Urgensi Kurikulum Dalam Pendidikan Anak Usia Dini Di Indonesia

Pengantar
Pada era globalisasi ini, dimana ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju, pendidikan di Indonesia hampir saja mengalami kemunduran dan tertinggal. Oleh karena itu, betapa pentingnya kurikulum dalam pendidikan, untuk terus memperbaiki proses belajar mengajar agar mutu pendidikan meningkat. Hal tersebut dilakukan karena majunya pendidikan membawa pengaruh besar terhadap Sumber Daya Manusia yang berkualitas dalam berbagai bidang di Indonesia. Generasi penerus bangsa harus terus belajar untuk menjadi manusia berpendidikan sesuai dengan tuntutan zaman.
Urgensi Kurikulum Dalam Pendidikan Anak Usia Dini Di Indonesia
Sebenarnya apa sih kurikulum itu? Mengapa kurikulum berperan penting terhadap proses pendidikan? dan Bagaimana penerapan kurikulum dalam Pendidikan Anak Usia Dini sebagai madrasah atau sekolah pertama? Mungkin pertanyaan seperti itu pernah ada dalam benak diri pembaca sekalian, dan sampai sekarang belum menemukan jawaban yang konkret. Oleh karena itu, penulis ingin memberikan sedikit pengetahuan mengenai jawaban pertanyaan tersebut, penulis berharap tulisan ini bermanfaat untuk pembaca sekalian.

Pembahasan
Menurut UU No 20  Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1 butir 19 disebutkan bahwa “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.” Kurikulum sebagai jantung pendidikan, menjadi pedoman atau acuan untuk melaksanakan pembelajaran dalam satuan pendidikan. Baik dan buruknya hasil pendidikan di Indonesia ditentukan oleh kurikulum.  Dalam buku Panduan Manajemen Mutu Pendidikan yang ditulis oleh Moh.
Yamin, pada bab 1 dijelaskan bahwa, Proses Pendidikan dalam kegiatan pembelajaran atau dalam kelas, akan bisa berjalan dengan lancar, kondusif, interaktif, dsb apabila pendidikan bisa dijalankan dengan baik ketika kurikulum menjadi penyangga utama dalam proses belajar mengajar. Kurikulum mempunyai  kedudukan sentral, sebagai pusat proses pendidikan sehingga apabila tidak ada kurikulum maka proses belajar mengajar tidak akan mencapai tujuan dengan baik karena didalam kurikulum berisi rencana pendidikan sebagai pedoman dan juga sebagai bidang studi yang menjadi sumber konsep dan landasan bagi institusi pendidikan.

Menurut Alexander Inglis dalam bukunya “Principle of Secondary Educations” (1918), Fungsi Kurikulum dalam Pendidikan meliputi:
1.    Fungsi Penyesuaian (The adjustive of adaptive function), maksudnya adalah fungsi kurikulum sebagai alat pendidikan menuju individu yang bisa menyesuaikan dengan baik, individu hidup  dalam  lingkungan, sedangkan lingkungan tersebut senantiasa  berubah  dan  dinamis,  maka  setiap  individu  harus mampu  beradaptasi atau menyesuaikan  diri.
2.    Fungsi Integrasi (The integrating function), kurikulum berfungsi mendidik  setiap  individu yang menjadi satu kesatuan dalam kehidupan bermasyarakat,dimana pribadi  yang  terintegrasi  itu  akan  memberikan  suatu tindakan atau ilmu pengetahuan  dalam  lingkup masyarakat.
3.    Fungsi Deferensiasi (The differentiating function), kurikulum perlu  memberikan  pelayanan terhadap perbedaan-perbedaan perorangan. Pada  dasarnya deferensiasi akan mendorong orang berpikir kritis, kreatif, toleransi  terhadap perbedaan dan ini akan mendorong kemajuan sosial dalam masyarakat.
4.    Fungsi Persiapan (The prapaedetic function), kurikulum berfungsi mempersiapkan  siswa agar mampu melanjutkan studi lebih lanjut untuk  jangkauan yang lebih jauh  atau terjun ke masyarakat. Mempersiapkan kemampuan sangat perlu, karena sekolah tidak mungkin memberikan semua apa yang diperlukan atau semua apa yang menarik minat mereka.
5.    Fungsi Pemilihan (The selective function), antara perbedaan dan pemilihan mempunyai hubungan yang erat. Dengan adanya perbedaan memberikan kesempatan untuk memilih. Pengakuan atas perbedaan berarti pula diberikan  kesempatan bagi seseorang untuk memilih apa yang dinginkan dan menarik minatnya. Ini merupakan kebutuhan yang sangat ideal bagi masyarakat yang  demokratis,  sehingga kurikulum perlu diprogram secara fleksibel.
6.    Fungsi Diagnosa (The diagnostic function), salah satu segi pelayanan pendidikan adalah  membantu  dan mengarahkan para siswa agar  mereka mampu memahami  dan menerima dirinya sehingga dapat mengembangkan semua potensi yang dimilikinya. Dengan cara menyadari semua kelemahan dan kekuatan yang mereka miliki melalui eksplorasi dan prognosa. Fungsi kurikulum dalam mendiagnosa dan  membimbing siswa agar dapat mengembangkan potensi siswa secara optimal.

Baca Juga :  Hakikat Penilaian Pendidikan Anak Usia Dini

Menurut Oemar Hamalik (1990) Peranan dan Kedudukan Kurikulum dalam Pendidikan meliputi:
•    Peran Konservatif, artinya kurikulum bertugas menyimpan dan mewariskan nilai-nilai luhur budaya. Dengan demikian, sekolah sebagai suatu lembaga sosial dapat mempengaruhi dan membina budi pekerti atau tingkah laku para siswa dengan nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat, sejalan dengan peranan  pendidikan  sebagai  suatu  proses.
•    Peran Kreatif, kurikulum harus bisa memberikan dorongan kepada siswa agar berkembang daya kreatifnya. Kurikulum juga membantu setiap individu mengembangkan  semua  potensi  yang  ada  padanya,  maka  kurikulum menciptakan  pelajaran,  pengalaman,  cara  berpikir,  kemampuan  dan  keterampilan yang baru yang dapat bermanfaat bagi masyarakat.
•    Peran Kritis dan Evaluatif, artinya kurikulum berperan sebagai alat untuk menilai dan sekaligus memperbaiki masyarakat. Nilai-nilai sosial yang tidak sesuai lagi dengan keadaan masa mendatang dihilangkan dan diadakan modifikasi dan perbaikan, sehingga kurikulum perlu mengadakan pilihan yang tepat atas dasar kriteria tertentu.

Dasar Pendidikan Anak Usia Dini adalah Undang Undang No. 20 tahun 2003 pasal 1 butir 14, yang berbunyi “Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditunjukkan pada anak sejak lahir sampai dengan usia  6 tahun  yang dilakukan  melalui pemberian  rangsangan pendidikan untuk  membantu  pertumbuhan  dan  perkembangan  jasmani  dan  rohani agar anak memiliki kesiapan dalam hal memasuki pendidikan lebih lanjut” (Sisdiknas No. 20 Tahun 2003). Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (KB/TK/RA/TPA) dikenal juga dengan istilah program kegiatan bermain. Dalam pengembangan program kegiatan bermain bagi anak usia dini ini, seharusnya dengan aktivitas bermain yang mengutamakan adanya kebebasan bagi anak untuk bereksplorasi,  berkreativitas, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini berisi seperangkat rencana kegiatan belajar melalui bermain yang dapat memberikan pengalaman langsung kepada anak untuk mengembangkan seluruh potensi perkembangan yang dimiliki setiap anak.

Baca Juga :  Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kelas

Menurut NAEYC Early Childhood Program Standar terdapat 2 hal penting tentang kurikulum bagi anak usia dini, yaitu:
1.    Program kegiatan bermain pada anak usia dini diterapkan berdasarkan kurikulum yang berpusat pada anak serta dapat mendukung kegiatan pembelajaran dan perkembangan pada setiap aspek baik estetika/seni, kognitif, sosial-emosional, bahasa, dan fisik-motorik.
2.    Kurikulum berorientasi pada hasil dan mengaitkan berbagai konsep dan perkembangan. Pada saat disampaikan oleh guru pada tiap individu anak, maka kurikulum yang telah dirancang diharapkan dapat membantu guru, sehingga dapat menyediakan pengalaman yang dapat mengembangkan perkembangan pada jenjang yang lebih tinggi pada wilayah perkembangannya.

Penutup
Nah, dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Kurikulum merupakan suatu pedoman berupa seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta metode yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran guna mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum mempunyai  kedudukan sentral, sebagai pusat proses pendidikan sehingga apabila tidak ada kurikulum maka proses belajar mengajar tidak akan mencapai tujuan dengan baik karena didalam kurikulum berisi rencana pendidikan sebagai bidang studi yang menjadi sumber konsep dan landasan bagi institusi pendidikan. Kurikulum PAUD berisi seperangkat rencana kegiatan belajar melalui bermain yang dapat memberikan pengalaman langsung kepada anak untuk mengembangkan seluruh potensi perkembangan yang dimiliki setiap anak, memberikan kebebasan kepada anak untuk bereksplorasi, berkreativitas, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Demikian tulisan ini saya buat, penulis berterimakasih kepada pembaca sekalian karena mau membaca artikel ini sampai selesai. Apabila ada kata-kata yang kurang dimengerti atau salah-salah kata, saya mohon maaf dan mohon untuk dimaklumi.

DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, Oemar. 2007. “Manajemen Pengembangan Kurikulum”. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Een Y, Haenilah. 2015. “Kurikulum dan Pembelajaran PAUD”. Yogyakarta: Media Akademi.
Sujiono, Yuliani Nurani. 2011. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: PT Indeks.
Oleh : Fadlilatur Rohmah

Baca Juga :  Perencanaan Sarana Dan Prasarana Pada Anak Usia Dini

Tags: