Peran Ibu Dalam Mendidik Anak Menurut Pandangan Islam

Abstrak
Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana peran seorang ibu dalam mendidik anaknya menurut pandangan islam. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan peran ibu dalam mendidik anak  yang sesuai dengan segi pandang islam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, yaitu dengan metode wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini dilaksanakan pada hari Sabtu dan minggu, 25-26 Mei 2019 di desa Kebonagung kecamatan Wonodadi kabupaten Blitar. Hasil penelitian menjelaskan bahwa seorang ibu hendaklah mengetahui bagaimana peran mereka dalam mendidik anak dalam segi pandang islam. Dari berbagai sumber dijelaskan bahwasanya ibu merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya, sehingga sudah seharusnya bagi seorang ibu untuk mendidik anaknya dengan baik yang disisipi dengan aqidah, syariat dan akhlak serta karakter nilai-nilai keislaman, yang mana bisa dimulai ketika masih berada dikandungan. Ditambah, kiranya orang tua terutama seorang ibu mampu memberikan keteladanan atau contoh berperilaku yang baik sebagai pembiasaan terhadap anak terutama dalam hal keagamaan seperti sholat, puasa, zakat, sedekah dan lain-lain.
Keyword : Ibu,Mendidik, Anak, Islam 
Peran Ibu Dalam Mendidik Anak Menurut  Pandangan Islam
Pendahuluan
Islam adalah agama yang mengatur seluruh kehidupan manusia di dunia ini, baik dari urusan sederhana sampai urusan yang dianggap rumit. Terutama masalah pendidikan, Allah SWT menciptakan manusia dengan berbagai potensi baik dari segi jasmani maupun rohani serta membekalinya dengan akal agar manusia memanfaatkannya untuk berfikir dan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.

Menurut Mustafa Al-Ghalayain, pendidikan adalah usaha menanamkan akhlak terpuji dalam jiwa anak-anak. Akhlak yang sudah tertanam itu harus terus disirami dengan bimbingan dan nasehat, sehingga menjadi watak atau sifat yang melekat dalam jiwa. Sesudah itu, buah tanaman akhlak itu akan tampak berupa amal perbuatan yang mulia dan baik serta gemar bekerja demi kebaikan negara. 

Dalam dunia pendidikan, dikenal ungkapan yang mengatakan bahwa pendidikan keluarga adalah pendidikan pertama dan utama. Dikatakan pendidikan pertama karena anak pertama kali menerima pendidikan adalah dari keluarga dan dikatakan utama karena pendidikan dalam keluarga paling berkesan pada kehidupan seseorang. Pendidikan dalam keluarga merupakan aspek penting dalam pembentukan perilaku seseorang. Pada umumnya pendidikan dalam keluarga dilakukan dengan menanamkan nilai-nilai agama, etika, budi pekerti, serta tingkah laku yang harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Ibu adalah rumah pertama bagi seorang anak sebelum seorang anak dilahirkan ke dunia. Ibu adalah manusia ciptaan Allah yang memberikan sesuatu tanpa batas dan tidak mengharap imbalan apa-apa atas semua pemberiannya kepada anak- anaknya. Seorang ibu mempunyai peran yang sangat penting sebagai pendidik dalam keluarga, hal ini terbukti sebagaimana seorang ibu mempersiapkan dan membekali dirinya dengan nilai-nilai kebaikan, kemudian bagaimana seorang ibu mengajarkan nilai-nilai tentang keagamaan kepada anak-anaknya sejak masih dalam kandungan walaupun hanya dengan belaian-belaian kasih sayang.

Al-Asyamawi (dalam Hasan, 2004: 34-35), menjelaskan bahwa pendidikan ibu terhadap anak tentunya akan berguna nantinya untuk perkembangan anak kedepannya. Anak tidak hanya membutuhkan perlindungan dari ibunya, anak juga membutuhkan perhatian, belaian kasih sayang dan segenap bimbingan yang mereka butuhkan, bahwa anak adalah amanat yang dititipkan Tuhan Yang Maha Esa kepada orang tua yang diamanatkan untuk dapat menjaga, membimbing, mengarahkan, dan mendidik anak semampunya mungkin. Menanamkan rasa keimanan kepada anak sejak usia dini, bukan berarti ibu mendidik mereka perasaan takut kepada Tuhan. Melainkan justru membuat anak merasa terlindungi. Semua ibu harus melakukan itu, supaya anak-anak selamat dari segala mara bahaya dunia akhirat.

Baca Juga :  Kecanduan Media Sosial Dan Cara Mengatasinya

Menurut pendapat Adil Fathi Abdullah dalam bukunya Menjadi Ibu Ideal, pengertian ibu ideal adalah ibu yang berhasil dalam menjalankan peranannya secara maksimal sebagai seorang ibu. Ia harus dapat membaca pribadi anak-anaknya, persoalan dan problem yang dihadapi, bagaimana berinteraksi dengan mereka, bagaimana cara mendidik, bagaimana mengajarkan al-Qur’an, dan bagaimana mengajarkan masalah-masalah yang berkaitan dengan agama dan pendidikan, serta memiliki pengetahuan tentang sarana pendidikan modern dan cara penggunaannya.

Sebagaimana dalam bukunya Muhammad Ali Hasyimi dengan judul Kepribadian Wanita Muslimah Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa:
Seorang penyair ternama Hafiz Ibrahim mengungkapkan sebagai berikut:
الام مَدْرَسَةٌ اِذَا اَعَدَدْتَهَا# اَعْدَدْتَ شَعْبًا طَيْبَ الاَعْرَافُ
Ibu adalah madrasah (Sekolah), bila engkau menyiapkan berarti engkau menyiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya
Karena itu memang sangat jelas bahwa ibu adalah madrasah pertama yang akan memberikan qudwah (keteladanan) bagi sikap, perilaku dan kepribadian anak.

Hal ini pun dipertegas dalam bukunya Ummu Syafa
Suryani Arfah dalam bukunya Menjadi Wanita Shalihah, bahwa: “ibu adalah shibgah (pencelupan) pertama bagi watak dan kepribadian anak. Ia merupakan bayangan yang paling mendekati dengan kepribadian anak, jika ia baik maka akan baik lah anak- anaknya” . Demikian secara tak langsung semua tindak tanduk ibu akan menjadi suri tauladan bagi keluarganya, terutama bagi anak-anaknya karena dari sanalah akan tumbuh kepribadian anak secara bertahap.

Sejatinya, ibu dikatakan ideal dalam islam yaitu mampu mendidik anak dengan nilai keislaman sejak masih dini, memiliki budi pekerti yang baik atau akhlakul karimah, selalu menjaga perilakunya agar menjadi teladan yang baik bagi anaknya, serta memiliki sikap penyabar dan lemah lembut dalam berbicara agar kelak sang anak dapat memiliki kepribadian yang tangguh dan baik.

Baca Juga :  Pentingnya Literasi Keluarga dalam Sekolah

Maka, hendaklah seorang ibu membekali dirinya dengan bekal yang bisa membantunya dalam membimbing anak dengan bimbingan yang bisa menjaga anak dari keburukan dan membentuk kepribadian anak yang shaleh dan shalehah. Hal ini dipertegas oleh Lydia Harlina Martono, dkk dalam bukunya mengasuh Anak dalam Keluarga yang mengatakan bahwa :”mengasuh dan  membimbing Anak ialah mendidik agar anak dapat berkembang dengan sebaik-baiknya, sehingga manusia dewasa yang bertanggung jawab”.

Metode Penelitian
Penelitian kali ini, kami menggunakan penelitian kualitatif yang menurut kami lebih cocok dalam penelitian ini. Kami melakukan wawancara kepada beberapa ibu yang menurut kami sesuai sebagai target subjek penelitian kami. Wawancara ini dilaksanakan di desa Kebonagung kecamatan Wonodadi kabupaten Blitar pada hari Sabtu dan Minggu, 25-26 Mei 2019. Adapun beberapa poin yang kami tanyakan pada saat wawancara adalah
1.    Bagaimana cara ibu mendidik anak?
2.    Menurut ibu, sudah sesuaikah cara ibu dalam mendidik anak dengan segi pandangan islam?
3.    Bagaimana pandangan ibu tentang pola asuh otoriter yang digunakan oleh beberapa ibu dalam mendidik anak?
Kemudian kami merangkai data yang terkumpul menjadi sebuah artikel kajian penelitian yang menurut kami menarik untuk dibahas.

Hasil dan Pembahasan
Dari penelitian berupa wawancara dan dokumentasi yang telah kami lakukan, diperoleh hasil bahwasanya beberapa ibu yang kami wawancarai memahami betul bagaimana peran mereka sebagai ibu yang mempunyai kewajiban dalam mendidik anak dalam segi pandangan islam.  Menurut beberapa ibu yang kami wawancarai atau narasumber, seorang anak haruslah dididik mulai saat ia masih berada di kandungan yaitu dengan cara mencoba mengajak berbicara/berinteraksi dengan anak ketika didalam kandungan, makan makanan yang bergizi, membaca serta mempelajari al-qur’an dan mendo’akan anak, serta menjaga perilaku orang tua ketika masa kehamilan. Selain itu, menurut narasumber, seorang ibu haruslah memberi contoh yang baik/teladan bagi anak mereka, dan melakukan pembiasaan kepada anak untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya utamanya dalam hal beribadah seperti sholat tepat pada waktunya, mengaji, bersedekah, puasa dan lain-lain. Seorang ibu haruslah menasehati anaknya, tidak hanya setelah si anak melakukan kesalahan, tetapi sebaiknya dilakukan sebelum si anak melakukan kesalahan agar anak dapat menghindarinya. Apabila anak tidak lagi mampu di nasehati, maka orang tua boleh menggunakan metode hukuman, namun dalam artian hukuman tersebut bersifat mendidik.

Lalu menurut narasumber, cara yang mereka gunakan sudah benar sesuai dengan apa yang telah diajarkan dalam islam. Kemudian pendapat mereka tentang seorang ibu yang menggunakan pola asuh otoriter terhadap anak adalah kurang setuju. Karena menurut narasumber pola asuh otoriter adalah pola asuh yang mana seorang ibulah yang membuat sebuah keputusan dan seorang anak harus patuh terhadap keputusan tersebut dan tidak boleh bertanya. Sedangkan menurut narasumber, seorang anak mempunyai hak untuk berbicara dan mengungkapkan pendapatnya. Baru apabila keputusan sang anak salah atau tidak sesuai, seorang ibu bertugas untuk menasehati anaknya.

Baca Juga :  Peningkatan Kemampuan Guru Dalam Menyusun Rpph Melalui Kegiatan Pelatihan Di Kelompok Bermain Walisongo Jumantono Kabupaten Karanganyar

Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Berdasarkan artikel yang sudah kami paparkan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwasanya sebagai seorang ibu hendaklah mereka mengetahui bagaimana peran mereka sebagai ibu yang mempunyai kewajiban dalam mendidik anak dalam segi pandangan islam. Seorang ibu adalah tempat pertama seorang anak mendapatkan pendidikan, sehingga patut kiranya seorang ibu membekali dirinya dengan nilai-nilai keislaman dan kemudian mendidik anak dengan nilai-nilai keislaman tersebut dengan memberikan keteladanan atau contoh. Keterbukaan antara ibu dan anak menjadi hal penting agar dapat menghindarkan anak dari pengaruh negatif yang ada di luar lingkungan keluarga. Orang tua perlu membantu anak dalam mendisiplinkan diri mengisi waktu luang anak dengan kegiatan positif yang diminati anak untuk mengaktualisasikan diri.
Saran

Artikel ini ditulis dengan harapan agar bisa bermanfaat bagi pembaca, terutama bagi seorang wanita agar ia mampu membekali dirinya dengan nilai-nilai keislaman agar mampu mendidik anak sesuai dengan pandangan islam. Selain itu, menegaskan tugas ibu sebagai pendidik bagi anak dalam keluarga yang hendaknya mendidik anak-anaknya dengan aqidah, syariat, dan akhlaq serta memberi keteladanan/contoh yang baik kepada anak.

Referensi
Abdullah, Adil Fathi, 2005. Menjadi ibu ideal. Jakarta: Al-Kautsar
Al-Ghalayain, Musthafa, 2000 Terjemah Izhatun Nasyi’in, terj., H. M. Fadlil Said An-Nadwi. Surabaya: Al-Hidayah
Arfah, Ummu Syafa Suryani,2010. Menjadi Wanita Shalihah. Jakarta: Eska Media
Gade, Fithriani. 2012. Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA. “Ibu Sebagai Madrasah Dalam Pendidikan”. IAIN Ar-Raniry. Banda Aceh. Vol.13 (1)
Hasan , 2004. Mendidik Anak dengan Cinta. Yogyakarta: Saujana
Hasyimi, Muhammad Ali, 1997. Kepribadian Wanita Muslimah Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jakarta: Akademika Pressindo
Martono, Lydia Harlina dkk, 1996. Mengasuh dan Membimbing Anak dalam Keluarga. Jakarta: PT Pustaka Antara
Pidarta, Made. 1997. Jurnal Ilmu Pendidikan. “Peranan Ibu dalam Pendidikan Anak”. Jilid 4 Nomor 4
Rianawati. 1995. ”Peranan Ibu Dalam Pendidikan Anak Menurut Pandangan Islam”, Skripsi.  IAIN Pontianak
Syahid, Imam Muhammad. 2015. “Peran Ibu Sebagai Pendidik Anak dalam Keluarga Menurut Syekh Sofiudin bin Fadli Zain”,Skripsi. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. UIN Walisongo. Semarang

Oleh : Siti  Maryam dan  Zumrotul Muhsinin

Tags: