Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kecerdasan Emosional Anak

Abstract This study aims to determine whether there is an influence of parenting parents on children’s emotional intelligence. The method used in this research is interview and observation. Parenting is a way of caring for children to shape the child’s character and develop children’s emotional intelligence. Parents are the first teachers to educate their children. Various forms of treatment are authoritarian, democratic, permissive. Parenting applied by parents greatly affect the emotional intelligence of children.
Keywords: parenting, emotional intelligence
 Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kecerdasan Emosional Anak
Abstrak Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pola asuh orang tua terhadapa kecerdasan emosional anak. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah wawancara dan observasi. Pola asuh adalah cara pengasuhan orang tua untuk membentuk karakter anak dan mengembangkan kecerdasan emosial anak. Orang tua merupakan guru pertama untuk mendidik anaknya.macam-macam bentuk pola asuh yaitu otoriter, demokratis, permisif. Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua sangat mempengaruhi kecerdasan emosional anak.
Kata kunci: kecerdasan emosional dan pola asuh orang tua      

Pendahuluan
perkembangan emosional pada anak sangat penting, karena akan dapat mempengaruhi kehidupan anak pada masa yang akan mendatang. Dengan anak memiliki kecerdasan emosional, diharapkan anak dapat bertahan dalam menghadapi berbagai masalah-masalah yang akan terjadi dalam kehidupannya. Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional anak antara lain orang tua. Orang tua adalah kunci yang utama untuk meraih kesuksesan anak, dari orang tua juga anak pertama kali mengenal dunia ini dengan melalui orang tua anak dapat mengembangkan seluruh aspek pribadinya. Orang tua memiliki peran sangat penting bagi perkembangan anak, yaitu dengan bertanggung jawab untuk mendidiknya, mengasuhnya, dan membimbingnya, agar mencapai tahapan tertentu sehingga pada akhirnya seorang anak siap dalam kehidupan bermasyarakat.[1]

Namun sekarang, banyak dari orang tua tidak menyadari akan tugasnya, sehingga dalam mendidik anak, orang tua menerapkan bentuk atau tipe pola asuh yang sangat tidak tepat dan tidak baik. Pola asuh artinya pengasuhan yang dilakukan oleh orang tua untuk  memimpin anaknya sehingga mempengaruhi perkembangan karakter anak. Dengan menerapkan bentuk pola asuh yang tidak baik dan tidak tepat, maka perkembangan emosional anak tidak berkembang dengan baik.

Pola asuh yang digunakan orang tua berperan sangat penting dalam mengembangkan kecerdasan emosional anak. Kecerdasan emosional anak dapat menjadikan landasan yang kuat untuk pendidikan secara ilmiah. Kecerdasan emosional merupakan faktor yang dominan dalam mempengaruhi keberhasilan dimasa yang akan mendatang. Dengan  mengajari anak keterampilan emosi, mereka akan mampu mengatasi masalah-masalah yang timbul selama proses perkembangan anak menuju dewasa.[2]

Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa pola asuh yang digunakan orang tua dapat mempengaruhi kecerdasan emosional anak. Dalam kesempatan ini, saya tertarik untuk meneliti adakah pengaruh orang tua terhadap kecerdasan emosional anak, Karena saya ingin mengetahui adakah pengaruh pola asuh yang digunakan atau diterapkan oleh orang tua terhadap kecerdasan emosional anak.

Metode penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif yaitu proses penelitian yang digunakan peneliti berdasarkan pada metodologi untuk menyelidiki suatu fenomena atau peristiwa sosial dan masalah-masalah manusia. Pendekatan ini menghasilkan data yang berupa teks tertulis atau kata lisan dari orang yang diteliti dan diamati. Tujuan menggunakan pendekatan ini untuk mendeskripsikan bentuk pola asuh apa yang digunakan orang tua untuk mendidik anaknya sehingga dapat mempengaruhi kecerdasan emosional anak tersebut.

Teknik merupakan cara yang dilakukan oleh peneliti untuk mengumpulkan data-data atau pengumpulan data. Pengumpulan data adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh peneliti dalam upaya menganalisis data lapangan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik mengumpulkan data yang berupa wawancara, dan observasi.

Baca Juga :  Pentingnya Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Hasil dan Pembahasan
Pola asuh orang tua
Berdasarkan hasil penelitian yang di dapat, pengaruh pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadap anaknya sangat berpengaruh kepada kecerdasan emosional anak, hasil ini dapat dilihat ketika observasi. Berdasarkan hasil dari observasi banyak bentuk pola asuh yang diterapkan dan digunakan oleh orang tua untuk mendidik anaknya. Dari hasil observasi dapat diketahui bahwa banyak orang tua yang menerapkan berbagai bentuk pola asuh.

Apakah ibu memberikan kesempatan pada anaknya untuk membicarakan tentang apa yang ia inginkan? Jawaban responden sangatlah berbeda-beda, ada yang memberikan kesempatan untuk anak berbicara dan ada yang tidak memberikan kesempatan anaknya untuk berbicara tentang keinginannya anak. Orang tua yang tidak memberikan kesempatan anak untuk berbicara tentang keinginan anaknya karena orang tua takut apa yang diinginkan anaknya itu bersifat jelek, sehingga mereka tidak mau memberikan kesempatan untuk anaknya berbicara tentang apa yang dia inginkan. Orang tua yang memperbolehkan anaknya untuk bicara tentang keinginannya itu merupakan menerapkan pola asuh demokratis.

Apakah ibu membatasi tentang pergaulan kepada anak? Jawaban responden sangat beragam, yaitu ada orang tua yang membatasi dan ada yang tidak membatasi tentang pergaulan anaknya. Jika orang tua membatasi tentang pergaulan anak dikarenakan mereka takut anaknya kenapa-napa jika berada dalam pergaulan bebas. 

Pola asuh otoriter adalah bentuk atau tipe pola asuh yang dapat menyebabkan anak kesulitan untuk bersosialisasi dan susah mendapatkan teman baru, karena dalam mengasuh anaknya orang tua memberikan larangan dan aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh anak.[3] Pola asuh otoriter mengakibatkan menjadi anak yang tidak dapat mengambil keputusan, kurang percaya diri, dan pemalu. Pola asuh otoriter ini menggunakan aturan-aturan yang terlalu ketat sehingga dapat menyebabkan anak menjadi kurang kreatif, dan dapat berpengaruh pada  keaktifan anak dalam pergaulan.[4]

Pola asuh asuh demokratis, mempunyai prinsip untuk mendorong anak supaya mandiri, berilaku moral yang baik sesuai dengan harapan. Pola asuh demokrasi, pola asuh yang memberikan dukungan, ekspetasi yang tinggi terhadap anak.

Pola asuh orang tua dapat mengarahkan anaknya dalam membentuk karakter yang positif yang didasari dengan kasih sayang serta menerima anak sesuai dengan kemampuannya. Dorothy Low Nolte (Khamim, 2005: 59-60), memberikan gambaran orang tua harus memperlakukan anak sebagai berikut: “Jika anak dibesarkan dengan adanya toleransi, maka dia akan terbiasa untuk menahan dirinya. Jika anak dibesarkan dengan diberi pujian, maka dia akan belajar untuk menghargai. Jika anak dibesarkan dengan rasa yang aman, maka dia akan belajar memberi kepercayaan terhadap orag lain. Jika anak dibesarkan adanya dukungan, maka dia akan menyayangi diri sendiri. Dan jika anak dibesarkan dengan penuh kasih, sayang dan persahabatan, dia akan belajar untuk  menemukan cinta dan kasih dalam kehidupannya.[5]

Baca Juga :  Sampah Plastik Menyebabkan Biota Laut Mati

Gambaran perlakuan yang harus dilakukan oleh orang tua kepada anaknya di atas menunjukkan bahwa pola asuh yang diterapkan orang tua sangat erat kaitannya dengan memberikan kebebasan anak untuk mengekspresikan dirinya namun orang tua tetap melakukan pengawasan terhadap apa yang dilakukan anaknya. Apa yang dilakukan oleh orang tua akan dapat membentuk kecerdasan emosional anak.

Setiap tipe atau bentuk pola asuh mempunyai kekurangan dan kelebihan tersendiri, sehingga tidak semua orang tua itu nyaman menerapkan dan menggunakan tipe pola asuh yang dianggap mereka baik oleh orang lain, dikarenakan setiap orang tua mempunyai cara pandang tersendiri yang beda-beda dalam mengasuh dan mendidik anaknya.

Kecerdasan emosional anak
Kecerdasan emosional anak adalah kemampuan seorang anak untuk menilai, maka mengelola dan mengontrol gejolak emosi di dalam dirinya dan juga terhadap orang lain dan situasi di sekelilingnya. Menurut Goleman (2002:512), kecerdasan emosional ialah kemampuan seseorang untuk mengatur kehidupan dalam emosinya, menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya, melalui keterampilan pengendalian diri, kesadaran diri, motivasi diri, empati, dan keterampilan sosial. [6]

Goleman (2005:39) mengadaptasikan dalam model Salovey-Mayer membagi kecerdasan emosional ke dalam 5 unsur meliputi: pengaturan diri, kesadaran diri, empati, motivasi, dan cakap dalam membentuk suatu hubungan dengan orang lain. Dari lima unsur itu dikelompokkan lagi menjadi dua, yaitu: yang pertama, kecakapan pribadi meliputi kesadaran diri, motivasi, dan pengaturan diri. Yang kedua, kecakapan sosial meliputi ketrampilan sosial dan empati.[7]    

Apakah ada pengaruh pola asuh yang digunakan oleh orang tua terhadap kecerdasan emosional anak? Jawaban responden sangat bermacam-macam, karena setiap orang tua memiliki cara tersendiri dalam mendidik dan membesarkan anaknya, orang tua memiliki cara pandang sendiri apa yang terbaik untuk anaknya, dan menentukan bentuk pola asuh yang akan diterapkan untuk membesarkan anaknya. Pola asuh yang di terapkan orang tua sangat berpengaruh, karena cara mendidik anak sangat berpengaruh pada kecerdasan emosionalnya. Jika menerapkan pola asuh yang tidak tepat maka kecerdasan emosional anak akan berkembang tidak baik. Dengan anak mempunyai kecerdasan emosial setidaknya anak tersebut dapat menyelesesaikan masalah-masalah yang akan ia hadapi.

Kecerdasan emosional sangat diperlukan untuk mencegah tumbuhnya sifat mementingkan diri sendiri, mengutamakan tindak kekerasan dan sifat-sifat jahat yang lain (Zuchdi, 2008, p.112). Pada dasarnya anak butuh diasuh agar mempunyai kecerdasan emosional, dikarenakan anak tidak dapat memiliki taraf kecerdasan yang sudah membentuk dari sana nya dan tidak memiliki perkembangan yang tidak bisa diubah.[8]

Pola asuh yang tepat untuk perkembangan kecerdasan emosional anak adalah pola asuh demokratis. karena pola asuh demokratis memiliki prinsip tentang kebebasan yang akan dijalankan oleh anak untuk berbagai aspek kegiatan di dalam keluarga, sehingga dengan pola asuh demokratis membuat orang tua dapat memperhatikan anaknya sebagai individu yang utuh lahir batin. Dengan orang tua menggunakan pola asuh demokratis akan terciptanya anak menjadi mandiri, siap untuk menghadapi masalah-masalah yang akan datang dimasa depan.    

Kesimpulan
Dari observasi yang saya lakukan terdapat banyak jenis atau bentuk pola asuh yang bisa diterapkan oleh orang tua, yaitu: pola asuh otoriter, demokratis, dan permisif. Dari berbagai bentuk jenis pola asuh tersebut orang tua banyak yang menerapkan jenis pola asuh demokratis . Pola asuh yang digunakan orang tua ternyata sangat mempengaruhi kecerdasan emosional anak, karena dengan diterapkan pola asuh yang baik terhadap anak, anak dapat meningkatkan kecerdasan emosional dengan baik.

Baca Juga :  Fungsi Filsafat Ilmu dalam Pengembangan Pendidikan

Daftar pustaka
Chandri, desy makarti, Marmawi R, and Desni Yuniarti. “Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kecerdasan Emosional Anak Usia 5-6 Tahun.” Pendidikan Dan Pembelajaran Khatulistiwa 3 (2014).
Gusniwati, Mira. “Pengaruh Kecerdasan Emosional Dan Minat Belajar Terhadap Penguasaan Konsep Matematika Siswa SMAN Di Kecamatan Kebon Jeruk.” Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA 5, no. 1 (2015): 26–41. https://doi.org/10.30998/formatif.v5i1.165.
Jannah, Husnatul. “Bentuk Pola Asuh Orang Tua Dalam Menanamkan Perilaku Moral Pada Anak Usia Di Kecamatan Ampek Angkek.” Pesona Paud 1 (2012): 257–58.
Kusniapuantari, Daning, and Yoyon Suryono. “Pengaruh Kerja Sama Antara Pendidik Dan Orangtua Terhadap Pengembangan Kecerdasan Emosional Anak the Effect of the Cooperation Between Teachers and Parents on the Development of the Emotional Intelligence of the Children.” Jurnal Pendidikan Dan Pemberdayaan Masyarakat 1, no. 1 (2014): 18–31.
Pramawaty, Nisha, and Elis Hartati. “Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Konsep Diri Anak Usia Sekolah (10-12 Tahun).” Jurnal Keperawatan Anak 1 (2012): 87–92.
Putro, Khamim Zarkasih. “Pengaruh Pola Asuh Dan Interaksi Teman Sebaya Terhadap Kecerdasan Emosional Anak Di Ra Arif Rahman Hakim Yogyakarta.” Jurnal Pendidikan Anak 1, no. 2 (2015): 97–108.
Tikollah, M. Ridwan, Iwan Triyuwono, and H. Unti Ludigdo. “Pengaruh Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional, Dan Kecerdasan Spiritual Terhadap Sikap Etis Mahasiswa Akuntansi.” Experimental Gerontology 96 (2017): 138–45. https://doi.org/10.1016/j.exger.2017.06.020.

Catatan Kaki :
[1] Daning Kusniapuantari and Yoyon Suryono, “Pengaruh Kerja Sama Antara Pendidik Dan Orangtua Terhadap Pengembangan Kecerdasan Emosional Anak the Effect of the Cooperation Between Teachers and Parents on the Development of the Emotional Intelligence of the Children,” Jurnal Pendidikan Dan Pemberdayaan Masyarakat 1, no. 1 (2014): 18–31.
[2] desy makarti Chandri, Marmawi R, and Desni Yuniarti, “Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kecerdasan Emosional Anak Usia 5-6 Tahun,” Pendidikan Dan Pembelajaran Khatulistiwa 3 (2014).
[3] Husnatul Jannah, “Bentuk Pola Asuh Orang Tua Dalam Menanamkan Perilaku Moral Pada Anak Usia Di Kecamatan Ampek Angkek,” Pesona Paud 1 (2012): 257–58.
[4] Nisha Pramawaty and Elis Hartati, “Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Konsep Diri Anak Usia Sekolah (10-12 Tahun),” Jurnal Keperawatan Anak 1 (2012): 87–92.
[5] Khamim Zarkasih Putro, “Pengaruh Pola Asuh Dan Interaksi Teman Sebaya Terhadap Kecerdasan Emosional Anak Di Ra Arif Rahman Hakim Yogyakarta,” Jurnal Pendidikan Anak 1, no. 2 (2015): 97–108.
[6] Mira Gusniwati, “Pengaruh Kecerdasan Emosional Dan Minat Belajar Terhadap Penguasaan Konsep Matematika Siswa SMAN Di Kecamatan Kebon Jeruk,” Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA 5, no. 1 (2015): 26–41, https://doi.org/10.30998/formatif.v5i1.165.
[7] M. Ridwan Tikollah, Iwan Triyuwono, and H. Unti Ludigdo, “Pengaruh Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional, Dan Kecerdasan Spiritual Terhadap Sikap Etis Mahasiswa Akuntansi,” Experimental Gerontology 96 (2017): 138–45, https://doi.org/10.1016/j.exger.2017.06.020.
[8] Kusniapuantari and Suryono, “Pengaruh Kerja Sama Antara Pendidik Dan Orangtua Terhadap Pengembangan Kecerdasan Emosional Anak the Effect of the Cooperation Between Teachers and Parents on the Development of the Emotional Intelligence of the Children.”

Oleh : Putri Indriyanti

Tags: