lingkaran, atau membuat permainan tebak-tebakkan. Tujuannya agar anak kembali tenang, kemudian secara bergiliran dipersilahkan untuk melatih kebersihan diri anak, dapat berupa cuci tangan, cuci muka, dan cuci kaki.
e.    Kegiatan inti (90 menit)
1)    Pijakan pengalaman sebelum bermain (15 menit), guru dan  anak duduk melingkar, guru memberi salam pada anak-anak, menanyakan kabar, dan dilanjutkan dengan kegiatan sebagai berikut:
a)    Meminta anak untuk memperhatikan siapa teman mereka yang tidak hadir
b)    Berdoa bersama, anak secara bergilir memimpin doa
c)    Menyampaikan tema, dikaitkan dengan kehidupan anak
d)    Membacakan buku yang terkait dengan tema,  setelah  selesai, guru menanyakan kembali isi cerita
e)    Mengaitkan isi cerita dengan kegiatan bermain yang akan dilakukan
f)    Mengenalkan semua tempat dan alat bermain yang  sudah disiapkan
g)    Memberi pijakan sesuai dengan rencana pembelajaran dan kemampuan yang diharapkan muncul pada anak
h)    Menyampaikan aturan bermain (digali dari anak), memilih tema, memilih alat, cara menggunakan alat-alat , kapan memulai dan mengakhiri bermain, serta merapikan kembali alat yang sudah dimainkan
i)    Mengatur tema lain dengan memberi kesempatan kepada anak untuk memilih teman mainnya
j)    Setelah semua anak siap, guru mempersilahkan anak untuk mulai bermain
2)    Pijakan pengalaman selama bermain (60 menit)
Selama kegiatan bermain, guru melakukan hal-hal sebagai berikut:
a)    Mengamati dan memastikan semua anak melakukan kegiatan bermain
b)    Memberi contoh cara bermain pada anak yang belum bisa menggunakan alat
c)    Memberi dukungan berupa pernyataan positif tentang pekerjaan yang dilakukan
d)    Memancing dengan pernyataan positif tentang pekerjaan yang dilakukan
e)    Memancing dengan pertanyaan terbuka untuk memperluas cara bermain anak, pertanyaan terbuka artinya pertanyaan yang tidak cukup dengan dijawab ya atau tidak saja, tetapi banyak kemungkinan jawaban yang dapat diberikan
f)    Memberikan bantuan pada anak yang membutuhkan
g)    Mendorong anak untuk mencoba dengan cara lain sehingga mereka memiliki berbagai pengalaman bermain
h)    Mencatat    yang    dilakukan    anak    (jenis    bermain,    tahap perkembangan, dan tahap sosial)
i)    Mengumpulkan hasil kerja anak
j)    Menjelang waktu habis, guru memberi tahu anak-anak  bersiap- siap menyelesaikan kegiatan bermainnya.

Baca Juga :  Laporan hasil penilaian pada anak usia dini

3)    Pijakan pengalaman setelah bermain (15 menit)
Ketika waktu bermain selesai, guru memberitahukan saatnya membereskan alat dan bahan yang sudah digunakan dengan melibatkan seluruh anak.
4)    Makan bersama (10 menit)
a)    Usahakan setiap pertemuan ada kegiatan makan bersama, dengan jenis makanan lain yang disiapkan sekolah dan yang dibawa oleh masing-masing anak
b)    Sebelum makan, guru mengecek apakah ada anak yang dibawa oleh masing-masing anak.
c)    Guru memberitahukan jenis makanan yang  sehat  dan  kurang sehat untuk dikonsumsi.
d)    Jadikan waktu makan bersama sebagai pembiasaan tata cara makan yang baik dan sopan.
e)    Libatkan    anak    untuk    membereskan    bekas    makanan    dan membuang bungkus makanan pada tempatnya.

5)    Penutup (10 menit)
a)    Setelah semua anak berkumpul membentuk lingkaran, guru mengajak menyanyi atau membaca puisi.
b)    Guru memberi kesempatan kapada anak secara bergiliran memimpin doa penutup.
c)    Untuk menghindari berebut saat pulang, gunakan urutan berdasarkan posisi duduk, jenis kelamin, dan cara lain unruk ke luar dan bersalaman lebih dahulu.

G.    Pembelajaran Terpadu Model Sentra
Istilah sentra adalah zona atau area bermain anak yang dilengkapi dengan seperangkat alat main yang berfungsi sebagai pijakan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung perkembangan anak dalam 3 jenis main, yaitu: main sensorimotor atau main fungsional, main peran, dan main pembangungan8.

Sentra memiliki 3 langkah prosedur pokok untuk anak, yaitu: memikirkan rencana tentang apa yang dikerjakan selama waktu kegiatan pembelajaran, merealisasikan rencana, mengkaji ulang, mencatat, dan melaporkan hasilnya. Langkah prosedur pembelajaran sentra tersebut memberikan manfaat bagi anak usia dini meliputi: meningkatkan kreativitas anak dengan memberikan kesempatan pada anak untuk bermain, berksplorasi, dan menemukan kegiatan untuk membantu memecahkan masalah, mempelajari keahlian-keahlian dasar dan memahamikonsep-konsep baru, melalui sentra, anak usia dini dapat memanipulasi objek dalam sentra-sentra yang disediakan, mengembangkan percakapan dan bermain peran serta belajar sesuai dengan tingkatan dan langkah-langkah yang anak inginkan, mengembangkan keahlian belajar yang mandiri karena adanya prinsip kehendak sendiri dan koreksi diri yang alamiah terhadap berbagai alat di sentra kegiatan9.

Pendekatan sentran dapat membantu dan mengarahkan kemampuan anak untukdapat bekerja mandiri dan berkelompok. Seluruh materi dalam setiap sentra hendaknya diorganisasikan secara sistematis, teratur, danterarah sehingga dapat memudahkan anak dalam mengambil kesimpulan10.

H.    Keberhasilan Pembelajaran
Kualitas pembelajaran pada pendidikan anak usia dini dapat dilihat dari segi proses dan segi hasil. Dari segi proses, pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (85%) anak terlibat secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat yang besar, dan rasa percaya diri sendiri. Dari segi hasil, pembelajaran dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri anak seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (85%). Lebih lanjut proses pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila masukan merata, menghasilkan output yang banyak dan bermutu tinggi, serta sesuai dengan kebutuhan, perkembangan masyarakat, dan pembangunan.

Untuk memenuhi tuntutan tersebut, perlu dikembangkan pengalaman belajar synag kondusif untuk membentuk manusia yang berkualitas tinggi, baik mental, moral, maupun fisik. Hal ini berarti pembelajaran harus ditekankan pada penghayatan yang disertai pengalaman nilai-nilai konatif, afektif, yang dimanifestasikan dalam perilaku (behavioral skill) sehari-hari. Metode serta strategi pembelajaran dan permainan yang kondusif perlu dikondisikan untuk mengembangkan potensi anak secara optimal.
1.    Jangka Pendek
a.    Sekurang-kurangnya 85% isi dan prinsip-prinsip pembelajaran dapat dipahami, diterima, dan diterapkan oleh anak didik dan guru di kelas.
b.    Sekurang-kurangnya    85%    peserta    didik    merasa    mendapat kemudahan, senang dan memiliki kemauan belajar yang tinggi.
c.    Anak-anak berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.
d.    Materi yang dikomunikasikan sesuai dengan kebutuhan anak  dan mereka memadang bahwa hal tersebut akan sangat berguna bagi kehidupannya kelak.
e.    Pembelajaran  yang  dikembangkan  dapat  menumbuhkan   minat belajar lebih lanjut (continuing).
2.    Jangka Menengah
a.    Adanya umpan balik terhadap para guru tentang pembelajaran ynag dilakukannya bersama anak-anak.
b.    Anak-anak menjadi insan yang kreatif dan mampu menghadapi  berbagai permasalahan ynag dihadapinya.
c.    Anak-anak tidak memberikan pengaruh negatif terhadap masyarakat lingkungannya dengan cara apa pun.

3.    Jangka Panjang
a.    Adanya peningkatan mutu  pendidikan,  yang  dapat  dicapai  oleh PAUD melalui kemandirian dan inisiatif kepala sekolah dan guru dalam mengelola dan mendayagunakan sumber-sumber belajar.
b.    Adanya peningkatan efisiensi dan efektivitas pengelolaan dan penggunaan sumber belajar, melalui pembagian tanggung jawab yang jelas, transparan, dan demokratis.
c.    Adanya  peningkatan  perhatian  serta  partisipasi  warga  dan masyarakat sekitar yang dicapai melalui pengambilan keputusan bersama.
d.    Adanya peningkatan tanggung  jawab  PAUD  kepada  pemerintah, orang tua, dan masyarakat pada umumnya berkaitan dengan mutu layanan, baik dalam mitra maupun ekstrakurikuler.
e.    Tumbuhnya kemandirian, bersifat adaptif dan proaktif serta memiliki karakter dan jiwa kewirausahaan ynag tinggi (ulet, inovatif, dan berani mengambil resiko).
f.    Terwujudnya proses pembelajaran yang interaktif, motivatif, menyenangkan, menantang, dan memberikan ruang gerak yang leluasa kepada peserta didik.
g.    Terciptanya iklim sekolah yang aman,nyaman dan tertib  sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan tenang dan menyenangkan (enjoyble learning).
h.    Adanya proses evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.

I.    Organisasi dan Manajemen Pembelajaran
Agar pembelajaran PAUD dapat dilaksanakan secara optimal perlu diorganisasikan dan dikelola sedemikian rupa. Sedikitnya terdapat empat hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan organisasi dan manajemen pembelajaran PAUD, yaitu pelaksanaan pembelajaran, pengadaan dan pembinaan tenaga ahli, pendayagunaan lingkungan sebagai sumber belajar, serta pengembangan dan penataan kebijakan.

1.    Pelaksanaan Pembelajaran
Pembelajaran PAUD hendaknya dilaksanakan berdasarkan kebutuhan dan karakteristik anak, serta kompetensi dasar pada umumnya. oleh karena itu, prinsip-prinsip dan prosedur pembelajaran PAUD sudah seharusnya dijadikan sebagai salah satu acuan dan dipahami oleh para guru, fasilitator, kepala sekolah, pengawas sekolah, dan tenaga kependidikan lain di sekolah.
Sehubungan dengan itu, pembelajaran PAUD perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a.    Mengintegrasikan pembelajaran dengan permainan.
b.    Mengidentifikasi kompetensi sesuai dengan kebutuhan  dan  karakteristik anak usia dini.
c.    Mengembangkan indikator setiap kompetensi agar relevan dengan perkembangan dan kebutuhan anak usia dini.
d.    Menata struktur organisasi dan mekanisme kerja yang jelas serta menjalin kerja sama di antara para guru dan tenaga kependidikan lain dalam pembelajaran dan permainan.
e.    Merekrut tenaga kependidikan yang memiliki pengetahuan, keterampilan dansikap sesuai dengan tugas dan fungsinya.
f.    Melengkapi sarana dan prasarana belajar dan bermain yang memadai, seperti perpustakaan, lingkungan sebagai sumber belajar, perlengkapan bermain dan perlengkapan administrasi, serta ruang pembelajaran yang memadai.
g.    Menilai program pembelajaran secara berkala dan berkesinambungan untuk melihat keefektifan dan ketercapaian kompetensi yang dikembangkan. Di samping itu, penilaian juga penting untuk melihat apakah pembelajaran PAUD yang dikembangkan sudah dapat mengembangkan potensi peserta didik atau belum.

Baca Juga :  Sistematika Laporan PTK

2.    Pengadaan dan Pembinaan Tenaga Ahli
Dalam menyukseskan pembelajaran PAUD diperlukan pengadaan dan pembinaan tenaga ahli, sikap, pribadi, kompetensi dan keterampilan yang berkaitan dengan pembelajaran PAUD. Hal ini sangat penting dilaksanakan karena berkaitan dengan deskripsi kerja yang akan dilakukan oleh masing-masing tenaga kependidikan. Oleh karena itu, sangat diharapkan agar setiap personel memiliki pemahaman dan kompetensi yang menunjang terlaksananya pembelajaran dalam mengembangkan potensi anak usia dini secata optimal.
3.    Pendayagunaan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar
Dalam menyukseskan PAUD, perlu didayagunakan lingkungan sebagai sumber belajar secara optimal. Untuk kepentingan tersebut para guru, fasilitator dituntut untuk mendayagunakan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial, serta menjalin kerja sama dengan unsur-unsur terkait yang dipandang dapat menunjang upaya pengembangan mutu dan kualitas pembelajaran.
4.    Pengembangan Kebijakan Sekolah
Pembelajaran PAUD perlu didukung oleh kebijakan-kebijakan kepala sekolah. Kebijakan yang jelas akan memberikan kelancaran dan kemudahan dalam implementasi pembelajaran. Ada beberapa kebijakan yang relevan diambil kepala sekolah dalam membantu kelancaran pengembangan pembelajaran bagi anak usia dini, yaitu:
a.    Memprogramkan perubahan kurikulumsebagai bagian integral dari program seklah secara keseluruhan.
b.    Menganggarkan biaya operasional pembelajaran PAUD  sebagai  bagian dari anggaran sekolah.
c.    Meningkatkan mutu dan kualitas guru, dan fasilitator agar  dapat bekerja secara profesional.
d.    Menyediakan sarana  dan  prasarana  yang  memadai  untuk kepentingan belajar, dan bermain anak.
e.    Menjalin kerja sama yang baik dengan unsur-unsur  terkait  secara resmi dalam kaitannya dengan pembelajaran PAUD, seperti perkebunan, pesantren, dan panti atau yayasan anak yatim11.

BAB III HASIL MINI RISET
Pelaksanaan Mini Riset: Senin, 25 Mei 2019 Lokasi: TK ABA 13 Surabaya Kelompok/Usia: TK A/4-5 tahun
Kegiatan: Sentra Persiapan
Berikut detail urutan kegiatan pelaksanaan dari mini riset yang telah kami lakukan: 1. Sebelum masuk kelas
Setiap hari masuk sekolah, anak-anak disambut oleh guru dengan ramah dan penuh kasih sayang, anak-anak saling berjabatan tangan dengan guru-guru dan teman-teman sambil mengucapkan salam, kemudian menyimpan tas di tempat masing-masing yang telah disediakan. Setelah bel atau tanda masuk kelas berbunyi, anak-anak berbaris dengan rapi dan salah satu anak memimpin di depan, kemudian dengan penuh semangat anak bernyanyi sesuai perintah guru, setelah itu mereka masuk kelas dengan tertib. Sebelum masuk kelas, anak-anak melepas sepatu dan menaruhnya di rak yang telah disediakan.

Di TK ABA kegiatan yang dilakukan sebelum masuk pembelajaran sedikit berbeda. Pada saat kedatangan, anak-anak disambut oleh guru baik guru wali kelas maupun bukan. Setelah bel atau tanda masuk kelas berbunyi, masing- masing anak masuk ke kelas masing-masing untuk melakukan kegaiatan pagi (di sekolah dikenal dengan materi pagi) sebelum masuk ke kelas sentra. Materi pagi itu terdiri dari mengucapkan ikrar, menyanyikan lagu Indonesia raya, periksa kuku, rambut dan gigi, bernyanyi bersama sambil berputar kemudian guru memberi perintah mencari 2 orang kemudian 4 kemudian 5 orang jika guru mengetahui terdapat anak yang tidak sesuai jumlah yang ditentukan maka guru menyuruhnya untuk menghitung jumlah anggota kelompoknya dan terakhir penjelasan materi sentra.

2.    Kegiatan Sentra
a.    Pendahuluan (30 menit)
Kegiatan pendahuluan dilaksanakan secara klasikal dan diikuti oleh seluruh anak dalam satu kelas, dalam waktu dan kegiatan yang sama. Kegiatan pendahuluan merupakan kegiatan pemanasan, misalnya bercerita, bercakap-cakap dan tanya jawab tentang tema dan sub tema atau pengalaman anak. Sebelum kegiatan pendahuluan, guru bersama anak-anak bercakap-cakap, misalnya menanyakan keadaan mereka, mengomentari penampilannya, dan menanggapi yang disampaikan atau ungkapannya. Kemudian setelah anak-anak siap, barulah memasuki kegiatan pendahuluan. Di TK ABA kegiatan pendahuluan dilakukan sekaligus di kegiatan sebelum masuk kelas.

b.    Kegiatan Inti
Kegiatan inti merupakan proses pembentukan kompetensi sesuai dengan tujuan pembelajaran, yang melibatkan perhatian, kemampuan sosial dan emosional. Dalam kegiatan inti anak dapat dibagi menjadi beberapa kelompok, dan mereka melakukan kegiatan yang berbeda-beda. Sebelum anak dibagi kelompok, guru menjelaskan kegiatan atau hal-hal yang berkaitan dengan tugas masing-masing kelompok secara klasikal. Pada kegiatan inti, dalam satu kelas anak dibagi menjadi beberapa kelompok, guru bersama anak dapat memberi nama masing-masing kelompok, dan anak diberi kebebasan untuk memilih kegiatan sesuai yang diminatinya dan tempat yang disediakan. Anak-anak yang menyelesaikan tugasnya lebih cepat dapat meneruskan kegiatan di kelompok lain. Jika tidak tersedia tempat, anak tersebut dapat melakukan kegiatan di sudut kegiatan pengaman. Kegiatan pengaman berfungsi untuk menyediakan tempat kegiatan bagi anak yang telah menyelesaikan tugasnya lebih cepat, agar tidak mengganggu teman lain.

Sebaiknya alat-alat yang disediakan pada kegiatan pengaman lebih bervariasi dan sering diganti sesuai dengan tema atau subtema yang dibahas. Pada waktu kegiatan kelompok berlangsung, guru tidak berada di satu kelompok saja melainkan berkeliling memberikan bimbingan kepada setiap peserta didik yang mengalami kesulitan, baik secara kelompok maupun individual. Di TK ABA merupakan salah satu sekolah yang menggunakan sentra. Sehingga anak perkelas memasuki sentra yang sudah ditetapkan.

Terdapat beberapa aturan dalam kegiatan sentra persiapan yang dilakukan saat itu, aturan tersebut yaitu:
a)    Tidak boleh banyak berbicara
b)    Fokus
c)    Selesai.
Kegiatan sentra persiapan ini diikuti oleh 13 anak dengan 1 guru. Dengan mengusung tema profesi dan sub tema TNI AL, lalu guru memberikan beberapa instruksi kegiatan dari sentra persiapan, yaitu:
a)    Menulis kata “ TNI AL ” dalam buku kotak-kotak.
b)    Menyusun (meronce) per huruf dari kata “TNI AL” dengan permainan huruf yang ada di balok berlubang setelah itu dirangkai menggunakan benang.
c)    Mewarnai huruf TNI AL.
d)    Memberi tanda X pada gambar yang janggal (mencari yang salah).
Ketika kegiatan berlangsung, guru sambil berkeliling melakukan penilaian kegiatan sentra persiapan tersebut per anak.

3)    Makan dan Istirahat
Sebelum makan, anak-anak terlebih dahulu mencucui tangan. Setelah berkumpul di dalam kelas, anak-anak berdoa bersama, kemudian makan bersama yang disediakan oleh sekolah atau makanan yang dibawa masing- masing. Selesai makan, anak-anak beristirahat dan bermain di dalam atau diluar kelas dengan menggunakan fasilitas permainan yang tersedia.
Di TK ABA kegiatan makan bersama dan istirahat tidak berbeda jauh dengan keterangan yang sudah dijelaskan sebelumnya. Namun di TK ABA mereka dituntut untuk membawa bekal baik itu bekal nasi maupun hanya sekedar jajan jika terdapat murid yang tidak membawa bekal maka guru mengajarkan anak unuk berbagi.

4)    Penutup
Kegiatan penutup dilakukan untuk menenangkan anak dan diberikan secara klasikal, misalnya mendengarkan cerita, menyanyi, dan melakukan apresiasi musik. Kegiatan ini dapat diakhiri dengan tanya jawab mengenai kegiatan yang berlangsung sehingga anak dapat memaknai kegiatan yang telah dilaksanakan.

BAB IV PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses komunikasi antara peserta didik dengan pendidik, serta antar peserta didik dalam rangka perubahan sikap. Oleh karena itu baik secara konseptual maupun operasional konsep-konsep komunikasi dan perubahan sikap akan selalu melekat pada pembelajaran. Proses pembelajaran adalah membangun suasana dialogis dan proses tanya jawab terus menerus yang diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berfikir siswa, yang pada gilirannya kemampuan berfikir itu dapat membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan yang mereka konstruksi sendiri.

B.    Saran
1.    Perlu adanya pengembangan yang lebih optimal terhadap pendidikan anak usia dini, baik yang dilakukan oleh pemerintah, keluarga maupun masyarakat. Masa prasekolah yang disebut dengan masa keemasan perkembangan intelektual seharusnya dijadikan dasar bagi upaya meningkatkan kemajuan pendidikan di Indonesia.
2.    Kualifikasi pendidik anak usia dini harus terus ditingkatkan baik kualifikasi akademisnya maupun dalam bentuk pelatihan dan penataran lainnya.

Daftar Pustaka
Asmawati, L., 2014., Perencanaan Pembelajaran PAUD., Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Fadilillah, M., dkk., 2014., Edutainment PAUD., Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.
Mulyasa, H.E., 2012., Manajemen PAUD., Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Musfiqon, M., 2015., Mendesain Sekolah Unggul., Sidoarjo: Nizamia Learning
Center.
Nurdin,    Syafruddin.,    2005.,    Model    Pembelajaran:    yang    Memperhatikan Keragaman Individu Siswa dalam KBK., Ciputat: Quantum Teaching.
Syaifurahman dan Ujati, T., Manajemen dalamPembelajaran., 2013., Jakarta Barat: PT Indeks.
Trianto., 2011., Desain Pengembangan pembelajaran tematik bagi anak usia dini TK/RA & anak usia kelas awal SD/MI., Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Triwiyanto, T., 2015., Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran., Jakarta: PT Bumi Aksara.

Oleh : Ima Faizul Muna

Tags: