Sumber Ilmu Pengetahuan

Kesahihan pengetahuan banyak tergantung pada sumbernya. Ada dua sumber pengetahuan yang kita peroleh melaluli agreement: tradisi dan autoritas.  Sumber tradisi adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pewarisan atau dari generasi ke-generasi. Di sini pengetahuan bersifat informasi komulatif dan dapat diwariskan atau ditransmisikan sehingga memungkinkan berkembangnya ilmu. Adapun sember  autoritas, yaitu pengetahuan yang dihasilkan melalui penemuan-penemuan baru oleh meraka yang mempunyai wewenang dan keahlian di bidangnya.
Sumber Ilmu Pengetahuan
Sumber ilmu dan pengetahuan terbagi menjadi dua macam, yaitu Basyariyyah (sumber manusiawi) dan Ilahiyyah (sumber Ilahi). Jika kita perhatikan, kedua macam itu dapat difahami manusia melalui alat-alat yang di milikinya. Kedua macam sumber ilmu itu saling melengkapi, yang akhirnya kembali kepada Allah SWT jua. Dia-lah yang telah menciptakan manusia, memberinya potensi untuk meraih ilmu, menunjukkannya kepada ilmu dan menuntunnya supaya menggunakannya. Sebelum membahas lebih lanjut kedua macam sumber ilmu, perlu diketahui bahwa ilmu harus dicari. Allah SWT berfirman dalam Q.S. 16 an-Nahl 78:
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”
Setelah dilahirkan, setiap manusia tidak mengetahui apapun. Kemudian dia mulai belajar seiring dengan perkembangan dan perjalanan hidup. Dia sendirilah menyerap ilmu pengetahuan dari dua sumber, yaitu:
1.    Sumber Manusiawi
Sumber ini dapat dicapai menusia dari pelbagai jalan. Diantaranya adalah taqlid (meniru). Jalan ini dapat kita lihat pada peristiwa putra Adam a.s. Setelah membunuh saudaranya, ia tidak mampu menguburnya. Kemudian, setalah melihat seekor burung gagak, ia meniru yang diperbuat oleh burung itu. Q.S. 5 al-Maidah 31:
Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya . Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, Mengapa Aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu Aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal”

Baca Juga :  Penerapan Agama dan Budaya Dalam Pendidikan Karakter

Dari ayat ini dapat diketahui dengan jelas bahwa ketika Qabil membunuh saudaranya, yaitu Habil, tidak terpikirkan olehnya untuk mengubur mayat saudaranya itu. Sehingga, menurut sebaguan pendapat, ketika Qabil melihat seekor burung gagak, lalu keduanya berkelahi, hingga salah satunya terbunuh. Kemudian burung yang membunuh itu menggali tanah, lalu mengubur mayat temannya. Putra Adam a.s ini merupakan orang pertama yang dibunuh, kemudian Qabil meniru burung gagak untuk mengubur saudaranya.

Dari semua itu, jelaslah bahwa pengalaman manusia, pemikirannya tentang berbagai hal, penggunaan akalnya untuk mempertimbangkan persoalan yang dihadapinya dan memanfaatkan pengalamannya yang demikian banyak, dipandang sebagai bagian dari sumber pelajaran yang manusiawi. Seperti halnya saran al-Hibab kepada Rasulullah saw dalam perang Badar dan usul Salman al-Farisi mengenai penggalian parit dalam perang Khandak, tidak lain adalah pengalaman manusiawi. Secara umum dapat dikatakan, bahwa segala hal yang menyangkut penghidupan serta kehidupan di dunia, kecuali apa yang telah di atur oleh wahyu untuk memaslahatan umum dapat juga dijadikan sumber ilmu yang manusiawi.

2.    Sumber-sumber Ilahi
 Dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa ilmu bersumber dari Allah SWT. Yang di maksud dengan ilmu di sini ialah ilmu syari’at maupun ilmu ad-Din yang dipelajari manusia melalui wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT kepada para Rasul-Nya. Allah SWT berfirman Q.S. 4 an-Nisa 113:
. … Allah Telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan Telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui…”

Menurut al-Qurthubi yang di maksud adalah syari’at dan hukum. Di antara ilmu yang bersumber dari Allah SWT ini ialah segala ilmu yang bertalian dengan pelajaran ibadah dalam arti sempit, yakni yang diwajibkan Allah SWT kepada hamba-Nya berupa shalat, shaum, zakat dan haji. Allah SWT lah yang telah mensyari’atkan dan mewajibkan ibadah itu kepada manusia. Allah SWT berfirman, Q.S. 2 al-Baqarah 151:
“Sebagaimana (Kami Telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) kami Telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”

Baca Juga :  Pengertian dan Ciri-Ciri Kreativitas

Karena itu al-Alusi mengatakan: “Yang tidak kalian ketahui itu adalah hal-hal yang tiada jalan lain untuk mengetahuinya kecuali melalui wahyu”. Sumber al-Qur’an adalah wahyu. Oleh karena itu, al-Qur’an termasuk ilmu yang di anugerahkan kepada manusia.

Tidak hanya itu, menurut Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany pengetahuan manusia mempunyai sumber yang bermacam-macam. Pengamatan langsung melalui perhatian dan pengamatan indera hanyalah sebagian dari sumber-sumber itu. Banyak lagi sumber-sumber lain, barang kali yang paling menonjol adalah melalui percobaan-percobaan ilmiah, renungan pikiran dan pemikiran akal, bacaan dan telaah terhadap pengalaman orang-orang terdahulu, perasaan, rasa hati, dan bimbingan Ilahi. Tetapi sumber-sumber ini, biarpun banyak macam dan jenisnya, dapat dikembalikan ke dalam lima sumber pokok, yaitu: indera, akal, intuisi, ilham dan wahyu.  Maka sumber yang paling sesuai untuk pengetahuan indera adalah pengamatan indera, sumber yang susuai dengan pengetahuan akal adalah akal, begitu seterusnya. 

Tags: