e-Learning dalam Pembelajaran

  • Whatsapp
Undangan Digital
E-Learning dalam Pembelajaran
E-learning dari masa ke masa mengalami pertumbuhan. Terlepas dari kenyataan bahwa e-Learning sudah ada untuk waktu yang relatif sudah lama, sekarang, masih dalam masa pertumbuhan. Sistem e-Learning saat ini di pasar masih terbatas dimaknai secara teknis berupa gadget yang terintegrasi dengan aspek organisasi pembelajaran, bukannya sebagai perangkat yang mendukung pembelajaran. Sebagai hasilnya pebelajar telah menjadi deindividualized. Salah satu jalan keluar dari kelemahan ini adalah penciptaan bahan e-Learning individu. Untuk ini tujuan model generasi data fleksibel multidimensi dan konten individu sebagai solusinya. Hal ini diperlukan untuk memungkinkan interaksi antara pebelajar dan konten dalam sistem e-Learning.
E-Learning dalam Pembelajaran
A. Definisi E-Learning Sebagai Motivasi Belajar Individual
Belajar secara individu diawal kegiatan tidak serta merta terwujud. Perlu sebuah inisiatif pengajar untuk memberikan motivasi. Pada kasus belajar inkuiri perlu dimotivasi bahwa konstruksi Belajar melalui inkuiri, yang terbaik adalah yang didukung melalui media ‘interaktif’ dari pencarian data di lapangan hingga memberikan laporan ( Laurillard , 1995).. Ini adalah ini adalah cara yang terbaik dalam belajar dan, tentu saja, yang paling mahal, buka perangkatnya namun keterlibatan guru, dan lingkungan belajar yang dibangun.

Metodologi pembelajaran juga semakin berubah. Pendekatan konstruktivis mulai menggantikan metode pembelajaran; fokus pembelajaran terpusat pada guru pindah dan terpusat ke pebelajar secara individual. Sejumlah besar laporan tren dan studi serta diskusi tentang e-Learning. Dalam usia emas ini eLearning banyak perusahaan konsultasi menyajikan optimisme e-learning untuk khalayak umum.  Selama ini motivasi utama dalam pengembangan e-learning bagi pelaku pasar adalah motif menguntungkan. Percepatan ROI (“Return on Investment” / kembali modal), membuat proyek e-Learning dipindahkan ke cloud computing bukan untuk mengoptimalkan proses pembelajaran. Sebagian besar dunia elektronik berupaya mengurangi e-Learning menjadi  e-Business.

Baca Juga :  Langkah-Langkah Pembelajaran Model Elaborasi

Bacaan Lainnya

Motivasi pelaku pasal adalah kondisi riil, tentunya harus berbeda dengan pelaku dan penggiat pembelajaran. Fokus utama adalah kegiatan pemetaan proses pendidikan tradisional yang berada dalam “gempuran” lingkungan digital. Pertimbangan dari persyaratan proses belajar dan kebutuhan pebelajar telah banyak diabaikan dalam praktek. Tapi, belajar hanya dapat terjadi ketika mengindahkan konteks spesifik dari mana kegiatan belajar akan terjadi serta membuat pendukung motivasi untuk keterampilan individu, kepentingan, sikap mental dan kemampuan. Oleh karena itu  pebelajar harus menjadi pusat untuk semua e-Learning. Belajar dalam pengertian ini adalah aktif, selfregulated , proses konstruktif dan terletak (Duffy et al. 1992, Bransford et al. 2000) satu konteks sosial. Itu berarti belajar memiliki karakter prosedural dan aktif, yang harus mengarah pada konstruksi pengetahuan pembelajar pada latar belakang pebelajar untuk memperoleh pengalaman yang bersifat individu dalam pengetahuan pengetahuan ( Mandl et al. 2002, Sun et al. 2003). Model yang meletakan pebelajar sebagai pusat merupakan paradigm pembelajaran konstruktivis (Piaget 1977, Maturana et al. 1987, Clement 1989, Papert 1992). Selanjutnya, akan berkembang definisi baru dari e-Learning yang mengambil pendekatan konstruktivistik.

Pos terkait