Belajar sebagai Produk Sikap dan Tingkah Laku

Belajar sebagai Produk Sikap dan Tingkah Laku
Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa belajar pada esensinya ialah perubahan tingakah laku yang relatif menetap dan dilakukan secara terus menerus (countinous). Sehingga dari proses keberlangsungan tadi membawa adanya perubahan (the effort of change) yang dialami oleh pebelajar dalam kehiduannya.  Skinner menyatakan bahwa belajar merupakan proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif, dan ia mempercayai bahwa proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal apabila ia diberi penguat (reinforcer).
Belajar sebagai Produk Sikap dan Tingkah Laku
Chaplin membedakan dua hal mengenai belajar Pertama sebagai perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat praktik dan pengalaman, Kedua perolehan yang berproses melalui respon-respon sebagai akibat adanya pelatihan khusus. Sementara Hintzman mengartikan dengan istilah suatu perubahan yang terjadi dalam organisme (manusia atau hewan) yang disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut.  Dari beberapa pernyataan tentang belajar tersebut bisa kita utarakan secara garis besar bahwa belajar merupakan suatu perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan dengan melibatkan proses kognitif.

Dengan demikian domain kognitif memilki keterkaitan dengan domain afektif yang sangat erat, hal ini sebagaimana hasil penelitian yang dihasilkan oleh Goleman yang dikutip oleh Mufidah dalam suatu jurnal Nasional.  Sebagai contoh kecil ialah jika anda sedang berada dalam sebuah ruangan dengan kondisi pintu dan jendelanya terkunci rapat. Dan anda sangat lapar, tetapi anda tidak tahu cara mengatasi kelaparan itu. Apa yang dapat anda lakukan? Mungkin anda akan berteriak meminta pertolongan, Jika tidak, anda akan mencoba mencari-cari sesuatu dengan cara meraba dan mengamati setiap dinding, mengharapkan ada celah yang didapat, al hasil, anda menemukan sebuah tombol kecil yang tertutup papan pelapis, sehingga anda menekan tombol tersebut, dan apa yang terjadi,? Terdengar benda ringan terjatuh dan anda mencoba untuk tetap tenang, tidak lama kemudian jendela kaca membuka dan mengeluarkan kue. Kemudian kue tersebut anda makan. Selanjutnya karena anda masih merasa lapar maka anda ulangi lagi untuk mendapatkan hasil yang sama sampai anda merasa benar-benar kenyang.

Dalam ilustrasi di atas, kita bisa menganalisa bahwa tingkah laku atau sikap yang muncul dalam diri manusia terjadi karena adanya proses interaksi yang dilakukan. Tombol yang ditemukan diatas merupakan stimulus, sedangkan rasa lapar merupakan motivasi. Kedua unsur tersebut memicu timbulnya respon khusus berupa penekanan tombol yang dimungkinkan akan meningkat secara teratur dan terus menerus karena adanya penguat yang melatar belakanginya.

Baca Juga :  Perencanaan Pelaksanaan Pembelajaran AUD

Dengan demikan ranah afektif (affective domain) seseorang dipicu dengan adanya  pengahayatan terhadap obyek yang dihadapi, baik berupa orang taupun benda ataupun kejadian/peristiwa melalui alam perasaan, ciri lain ialah terletak pada belajar mengungkapkan perasaan dalam bentuk ekspresi yang wajar.  Karena itu dalam ranah afektif berkaitan erat dengan sikap dan nilai . Sehingga sikap merupakan salah satu istilah dalam bidang psikologi yang berhubungan dengan persepsi dan tingkah laku. Istilah sikap dalam bahasa Inggris disebut attitude. Ellis dalam Yasin mengatakan bahwa sikap melibatkan beberapa pengetahuan tentang situasi, namun aspek yang paling esensial dalam sikap adalah adanya perasaan atau emosi, kecenderungan terhadap perbuatan yang berhubungan dengan pengetahuan.

Dengan demikian dapat sebutkan bahwa sikap adalah sebagai suatu objek yang kemudian akan berpengaruh pada emosi, setelah itu memungkinkan timbulnya reaksi atau kecenderungan untuk berbuat sesuatu. Pada banyak hal sikap adalah penentuan yang paling penting dalam tingkah laku manusia. Sebagai reaksi maka sikap selalu berkaitan dengan dua pilihan yaitu pilihan apakah senang dan tidak senang untuk melaksanakan atau menjauhinya.

Dalam Wingkel diatakan bahwa perasaan senang meliputi sejumlah perasaan yang lebih spesifik seperti rasa puas, sayang, rasa bahagia, perasaan tidak senang meliputi sejumlah rasa yang khas pula yaitu rasa takut, rasa gelisah, cemburu, marah, dendam.  Dicontokan dalam wingkel seperti ketika ada dua sejoli yang sedang asik berpacaran, dalam ineteraksi tersebut ia mengahayati kebersamaan mereka sebagai bagian yang berarti  dan penuh makna positif (modus masa kini: ibarat dunia milki berdua), kerena itu mereka berperasaan senang. Demikian pula ketika ada orang ketiga dimaknai sebagai pengganggu dan tidak bermakna postif baginya, sehingga ia mengalami perasaan tidak senang dan kemudian terjadilah sutau penilaian tentang apa yang bermakna positif dan negatif.

Tags: