Kedudukan dan Peranan Manusia

  • Whatsapp
Undangan Digital
Dalam konsep filasafat Islam, kehadiran manusia di muka bumi terjadi bukan atas rencana dan kehendak diri manusia sendiri. Di samping itu, realitas menunjukkan bahwa bumi telah ada terlebih dahulu daripada adanya manusia dan kemudian dipilih oleh Tuhan untuk menjadi tempat tinggal bagi manusia. Bahkan menjadi pusat kehidupan manusia. Di bumi manusia makan, tumbuh, berkembang, dan akhirnya mati lantas dikuburkan dalam perut bumi. Dilihat dari sudut pandang ontologis, maka kedudukan dan peran manusia di muka bumi, ternyata bukan manusia sendiri yang menentukan, tetapi ada peran Tuhan yang tidak dapat ditolaknya. 
Kedudukan dan Peranan Manusia
Oleh karena itu, secara ontologi kodrat manusia pada dasarnya adalah makhluk. Yaitu, sesuatu yang diciptakan dan telah dirancang untuk tujuan dan fungsi tertentu. Adapun yang menetapkan rancangan tujuan dan fungsi tersebut bukanlah manusia itu sendiri sebagai ciptaan, tetapi Allah sebagai al-Khaliq.  Dalam kisah penciptaan Adam as., al-Qur’an surat al-Baqarah [02] ayat 30 yang artinya menyatakan:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Untuk menjadi seorang khalifah atau sebagai wakil Allah di bumi, maka Allah membekali Adam as. dengan pengetahuan konseptual dengan mengajarkan kepada Adam as. nama-nama benda.  Al-Qur’an surat al-Baqarah [02] ayat 31-32 menjelaskan:
“Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Baca Juga :  Pengertian Aqidah Atau Tauhid

Bacaan Lainnya

Ayat tersebut mengabarkan bahwa Allah telah mengajari Adam as. semua nama. Nama-nama tersebut sama sekali tidak tercerai dari maknanya, yaitu dari realitas-realitas yang menjadi objek dari nama-nama tersebut. Lebih tepatnya, nama-nama tersebut merupakan ekspresi sempurna kesadaran Adam as. atas seluruh konseptual pengetahuannya.  Pengetahuan terhadap nama-nama yang sesungguhnya berarti mengetahui benda-benda dalam konteks pengetahuan Tuhan atas mereka, yang hanya datang kepada Adam as. ketika Allah sendiri yang menamainya untuk Adam as. Ayat tersebut mengingatkan pada tiga realitas dasar yang harus diperhatikan untuk memahami hakikat segala sesuatu. Yaitu, Tuhan, alam semesta, dan manusia.

Pos terkait