Konsep Ruh dalam Islam

Dalam pembahasan mengenai hakikat manusia, maka persoalan yang paling pelik adalah persoalan tentang ruh. Dalam proses penciptaan manusia al-Qur’an secara jelas menerangkan bahwa tubuh manusia dibentuk  dari tanah, sedangkan daya hidup yang bersifat menggerakkan tumbuh dan berkembang dimulai dari air, sedangkan ruh yang menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani berfungsi setelah ruh diberikan kepada manusia. 
Konsep Ruh dalam Islam
Ruh adalah sesuatu yang amat penting dan fundamental bagi kehidupan manusia yang seharusnya dapat diketahui oleh manusia itu sendiri. Manusia mempunyai kewajiban untuk menngetahui tentang ruhnya karena manusia mempunyai hak dan dibebani tanggung jawab yang mengharuskan manusia secara etika untuk memilih dan menghadapi pertanggungjawaban atas pilihan yang semuanya berakibat pada pahala dan dosa atas segala apa yang telah diperbuat. Jika seseorang tidak bisa mengetahui sesuatu yang fundamental dan amat penting dalam hidupnya, maka seseorang telah gagal mengetahui tentang dirinya.

Dalam filsafat Islam, seperti yang dijelaskan oleh para filosof muslim memang terjadi perbedaan dalam menerangkan al-Qur’an tentang ruh. Beberapa filosof muslim yang menjadi presentasi filosof muslim berpendapat bahwa ruh itu datang dan diberikan langsung oleh Allah kepada manusia ketika manusia masih dalam kandungan.  Mirza Ghulam Ahmad (2007) yang juga mencoba menerangkan tentang ruh berpendapat bahwa sesungguhnya ruh itu tidak jatuh dari atas dan masuk ke dalam kandungan wanita hamil, melainkan ruh itu terkandung dalam nuthfah seperti  halnya api tersembunyi di dalam batu api.

Firman Allah dalam al-Qur’an yang menjadi dasar para filosof muslim dalam memahami ruh manusia. Sungguhpun demikian, terdapat perbedaan dalam mengambil kesimpulan, tetapi hal demikian lumrah adanya. Walaupun demikian, beberapa kalangan umat Islam masih ada yang merasa takut untuk membahas lebih jauh mengenai ruh karena hal itu adalah urusan Tuhan, sehingga membahas secara mendalam mengenai ruh dapat berbahaya karena dianggap mencampuri urusan Tuhan. Bahkan bukan hanya berhadapan dengan etika agama yang menganggap kajian tentang ruh tidak layak, tetapi juga soal kapasitas manusia sendiri yang mempunyai kemampuan terbatas untuk membahas tentang ruh yang akan berakibat pada melanggar batas-batas kemampuan manusia itu sendiri.

Baca Juga :  Pengertian Sains Dalam Islam

Anggapan demikian barangkali terpengaruh dengan adanya firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Isra’ [17] ayat 85 yang artinya :
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.”

Oleh karena lafadz amr dipahami sebagai urusan Tuhan maka hanya Tuhan sendiri yang tahu dan manusia tidak mengetahuinya. Jika dikaji lebih jauh, letak persoalannya lebih pada pemahaman tentang lafadz amr yang dalam bahasa Arab sesungguhnya memiliki banyak arti yang diantaranya adalah memiliki makna perintah, pimpinan, dan arah. Akan lain halnya kalau arti kata amr dimaknai dengan pimpinan atau arahan. Yaitu, pimpinan dan arahan Tuhan yang ada dalam diri manusia. Dengan pendekatan ini, maka pemecahannya tinggal dicari lebih jauh apa sesungguhnya yang dimaksud dengan pimpinan Tuhan yang ada dalam diri manusia tersebut.

Dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa di dalam diri manusia ada sesuatu kekuatan yang bersifat spiritual yang dapat melihat realitas kebenaran dan selalu tidak pernah berdusta terhadap apa yang dilihatnya itu.  Dengan kekuatan spiritual tersebut manusia mampu melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh makhluk lainnya, seperti menerima ilham, meneruskan kehidupan setelah kematian, dan melakukan perenungan untuk menuju kepada pengenalan kepada Tuhannya.  Al-Qur’an mengatakan dalam surat al-Hajj [22] ayat 46 yang artinya sebagai berikut:

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.”

Dalam kaitan ini, maka sesungguhnya ada kekuatan spiritual yang ada dalam diri manusia yang dapat mengenali Tuhan dan jika ia mengingat apa yang dikenalinya maka hatinya akan tenang. Kekuatan spiritual tersebut tidak akan pernah berdusta, tajam pendengaran dan penglihatannya hingga dapat melihat memahami realitas gaib dan karena itulah kekuatan ini sesungguhnya yang menjadi pimpinan Tuhan dalam diri manusia. Dengan demikian, ruh adalah daya spiritual yang ada dalam hati untuk memahami realitas gaib yang secara organik melengkapi daya pikir untuk memahami ciptaannya, sehingga dalam kesatuannya dengan daya pikir merupakan jalan menuju pengenalan kepada Tuhannya.

Baca Juga :  Kedudukan dan Peranan Manusia

Tags: