Penciptaan Manusia

Secara individual seseorang memang tidak terlibat dan tidak mempunyai andil sedikit pun dalam proses penciptaan dirinya, penciptaan dirinya sepenuhnya berada dalam mekanisme yang terkendali dalam hukum-hukum alam yang dapat dipelajari dan dikuasai oleh manusia. Bahkan dengan tingkat kemajuan yang sangat pesat di bidang ilmu dan teknologi, manusia dapat direkayasa secara genetik  hingga dapat ditentukan suatu model genetik yang diinginkan terhadap seseorang yang akan dilahirkan. 
Penciptaan Manusia
Meskipun demikian adanya, tetap saja manusia secara individualias tidak pernah terlibat sedikit pun dalam proses penciptaan dan kelahiran dirinya sendiri. Secara individualitas bisa saja manusia terlibat atau melibatkan diri dalam proses penciptaan dan kelahiran seseorang yang lainnya, tetapi tidak pada dirinya. Oleh karena itu, Allah berfirman dalam al-Qur’an surat al-Ma’arij [70] ayat 39 yang artinya sebagai berikut :
“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani).”

Secara fisik sesuatu yang membentuk tubuh manusia dapat diketahui melalui penguasaan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan proses penciptaan manusia, baik ilmu biologi, genetik, kedokteran, kebidanan, kesehatan dan mungkin ilmu lainnya, karena proses penciptaan manusia secara fisik prosesnya berjalan secara bertahap demi tahap.  Allah menginformasikan dalam al-Qur’an surat Nuh [71] ayat 14 yang artinya  sebagai berikut:
“Padahal Dia (Allah) sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.”

Secara fisik tahapan-tahapan dalam proses penciptaan manusia adalah tahapan-tahapan dalam perubahan bentuk fisik, sehingga pada bentuk akhir proses penciptaan manusia akan mencapai kesempurnaan bentuk sebagai manusia. Dalam al-Qur’an diterangkan tentang perubahan-perubahan bentuk dalam proses penciptaan manusia tersebut yang berlangsung dalam tiga kegelapan,  penjelasan tersebut terdapat dalam surat az-Zumar [39] ayat 6 yang artinya sebagai berikut:
“Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan (tiga kegelapan itu ialah kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim). Itulah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. tidak ada Tuhan selain Dia; Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?”

Baca Juga :  Pengertian Sains Dalam Islam

Proses awal pembentukan tubuh manusia berasal dari tanah,  seperti yang dijelaskan Allah dalam al-Qur’an surat al-Mukminun [23] ayat 12 yang artinya sebagai berikut:
“Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati yang berasal dari tanah.”

Saripati tanah yang menumbuhkan tanaman-tanaman yang menjadi bahan makanan yang dibutuhkan untuk pembentukan dan pertumbuhan fisik atau tubuh manusia, karena pertumbuhan tubuh manusia sepenuhnya ditentukan oleh asupan makanan yang dicerna oleh tubuh manusia.  Allah berfirman dalam al-Qur’an surat al-Anbiya’ [21] ayat 8 yang artinya sebagai berikut:
“Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal.”

Secara fisik, tubuh manusia sepenuhnya dibentuk oleh proses mekanisme alam yang menghidupkan tanaman-tanaman sebagai bahan pokok makanan yang diperlukan bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup manusia. Oleh karena itu, ketergantungan manusia pada alam ini dapat dimaklum, karena manusia itu adalah sebagian dari alam itu sendiri, dan jika manusia melakukan kerusakan di alam artinya manusia merusak dirinya sendiri.  Sebagai makhluk fisik-biologis, manusia mengandung semua unsur yang ada dalam kosmos, mulai dari unsur yang ada dalam dunia mineral, dunia tumbuh-tumbuhan, dan dunia hewan.  Dilihat dari perspektif ini, tubuh manusia bersifat sementara, tumbuh, berkembang, dan mati, dan unsur-unsur alamnya akan kembali ke alam yang menjadi asal mula kejadian manusia.

Di samping itu, dalam tubuh manusia terdapat daya tumbuh dan berkembang, sehingga proses pembentukan terus berlanjut hingga menjadi bentuk manusia yang sempurna, pertumbuhan serta perkembangan itu dimungkinkan karena adanya daya hidup dalam tubuh manusia.  Menurut al-Qur’an, daya hidup tersebut bermula dari air. Allah mengatakan daalam al-Qur’an surat al-Anbiya’ [21] ayat 30 yang artinya sebagai berikut:
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya, dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”

Baca Juga :  Kedudukan dan Peranan Manusia

Daya hidup tersebut bermula dari air, baik untuk kehidupan bumi yang menumbuhkan tetumbuhan dan tanaman yang dihidupkan melalui air hujan yang diturunkan oleh Allah dari langit maupun untuk penciptaan jenis-jenis hewan yang berjalan melata maupun yang berjalan dengan kaki empat atau kaki dua dan serta kehidupan manusia sendiri yang juga dimulai dari air. Yaitu sperma yang memancar yang menjadi awal proses kehidupan manusia melalui beberapa tahapan,  yang secara rinci dan simbolik dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Mukminun [23] ayat 13-14 yang artinya sebagai berikut:
“Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.”

Setelah melalui tahapan-tahapan tanah, yang dihidupkan melalui hujan dan menghidupkan tanam-tanaman sebagai bahan makanan untuk menghidupkan manusia yang kemudian membentuk fisik tubuh manusia, maka dalam tubuh manusia terbentuk cairan sperma, maka kehidupan manusia sesungguhnya dimulai dari cairan sperma yang ditumpahkan yang kemudian disimpan dalam rahim. Maka setelah melalui beberapa proses pembentukan, terbentuklah wujud manusia yang sempurna yang telah memiliki mata, telinga, dan hati yang menurut al-Qur’an barulah Allah menganugerahkan ruh ke dalam tubuh manusia yang dengannya kemudian berfungsilah pendengaran, pengelihatan, dan hati nurani.  Allah mengatakan dalam al-Qur’an surat as-Sajdah [32] ayat 9 yang artinya sebagai berikut:
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”

Baca Juga :  Kajian Historis Pendidikan Islam

Dengan demikian, konsep filsafat Islam memandang bahwa penciptaan manusia tidak terdiri dari dua unsur saja yaitu jasmani dan rohani, tetapi berbagai unsur yaitu unsur dari tanah yang membentuk fisik, kemudian unsur air yang memberi daya hidup dan unsur ruh Ilahi yang membentuk fungsi pendengaran, penglihatan, dan hati nurani. Dengan kata lain, ada tiga hal pokok yang fundamental dalam proses penciptaan manusia. Yaitu, adanya unsur tubuh, unsur hidup, dan unsur ruh dalam kesatuan diri manusia yang aktual dan dinamis yang melandasi segala karya dan perbuatannya.

Tags: