Kedudukan dan Peranan Manusia

Dalam konsep filasafat Islam, kehadiran manusia di muka bumi terjadi bukan atas rencana dan kehendak diri manusia sendiri. Di samping itu, realitas menunjukkan bahwa bumi telah ada terlebih dahulu daripada adanya manusia dan kemudian dipilih oleh Tuhan untuk menjadi tempat tinggal bagi manusia. Bahkan menjadi pusat kehidupan manusia. Di bumi manusia makan, tumbuh, berkembang, dan akhirnya mati lantas dikuburkan dalam perut bumi. Dilihat dari sudut pandang ontologis, maka kedudukan dan peran manusia di muka bumi, ternyata bukan manusia sendiri yang menentukan, tetapi ada peran Tuhan yang tidak dapat ditolaknya. 
Kedudukan dan Peranan Manusia
Oleh karena itu, secara ontologi kodrat manusia pada dasarnya adalah makhluk. Yaitu, sesuatu yang diciptakan dan telah dirancang untuk tujuan dan fungsi tertentu. Adapun yang menetapkan rancangan tujuan dan fungsi tersebut bukanlah manusia itu sendiri sebagai ciptaan, tetapi Allah sebagai al-Khaliq.  Dalam kisah penciptaan Adam as., al-Qur’an surat al-Baqarah [02] ayat 30 yang artinya menyatakan:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Untuk menjadi seorang khalifah atau sebagai wakil Allah di bumi, maka Allah membekali Adam as. dengan pengetahuan konseptual dengan mengajarkan kepada Adam as. nama-nama benda.  Al-Qur’an surat al-Baqarah [02] ayat 31-32 menjelaskan:
“Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Ayat tersebut mengabarkan bahwa Allah telah mengajari Adam as. semua nama. Nama-nama tersebut sama sekali tidak tercerai dari maknanya, yaitu dari realitas-realitas yang menjadi objek dari nama-nama tersebut. Lebih tepatnya, nama-nama tersebut merupakan ekspresi sempurna kesadaran Adam as. atas seluruh konseptual pengetahuannya.  Pengetahuan terhadap nama-nama yang sesungguhnya berarti mengetahui benda-benda dalam konteks pengetahuan Tuhan atas mereka, yang hanya datang kepada Adam as. ketika Allah sendiri yang menamainya untuk Adam as. Ayat tersebut mengingatkan pada tiga realitas dasar yang harus diperhatikan untuk memahami hakikat segala sesuatu. Yaitu, Tuhan, alam semesta, dan manusia.

Baca Juga :  Langkah Islam dalam Menghadapi Globalisasi

Dengan demikian, pengetahuan manusia merupakan komunikasi dengan realitas, baik dalam hal gagasan maupun kesadaran. Manusia menerima pengaruh dari realitas yang dihadapinya, ia memahami dan mengungkapkannya, ia juga memberikan makna kepadanya. Dengan pengetahuannya manusia melakukan transendensi terhadap realitas seperti adanya, dan ia melampaui batas ruang dan waktu, serta mampu melampaui batas akal dan pikirannya. Inilah yang kemudian disebut sebagai pengetahuan konseptual manusia.

Melalui pengetahuan konseptualnya, manusia meneruskan tugas penciptaan. Yaitu, membentuk sesuatu yang sudah ada menjadi sesuatu yang baru, karena alam yang ada bukan seperti benda cetakan yang sudah selesai, tetapi mengandung potensi perubahan sebagai wahana untuk menampung proses kreatifitas manusia sebagai wakil Allah di muka bumi.

Pengetahuan konseptual yang memiliki kemampuan yang kreatif yang bertemu dan berhubungan dengan potensi perubahan yang dikandung alam untuk menampung kreatifitas manusia akan berakibat pada proses penciptaan (penemuan) di bumi akan terus berlangsung, membentuk alam kebudayaan yang berperadaban, dan tercapainya kemakmuran serta kesejahteraan hidup manusia.  Allah mengatakan dalam al-Qur’an surat Hud [11] ayat 61 yang artinya sebagai berikut:
”Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya.”

Posisi manusia sebagai wakil Allah di bumi pada dasarnya harus dijalankan tanpa mengabaikan posisi moral manusia sebagai makhluk yang diciptakan  dan menempati posisi sebagai hamba Allah. Sebagai hamba, maka wewenang yang diberikan Allah kepada manusia sebagai wakil-Nya tidaklah mutlak. Wewenang manusia adalah terbatas dan tidak boleh berbuat kerusakan dan berbuat apa saja. Wewenang manusia sebagai wakil Allah di bumi dibatasi oleh hukum-hukum moralitas kemanusiaan dan agama.  Al-Qur’an surat Maryam [19] ayat 93 yang artinya mengatakan:
“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.”

Baca Juga :  Kajian Historis Pendidikan Islam

Manusia sebagai hamba, maka kreatifitasnya bersifat pengabdian yang berwujud pada pengerahan segala kemampuan untuk menjabarkan hukum-hukum Allah, baik hukum alam, hukum akal sehat, dan hukum moralitas keagamaan. Pada hakikatnya posisi kodrat semua makhluk di muka bumi adalah sebagai hamba yang tunduk kepada Allah.  Al-Qur’an surat Hud [11] ayat 123 mengatakan:
“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, Maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.”

Dengan demikian, pada dasarnya manusia membutuhkan pendidikan yang seoptimal mungkin agar dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi. Namun, perlu diingat bahwa kemampuan manusia sebagai makhluk sangat terbatas maka tugas kekhalifahan tersebut bermacam-macam dan bertingkat-tingkat. Ada yang menjadi khalifah dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan, ilmu pengetahuan, dan sebagainya. Semua itu disesuaikan dengan bakat dan keahlian yang dimiliki masing-masing individu.

Tags: