Living Qur’an Definisi dan Ragam Perspektif

Living Qur’an; Definisi dan Ragam Perspektif atasnya
Secara kebahasaan (etimologi), nama Living Qur’an merupakan gabungan dua kata yang memilki arti berbeda, yaitu Living, berarti ‘hidup’ dan Qur’an  berartikan nama sebuah kitab suci umat Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW . Secara sederhana, istilah Living Qur’an bisa diartikan dengan “(Teks) Al-Qur’anyang hidup di masyarakat”. 
Living Qur’an; Definisi dan Ragam Perspektif atasnya
Sebagaimana penjelasan pada uraian penulis di atas, bahwa Living Qur’an pada hakekatnya ialah suatu fenomena gerakan Qur’an in everyday life, bahkan dalam istilah saat ini banyak yang menamkan Living Qur’an dengan gerakan one day one juz (satu hari satu juz), hal ini tidak lain ialah bermuara untuk menghidupkan Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Makna dan fungsi Al-Qur’an sendiri secara riil dipahami sebagai sumber hukum Islam pertama dan sekaligus sebagai pedoman umat Islam dalam kehidupannya.  Dengan kata lain, memfungsikan al-Qur’an dalam kehidupan praksis di luar kondisi tekstualnya. Pemfungsian al-Qur’an seperti ini muncul karena adanya praktek pemaknaan al-Qur’an yang tidak mengacu pada pemahaman atas pesan tekstualnya, tetapi berlandaskan anggapan adanya “fadhilah” dari unit-unit tertentu teks al-Qur’an, bagi kepentingan praksis kehidupan keseharian umat.

Dalam sebuah jurnal yang ditulis oleh Heddy Shri Ahimsa Putra mengklasifikasikan pemaknaan terhadap Living Qur’an menjadi tiga kategori. Pertama, Living Qur’an adalah sosok Nabi Muhammad SAW yang sesungguhnya. Hal ini didasarkan pada keterangan dari Siti Aisyah ketika ditanya tentang akhlak Nabi Muhammad Saw, maka beliau menjawab bahwa akhlaq Nabi Muhammad SAW adalah al-Qur’an. Dengan demikian Nabi Muhammad SAW adalah “al-Qur’an yang hidup,” atau Living Qur’an. Kedua, ungkapan Living Qur’an juga bisa mengacu kepada suatu masyarakat yang kehidupan sehari-harinya menggunakan al-Qur’an sebagai kitab acuannya. Mereka hidup dengan mengikuti apa-apa yang diperintahkan al-Qur’an dan menjauhi hal-hal yang dilarang di dalamnya, sehingga masyarakat tersebut seperti “al-Qur’an yang hidup”, al-Qur’an yang mewujudkan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Ketiga, ungkapan Living Qur’an juga dapat berarti bahwa al- Qur’an bukanlah hanya sebuah kitab, tetapi sebuah “kitab yang hidup”, yaitu yang perwujudannya dalam kehidupan sehari-hari begitu terasa dan nyata, serta beraneka ragam, tergantung pada bidang kehidupannya.

Dalam kaitannya dengan rancangan penelitian ini ialah Living Qur’an dijadikan sebagai salah satu kurikulum alternatif bagi pendidikan di Indonesia saat ini yakni Kurikulum Living Qur’an (KLQ), yang memilki misi untuk membumikan al-Qur’an sejak dini lewat duni pendidikan formal, sebagai fondasi aqidah kepada generasi penerus bangsa yang berjiwa qur’ani. Hal ini sebagai misi besar Pusat Studi Qur’an yang dipelopori oleh Prof. Dr. Quraish Shihab, MA dalam menghidupkan al-Qur’an.

Baca Juga :  Perbedaan dan Persamaan Penilaian Acuan Norma (PAN) dan Penilaian Acuan Patokan (PAP)

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa Kurikulum Living Qur’an adalah suatu rangkaian pelajaran agama, yang diintegrasikan ke dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sebagai internalisasi dan manifestasi ajaran-ajaran al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dari kajian ini, didapatkan sebuah pemahaman sekaligus sebagai cara kerja baru dalam dunia pendidikan Indonesia secara menyeluruh untuk bisa memaksimalakan penggunaan kurikulum living qur’an, sebagai jalan alternatif pendidikan yang agama Islam saat ini.

Tags: