Ilmu Pengetahuan Dalam Islam

Agama dalam arti luas merangkum segala sesuatu yang berhubungan dengan akidah, ibadah, pergaulan (sesama umat manusia) merupakan teras dalam kehidupan individu dan masyarakat. Dari Agama kehidupan mengambil nilai, mendapat arah dan segala dasar yang pokok. Agama faktor penyokong yang baik dalam perkembangan diri manusia dan masyarakat. Penjamin hidup bahagia dan kemajuan yang seimbang. 
Ilmu Pengetahuan Dalam Islam
Islam adalah agama yang merangkul ilmu, menganggap suci perjuangan orang-orang pandai, dan apa yang mereka temukan dalam fakta-fakta wujud dan rahasia alam. Allah SWT berfirman Q.S. 58 al-Mujadalah yang artinya 11:
“… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…”

Ilmu yang sebenar-benarnya adalah sebaik-baiknya asas sesudah iman, agama dan akhlak untuk mencapai kemajuan, kemakmuran dan kekuatan, baik dunyawiyah maupun ukhrowiyah. Ilmu adalah sebaik alat yang digunakan manusia dalam mengkaji masalah yang dihadapinya dan untuk mencapai penyelesaian yang konkrit.  Imam al-Ghazali menyatakan bahwa ilmu wajib didahulukan sebelum ibadah, sebab dengan ilmu ibadah menjadi sah dan selamat. Karena itu, ilmu bermanfaat wajib dicari dan diamalkan. Pertama-tama hurus dikenal siapa yang disembah, kemudian menyembah-Nya. Bagaimana seseorang menyembah Zat, sedangkan mereka tidak mengenal nama dan sifat-Nya, apa perintah dan larangan-Nya.

Bagi umat muslim agama Islam bukan sekedar agama yang menyangkut hubungan dengan Allah SWT saja. Tetapi Islam adalah agama peradaban, akidah, ibadah dan sistem hidup yang menyeluruh bagi umat manusia. Bagi seorang muslim, agama dan ilmu memiliki hubungan yang senantiasa baik. Keduanya berupa prinsip dan amal, sistem dan kehidupan. Dengan demikian, ilmu tidak hanya terbatas pada ilmu syari’at atau ilmu agama saja, melainkan menyeluruh yang mengatur segala yang berhubungan dengan kehidupan.

Baca Juga :  Kajian Historis Pendidikan Islam

Konsep ilmu secara filosofis dalam khazanah pemikiran Islam dapat dijumpai pada pemikiran Ibn Taimiyah. Memang ulama sebelumnya telah ada yang membahas ilmu secara filosofis seperti yang diungkap oleh Abu Ya’la, salah seorang sahabat Ahmad bin Hanbal, khususnya mengenai ilmu dan perbedaanya dengan “kepercayaan”. Namun demikian, konsepnya masih samar-samar.

Menurut Ibn Taimiyah, ilmu apapun mempunyai dua macam sifat, yaitu tabi’ dan matbu’. Ilmu yang mempunyai sifat yang pertama ialah ilmu yang keberadaan objeknya tidak memerlukan pengetahuan si objek tentang keberadaan objek tersebut. Berdasarkan ilmu yang bersifat tabi’ inilah keberadaan Allah SWT menjadi suatu yang bersifat wajib. Keberadaan Allah SWT tidak bergantung pada ada atau tidaknya orang yang mempercayai keberadaan-Nya. Inilah yang menjadi landasan ilmu agama. Ilmu pada kategori kedua, menurut Ibn Taimiyah dapat dipersamakan dengan ilmu menurut para pakar ilmu modern, yaitu ilmu yang didasarkan atas proses metode ilmiah.

Manusia memperoleh pengetahuan agama melalui periwayatan berkesinambungan dari orang-orang terpercaya dan tidak mungkin berdusta (al-tawatur). Pengetahuan yang diperoleh melalui al-tawatur ini adalah wahyu. Kebenaran pengetahuan agama pun diperoleh melalui bukti-bukti historis, argument-argumen rasional dan pengalaman pribadi. Pengetahuan agama tersebut kemudian disusun bahkan ditulis secara sistematis serta berdasarkan bidang atau cabang tertentu, yang kemudian membentuk rating-rating tertentu pula. Sistematika pengetahuan agama dibangun di atas landasan argumentasi rasional dan pengalaman keagamaan yang bersumber dari wahyu dan membentuk batang tubuh pengetahuan. Batang tubuh pengetahuan inilah yang disebut sebagai ilmu agama.

Tidak jauh berbeda Ahmad Tafsir dan Ibn Khaldun juga membagi pengetahuan manusia menjadi dua, hanya saja diantara keduanya menggunakan istilah yang berbeda. Ahmad Tafsir menggunakan istilah pengetahuan yang diwahyukan dan pengetahuan yang diperoleh. Sedangkan Ibn Khaldun, menggunakan istilah pengetahuan naqliyah dan pengetahuan aqliyah.  Maksud diperoleh di sini adalah dicari sendiri oleh manusia, sedangkan pengetahuan yang diwahyukan adalah pengetahuan yang diterima.

Baca Juga :  Sumber Ilmu Pengetahuan

Perlu diketahui, pengetahuan yang paling tinggi nilainya adalah pengetahuan tentang Allah SWT, yaitu ma’rifah. Jalan untuk mencapai pengetahuan ma’rifah itu ialah jalan berpikir dan jalan riyadlah.  Jalan pertama ialah jalan yang ditempuh oleh para Nabi,  dan jalan kedua adalah jalan para sufi. Namun pernyataan terhadap pengetahuan sebagai ma’rifah dan pengetahuan sebagi ilm mengundang perbedaan pendapat dihadapan para ulama. Ada yang menyatakan bahwa ma’rifah merupakan pengetahuan melalui kontak terhadap hal ihwal, sedangkan ilm diperoleh melalui kontak langsung dengan objek. Maka segala pengetahuan tentang Allah SWT disebut ma’rifah bukan ilm. Di sisi lain Allah SWT dipandang sebagai ‘Alim bukan ‘Arif. Namun pada hakikatnya keduanya adalah sama, tidak mempunyai perbedaan yang mendalam dalam pengertiannya. Sepertihalnya dalam Q.S. 45 al-Jaatsiyah 9 yang artinya :
 “Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami…”
Dan Q.S. 27 an-Naml: 93:
…Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, Maka kamu akan mengetahuinya…”

Keduanya memiliki arti yang sama, yaitu mengetahui.
Menurut Islam pengetahuan tidak ada segi baiknya bila ia tidak menunjukkan kita pada hakikat pertama alam, yaitu Allah SWT. Jadi, pengetahuan apapun yang kita miliki haruslah dapat berguna untuk mengetahui Allah SWT, dengan begitu ilmu pengetahuan itu dapat membantu menunjukkan tempat kita di alam ini. Oleh karena itu tujuan dari semua pengetahuan adalah pada akhirnya untuk mengetahui Allah SWT sampai mengakui wujud dan segala sifat-Nya.

Refrensi
Omar Muhammad al-Toumy as-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, terj. “Falsafatut Tarbiyah al-Islamiyah” oleh Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), Cetakan Ke-I
Imam al-Ghazali, Rasail al-Ghazali, terj “Mu’jamu Rasa’il al-Ghazali”, oleh: Kamran A. Irsyadi, (Jakarta: Diadit Media, 2008), Cetakan Ke-I, Buku Ke-I
Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an, terj. “Education of Theory a Quranicc Outlook” oleh Arifin dan Zaibuddin, (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), Cetakan Ke-II

Tags: