Metode interaksi parenting dan teacher guidance Dalam upaya mengoptimalkan kompetensi sosial dan Pendidikan siswa madrasah ibtidaiyah

Abstrak Anak merupakan anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada orang tua sebagai amanah yang harus dijaga dan dirawat dengan baik dalam proses tumbuh kembangnya, oleh karena itu orang tua memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang besar salah satunya yaitu dalam pola asuh dan pola didik terhadap anak. Dalam hal ini, orang tua harus memberikan pengasuhan dan pendidikan yang baik bagi anaknya, agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pula. Tetapi mengasuh dan mendidik anak juga bukanlah sebuah hal yang mudah, dalam mengasuh dan mendidik anak diperlukan berbagai upaya, ketelatenan. Apalagi mengasuh dan mendidik anak ditingkat sekolah dasar, karena ditingkat dan diusia inilah seorang anak mulai berkembang dalam hal perkembangan fisik, kognitif, dan psikososial. Dan dalam masa/tingkat usia sekolah dasar ini juga sering disebut sebagai masa intelektual dan keserasian sekolah. Oleh karena itu, dalam proses tumbuh kembang anak ditingkat usia sekolah dasar diperlukan interaksi dan komunikasi yang baik dalam pengasuhan orang tua dan bimbingan guru terhadap anak.
Kata kunci : Mengasuh, mendidik, dan tumbuh kembang anak.
Metode interaksi parenting dan teacher guidance Dalam upaya mengoptimalkan kompetensi sosial dan Pendidikan siswa madrasah ibtidaiyah
PENDAHULUAN
Anak merupakan sebuah anugerah terindah bagi orang tua yang telah diberikan oleh Tuhan sebagai amanah yang harus dijaga serta dirawat agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Oleh sebab itu, orang tua memiliki tanggung jawab yang besar, apalagi dalam hal pendidikan dalam keluarganya terutama bagi anak-anaknya[1] Kehadiran sosok anak bagi orang tua atau keluarga mampu membawa serta menambah keharmonisan dalam hubungan keluarga, terwujudnya sosok anak atau putra-putri yang soleh maupun solihah yang mampu mengangkat dan menjunjung derajat orang tuanya merupakan sebuah harapan besar dari setiap hal yang dilakukan orang tua demi terwujudnya sosok putra-putri yang soleh-solihah, oleh karena itu orang tua berusaha mencarikan pendidikan yang terbaik untuk masa depan anak-anaknya[2] Agar dapat menjadikan anak-anaknya sebagai sosok yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Proses pendidikan atau belajar, berlangsung sejak usia dini sampai akhir hayat[3] oleh sebab itu dibutuhkan pendidikan yang baik, bukan hanya pendidikan yang baik bagi dunia saja namun pendidikan yang baik bagi akhiratnya juga kelak, dan dibutuhkan peran yang baik dari pihak orang tua dan pendidik (guru), serta sebuah metode, kompetensi dan interaksi yang sangat baik pula agar mampu mewujudkan serta membangun jati diri seorang anak dalam berkompetensi sosial dan pendidikannya kelak.

Maka dari itu dalam perannya, guru merupakan suatu pekerjaan atau profesi yang sangat mulia, karenanya seorang guru harus profesional. Keprofesionalan sendiri harus selalu diikuti dengan konsekuensi yang sangat tinggi, semangat mendidik yang tak pernah padam, dan kompetensi yang harus terus dikembangkan mengikuti perkembangan teknologi[4] Kata atau istilah lain dari seorang guru adalah pendidik yang memiliki kewajiban untuk mengajar dan mendidik peserta didiknya (siswanya) melalui jalur atau dalam lembaga formal pendidikan. Sebelum membangun jati diri seorang anak yang harus dilihat dan dikembangkan terlebih dahulu dalam lembaga atau lingkungan sekolah adalah seorang pendidiknya (guru), karena sejatinya seorang pendidik (guru) adalah suri tauladan kedua setelah orang tua, yang sejatinya harus memiliki pribadi yang serba bisa dan serba tahu, serta mampu mentransferkan kebiasaan dan pengetahuan pada muridnya dengan cara yang sesuai dengan perkembangan dan potensi anak didik[5] Karena kepribadian guru memiliki peran yang sangat penting dalam keberhasilan pendidikan peserta didiknya, kepribadian guru berperan dalam pembentukan jati diri dan kepribadian peserta didiknya, pendidik bekerja melalui pribadi yang ada pada dirinya, jika pendidik memiliki pribadi yang santun dan baik maka akan melahirkan peserta didik yang santun dan baik, begitu juga sebaliknya. Dilingkungan luar sekolah, seorang pendidik juga harus menunjukkan dan menampilkan kepribadian yang santun dan baik untuk menjaga wibawa serta citra guru dimasyarakat, karena sejatinya seorang pendidik adalah suri tauladan kedua setelah orang tua yang selalu digugu dan ditiru oleh peserta didiknya serta masyarakat[6] Mendidik merupakan tugas dan tanggung jawab seorang pendidik (guru) yang harus bisa dipertanggung jawabkan atas apa yang diajarkannya pada peserta didiknya, pendidik juga bertanggung jawab dalam proses pertumbuhan, perkembangan pengetahuan serta keterampilan peserta didiknya[7]

Secara kodrati manusia akan selalu hidup bersama karena pada dasarnya manusia adalah makhluk individu dan sosial yang saling membutuhkan satu sama lain, sehingga dalam hidup bersama seperti ini akan berlangsung dalam berbagai bentuk komunikasi dan situasi, dalam hal semacam inilah dapat dikatakan terjadinya interaksi satu sama lain[8] Karena setiap orang pasti membutuhkan orang lain agar mampu mencapai tujuan yang diharapkan, sama halnya dengan seorang wali murid (orang tua peserta didik) ketika mereka medaftarkan anak-anaknya ke sekolah sama halnya dengan mereka memberi amanah kepada guru untuk membimbing dan mendidik anaknya agar mampu mengembangkan  dengan baik dan mendapatkan pendidikan yang baik untuk mencapai suatu tujuan yang diprogramkan dalam kurikulum, serta dibutuhkan kompetensi sosial dan interaksi yang baik dan tinggi bagi seorang guru dalam membimbing dan mendidik peserta didiknya.

Sebagai seorang pendidik, guru memiliki peran sangat penting[9] Serta harus memiliki kompetensi sosial yang baik dan tinggi karena berkaitan dengan sumber belajar mengajar, guru harus selalu menjalin komunikasi yang baik dengan peserta didik, orang tua, tetangga dan teman-teman seprofesi karena kompetensi sosial guru berhubungan dengan interaksi edukatif peserta didik karena bagaimana seorang siswa dapat menyerap pelajaran dengan baik jika seorang gurunya saja kurang memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan siswanya maupun wali murid (orang tua peserta didik). Setiap siswa memiliki lingkungan dan latar belakang yang berbeda-beda, sehingga hal itu dapat memengaruhi kepribadian dan juga pembentukan rasa percaya diri serta cara berinteraksi sosial dengan lingkungan sekitarnya, dengan rasa percaya diri yang dimilikinya, siswa akan mudah berinteraksi[10] Guru tidak hanya menghubungkan dan mengantarkan peserta didiknya dalam kehidupan bermasyarakat dengan baik, akan tetapi ia juga harus ikut berpartisipasi, ikut terjun langsung secara aktif didalam masyarakat tersebut sebagai contoh bagi siswanya agar dapat menerapkannya sesuai dengan pendidikan yang mereka petik dan dapatkan selama itu[11]. Dalam rangka mengarahkan atau mewujudkan tujuan-tujuan guru agar bermanfaat bagi anggota-anggotanya dan pembangunan masyarakat pada umumnya, berarti selain sebagai guru dilembaga formal, guru juga berperan sebagai pendidik sosial diluar lembaga formal) dimasyarakat, karena sekolah dan dan masyarakat saling berkaitan tidak dapat dipisahkan[12].

Guru dan peserta didik adalah frase yang serasi, seimbang dan harmonis. Hubungan keduanya berada dalam relasi kewajiban yang saling membutuhkan. “Dalam perpisahan raga, jiwa mereka bersatu sebagai dwitunggal, guru mengajar dan peserta didik belajar dalam proses interaksi edukatif yang menyatakan langkah mereka kesatu tujuan yaitu kebaikan”[13]. Dengan demikian kemuliaannya guru dapat meluruskan pribadi peserta didik yang dinamis agar tidak membelok dalam kebaikan. Guru sebagai pengajar memiliki tugas memberikan fasilitas atau kemudahan bagi suatu kegiatan belajar siswa. Demi efektivitas dan efesiensi dari suatu proses belajar mengajar, untuk itu perlu dipahami secara benar mengenai pengertian proses dan interaksi belajar mengajar. Belajar mengajar adalah dua kegiatan yang tunggal tetapi memiliki makna yang berbeda. Belajar dapat diartikan sebagai proses/perubahan tingkah laku[14] Karena hasil dari pengalaman yang diperoleh. Dan bentuk relasi serta interaksi yang diharapkan ialah adanya suasana yang menyenangkan, saling akrab satu sama lain baik dari siswa dengan siswa maupun siswa dengan guru, saling pengertian, dan saling memahami, hingga siswa dapat merasakan bahwa dia dididik dengan penuh cinta serta tanggung jawab Proses belajar mengajar merupakan bentuk interaksi edukatif seorang pendidik dengan peserta didik dalam situasi dan kondisi tertentu.

Baca Juga :  Pengertian Penilaian

Mengajar atau mendidik bukanlah pekerjaan yang mudah dilakukan tanpa perencanaan, pengelolaan dan pengorganisasian sebelumnya[15] tetapi mendidik merupakan kegiatan yang harus terencana dan dirancang sedemikian rupa dengan mengikuti sistematika dan prosedur-prosedur yang berlaku dan yang telah ditetapkan, sehingga proses pendidikan dapat berjalan dan berlangsung dengan baik serta dapan difahami dan dicerna dengan baik oleh peserta didik[16]. Dengan begitu interaksi edukatif adalah hubungan atau timbal balik antara pendidik dan peserta didik[17] dengan berbagai bentuk peraturan dan rancangan pembelajaran yang telah direncanakan dan disusun untuk mencapai suatu tujuan pendidikan yang diharapkan.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini dibuat dan diambil berdasarkan hasil observasi dan wawancara , yang mana penelitian ini menggunakan jenis metode kulitatif yang merupakan sebuah metode penelitian yang bersifat riset dan analisis data yang dilakukan secara mendalam hingga dapat difahami dan diambil poin-poin penting tentang sebuah social problem[18] yang ada dimasyarakat. Dengan menggunakan metode kualitatif ini, pemahaman akan topik yang diangkat bisa didapatkan secara luas dan lebih detail karena penelitian dengan metode kulitatif ini, lebih menekankan pada proses penelitian dibandingkan dengan hasil yang dicapai / peroleh. Selain itu metode penelitian kualitatif ini, lebih banyak menggunakan sumber data dari lingkungan sekitar yang sedang diteliti dan juga menggunakan sumber data yang diperoleh melalui sumber referensi.

PEMBAHASAN
Dalam proses tumbuh kembang seorang anak, orang tua sangat berperan penting dalam hal ini, yang dimana orang tua harus turut andil dalam proses tumbuh kembangnya seorang anak dengan melakukan pola asuh yang baik terhadap anak. Dalam pola pengasuhanya, yakni yang berupa interaksi serta komunikasi orang tua kepada anak dengan memberikan sebuah perhatian dan peraturan kepada anak[19] tidak hanya itu, orang tua juga harus memiliki interaksi dan komunikasi yang baik dengan guru pendidik anaknya disekolah, karena dalam hal ini guru juga turut andil dan mengambil bagian didalamnya. Akan tetapi peran guru pendidik dalam proses tumbuh kembang seorang anak didiknya terbatas hanya pada saat anak didik berada dilingkungan sekolah, tetapi interaksi dan komunikasi antara guru dan orang tua agar dapat membangun dan membentuk kompetensi sosial dan pendidikan yang baik bagi anak seperti apa yang diharapkan, maka harus tetap saling bekerja sama dalam hal itu.

Dari data hasil penelitian yang dilakukan melalui observasi dan wawancara kepada beberapa guru dan orang tua dalam upaya mengoptimalkan kompetensi sosial dan pendidikan bagi anak ditingkat usia sekolah dasar maka kami dapat mengetahui dan menyimpulkan bahwa :

1.      Dalam metode interaksi Parenting
Ditengah kehidupan yang serba modern dengan teknologi yang semakin canggih ini, peran orang tua sangatlah penting. Mengingat jam anak paling banyak dengan keluarga dirumah dibanding disekolah, jadi peran ibu sangatlah penting dalam mendidik dan mengasuh anak. Dalam pengasuhan anak oleh orang tua, orang tua mengupayakan mengoptimalkan kompetensi sosial dan pendidikan anak ditingkat sekolah dasar dengan menggunakan beberapa metode yang berbeda-beda, diantaranya yaitu :

1.Cara mengasuh dan mendidik anak ditengah kehidupan yang serba modern dengan teknologi yang semakin canggih : Dengan mengenalkan fungsi, manfaat dan dampak buruk yang ditimbulkan akibat teknologi jika salah digunakan. Dan mengawasi serta membimbing anak dalam segala hal.

2.Pola asuh yang digunakan sebagai bentuk pengasuhan terhadap anak : Dengan menerapkan sikap disiplin yang dimulai sejak dini, terutama sebagai orang tua harus memberikan contoh dan mengajak anak turut serta dalam kedisiplinan tersebut. Misal : Bangun pagi dan melaksanakan sholat shubuh berjama’ah.
3.  Cara mengatasi anak yang hiperaktif dirumah :

  • Anak diberikan perhatian lebih sebelum anak mencari perhatian sendiri
  • Bersikap tegas pada anak, tetapi tidak sampai memarahi apalagi berkata bahwa dia nakal atau tidak bisa diam karena jika kita sampai berkata seperti itu maka anak akan merasa frustasi dan down akan kepercayaan dirinya
  • Selalu mengajak anak belajar dengan menggunakan metode yang menyenangkan agar anak tidak jenuh dan kehiperaktifan perilaku anak dapat berubah menjadi kehiperaktifan dalam hal pengetahuan dan pembelajaran hingga dapat menumbuhkan sikap percaya diri dalam kegiatan belajar, dia berani dan mampu menunjukkan kemampuan pengetahuannya saat guru memberi pertanyaan
  • Memberi motivasi dan mengajak anak bicara bersama, serta menceritakan teladan-teladan yang baik
  • Berkomunikasi dengan guru disekolahnya apakah anaknya juga seperti itu saat disekolah, dan bekerja sama dengan gurunya bagaimana cara mengatasi dan mencari solusi terbaiknya.
4.      Cara mengatasi anak yang cenderung anti sosial : Mengajak anak lebih aktif dengan mengajak anak berkunjung ke tempat ramai atau tempat wisata untuk mengenalkan lingkungan sekitarnya, seperti : kebun binatang, tempat-tempat rekreasi, dengan begitu anak akan lebih aktif. Dan tidak memberikan hp pada anak yang belum cukup umur.

Baca Juga :  Ujian Nasional Dengan Kosep Baru ?

5.Metode dan pendekatan yang digunakan dalam berinteraksi dengan anak saat dirumah : Dengan cara mengenalkan anak pada buku-buku yang sesuai dengan umur anak dengan didampingi untuk belajarnya, serta setiap akan tidur dibacakan cerita-cerita pendek, cerita-cerita nabi atau cerita-cerita teladan lain yang baik.

6.Upaya dalam mengatasi pola interaksi anak jaman sekarang yang kurang memiliki tata krama dan sopan santun saat berinteraksi dengan orang yang jauh lebih tua dengannya : Dengan memberikan pengertian dan perhatian penuh pada anak serta memberikan contoh dengan cara orang tua juga bertutur kata sopan dan santun pada anak, dan menerapkannya setiap hari agar anak juga dapat terbiasa mendengarkan dan melihat bagaimana bertutur kata sopan dan santun, sehingga anak dapat meniru dan menerapkannya juga.

7.Upaya dalam meningkatkan kompetensi sosial dan pendidikan anak selain disekolah : Dengan cara mengajarkan pada anak untuk berbagi dengan siapa pun dan dimana pun, misal : Mengajak anak untuk mengunjungi yayasan panti asuhan dengan berbagi pada anak-anak yang kurang mampu akan menumbuhkan rasa empati pada anak.
8.Upaya untuk meningkatkan pola giat belajar pada anak[20] :

  • Dengan menanyai akan kegiatan belajarnya disekolah, apakah ada tugas atau tidak
  • Mendampingi dan mengajak anak untuk belajar bersama
  • Senantiasa memberikan anak motivasi serta apresiasi untuk kegiatan yang telah dilakukan
  • Selalu berkomunikasi dengan gurunya disekolah serta menanyakan bagaimana perkembangan belajar dan sikap anaknya saat disekolah.
2.Dalam metode interaksi Teacher Guidance
Dalam bimbingan guru kepada anak didiknya ditingkat sekolah dasar untuk mengupayakan mengoptimalkan kompetensi sosial dan pendidikan anak didiknya ditingkat sekolah dasar, juga memiliki dan menggunakan metode yang berbeda-beda, diantaranya yaitu :

1.Cara mendidik siswa disekolah : Dengan memperhatikan kondisi siswa dengan melihat kompleksitas, daya dukung, watak siswa sehingga dapat dekat dengan perangkat mengajar yang sesuai dengan metode yang tepat dan menyenangkan.
2.      Cara menangani siswa yang hiperaktif adalah :

  • Siswa diberikan perhatian sebelum anak mencari perhatian sendiri dengan mengalihkan berbagai kegiatan lain, apabila anak mudah sekali merasa bosan
  • Mencari faktor pemicu dari perilaku tersebut
  • Memindahkan anak ke bangku yang mudah dijangkau guru agar tidak menggangu siswa lain
  • Memberikan perlakuan yang sama dengan yang lainnya
  • Membantu anak untuk menenangkan diri saat frustasi dan marah. Misal : mengatur nafas anak tersebut
  • Bersikap tegas selalu, jangan bersikap marah
  • Selalu berkomunikasi dengan orang tua.
3. Cara menangani siswa yang cenderung diam dan kurang memiliki keberanian dalam berinteraksi dikelas :
  • Memberikan semangat dan memotivasi siswa agar berani
  • Memberikan pujian dan apresiasi kepada siswa atas pekerjaannya.
4. Upaya untuk meningkatkan pola giat belajar pada siswa :
  • Menggunakan metode yang beragam dan menyenangkan
  • Menjadikan siswa aktif
  • Membuat tugas yang menantang tapi realistis
  • Menciptakan suasana kelas yang kondusif.
5.      Upaya mengatasi pola interaksi anak jaman sekarang yang kurang memiliki tata krama dan sopan santun saat berinteraksi dengan orang yang jauh ebih tua dengannya :
  • Memberikan contoh dan teladan kepada siswa untuk bersikap sopan dengan tidak bosan-bosannya menyampaikan kisah-kisah teladan ulama’ dan orang-orang sholeh
  • Memberikan hukuman yang mendidik bagi siswa yang sering berkata tidak sopan dan tidak baik
6.      Upaya meningkatkan kompetensi sosial dan pendidikan siswa disekolah :
  • Selalu berkomunikasi santun
  • Bergaul secara efektif
  • ersikap terbuka dan jujur.

KESIMPULAN
Dari data hasil penelitian yang dilakukan melalui observasi dan wawancara serta dari pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa interaksi parenting dan teacher guidance sangatlah diperlukan sebagai upaya mengoptimalkan kompetensi sosial dan pendidikan pada anak. Karena pada setiap pembentukan karakter, pengetahuan, kreatifitas, jati diri, kompetensi dan pendidikan seorang anak diperlukan adanya bimbingan dan arahan yang baik dari orang tua dan guru agar dapat terbentuk pribadi dan kompetensi anak yang baik sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orang tuanya. Maka dari itu, dibutuhkan interaksi dan komunikasi yang baik pula antara orang tua dengan anak, guru dengan anak/(siswa), serta orang tua dengan guru, karena pada lingkup pembentukan kepribadian dan kompetensi seorang anak, semua itu saling berhubungan dan berkaitan.

DAFTAR PUSTAKA
Aliyah, Amira, Akmal Hawi, and Mardeli. “Hubungan Antara Kompetensi Kepribadian Guru Dengan Pendidikan Karakter Tanggung Jawab Siswa Kelas IX Di Smp Islam Az-Zahrah Palembang.” P A I R a d e n F a t a H 1 (2019): 128–38.
Amin, Amannasrullah. “Hubungan Interaksi Sosial Pendidik Dengan Interaksi Edukatif Dalam Perspektif Peserta Didik.” Al-Bidayah 11 (2019).
Andriani, Febri Dwi Cahyani Fitri. “Hubungan Antara Persepsi Siswa Terhadap Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Kepribadian, Dan Kompetensi Sosial Guru Dengan Motivasi Berprestasi Siswa Akselerasi Di SMA Negeri I Gresik.” Psikologi Pendidikan Dan Pengembangan 3, no. 2 (2014): 77–88.
Hazadiyah, Dina, N Kardinah, and Imam Sunardi. “Diri Pada Siswa.” Jurnal Ilmiah Psikologi 5, no. 105 (n.d.): 667–76.
Ilyas, Muh Ismail. “Kinerja Dan Kompetensi Guru Dalam Pembelajaran.” Lentera Pendidikan 13, no. 1 (2010): 44–63.
Inah, Ety Nur. “Peran Komunikasi Dalam Interaksi Guru Dan Siswa.” Al-Ta’dib 8, no. 2 (2015): 150–67.
Istihana. “Pengelolaan Kelas Di Madrasah Ibtidaiyah 267.” Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar 2 (2015): 267–84.
Liberna, Hawa. “Membangun Interaksi Edukatif Yang Bernilai Normatif Melalui Pengajaran Berbasis Aktifitas.” Jurnal Formatif 2, no. 2 (n.d.): 149–57.
Mollah, Moch. Kalam. “Konsep Interaksi Edukatif Dalam Pendidikan Islam Dalam Perspektif Al-Quran.” Peniddikan Agama Islam 3, no. 2 (2015): 235–56.
Napitupulu, and Dedi Sahputra. “Proses Pembelajaran Melalui Interaksi Edukatif Dalam Pendidikan Islam.” Takziya 8, no. 1 (2019): 125–38.
Nazi, Muhammad. “Pentingnya Interaksi Edukatif Pendidik (Guru) Dalam Upaya Pembentukan Akhlak Peserta Didik Di Sekolah,” 2014, 94.
Pramujiono, Agung, and Nunung Nurjati. “Guru Sebagai Model Kesantunan Berbahasa Dalam Interaksi Instruksional Di Sekolah Dasar.” Jurnal Indonesia Untuk Kajian Pendidikan 2, no. September (2017): 143–54.
Puluhulawa, Citro W. “Kecerdasan Emosional Dan Kecerdasan Spiritual Meningkatkan Kompetensi Sosial Guru the Role of Emotional and Spiritual Intelligences in Improving Teachers Social Competence” 17, no. 2 (2013): 139–47. https://doi.org/10.7454/mssh.v17i2.
Pulungan, Listi Ideria, Rustyarso, and Okianna. “Interaksi Sosial Antara Guru Dan Siswa Dalam Proses Pembelajaran Di Sekolah Dasar,” n.d., 1–10.
Ramli, M. “Hakikat Pendidik Dan Peserta Didik” 5, no. 20 (2015): 61–85.
Rifai, Moh. “Metode Interaksi Parenting Upaya Mengoptimalkan Pendidikan Siswa Sejak Dini,” n.d., 193–201.
Saepudin, Asep, and Saly Ulfah. “Penerapan Program Parenting Berbasis E-Learing Dalam Mengembangkan Kemampuan Mendidik Anak (Studi Pada Anggota Komunitas Institut Ibu Profesional Di Bandung).” Jurnal Teknodik 18, no. 2 (2014): 241–50.
Safitri, Wirda, Ari Sofia, and Vivi Irzalinda. “Peran Orang Tua Terhadap Kepercayaan Diri Anak Usia 5-6 Tahun,” no. 1 (n.d.).
Santik, Dewa Ayu Putu Candra, I Gede Mahendra Darmawiguna, and Gede Saindra Sanyadiputra. “Hubungan Antara Kompetensi Pedagogik Dan Profesionel Guru Ppl Jurusan Pendidikan Teknik Informatika Terhadap Motivasi Belajar Siswa SMK Se-Kota Singaraja.” Janapati 6, no. 3 (2017): 271–82.
Subri. “Teori Belajar Perspektif Pendidikan Islam.” Qathruna 1, no. 1 (2014): 145–78.

Baca Juga :  Do’a Dan Keajaiban

Catatan Kaki :
[1] Saepudin, Asep and Ulfah, Saly, “Penerapan Program Parenting Berbasis E-Learing Dalam Mengembangkan Kemampuan Mendidik Anak (Studi Pada Anggota Komunitas Institut Ibu Profesional Di Bandung),” Jurnal Teknodik 18, no. 2 (2014): 241–50.
[2] Rifai, Moh, “Metode Interaksi Parenting Upaya Mengoptimalkan Pendidikan Siswa Sejak Dini,” n.d., 193–201.
[3] Subri, “Teori Belajar Perspektif Pendidikan Islam,” Qathruna 1, no. 1 (2014): 145–78.
[4] Puluhulawa, Citro W, “Kecerdasan Emosional Dan Kecerdasan Spiritual Meningkatkan Kompetensi Sosial Guru the Role of Emotional and Spiritual Intelligences in Improving Teachers Social Competence” 17, no. 2 (2013): 139–47, https://doi.org/10.7454/mssh.v17i2.
[5] Ramli, M, “Hakikat Pendidik Dan Peserta Didik” 5, no. 20 (2015): 61–85.
[6] Aliyah, Amira, Hawi, Akmal, and Mardeli “Hubungan Antara Kompetensi Kepribadian Guru Dengan Pendidikan Karakter Tanggung Jawab Siswa Kelas IX Di Smp Islam Az-Zahrah Palembang,” P A I R a d e n F a t a H 1 (2019): 128–38.
[7] Amin, Amannasrullah, “Hubungan Interaksi Sosial Pendidik Dengan Interaksi Edukatif Dalam Perspektif Peserta Didik,” Al-Bidayah 11 (2019).
[8] Nazi, Muhammad, “Pentingnya Interaksi Edukatif Pendidik (Guru) Dalam Upaya Pembentukan Akhlak Peserta Didik Di Sekolah,” 2014, 94.
[9] Pramujiono, Agung and Nurjati, Nunung, “Guru Sebagai Model Kesantunan Berbahasa Dalam Interaksi Instruksional Di Sekolah Dasar,” Jurnal Indonesia Untuk Kajian Pendidikan 2, no. September (2017): 143–54.
[10] Hazadiyah, Dina, Kardinah, N and Sunardi, Imam, “Diri Pada Siswa,” Jurnal Ilmiah Psikologi 5, no. 105 (n.d.): 667–76.
[11] Ilyas, Muh Ismail, “Kinerja Dan Kompetensi Guru Dalam Pembelajaran,” Lentera Pendidikan 13, no. 1 (2010): 44–63.
[12] Santik, Dewa Ayu Putu Candra, Darmawiguna, I Gede Mahendra and Sanyadiputra, Gede Saindra, “Hubungan Antara Kompetensi Pedagogik Dan Profesionel Guru Ppl Jurusan Pendidikan Teknik Informatika Terhadap Motivasi Belajar Siswa SMK Se-Kota Singaraja,” Janapati 6, no. 3 (2017): 271–82.
[13] Andriani, Febri Dwi Cahyani Fitri, “Hubungan Antara Persepsi Siswa Terhadap Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Kepribadian, Dan Kompetensi Sosial Guru Dengan Motivasi Berprestasi Siswa Akselerasi Di SMA Negeri I Gresik,” Psikologi Pendidikan Dan Pengembangan 3, no. 2 (2014): 77–88.
[14] Liberna, Hawa, “Membangun Interaksi Edukatif Yang Bernilai Normatif Melalui Pengajaran Berbasis Aktifitas,” Jurnal Formatif 2, no. 2 (n.d.): 149–57.
[15] Istihana, “Pengelolaan Kelas Di Madrasah Ibtidaiyah 267,” Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar 2 (2015): 267–84.
[16] Inah, Ety Nur, “Peran Komunikasi Dalam Interaksi Guru Dan Siswa,” Al-Ta’dib 8, no. 2 (2015): 150–67.
[17] Pulungan, Listi Ideria, Rustyarso and Okianna, “Interaksi Sosial Antara Guru Dan Siswa Dalam Proses Pembelajaran Di Sekolah Dasar.”
[18] Napitupulu and Sahputra, Dedi, “Proses Pembelajaran Melalui Interaksi Edukatif Dalam Pendidikan Islam,” Takziya 8, no. 1 (2019): 125–38.
[19] Safitri, Wirda, Sofia, Ari and Irzalinda, Vivi, “Peran Orang Tua Terhadap Kepercayaan Diri Anak Usia 5-6 Tahun,” no. 1 (n.d.).
[20] Mollah, Moch Kalam, “Konsep Interaksi Edukatif Dalam Pendidikan Islam Dalam Perspektif Al-Quran,” Peniddikan Agama Islam 3, no. 2 (2015): 235–56.

Oleh: Chasnah Nailah

Tags: