Pendidikan akhlak anak Madrasah ibtidaiyyah di era disrupsi

Abstrak: Tulisan ini berisi upaya mendorong perlunya pendidikan Islam terutama pendidikan akhlak. Hal ini dilakukan agar pendidikan Islam dapat menjawab segala tantangan dan tuntutan era disrupsi yang mengalami berbagai macam perubahan. Selain itu, tulisan ini juga berisi upaya untuk memberikan solusi terbaik kepada pendidikan Islam dalam menghadapi arus globalisasi dan Era Revolusi industri 4.0. Era 4.0 ini membawa banyak dampak yang begitu luas dan dalam segala aspek kehidupan manusia, tanpa terkecuali dalam bidang pendidikan baik itu mulai dari TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, MA/SMK/SMA. Era 4.0 inilah yang melahirkan era disrupsi hal ini menyebabkan dunia pendidikan dituntut untuk menyesuaikan diri dengan era yang ada sekarang. Para peserta didik yang lulus dari pendidikan Islam akan mendapatkan tantangan, tuntutan, dan kebutuhan manusia yang selalu ingin baru tidak sama dengan yang sudah ada. Sehingga Karen hal itu perlu akan adanya inovasi besar-besaran dalam sistem, tata pengelolaan, kurikulum sekolah, kompetensi sumber dasar manusia, sarana dan prasarana, budaya, bahasa, adat, etos kerja dan lain-lain. Jika hal ini tidak terjadi, maka pendidikan akhlak akan tertinggal dengan arus perkembangan zaman yang semakin kejam. Oleh karena itu, perlu kita teliti agar dapat menemukan langkah-langkah kongkrit bagi pendidika Islam terutama pendidikan akhlak agar mampu tetap bersaing dengan perkembangan zaman yang ada.
Kata Kunci : Pendidikan Islam, Akhlak, Revolusi Industri 4.0, Disrupsi

Pendidikan Islam, Akhlak, Revolusi Industri 4.0, Disrupsi

Pendidikan akhlak anak Madrasah ibtidaiyyah di era disrupsi
Latar belakang
Menganyam pendidikan merupakan suatu wadah atau permulaan bagi seorang siswa atau seorang pelajar untuk memulai proses belajar. Suatu tempat atau wadah untuk menampung pelajar untuk menganyam pendidikan biasanya disebut dengan lembaga.  Lembaga sendiri terbagi menjadi 2 jenis yakni lembaga formal dan lembaga nonformal . Lembaga atau pendidikan formal biasanya terdiri dari Raudhatul Athfal (RA) atau Taman Kanak – kanank (TK),  Madrasah Ibtidaiyyah (MI) atau Sekolah Dasar (SD), Madrasah Tsanawiyyah (MTs) atau Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Aliyah (MA) atau Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan.  Sedangkan pendidikan atau lembaga  nonformal  biasanya lebih menekan kan pengembangan keterampilan bisa berupa les, privat, dan khursus. Pendidikan di wilayah Indonesia  sudah mengalami beberapa perubahan sistem pembelajaran beberapa kali dari sistem kurikulum KTSP berubah menjadi sistem kurikulum K13. Tindakan dan perubahan ini terjadi untuk memenuhi tututan zaman, jadi menyesuaikan perkembangan zaman sekarang. Perkembangan ini telah memasuki era keterbukaan. Era ini di tandai dengan adanya perkembangan teknologi. Era globalisasi ini disebut juga era revolusi industry 4.0, era ini berharap SDM di Indonesia bisa berkualitas dan bersaing.

Era disrupsi adalah sebuah era yang sedang terjadi saat ini yang, era ini ditandai dengan  munculnya berbagai inovasi dari berbagai bidang penelitian sehingg melahirkan teknologi yang semakin lebih majuopportunity. Era disrupsi ini muncul pertama kali ketika dimulai nya era 1.0[1]. Era revolusi industri 4.0 ini menjadi sebuah hambatan atau tantangan bagi sebuah lembaga pendidikan dan mampu sebaliknya menjadi sebuah media untuk membantu meningkatkan intelektual yang cerdas demi mewujudkan cita – cita bangsa. Menjadikan manusia sebagai pelajar yang cerdas bukan hal mudah seperti membalikkan telapak tangan. Oleh karena itu, lembaga yang sukses mencetak pelajar yang cerdas secara intelektual adalah lembaga yang mampu menyeimbangka atau menyatukan pendidikan dengan perkembangan zaman. Mengembangkan pendidikan dalam era  keterbukaan atau era globalisasi ini bukanlah perkara yang mudah. Dengan demikian di perlukannya sebuah inovasi untuk mensetarakan antara pendidikan era revolusi industri 40 dengan pendidikan karakter[2]. Alam dan Rukana (2019) berpendapat bahwa pendidikan merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan manusia yang tidak mungkin bisa ditinggalkan karena merupakan suatu kebutuhan[3]. Dapat kita lihat, jika kita hidup tanpa mengenal pendidikan maka kehidupan kita akan sama seperti kehidupan orang-orang sebelum kita[4] jurnal andi djemma

Ada beberapa ciri yang dapat kita lihat dalam era disrupsi ini yang pertama yakni adanya interaksi suatu Negara dengan Negara lain yang semakin meningkat dapat kita lihat dari banyaknya urusan-urusan antar Negara, kapal-kapal dari negaralain yang berlabuh dan lain sebagainya. Yang kedua, munculkan teknologi yang semakin modern membuat masyarkat, kaum remaa, anak-anak bahkan para orang tua yang sudah memiliki rasa ketergantungan terhadap gadget, televise radio, dan lain-lain. Yang ketiga adanya rasa ketergantungan terhadap produksi dan pasar ekonomi. Keempat, meningkatnya interaksi melalui berbagai media massa baik itu hp, televisi, gadget, computer, Koran, majalah dan lain sebagainya[5]

Kata akhlak berasal dari bahasa Arab yakni berarti karakter dan perangai, secara istilah akhlak merupakan akhlak mulia yang terbentuk melalui proses yang panjang yng akan mempengaruhi tingkah laku seseorang yang akan dilakukan secara terus menerus dn berkelanjutan sehingga menjadi kebiasaan dan tidak dipikirkan dan dipertimbangkan oleh seseorang[6] jurnal abdau. Pendidikan akhlak adalah bimbingan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam mengenai pentingnya terbentuknya suatu karakter atau kepribadian utama sesorang menurut ukuran dalam agama Islam[7].

Baca Juga :  Uji Analisis Data Eksploratori Dan Konfirmatori

Pembelajaran adalah seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar siswa – siswi, dengan memperhitungkan kejadian atau peristiwa ekstrim yang berperan dalam rangkaian kejadian intern[8]. Model pembelajaran pada saat ini bisa kita terapkan dengan menggunakan konseptual kerangka yang dapat menggambarkan prosedur yang sistematis dan terencana dengan baik dalam proses pembelajaran peserta didik sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan efektif[9].  Metode pembelajaran role playing adalah suatu model pembelajaran yang menuntut siswa untuk menguasi berbagai bahan pelajaran melaui pengembangan baik itu imjinasi maupun pengahayatan siswa[10]. Peran orang tua pun tidak luput dari hal ini, orang tua merupakan guru yang paling utama  bagi anak-anak[11] jurnal al ulum.

Pendidikan merupakan suatu kebutuhan khusus bagi setiap pelajar, karena dengan menganyam pendidikan kita dapat mengetahui berbagai wawasan dan menambah ilmu pengetahuan yang ada diotak kita. Pendidikan juga merupakan satu – satu nya jalan bagi kita untuk menghilangkan sifat kebodohan kita. Pendidikan yang kita jalani ini akan menjadi jalan kita supaya kita dapat mengembangkan teknologi yang sudah ada. Pendidikan membuat kita berfikir keras sehingga kita dapat berinovasi dan berkreatifitas untuk menghasilkan sesuatu yang baru atau mengembangkan sesuatu yang sudah ada.  Disamping pentingnya pendidikan, kita juga harus memberikan suri tauladan yang baik pada anak-anak sekarng, karena pada saat ini dapat kita lihat nilai-nilai kesopanan, ramah, rendah hati, suka menolong, soladiratas sema nilai-nilai ini telah luntur sejak munculnya era disrupsi ini[12]. Pendidikan akhlak juga merupakan suatu pendidikan yang sangat penting karena membentuk moral, akhlak, karakter sesorang yang buruk bisa membuat bangsa Indonesia menjadi Negara yang krisis moral[13]modeling. Pendidikan akhlak dapat terlaksana dengan baik maka bangsa Indonesia dapat menjadi Negara yang dami dan tentram[14]peran pendidikan.

Pembahasan
Pengertian pendidikan dalam UU no. 20 tahun 2003, bahwa pendidikan adalah “suatu usaha sadar dan terencana unuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan pontensinya pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.”  Sedangkan akhlak sendiri adalah karakter yang dimiliki oleh setiap masyarakat Indonesia khusunya yang beragama Islam. Mayorias masyarakat Indonesia memiliki akhlak sopan santun, ramh, baik, musyawarah ketika ada perselisihan, saling tolong menolong dalam hal kebaikan, saling mengingatkan jika tetangga berbuat salah, gotong royong dan lain sebagainya. Dalam upaya pendidikan terselenggaranya pendidikan akhlak akan bergantung pada keberhasilan guru dalam mendidiknya. Hal ini dikarenakan seorang guru adalah seorang motivator di pandangan setiap muridnya, sehingga para muridnya jadi terdorong agar melakukan atau merubah akhlaknya yang kurang baik. Proses pendidikan akhlak ini juga dapat mempengaruhi cita-cita setiap siswa dan mempengaruhi pandangan masyarakat tehadap anak itu nantinya.

Pendidikan akhlak memiliki tingkatan yang sangat tinggi jika ki bandingkan dengan pendidikan moral saja, karena ukan hanya mengjarkan antara yang haq dan bathil tetapi juga mengajarkan kebiasaan yang baik sehingga siswa mengikutinya dan mempraktekkanya dalam kehidupan sehari-hari. Contoh yang paling sederhana. Cara membuang sampah, jika kita mengajarkan pada sisw untuk membuang sampah pada tempatnya agar tidak berdampak banjir[15]. Pendidikan akhlak yang kita butuhkan saat ini sangat bermanfaat, karena pada era disruptif ini, kita dianjurkan untuk membentuk siswa yang kritis, korektif, inovatif, kreatif yang diselingi dengan akhlak mulia yakni sabar, ramah, sopan, baik, tolong menolong, musyawarah[16]. Kenapa pendidikan akhlak sangat dibutuhkan saat ini? Karena pada era disruptif ini dapat kita ketahui bahwa pada era ini banyak siswa-siswi yang tidak memiliki akhlak mulia lagi, mereka cenderung angkuh, sombong, tidak ramah, menentang kedua orag tua dan lain sebagainya. Pendidikan akhlak dalam kitab Washāyā Al-Ābā’ Lil Abnā’terangkum dalam4 (empat) bagian penting, yaitu[17]:

1. Berisi pentingnya bertaqwa kepada Allah SWT.

2. Guru dinjurkan untuk menasehati muidnya dengan penuh kesabaran

3. Menghormati teman, tidak melukainya, menyayanginya dan menyenangkan hatinya

Menurut Thomas lickona dalam pendidikan akhlak memiliki fungsi untuk membentuk kepribadian, watak seseorang lewat budi pekertinya, kemudian hasilnya dapat kita lihat dalam perilakunya sehari-hari dalam tindakan kehidupan yang nyata yakni berupa bertingkah laku baik, berkata jujur, mempunyai rasa bertanggung jawab, kerja keras dan saling menghormati[18]. Akhlak seseorang bisa kita tanamkan jika kita menanamnya pada anak sejak usia dini[19]. Oleh karena itu pendidikan akhlak merupkan salah satu pendidikan yang sangat perlu dibutuhkan oleh warga Indonesia di era disrupsi ini, karena pada saat ini banyak anak-anak yang tidak memiliki akhlak yang baik dan pendidikan akhlak ini merupakan subjek utama untuk menanamkan nilai-nilai Islam terutama untuk siswa yang beragama Islam[20], pendidikan akhlak ini dipengaruhi oleh beberpaa hal seperti tempat tinggal, orang tua, lingkungan hidup, teman, masyarakat dan salah satunya juga media sosial. Pendidikan akhlak ini sangat di pengaruhi oleh ada nya media sosial, para siswa banyak yang lebih suka mencontoh apa yang mereka lihat di youtube ketimbang apa yang diajari guru nya disekolah, berikut ini adalah dampak positif dn negative media sosial bagi siswa MI[21]:

Baca Juga :  Hidup Kelabilan Di Masa Remaja

Dampak positif :

  1. Memermudah siswa untuk bisa mencari informasi dengan baik dan benar untuk menyelesaikan tugas.
  2. Mempermudah siswa untuk berkomunikasi dengan teman lamanya atau untuk mendapat teman baru.
  3. Siswa mampu mengurangi stress karena belajar dengan menggunakan media sosial seperti bermain online.

Dampak negative :

  1. Para siswa dapat kehilangan waktu belajar karena terlanjur main game.
  2. Dengan bermain game yang berlebihan ini dapat membuat konsentrasi siswa menurun,
  3. Berkurangnya bakat berinteraksi siswa dengan orang tua nya, temannya, saudara dan orang lain.

Ada beberapa gelombang disruptif dalam dunia pendidikan antara lain[22] :

  • On demand
  • Open source
  • Adanya aplikasi yang responsive
  • Ada beberpa kursus dan materi yang dapat kita dapatkan secara gratis

Sistem pendidikan berlandaskan pendidikan Islam terutama pendidikan Akhlak sangatlah bagus dan lebih sitematik dan formal,  Karena pendidikan berlandaskan Ke Islaman pada era diruptif ini mimiliki daya tarik yang luar biasa dimata masyarakat Indonesia[23].  Para ahli megemukakan beberapa pendapat tentang macam-macam kata lain dari akhlak yakni tauhid, ushuludin, ilmu kalam, teologi Islam dan lain sebagainya[24]. Pada abad 21 ini  sistem pembelajaran siswa baik dari MI/SD, MTs/SMP, dan MA/SMK dengan menggukan kurikulum 2013, dimana disini siswa dituntut untuk mampu berpikir kritis siswa juga dituntut kreatif, inovatif, dan bisa memiliki keterampilan yang memadai agar SDM bangsa Indonesia dapat memiliki kuwalitas yang memadai dan mampu bersaing dengan Negara lain nantinya[25].

Penutup        
1)      Kesimpulan
Pendidikan akhlak sangatlah penting pada era disrupsi ini, karena mampu mempengaruhimasa depan bangsa Indonesia. Dapat kita lihat pada saat ini anak-anak Indonesia memang benar inovatif, kreatif, kreatif tetapi mereka tidak memiliki rasa sopan, ramah, dan baik pada orang lain. Hal tersebut hanya akan membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang tidak memiliki masyarakat yang ramah, sopam, tolong menolong, dan suka musyawarah tetapi hanya akan memiliki masyarakat yang individualis dan egois.

2)      Saran
Pendidikan akhlak sebaiknya mampu dilaksanakan dengan sebaik mungkin karena pendidikan akhlak pada anak usia dini atau MI/SD mampu membuat arah bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik pada masa yang akan mendatang, tidak seperti Negara-negara maju saat ini yang gaya hidupnya individualis dan egois.

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Rohman, ‘Pembiasaan Sebagai Basis Penanaman Nilai-Nilai Akhlak Remaja’, Nadwa, 6.1 (2012), 155–78
Arhjayati Rahim, ‘Peranan Orang Tua Terhadap Pendidikan Karakter Remaja Putri Menurut Islam’, Jurnal Al-Ulum, 13 (2013), 87–102
Budiana, Irma, ‘Peran Pendidikan Karakter Dan Kreatifitas Siswa Dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0’, Madani, 2.2 (2019), 331–441
Cholil, ali fikri, ‘Pengaruh Globalisasi Dan Era Disrupsi Terhadap Pendidikan Dan Nilai-Nilai Keislaman’, Jurnal Pendidikan, 3.1 (2019), 117–36
Cholil, Ali Fikri, ‘Pengaruh Globalisasi Dan Era Disrupsi Terhadap Pendidikan Dan Nilai-Nilai Keislaman’, Sukma, 3.1 (2019), 2019
Duryat, Maduki, ‘Opportunity Pendidikan : Transformasi Di Era Disrupsi Dan Revolusi Industri 4.0’, Gema Wiraldron, 10.1 (2019), 93–104
Ermida, ‘Peningkatan Prestasi Belajar Ipa Melalui Metode Eksperimen Learning’, Bidang Pendidikan Dasar, 3.2, 67–80
Fajar Dwi Mukti, ‘Integrasi Literasi Sains Dan Nilai-Nilai Akhlak Di Era Globalisasi’, Abdau, 1.2 (2018), 318–38
Hendra Erik Rudyanto, Apri Kartikasari HS, Dea Pratiwi, ‘Etnomatematika Budaya Jawa: Inovasi Pembelajaran Matematika Di Sekolah Dasar’, Bidang Pendidikan Dasar, 3.2, 25–32
Ismail, M.PdI, ‘Problematika Pendidikan Islam Di Era Globalisasi’, Al Astar, 5.1 (2017), 1–18
Kamala, Izzatin, ‘Pembiasaan Keterampilan Berpikir Kritis Sebagai Sarana Implementasi Sikap Spiritual Dalam Pembelajaran IPA Tingkat Sekolah Dasar’, Al Bidayah, 11.1 (2019), 1–30
Mannuhung, Suparman, and Andi Mattingaragau dan Tenrigau, ‘Peran Pendidikan Islam Dalam Mewujudkan Etika Politik’, Jurnal Andi Djemma, 1.1 (2018), 27–35
Maryam Mufiroh, Adib Rifqi Setiawan, ‘Pendidikan Karakter : Akhlak, Adab, Moral Dan Nilai’
Mujadi, ‘Pengembangan Instrumen Penilaian Sikap Sebagai Upaya Optimalisasi Penerapan Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Mata Pelajaran Akidah Akhlak Kelas VI Madrasah Ibtidaiyyah’, Al Bidayah, 11.1 (2019), 137–74
Nazila, Fitriatun, ‘Strategi Implementasi Kurikulum 2013 Di Era Disrupsi’, Pendidikan Dasar Fondatia, 3.1 (2019), 1–10
Nisa Khairuni, ‘Dampak Positif Dan Negatif Sosial Media Terhadap Pendidikan Akhlak Anak’, Edukasi, 2.91–106 (2016)
Priatmoko, Sigit, ‘Memperkuat Eksistensi Pendidikan Pendidikan Islam Di Era 4.0’, Ta’lim, 1.2 (2018), 1–19
Raharjo, Sabar Budi, ‘Pendidikan Karakter Sebagai Upaya Menciptakan Akhlak Mulia’, Pendidikan Dan Kebudayaan, 16.3 (2010), 229–37
Samsudin, ‘Peran Pendidikan Agama Islam Dalam Membentuk Kepribadian Di Era Disrupsi’, 30.1 (2019), 148–65
Seminar, Prosiding, Nasional Jurusan, and Politik Dan, ‘PERAN PENDIDIKAN DALAM MEMBANGUN MORAL BANGSA’, 41–52
Sholekhah, Fitriatus, ‘Pendidikan Karakter Melalui Revolusi Mental Di Era Disruptif’, Scholastica, 1.1 (2019), 64–88
Sofiyana Rizki, Mawardi, dan Herlina Kasih Intan Permata, ‘Peningkatan Keterampilan Berkomunikasi Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw’, Bidang Pendidikan Dasar, 3.2, 1–8
Suhid, Asmawati Bte, Pemantapan Komponen Akhlak Dalam Pendidikan Islam Bagi Menangani Era Globalisasi
Syaifulloh Yusuf, ‘Konsep Pendidikan Akhlak Syeikh Muhammad Syakir Dalam Menjawab Tantangan Pendidikan Era Digital (Eksplorasi Kitab Washāyā Al-Ābā’ Lil Abnā’)’, Ta’dibuna, 2.1 (2019), 1–18
Wekke, Ismail Suardi, and Ridha Windi Astuti, ‘Kurikulum 2013 Di Madrasah Ibtidaiyah: Implementasi Di Wilayah Minoritas Muslim’, Tadris: Jurnal Keguruan Dan Ilmu Tarbiyah, 2017 <https://doi.org/10.24042/tadris.v2i1.1736>

Baca Juga :  Sejarah Perkembangan Kurikulum di Indonesia

 Oleh : Nurus Shobach Izakiyah

[1]Fitriatun Nazila, ‘Strategi Implementasi Kurikulum 2013 Di Era Disrupsi’, Pendidikan Dasar Fondatia, 3.1 (2019), 1–10.
[2] Maduki Duryat, ‘Opportunity Pendidikan : Transformasi Di Era Disrupsi Dan Revolusi Industri 4.0’, Gema Wiraldron, 10.1 (2019), 93–104.
[3] Irma Budiana, ‘Peran Pendidikan Karakter Dan Kreatifitas Siswa Dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0’, Madani, 2.2 (2019), 331–441.
[4] Suparman Mannuhung and Andi Mattingaragau dan Tenrigau, ‘Peran Pendidikan Islam Dalam Mewujudkan Etika Politik’, Jurnal Andi Djemma, 1.1 (2018), 27–35.
[5] ali fikri Cholil, ‘Pengaruh Globalisasi Dan Era Disrupsi Terhadap Pendidikan Dan Nilai-Nilai Keislaman’, Jurnal Pendidikan, 3.1 (2019), 117–36.
[6] Fajar Dwi Mukti, ‘Integrasi Literasi Sains Dan Nilai-Nilai Akhlak Di Era Globalisasi’, Abdau, 1.2 (2018), 318–38.
[7] M.PdI Ismail, ‘Problematika Pendidikan Islam Di Era Globalisasi’, Al Astar, 5.1 (2017), 1–18.
[8] Dea Pratiwi Hendra Erik Rudyanto, Apri Kartikasari HS, ‘Etnomatematika Budaya Jawa: Inovasi Pembelajaran Matematika Di Sekolah Dasar’, Bidang Pendidikan Dasar, 3.2, 25–32.
[9] dan Herlina Kasih Intan Permata Sofiyana Rizki, Mawardi, ‘Peningkatan Keterampilan Berkomunikasi Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw’, Bidang Pendidikan Dasar, 3.2, 1–8.
[10] Ermida, ‘Peningkatan Prestasi Belajar Ipa Melalui Metode Eksperimen Learning’, Bidang Pendidikan Dasar, 3.2, 67–80.
[11] Arhjayati Rahim, ‘Peranan Orang Tua Terhadap Pendidikan Karakter Remaja Putri Menurut Islam’, Jurnal Al-Ulum, 13 (2013), 87–102.
[12] Abdul Rohman, ‘Pembiasaan Sebagai Basis Penanaman Nilai-Nilai Akhlak Remaja’, Nadwa, 6.1 (2012), 155–78.
[13] Sigit Priatmoko, ‘Memperkuat Eksistensi Pendidikan Pendidikan Islam Di Era 4.0’, Ta’lim, 1.2 (2018), 1–19.
[14] Prosiding Seminar, Nasional Jurusan, and Politik Dan, “Peran Pendidikan Dalam Membangun Moral Bangsa,” n.d., 41–52.
[15] Adib Rifqi Setiawan Maryam Mufiroh, ‘Pendidikan Karakter : Akhlak, Adab, Moral Dan Nilai’.
[16] Ismail Suardi Wekke and Ridha Windi Astuti, ‘Kurikulum 2013 Di Madrasah Ibtidaiyah: Implementasi Di Wilayah Minoritas Muslim’, Tadris: Jurnal Keguruan Dan Ilmu Tarbiyah, 2017 <https://doi.org/10.24042/tadris.v2i1.1736>.
[17]Syaifulloh Yusuf, ‘Konsep Pendidikan Akhlak Syeikh Muhammad Syakir Dalam Menjawab Tantangan Pendidikan Era Digital (Eksplorasi Kitab Washāyā Al-Ābā’ Lil Abnā’)’, Ta’dibuna, 2.1 (2019), 1–18.
[18] Fitriatus Sholekhah, ‘Pendidikan Karakter Melalui Revolusi Mental Di Era Disruptif’, Scholastica, 1.1 (2019), 64–88.
[19] Sabar Budi Raharjo, ‘Pendidikan Karakter Sebagai Upaya Menciptakan Akhlak Mulia’, Pendidikan Dan Kebudayaan, 16.3 (2010), 229–37.
[20] Samsudin, ‘Peran Pendidikan Agama Islam Dalam Membentuk Kepribadian Di Era Disrupsi’, 30.1 (2019), 148–65.
[21] Nisa Khairuni, ‘Dampak Positif Dan Negatif Sosial Media Terhadap Pendidikan Akhlak Anak’, Edukasi, 2.91–106 (2016).
[22] Ali Fikri Cholil, ‘Pengaruh Globalisasi Dan Era Disrupsi Terhadap Pendidikan Dan Nilai-Nilai Keislaman’, Sukma, 3.1 (2019), 2019.
[23] Asmawati Bte Suhid, Pemantapan Komponen Akhlak Dalam Pendidikan Islam Bagi Menangani Era Globalisasi.
[24] Mujadi, ‘Pengembangan Instrumen Penilaian Sikap Sebagai Upaya Optimalisasi Penerapan Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Mata Pelajaran Akidah Akhlak Kelas VI Madrasah Ibtidaiyyah’, Al Bidayah, 11.1 (2019), 137–74.
[25] Izzatin Kamala, ‘Pembiasaan Keterampilan Berpikir Kritis Sebagai Sarana Implementasi Sikap Spiritual Dalam Pembelajaran IPA Tingkat Sekolah Dasar’, Al Bidayah, 11.1 (2019), 1–30.

Tags: