Hilangnya Minat Siswa Pada Pelajaran Matematika

  • Whatsapp
Undangan Digital
ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hilangnya minat siswa pada pelajaran matematika peserta didik di Indonesia, lebih tepatnya di MI. TARBIYATUS SHIBYAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan membagikan angket sebagai teknik pengumpulan data. Hasil penelitian ini menunjukkan tingkat minat siswa pada pembelajaran matematika kelas III MI.TARBIYATUS SHIBYAN sangat rendah, hal tersebut terjadi karena beberapa faktor. Yaitu kurangnya dukungan orang tua, cepat merasa bosan, dan terlalu sering bermain gadget.
KATA KUNCI : Hilang, Minat dan  Matematika,

PENDAHULUAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap potensi etnomatematika yang bisa dikembangkan dan  bisa diterapkan pada pembelajaran siswa MI. Di zaman yang serba canggih dan modern seperti sekarang, ketika komputer merajai seluruh dunia, seluruh manusia dituntut untuk bisa aktif, kreatif dan inovatif. Mampu beradaptasi dengan perubahan kehidupan yang sangat cepat. Untuk mewujudkan hal tersebut, pendidikan memegang peranan vital. Pendidikan harus bekerja keras dan berupaya untuk menciptakan generasi yang handal dan kreatif[1]

Bacaan Lainnya

Salah satu upaya untuk mengurangi rasa takut anak didik antara tuntutan mempelajari matematika yang abstrak dengan kesiapan intelektual anak didik adalah mengajak anak didik mempelajari matematika melalui permainan matematika. Beberapa mata pelajaran yang disajikan di Sekolah Dasar, salah taunya Matematika. Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang menjadi satu kebutuhan sistem dalam melatih penalarannya. Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik terutama kepada anak didik Sekolah Dasar  untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, kritis dan kreatif, sistematis dan konsisten[2]

Sesuai dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan 2006 mata pelajaran matematika Madrasah Ibtidaiyah telah diajarkan materi menentukan FPB dan KPK. Pada proses pelaksanaan pembelajaran menentukan FPB dan KPK dilakukan secara sederhana yakni guru langsung memberikan bagaimana cara-cara menentukan FPB dan KPK. Proses tersebut dilakukan tanpa ada sesuatu yang menarik bagi siswa, sehingga masih banyak siswa yang mendapat hasil belajar siswa yang dibawah KKM[3]

Baca Juga :  Pentingnya Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Pembelajaran yang bermakna akan membawa siswa pada pengalaman belajar yang mengesankan. Pengalaman yang diperoleh siswa akan semakin berkesan apabila proses pembelajaran yang diperolehnya merupakan hasil dari usaha, pemahaman dan penemuannya sendiri. Dalam konteks ini para siswa mengalami dan melakukannya sendiri. Proses pembelajaran yang berlangsung melibatkan siswa sepenuhnya untuk merumuskan suatu konsep sendiri[4]

Pos terkait