Manajemen Kesiswaan

Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang
Manajemen kesiswaan merupakan suatu gabungan kata antara manajemen dan kesiswaan yang mana itu dibentuk dengan tugas-tugas untuk mendampingi dan membantu perkembangan siswa dari mereka mulai mendaftarkan diri hingga nanti ketika mereka sudah menyelesaikan studinya.

Manajemen Kesiswaan

Suatu keberhasilan dalam penyelenggaraan lembaga kependidikan bergantung dengan semua komponen-komponen manajemen salah satunya manajemen kesiswaannya. Kepala sekolah sebagai pemeran penting dalam pengelolaan sekolah bertanggung jawab atas berlangsungnya prosen pendidikan di suatu sekolah yang mereka pimpin. Kepala sekolah  dituntuk untuk mau dan mampu melakukan sebuah upaya pengembangan dalam pengelolaan sekolah antara lain dengan membentuk suatu manajemen kesiswaan karena keberadaan siswa sangat penting terutama untuk pelaksanaan kegiatan pendidikan disekolah. Siswa merupakan suatu subyek sekaligus sebuah obyek dalam proses transformasi ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang mereka perlukan untuk bekal di masa depan.

Suatu sekolah sangat memerlukan manajemen kesiswaan untuk menunjang tumbuh kembang semua peserta didiknya baik dalam segi potensi fisik, kecerdasan, intelektual, sosial dan kejiwaannya. Kebutuhan dalam pengembangan diri siswa berbeda-beda untuk pemerioritasannya, seperti ada siswa yang ingin baik di segi akademik mereka, ada juga ingin baik di segi sosialisasi dengan teman sebayanya, dan ada juga baik dalam segala hal. Dari keberagaman keinginan tersebut maka diperlukan suatu pelayanan  yang dikelola dengan baik untuk melayani keinginan peserta didik. Manajemen kesiswaan lah yang harus perupaya untuk melayani kebutuhan mereka di mulai dari saat mereka baru mendaftarkan diri ke sekolah sampai nanti ketika mereka sudah meyelesaikan studinya disekolah tersebut.

B.    Rumusan Masalah
1.    Apa Pengertian Manajemen Kesiswaan ?
2.    Apa Tujuan dan Fungsi Manajemen Kesiswaan ?
3.    Apa Prinsip-prinsip Manajemen Kesiswaan ?
4.    Apa Ruang Lingkup Manajemen Kesiswaan ?
5.    Laporan Hasil Mini Riset Manajemen Kesiswaan

C.    Tujuan
1.    Untuk menegetahui pengetian dari manajemen kesiswaan
2.    Untuk mengetahui tujuan dan fungsi dari manajemen kesiswaan
3.    Untuk mengetahui prinsip-prinsip dalam manajemen kesiswaan
4.    Untuk mengetahui ruang lingkup yang dimiliki manajemen kesiswaan
5.    Untuk melaporkan hasil dari mini riset tentang manajemen kesiswaan

BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian Manajemen Kesiswaan
Manajemen Kesiswaan merupakan proses pengurusan segala hal yang berkaitan dengan siswa, pembinaan sekolah mulai dari penerimaan siswa, pembinaan siswa berasal di sekolah, sampai dengan dengan siswa menamatkan pendidikannya. Dimulai dari penciptaan suasana yang kondusif terhadap berlangsungnya proses belajar mengajar yang efektif.

Manajemen Kesiswaan adalah suatu layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan, pengawasan, dan layanan siswa baik di kelas maupun di luar kelas seperti: pendaftaran, pengenalan, layanan individual pengembangan keseluruhan kemampuan, minat, kebutuhan sampai ia matang di sekolah .

Hendayat Soetopo dan Wasty Soemanto mengemukakan bahwa manajemen kesiswaan adalah suatu penataan dan pengaturan segala aktivitas yang berkaitan dengan peserta didik, yaitu mulai masuknya peserta didik sampai dengan keluarnya dari suatu sekolah atau lembaga pendidikan.

Manajemen kesiswaan adalah penataan dan pengaturan terhadap kegiatan yang berkaitan dengan peserta didik, mulai masuk sampai dengan keluarnya peserta didik tersebut dari suatu sekolah. Manajemen kesiswaan bukan hanya untuk memcatat data peserta didik, namun juga mengembangkan aspek yang lebih luas secara oprasional dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan di sekolah .

Manajemen kesiswaan bukanlah dalam bentuk kegiatan pencatatan siswa melainkan meliputi aspek lebih luas, yang secara operasional dapat dipergunakan untuk membantu kelancaran upaya pertumbuhan dan perkembangan siswa melalui proses pendidikan. Dengan adanya manajemen kesiswaan merupakan sebuah upaya untuk memberikan layanan yang sebaik-baiknya kepada siswa ketika mereka berada di sekolah atau lembaga pendidikan dari sejak mulai masuk hingga nanti keluar dari sekolah tersebut.

Menurut Eka Prihatin memaparkan bahwa manajemen peserta didik adalah usaha pengaturan terhadap peserta didik mulai dari peserta didk tersebut masuk sekolah sampai dengan lulus sekolah.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen kesiswaan merupakan komponen-komponen yang mendukung tumbuh dan kembang peserta didik dalam segala segi pengembangan dapat dicapai secara optimal dan juga sebagai pondasi terciptanya peserta didik yang berpotensi dan handal. Dapat juga ketika mereka keluar dari suatu sekolah atau lembaga pendidikan mereka memiliki bekal pengetahuan untuk masa depannya nanti ketika meraka sudah hidup di masyarakat.

B.    Tujuan dan Fungsi Manajemen Kesiswaan
Menurut Dadang Suhardan, tujuan manajemen kesiswaan adalah mengatur kegiatan siswa agar kegiatan-kegiatan tersebut dapat menunjang proses pembelajaran di lembaga pendidikan. Proses pembelajaran di lembaga tersebut dapat berjalan lancar, tertib, dan tetatur sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan .

Tujuan umun dari manajemen kesiswaan adalah untuk mengatur berbagai kegiatan dalam bidang kesiswaan agar dalam kegiatan pembelajaran di sekolah dapat berjalan dengan tertib, teratur, dan lancar, serta dapat mecapai tujuan pendidikan di sekolah tersebut.

Sedangkan fungsi dari manajemen kesiswaan adalah sebagai wahana bagi siswa untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin, baik yang berkenaan dengan segi-segi individualisnya, segi sosial, aspirasi kebutuhan dan segi-segi potensi siswa lainnya .

Adapun fungsi khusus dari manajemen kesiswaan mecakup sebagai berikut :
a.    Fungsi yang berhubungan dengan individualis peserta didik, yaitu agar peserta didik dapat mengembangkan potensi-potensi individualisnya tanpa banyak hambatan, potensi bawaan meliputi: kecerdasan, kemampuan khusus dan kemampuan lainnya.
b.    Fungsi yang berhubungan dengan kemampuan sosial anak, yaitu agar peserta didik dapat mengadakan sosialisasi dengan teman sebayanya, dengan orang tua, keluarga, dengan lingkungan sosial sekolah dan lingkungan sosial masyarakat.
c.    Fungsi yang berhubungan dengan penyaluran aspirasi dan harapan peserta didik, yaitu agar peserta didik dapat menyalurkan hobinya, kesenangan dan minatnya karena hal itu dapat menunjang terhadap perkembangan diri peserta didik secara keseluruhan.
d.    Fungsi yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan peserta didik.

Baca Juga :  Pentingnya Zikir Untuk Pengendalian Emosi

Jadi menurut tujuan dan fungsi dari manajemen kesiswaan sendiri sebagai salah satu cara untuk mengatur berbagai kegiatan kesiswaan serta sebagai wahana bagi siswa untuk menunjang potensinya secara keseluruhan.

C.    Prinsip-prinsip Manajemen Kesiswaan
Knezevich (dalam Tim Pakar Manajemen Pendidikan, 2003: 52) mengartikan manajemen peserta didik/ manajemen kesiswaan sebagai suatu layanan yang memusatkan perhatian pada pengetahuan, pengawasan, dan layanan siswa di kelas dan di luar kelas, seperti pengenalan, pendaftaran, layanan individual (misalnya pengembangan kemampuan, minat, kebutuhan) sampai ia matang di sekolah.

Ada empat prinsip dasar dalam manajemen kesiswaan :
(a)    Siswa harus diperlakukan sebagai subyek dan bukan objek, sehingga harus didorong untuk ikut berperan serta dalam setiap perencanaan dan pengambilan keputusan yang terkait kegiatan mereka.
(b)    Kondisi siswa sangat beragam, ditinjau dari kondisi fisik, kemampuan intelektual, sosial emosional, minat, dan seterusnya. Oleh karena itu butuh wahana kegiatan yang beragam untuk mengembangkan kemampuan anak secara optimal.
(c)     Siswa hanya termotivasi belajar, jika mereka menyenangi apa yang diajarkan dan
(d)    Pengembangan potensi siswa tidak hanya menyangkut ranah kognitif, tetapi juga ranah afektif, dan psikomotorik.

Adapun beberapa prinsip tentang kewajiban siswa yang harus diikuti dan dipatuhi oleh siswa berikut ini, yaitu :
1.    Ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan kecuali siswa yang dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan ketentuan peraturan undang-undang yang berlaku
2.    Mamatuhi ketentuan peraturan yang berlaku
3.    Menghormati tenaga kependidikan
4.    Ikut memelihara sarana dan prasarana serta kebersihan dan ketertiban serta keamana sekolah yang bersangkutan.

Adapun prinsip-prinsip yang harus dilaksanakan dalam melaksanakan manajemen peserta didik menurut Prihatin (2011, hlm. 11-12) adalah sebagai berikut:
a.    Manajemen peserta didik sebagai bagian dari keseluruhan manajemen sekolah, sehingga harus mempunyai kesamaan visi, misi, dan tujuan manajemen sekolah secara keseluruhan. Penempatan manajemen peserta didik ditempatkan pada kerangka manajemen sekolah, tidak boleh ditempatkan di luar sistem sekolah.
b.    Segala bentuk kegiatan manajemen peserta didik harus mengembang visi pendidikan dan dalam rangka mendidik peserta didik.
c.    Kegiatan manajemen peserta didik harus diupayakan untuk mempersatukan peserta didik yang mempunyai aneka ragam latar belakang dan punya bakat yang berbeda. Perbedaan di antara peserta didik tidak diarahkan pada konflik di antara mereka, akan tetapi justru untuk mempersatukan dan saling memahami dan menghargai.
d.    Kegiatan manajemen peserta didik harus dipandang sebagai upaya pengaturan terhadap pembimbingan peserta didik, di sini diperlukan  kerja sama yang baik dan harmonis antara pembimbing dan yang dibimbing atau peserta didik
e.    Kegiatan manajemen peserta didik harus mendorong dan memacu kemandirian peserta didik, di mana kemandirian ini akan memotivasi anak untuk tidak selalu tergantung pada orang lain, dan dapat malakukan segala kegiatan secara mandiri. Hal itu sangat bermanfaat bagi peserta, baik di lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat.
f.    Segala kegiatan yang diupayakan oleh manajemen peserta didik harus bersifat fungsional bagi kehidupan peserta didik di sekolah maupun bagi masa depannya.

Ada juga beberapa prinsip yang perlu diperhatikan kepala sekolah dalam pelaksanaan dari tujuan dan fungsi manajemen kesiswaan agar tercapai, prinsip tersebut adalah:
1.    Mengembangkan program manajemen kesiswaan dalam penyelenggaraannya harus mengacu pada peraturan yang berlaku pada saat program dilaksanakan.
2.    Manajemen kesiswaan dipandang sebagai bagian keseluruhan manajemen sekolah. Oleh karena itu, harus mempunyai tujuan yang sama atau mendukung tujuan manajemen sekolah secara keseluruhan.
3.    Segala bentuk kegiatan manajemen kesiswaan haruslah mengemban misi  pendidikan dan dalam rangka mendidik siswa.
4.    Kegiatan-kegiatan manajemen kesiswaan haruslah diupayakan untuk mempersatukan peserta yang mempunyai keragaman latar belakang dan punya banyak perbedaan. Perbedaan itu tidak diarahkan untuk memunculkan konflik di antara siswa melainkan untuk mempersatukan, saling memahami, dan saling menghargai. Sehingga setiap siswa memiliki wahana untuk berkembang secara optimal.
5.    Kegiatan manajemen kesiswaan harus dipandang sebagai upaya pengaturan terhadap pembimbing siswa
6.    Kegiatan manajemen kesiswaan harus mendorong dan memacu kemandirian siswa. Prinsip kemandirian akan bermanfaat tidak hanya ketika di sekolah melainkan ketika sudah terjun ke masyarakat.
7.    Kegiatan manajemen kesiswaan haruslah fungsional bagi kehidupan siswa, baik disekolah atau terlebih di masa depan.

D.    Ruang Lingkup Manajemen Kesiswaan
Manajemen kesiswaan bukan hanya dalam bentuk pencatatan data peserta didik saja, melainkan meliputi beberapa aspek luas yang secara operasional dapat digunakan untuk membantu kelancaran upaya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan di sekolah.
Ruang lingkup Manajemen Kesiswaan itu meliputi:
1.    Analisis Kebutuhan Siswa
Langkah pertama adalah melakukan analisis kebutuhan, yaitu penetapan siswa yang dibutuhkan oleh lembaga pendidikan (sekolah). Kegiatan yang dilakukan dalam langkah ini adalah:
a)    Merencanakan jumlah siswa yang akan diterima. Penentuan jumlah siswa yang akan diterima perlu dilakukan sebuah lembaga pendidikan, agar layanan  terhadap siswa bisa dilakukan secara optimal. Besarnya jumlah siswa yang akan diterima harus mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:
1)    Daya tampung kelas atau kelas yang tersedia. Beberapa calon siswa baru yang akan diterima sangat bergantung pada jumlah kelas atau fasilitas tempat duduk yang tersedia.
2)    Rasio murid dan guru. Yaitu perbandingan antara banyaknya siswa dengan guru perfultimer. Secara ideal rasio murid dan guru adalah 1:30 atau jika dalam pendidikan anak usia dini 1:15.
b)    Menyusun program kegiatan kesiswaan. Penyusunan program kegiatan bagi siswa selama mengikuti pendidikan di sekolah harus didasarkan kepada:
1)    Visi dan misi lembaga pendidikan (sekolah) yang bersangkutan
2)    Minat dan bakat siswa
3)    Sarana dan prasarana yang ada
4)    Anggaran yang tersedia
5)    Tenaga kependidikan yang tersedia

Baca Juga :  Efektifitas Penerapan Metode Tilawati Terhadap Kualitas Membaca Alquran Di Tpq Syifaul Qolbi Surabaya

2.    Rekrutmen Siswa
Rekrutmen siswa di sebuah lembaga pendidikan (sekolah) pada hakikatnya merupakan proses pencarian, menetukan, dan menarik pendaftar yang mampu untuk menjadi siswa di lembaga pendidikan (sekolah) yang bersangkutan. Langkah-langkah rekrutmen siswa baru adalah sebagai berikut:
a)    Pembentukan panitia penerimaan siswa baru. Pembentukan panitia disusun secara musyawarah dan terdiri dari semua unsur guru, tenaga tata usaha, dan dewan sekolah/komite sekolah. Panitia tersebut bertugas mengadakan pendaftaran calon siswa, mengadakan seleksi dan menerima pendaftaran kembali siswa yang diterima. Adapun susunan dari kepanitiaan tersebut biasanya mencakup:
Ketua umum    :
Ketua Pelaksana    :
Sekertaris         :
Bendahara         :
Anggota/Seksi    :
b)    Pembuatan dan pemasangan pengumuman penerimaan siswa baru yang dilakukan secara terbuka. Pengumuman penerimaan siswa baru ini berisi hal-hal berikut:
1)    Gambaran singkat sekolah meliputi: sejarah sekolah, visi dan misi sekolah, kelengkapan fasilitas sekolah, tenaga kependidikan yang dimiliki serta hal-hal yang perlu disampaikan pada calon pendaftar.
2)    Persyaratan pendaftaran siswa baru minimal meliputi: surat keterangan dari dokter, ada batasan usia yang ditunjukkan dengan akte kelahiran seperti pada TK maksimal 6 tahun, melampirkan pas foto (3×4 atau 4×6)
3)    Cara pendaftaran. Ada dua cara yaitu secara individu oleh masing-masing calon siswa yang datang ke sekolah yang dituju atau secara kolektif oleh pihak sekolah di mana siswa sekolah sebelumnya.
4)    Waktu pendaftaran, yang memuat kapan waktu pendaftaran dimulai dan kapan waktu pendaftaran diakhiri. Waktu pendaftaran ini meliputi hari, tanggal, dan jam pelayanan.
5)    Tempat pendaftaran. Hal ini menentukan dimana saja siswa dapat mendaftarkan diri.
6)    Berapa uang pendaftaran dan kepada siapa uang tersebut diserahkan (melalui petugas pendaftaran atau bank yang ditunjuk) serta bagaimana pembayarannya (tunai atau diangsur)
7)    Waktu dan tempat seleksi yang meliputi waktu pengumuman hasil seleksi dan di mana calon siswa dapat memperolehnya.

3.    Seleksi Siswa
Seleksi siswa adalah kegiatan pemilihan calon siswa untuk menetukan diterima atau tidaknya calon siswa menjadi siswa di sekolah tersebut berdasarkan ketentuan yang berlaku. Seleksi siswa perlu dilakukan terutama bagi lembaga pendidikan (sekolah) yang calon siswanya melebihi daya tempung yang tersedia di lembaga pendidikan tersebut. Adapun cara seleksi yang digunakan adalah:
a.    Melalui tes atau ujian. Adapun tes ini meliputi psiko tes, tes jasmani, tes kesehatan, tes akademik atau tes keterampilan.
b.    Melalui penelusuran bakat kemampuan. Bakat kemampuan ialah pembawaan yang menunjukkan adanya potensi-potensi yang bagus. Penelusuran ini biasanya didasarkan pada prestasi yang diraih oleh calon siswa dalam bidang oleh raga atau kesenian.
c.    Berdasarkan nilai UN. Dari hasil seleksi terhadap siswa dihasilkan dari kebijakan sekolah yaitu siswa yang diterima dan yang tidak diterima adapula siswa yang tidak diterima tetapi sebagai cadangan.

4.    Orientasi
 Orientasi siswa adalah kegiatan penerimaan siswa baru dengan mengenalkan situasi dan kondisi lembaga pendidikan tempat siswa itu menempuh pendidikan. Situasi dan kondisi menyangkut lingkungan fisik sekolah dan lingkungan sosial sekolah. Tujuan diadakan orientasi bagi siswa, antara lain:
a.    Agar siswa lebih mengerti dan menaati segala peraturan yang berlangsung di sekolah.
b.    Agar siswa dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan sekolah.
c.    Agar siswa siap menghadapi lingkungannya yang baru, baik secara fisik, mental, dan emosional sehingga ia merasa betah dalam mengikuti proses pembelajaran di sekolah serta dapat menyesuaikan dengan kehidupan di sekolah. Orientasi sering disebut juga sebagai MOS, MOPD, POS, PLS, dan lain-lain.

5.    Penempatan Siswa ( Pembagian kelas)
  Sebelum siswa mengikuti proses pembelajaran, terlebih dahulu perlu ditempatkan atau dikelompokkan dalam kelompok belajarnya. Pengelompokan siswa pada sekolah-sekolah sebagian besar didasarkan pada sistem kelas. William A. Jeager mengelompokkan siswa berdasarkan:
a.    Fungsi integrasi, yaitu pengelompokan yang didasarkan pada kesamaan-kesamaan yang ada pada siswa. Pengelompokan didasarkan pada jenis kelamin, umur, dan sebagainya. Pengelompokan berdasarkan fungsi ini menghasilkan pembelajaran yang bersifat klasik.
b.    Fungsi perbedaan, yaitu pengelompokan siswa didasarkan pada perbedaan-perbedaan yang ada dalam individu siswa, seperti minat, bekat, kemampuan dan sebagainya. Pengelompokan ini menghasilkan pembelajaran individual

6.    Pembinaan dan Pengembangan Siswa
Langkah berikutnya dalam manajemen kesiswaan adalah melakukan pembinaan dan pengembangan terhadap siswa. Pembinaan dan pengembangan siswa ini dilakukan sehingga anak mendapat bermacam-macam pengalaman belajar untuk bekal di masa mendatang. Pembinaan dan pengembangkan dapat dilakukan melalui pelayanan khusus yang menunjang manajemen peserta didik. Layanan-layanan yang dibutuhkan peserta didik di sekolah meliputi:
a)    Layanan Bimbingan dan Konseling
Layanan BK merupakan proses pembinaan bantuan kepada siswa agar perkembangannya optimal sehingga anak didik bisa mengarahkan dirinya dalam bertindak dan bersikap sesuai tuntutan dan situasi lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.
b)    Layanan Perpustakaan
Diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran di sekolah, memyediakan informasi yang dibutuhkan oleh siswa, dan memberi layanan rekreatif melalui koleksi bahan pustaka. Keberadaan perpustakaan sangatlah penting karena perpustakaan dipandang sebagai kunci dalam pembelajaran siswa di sekolah.
c)    Layanan Kantin
Kantin diperlukan disetiap sekolah agar kebutuhan anak terhadap makanan yang bersih, bergizi, dan higienis terpenuhi selama di sekolah. Guru pun bisa mengontrol dan berkonsultasi dengan pengelola kantin agar menyediakan makanan yang sehat.
d)    Layanan Kesehatan
Layanan kesehatan di sekolah biasanya berbentuk sebuah wadah yang bernama Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), sasaran utama UKS adalah meningkatkan atau membina kesehatan siswa dan lingkungan sekitarnya. Program UKS: (1) menciptakan lingkungan yang sehat, (2) memberikan pendidikan kesehatan, (3) memelihara kesehatan di sekolah.
e)    Layanan Trasportasi
Sarana trasportasi bagi peserta didik berfungsi sebagai penunjang kelancaran proses belajar-mengajar. Biasanya layanan ini diperlukan oleh peserta didik di tingakat prasekolah dan pendidikan dasar. Penyelenggaraan layanan transportasi sebaiknya dilaksanakan oleh sekolah yang bersangkutan atau pihak swasta.

Baca Juga :  Hakikat Penilaian Pendidikan Anak Usia Dini

f)    Layanan Asrama
Layanan asrama sangat bermanfaat untuk siswa yang tinggal jauh dari keluarga sehingga membutuhkan tempat tinggal yang nyaman untuk beristirahat. Biasanya layanan asrama tersedia di tingkat sekolah menegah dan perguruan tinggi.

7.    Pencatatan dan Pelaporan
  Kegiatan pencatatan dan pelaporan dimulai sejak siswa diterima di sekolah tersebut sampai mereka tamat atau meninggalkan sekolah tersebut. Pencatatan tentang kondisi siswa perlu dilakukan agar pihak lembaga dapat memberikan bimbingan yang optimal pada siswa. Pelaporan dilakukan sebagai wujud tanggung jawab lembaga agar pihak-pihak terkait dapat mengetahui perkembangan siswa di lembaga tersebut. Untuk melakukan pencatatan dan pelaporan diperlukan peralatan dan perlengkapan yang dapat mempermudah, berupa:
a.    Buku induk siswa. Buku ini berisi catatan tentang siswa disertai dengan nomer pokok/stambuk dan dilengkapi dengan data-data lain siswa.
b.    Buku klapper. Berfungsi untuk membantu buku induk, memuat data murid yang penting. Buku ini digunakan untuk memudahkan mencari data murid, apalagi yang belum diketahui nomer induknya. Karena dalam buku klapper nama disusun menurut abjad.
c.    Daftar presensi. Buku ini dibuat sesuai kebutuhan dan diisi setiap hari, selanjutnya direkap setiap bulan. Kehadiran siswa penting karena dalam rangka pembinaan disiplin siswa dan pemberian materi pelajaran yang belum dipelajari akibat ketidakhadiran. Absensi siswa dapat menjadi tolak ukur tingkat kedisiplinan siswa.
d.    Daftar mutasi siswa. Buku mutasi rutin diisi setiap awal dan akhir bulan, hal ini sangat membantu dalam pembuatan laporan keadaan siswa setiap bulan/triwulan/.tahun. ditutup tiap akhir bulan ditandatangani oleh kepala sekolah/ kepala tata usaha.
e.    Buku lengger. Buku daftar kelas/lengger digunakan untuk mencatat biodata setiap siswa dalam satu kelompok belajar, termasuk nilai rapot setiap siswa dan setiap caturwulan. Hal ini untuk menghindari tercecer atau hilangnya data siswa khususnya data nilai belajar.
f.    Buku rapot. Berfungsi untuk melihat kemajuan siswa setiap jangka waktu tertentu. Raport diberi nomer seri agar tidak disalahgunakan.
8.    Kelulusan dan Alumni

Proses kelulusan adalah kegiatan paling akhir dari manajemen kesiswaan. Kelulusan adalah pernyataan dari lembaga pendidikan tentang telah diselesaikannya program pendidikan yang harus diikuti oleh siswa. Setelah siswa selesai megikuti seluruh program pendidikan di suatu lembaga pendidikan dan berhasil lulus, maka kepada siswa itu diberikan surat keterangan lulus atau sertifikat. Umumnya surat keterangan itu sering disebut dengan ijazah atau surat tanda taman belajar (STTB). Ketika siswa sudah lulus, maka secara formal hubungan antara siswa dengan lembaga telah selesai.

E.    Laporan Hasil Mini Riset
Dari hasil mini riset yang kami lakukan di PG/TK AL-MUHAJIRIN Citra Harmoni D2 No.16-17 Sidodadi Taman, untuk mengetahui bagaimana TK tersebut menerapkan manajemen kesiswaannya. Disana kami mencari tahu perencanaan kesiswaan, sistem penerimaan siswa, sistem orientasi siswa dan bagaimana pembinaan disiplin siswanya.
1.    Perencanaan Kesiswaan
Perancanaan ini dalam bentuk bagaimana TK tersebut melakukan sistem untuk menerima atau mencari peserta didik baru. Di PG/TK AL-MUHAJIRIN melakukannya dengan membuat browsur dan pamflek tentang pendaftaran yang telah dibuka oleh TK tersebut, pendaftaran dibuka selama sekitar satu atau dua bulan hingga namun akan ditutup jika kuota telah terpenuhi. Pendaftaran dilakukan hanya di sekolah itu saja tidak terdapat stand khusus jadi jika ada yang ingin mendaftara bisa langsung datang ke TK.

2.    Sistem Penerimaan Siswa
Di TK tersebut tidak ada syarat khusus untuk penerimaan siswanya hanya cukup memenuhi syarat yang semestinya saja seperti anak memiliki akte kelahiran untuk data anak di arsip sekolah, umur sudah mencukupi jika TK usia maksimal 6 tahun.
3.    Sistem Orientasi Siswa
Sistem orientasi di TK ini hanya cukup mengenalkan lingkungan sekolah saja baik itu tentang ruang-ruang yang ada di TK, guru dan staf TK lainnya dan beberapa tata tertib di sekolah itu.
4.    Pembinaan Disiplin Siswa
Siswa diperkenalkan atau di ajarkan bagaimana baris yang rapi dan tertib, bagaimana caranya sebelum memasuki kelas harus menyapa guru dan menata sepatu di rak nya, dan setelah di kelas mengerjakan anak bagaimana tertib/ adab di kelas, mengikuti pembelajaran dengan baik.

BAB III PENUTUP
Kesimpulan
Manajemen kesiswaan merupakan suatu layanan yang memusatkan perhatiannya kepada pengaturan, pengawasan, dan layanan siswa di kelas maupun di luar kelas. Pelayana tersebut dimulai dari mulai mereka mendaftar dan masuk sampai nanti ketika siswa sudah menyelesaikan semua program pembelajaran di sekolah tersebut. Layanan ini berupa pengenalan, pendaftaran, layanan individuan seperti pengembangan keseluruhan aspek kemampuan minat dan bakat, serta kebutuhan sampai ia matang di sekolah.

Tujuan dari manajemen kesiswaan adalah untuk mengatur kegiatan yang menunjang proses pembelajaran siswa di lembaga pendidikan (sekolah) agar dapat berjalan secara lancar, tertib, dan teratur sehingga dapat memberikan kontribusi bagi tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan.

Fungsi dari manajemen kesiswaan adalah untuk wahana bagi siswa mengembangkan semua kemampuan diri secara optimal baik yang berkenaan dengan segi individualisnya, sosial, aspirasi, kebutuhan dan segi-segi potensi peserta didik yang lainnya.

Adapula prinsip-prinsip manajemen kesiswaan sebagai penyelenggara yang harus mengacu pada peraturan yang berlaku. Segala bentuk kegiatan haruslah mengembangkan misi pendidikan dan dalam rangka mendidik peserta didik rang memiliki keberagaman untuk mempersatukan keberagaman latar belakang tersebut untuk mendorong kemandirian peserta didik, fungsional bagi kehidupan peserta didik, baik di sekolah dan untuk masa depan.

DAFTAR PUSTAKA
Kompri. 2017. Standardisasi kompetensi kepala sekola : pendekatan teori untuk praktik profesional. Jakarta: Kencana.
Hermino, Agustinus. 2013. Asesmen kebutuhan organisani persekolahan. Jakarta: Gramedia.
Sunaengsih, Cucun. 2017. Pengelolaan Pendidikan. Sumedang: UPI Sumedang Press.

Tags: