Metode Fun And Stimulation Technique (Fast) dalam pembelajaran

Metode Fun And Stimulation Technique (Fast) dalam pembelajaran
FAST adalah Fun And Stimulation Technique yang menggunakan prinsip ingatan berupa : gerak, nada, imajinasi, simbol/visualisasi, humor, asosiasi, dan indra. Sedangkan teknik ingatan yang digunakan adalah kombinasi antara teknik asosiasi visual dan persamaan bunyi yang ditampilkan dalam gambar pemicu ingatan. Tujuan pembelajaran dengan metode ini adalah mengembangkan dan mendayagunakan potensi otak anak-anak dengan membekali keterampilan cara belajar dan cara berfikir efektif. Setiap anak yang menggunakan Metode FAST akan mengalami 3 (tiga) peningkatan, yaitu: motivasi belajar, daya ingat, serta prestasi belajar.

Metode Fun And Stimulation Technique (Fast) dalam pembelajaran

Metode FAST tidak menggunakan metode belajar membaca konvensional yang sebagaimana mengajarkan nama-nama huruf alfabet (ABCD), karena metode tersebut dianggap telah kuno dan memperlambat anak bisa membaca. Metode FAST menggunakan metode stimulasi kreatif bagi anak yang banyak memberikan humor, nada, gerakan, dan teknik imajinasi yang menyenangkan untuk anak. Tanpa perlu menghafal. Metode FAST cocok diaplikasikan kepada semua kalangan anak dengan berbagai macam gaya belajar. Mulai dari Gaya Belajar Visual (dominan indra penglihatan), Gaya Belajar Auditory (dominan indra pendengaran), hingga Gaya Belajar Kinestetik (dominan gerak tubuh). Penuh dengan kegembiraan, tepuk tangan, intonasi, tertawa-tawa, bergoyang-goyang, terlibat, sehingga tidak membuat anak maupun orangtua menjadi stress ketika dalam proses pembelajaran.

Tahap 1 Membaca Kata / Suku Kata
•    Langkah 1, melatih pengucapan (visual, auditorial, kinestetik)
–    Siswa menirukan guru mengucapkan : “ba-lon :  ba”…. dan seterusnya
–    (Gunakan 3 kali tepuk bersamaan dengan bunyi “ba-lon : ba”
Dengan sura kerasa pada kata ba yang terakhir)
–    Guru mengucapkan : “ba-lon”,…. siswa menyahut “ “ba”,…. dan seterusnya.
•    Langkah 2, memperkuat daya ingat
–    Guru menjelaskan gambar : “ ini gambar apa?” – (jeda) – “Ini gambar balon diikat pada kayu. Ini kayunya,  yang ini balonnya. Huruf disebelahnya ini seperti balon diikat pada kayu. Karena seperti balon maka dibaca : ba. Tirukan : ba-lon,  :”ba” …. dan seterusnya.
–    Pastikan bahwa setiap siswa memahami tiap-tiap gambar dan ingat setiap huruf mempunyai sebuah gambar pemicu ingatan.
–    Dengan menutup gambar, pastikan bahwa siswa dapat membaca setiap suku kata.

Baca Juga :  Model Latihan inquiry research training model

Tahap 2, Membaca Kata / Suku Kata
–    Guru membca sebuah kata, siswa menirukan
–    Siswa membaca kata, guru menyimak. Jika siswa mengalami kesulitan atau kesalahan dalam membaca suku kata, cukup ditegur dengan kalimat : “seperti apa?”
–    Jadiikan latihan menarik garis sebagai selingan/ hadiah. Sampaikan kepada  siswa : “Kalau membacanya sudah bisa atau selesai, ayoo…. bu guru beri hadiah bermain menarik garis

Tahap 3, Membaca Suku Kata bervokal A, I, U, E, O
•    Langkah 1, Melatih Pengucapan (gaya belajar kinestetik)
–    Siswa menirukan guru mengucapkan : “saya-suyu”, “bawa-buwu”… dan seterusnya (sambil tangan di pinggang, gunakan kombinasi goyang kepala, suara lucu dan berintonasi)
–    Guru mengucapkan : “saya”, siswa menyahut “suyu” dan seterusnya
•    Langkah 2, memperkuat daya ingat
–    Guru menjelaskan bentuk mulut : “lihat, mulut saya ketemu udang : su …. yu….bu… wu…” dst. Sambil memperagakan mainan kertas berbentuk udang / u di mulut. Bikin mulut kita lucu.
–    Guru menunjuk su sambil bertanya : “sa ketemu udang menjadi …?” siswa diharapkan menjawab : “su” … dan seterusnya.

•    Langkah 3, Berlatih Membaca
–    Siswa menirukan guru membaca 2 kata sekaligus (atas bawah)
“saya sayu, bawa-buwu,…… sasa susu, caca cucu “ dan seterusnya.
–    Kemudian siswa membaca, guru menyimak. Jika siswa mengalami kesulitan atau kesalahan dalam membaca suku kata, cukup ditegur dengan kalimat “asalnya apa?” (bu asalnya ba, cu asalnya ca, dst) “ba ketemu udang menjadi….?
–    Untuk mengajarkan si, yi, bi…. dst gunakan alat peraga pensil diumpamakan sebagai ikan digigit. Sedangkan untuk mengajarkan se, ye, be, we dan so, yo, bo, wo tidak menggunakan alat peraga biasanya siswa tidak mengalami kesulitan.

Dari sintaks 1 sampai 3 siswa diajak untuk humor, nada, gerakan yang sangat menyenangkan sehingga anak merasa ini bukan pelajaran dan ini adalah permainan. Pendekatan transdisipliner dengan melihat gaya belajar anak membuat media pembelajaran ini berlangsung efektif.

Baca Juga :  Komponen-Komponen Teori Elaborasi

Tags: