Hilangnya Minat Siswa Pada Pelajaran Matematika

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hilangnya minat siswa pada pelajaran matematika peserta didik di Indonesia, lebih tepatnya di MI. TARBIYATUS SHIBYAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan membagikan angket sebagai teknik pengumpulan data. Hasil penelitian ini menunjukkan tingkat minat siswa pada pembelajaran matematika kelas III MI.TARBIYATUS SHIBYAN sangat rendah, hal tersebut terjadi karena beberapa faktor. Yaitu kurangnya dukungan orang tua, cepat merasa bosan, dan terlalu sering bermain gadget.
KATA KUNCI : Hilang, Minat dan  Matematika,

PENDAHULUAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap potensi etnomatematika yang bisa dikembangkan dan  bisa diterapkan pada pembelajaran siswa MI. Di zaman yang serba canggih dan modern seperti sekarang, ketika komputer merajai seluruh dunia, seluruh manusia dituntut untuk bisa aktif, kreatif dan inovatif. Mampu beradaptasi dengan perubahan kehidupan yang sangat cepat. Untuk mewujudkan hal tersebut, pendidikan memegang peranan vital. Pendidikan harus bekerja keras dan berupaya untuk menciptakan generasi yang handal dan kreatif[1]

Salah satu upaya untuk mengurangi rasa takut anak didik antara tuntutan mempelajari matematika yang abstrak dengan kesiapan intelektual anak didik adalah mengajak anak didik mempelajari matematika melalui permainan matematika. Beberapa mata pelajaran yang disajikan di Sekolah Dasar, salah taunya Matematika. Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang menjadi satu kebutuhan sistem dalam melatih penalarannya. Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik terutama kepada anak didik Sekolah Dasar  untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, kritis dan kreatif, sistematis dan konsisten[2]

Sesuai dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan 2006 mata pelajaran matematika Madrasah Ibtidaiyah telah diajarkan materi menentukan FPB dan KPK. Pada proses pelaksanaan pembelajaran menentukan FPB dan KPK dilakukan secara sederhana yakni guru langsung memberikan bagaimana cara-cara menentukan FPB dan KPK. Proses tersebut dilakukan tanpa ada sesuatu yang menarik bagi siswa, sehingga masih banyak siswa yang mendapat hasil belajar siswa yang dibawah KKM[3]

Pembelajaran yang bermakna akan membawa siswa pada pengalaman belajar yang mengesankan. Pengalaman yang diperoleh siswa akan semakin berkesan apabila proses pembelajaran yang diperolehnya merupakan hasil dari usaha, pemahaman dan penemuannya sendiri. Dalam konteks ini para siswa mengalami dan melakukannya sendiri. Proses pembelajaran yang berlangsung melibatkan siswa sepenuhnya untuk merumuskan suatu konsep sendiri[4]

Baca Juga :  Implementasi nilai-nilai akidah akhlak bagi Anak sekolah dasar di era milenial

METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif  kuatitatif. Metode deskriptif adalah metode yang menggambarkan keadaan yang berjalan dalam penelitian. Dengan menggunakan angket kuisioner sebagai alat pengumpulan data pokok. Tujuan menggunkana metode ini adalah mendapatkan gambaran tentang hilangnya minat siswa pada pembelajaran matemastika kelas III MI. TARBIYATUS SHIBYAN Jl. Tambak pring Utama Gg.IIB No.I Asemrowo, Surabaya. Penelitian ini menggunakan data primer yang berarti bersumber dari responden langsung. Sedangkan teknik analisis data menggunakan model satisitik deskriptif yaitu menerangkan data yang terkumpul bagi kalangan umum.  Teknik tersebut menjelaskan jawaban-jawaban responden frekuensi dan presentasi. Penulis akan menginterpretasikan makna dari data-data penelitian tersebut.

HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN
Berdasarkan penelitian yang telah diambil menggunakan angket, kemudian dilakukan analisis data dengan menghitung frekuensi. Deskripsi yang dilakukan dalam penelitian ini menerangkan tabel pada angket yang sudah di sebarkan pada 30 peserta didik kelas III MI TARBIYATUS SHIBYAN Jl. Tambak Pring, Asemrowo Surabaya pada tanggal 21 November 2019 menunjukkan hasil penelitian seperti tabel 1 sebagai berikut :

Dari diagram batang tersebut dapat diketahui bahwa peserta didik yang tidak suka mata pelajaran matematika sebanyak 15 orang, dan yang suka mata pelajaran matematika sebanyak 15 orang. Hal ini dapat diartikan bahwa tingkat mata pelajaran matematika peserta didik usia sekolah dasar sama. Seseorang yang suka mata pelajaran matematika diawali dengan kebiasan membaca dan menghitung, apabila telah terbiasa maka akan menjadi budaya.

KESIMPULAN
Hilangnya minat siswa pada pelajaran matematika peserta didik usia sekolah dasar perlu ditingkatkan, terbutki dengan penelitian yang telah penulis lakukan pada peserta didik kelas III di MI TARBIYATUS SHIBYAN. Menurut data yang diambil dengan membagikan angket kuisioner menyatakan bahwa peserta didik yang tidak suka pada mata pelajaran matematika lebih banyak dari pada peserta didik yang suka pada pelajaran selain matematika. Mereka melakukan kegiatan atas keinginan mereka sendiri. Peserta didik juga tidak sering membuka pelajaran matematika setiap hari, tetapi mereka sering membuka buku atau membaca buku pelajaran selain matematika. Rendahnya tingkat minat siswa pada pembelajaran matematika juga dapat dilihat dari prosentase kedatangan mereka ke perpustakaan yang menunjukkan angka 50%. Faktor-faktor lainnya adalah tingkat kebosanan peserta didik dalam belajar matematika, kurangnya dukungan dari orang tua, dan terlalu sering bermain gadget. Walaupun tingkat minat siswa pada mata pelajaran matematika  dinilai cukup rendah, namun mereka membaca buku mata pelajaran matematika tidak saat akan menjelang ujian saja.

Baca Juga :  Mengenal Lebih Jauh HIV dan AIDS

DAFTAR PUSTAKA
Ginting, Ria Karina, and Ni Wayan Ekawati. “Penggunaan Media Manipulatif Mika Transparan Dalam Pembelajaran Matematika Materi Penjumlahan Pecahan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas” 5, no. 4 (2016): 2223–49. http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/jurnal-penelitian-pgsd/article/view/1003/745.
Ipah muzdalipah, Eko yulianto. “PENGEMBANGAN DESAIN PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK SISWA SD BERBASIS AKTIVITAS BUDAYA DAN PERMAINAN TRADISIONAL MASYARAKAT KAMPUNG NAGA.” Jurnal Siliwangi vol.1 (2015).
Rudi Yulio Arindiono, Nugrahadi Ramadhani, SSn, MT. “Perancangan Media Pembelajaran Interaktif Matematika Untuk Siswa Kelas 5 SD.” JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 2 (2013): 2337–3520.
Tiamin. “Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Menentukan Nilai Tempat Ratusan, Puluhan Dan Satuan Pada Pelajaran Matematika Dengan Menggunakan Kartu Bilangan Di Kelas II SDN Sememi I Kecamatan Benowo Surabaya.” Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar 1, no. 1 (2013): 1–6. https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/jurnal-penelitian-pgsd/article/view/1066/782.

Catatan Kaki :
[1] Eko yulianto Ipah muzdalipah, “PENGEMBANGAN DESAIN PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK SISWA SD BERBASIS AKTIVITAS BUDAYA DAN PERMAINAN TRADISIONAL MASYARAKAT KAMPUNG NAGA,” Jurnal Siliwangi vol.1 (2015).
[2] MT Rudi Yulio Arindiono, Nugrahadi Ramadhani, SSn, “Perancangan Media Pembelajaran Interaktif Matematika Untuk Siswa Kelas 5 SD,” JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 2 (2013): 2337–3520.
[3] Ria Karina Ginting and Ni Wayan Ekawati, “Penggunaan Media Manipulatif Mika Transparan Dalam Pembelajaran Matematika Materi Penjumlahan Pecahan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas” 5, no. 4 (2016): 2223–49, http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/jurnal-penelitian-pgsd/article/view/1003/745.
[4] Tiamin, “Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Menentukan Nilai Tempat Ratusan, Puluhan Dan Satuan Pada Pelajaran Matematika Dengan Menggunakan Kartu Bilangan Di Kelas II SDN Sememi I Kecamatan Benowo Surabaya,” Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar 1, no. 1 (2013): 1–6, https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/jurnal-penelitian-pgsd/article/view/1066/782.

Oleh : Wahyu Hidayatulloh

Tags: