Lunturnya Budaya Sopan Santun Peserta Didik Kelas Vi Mi Islamiyah Banjarsari Buduran Sidoarjo

ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar hilangnya sikap sopan santun pada peserta didik di MI Islamiyah Banjarsari Buduran Sidoarjo. Metode yang dilakukan ialah deskriptif kualitatif. Dimana teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data ialah dengan membagikan angket kuisioner yang hasil responden dijadikan sebagai acuan. Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan bukti bahwa di Indonesia ini, terutama pada peserta didik kelas VI MI Islamiyah budaya sopan santun sudah mulai luntur, moral generasi bangsa telah terkontaminasi dengan hal hal buruk dengan seiringnya perkembangan zaman.
Kata Kunci: Moral, Pendidikan karakter, Sopan Santun

Lunturnya Budaya Sopan Santun Peserta Didik Kelas Vi Mi Islamiyah Banjarsari Buduran Sidoarjo

PENDAHULUAN
Budaya sopan santun sangatlah melekat pada jati diri orang jawa. Namun, hal itu sepertinya pada era milenial ini bukanlah lagi menjadi sebuah keharusan dalam menjaga julukan yang sudah melekat. Lunturnya budaya sopan santun ini disebabkan berbagai faktor. Diantara faktor yang paling mendominasi yaitu kemajuan teknologi. Para siswa sibuk dengan gadget masing-masing tanpa memperduliakan adanya guru dihadapannya, temannya sedang membutuhkan, jam pelajaran sudah dimulai, dan segala hal lain. Dan juga didukung oleh faktor apa yang dia dapatkan saat “golden age”. Orangtua saat ini kurang memperhatikan anak pada masa emasnya sehingga anak tersebut lebih cepat mengetahui segala hal yang ada. Faktor asupan, jika dibandingkan antara anak yang meminum asi saat ia usia balita, dan anak yang diberi susu formula saat balita akan terlihat dampaknya ketika ia sudah memasuki usia sekolah dasar.

Fakta yang ada bahwa Sekolah Dasar memiliki fungsi membekali peserta didik  dengan pendidikan dasar untuk bekal pada jenjang berikutnya, mengembangkan cara berpikir, kararkter, dan keterampilan pada peserta didik untuk masa depannya. Sebagai pendidik, guru mempunyai tanggung jawab yang besar untuk mengarahkan peserta didik agar berprilaku sesuai dengan norma yang ada. Hal ini sangat dibutuhkan, melihat perkembangan yang ada sangatlah berbahaya jika peserta didik tidak dibekali pendidikan moral dari dasar.[1]

Hasil pembelajaran yang kurang efektif mengubah pola pikir peserta didik menyempit dan akan menimbulkan sikap fasisme yang akan menghambat perkembangan bangsa. Akibat hal tersebut pesrta didik akan pintar berbohong, mengarang seolah olah yang dilakukan benar, tidak mau dikalahkan, dll. Itulah fenomena yang terjadi saat ini di masyarakat. Di dalam menjalankan proses pendidikan, diperlukan penanaman karakter yang meliputi kesadaran dan kemauan untuk belajar, melaksanakan sikap sikap luhur, baik pada diri sendiri maupun orang lain.[2]

Adapun fakta yang terjadi pada siswa kelas VI MI Islamiyah, mereka berani melawan guru, memotong saat guru berbicara, ataupun bahkan ada yang menolak apa yang diperintahkan gurunya. Dalam hal ini peran orang tua sangat membantu untuk membentuk karakter peserta didik agar lebih sopan dan santun. Sebab, pendidikan awal dari keluarga. Pendidikan karakter sangat penting, karena karakter merupakan aspek penting untuk menjadikan bangsa sebagai bangsa maju. Karakter adalah pengetahuan dan keterampilan. Namun, apabila sebuah pengetahuan tanpa didasari kepribadian yang benar dan keterampilan yang tidak berdasarkan kesadaran diri maka, akan menghancurkan diri sendiri dan merugikan orang lain, lingkungan, bahkan bangsa.[3]

Pendidikan karakter sanagt perlu untuk diterapkan lebih maksimal untuk membendung krisis moral yang terjadi. Terutama yang terjadi di lingkungan sekolah. Guru harus mampu menggabungkan antara pendidikan karakter dalam pembelajaran, ekstrakurikuler, dan budaya dalam sekolah. Hal ini akan menjadi dasar skill yang bagus untuk generasi emas yang akan datang.[4]
Dari pemaparan di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: Hal yang menorong lunturnya budaya sopan santun siswa kelas VI MI Islamiyah Banjarsari Buduran Sidoarjo?

METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kulitatif. Penilitian deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang yang bertujuan untuk mengeksplor suatu kenyataan sosial. Dalam hal ini menggunakan angket kuisioner sebagai alat pengumpul data. Adapun tujuan menggunakan metode ini adalah mendapat gambaran bahwa sopan santun pada siswa kelas VI MI Islamiyah Banjarsari Buduran Sidoarjo mulai luntur. Adapun data yang diambil merupakan data primer yang berarti data didapat langsung dari responden yang mengisi angket kuisioner. Sedangkan teknik menganalisis data menggunakan  statistik dekskriptif,dimana hasil perhitungan data berupa tabel dan grafik batang yang kemudian di jelaskan lebih rinci dibawahnya.

HASIL PENELITIN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian yang didapat melalui pengisian angket kuisioner yang kemudian data tersebut di analisis menjadi bentuk prosentase. Tabel dibawah ini mendeskripsikan hasil penelitian yang berupa penyebaran angket pada 26 peserta didik kelas VI di MI islamiyah Banjarsari Buduran Sidoarjo pada tanggal 8 November 2019 menunjukkan hasil sepeti pada Tabel 1 dibawah ini:

· Pertanyaan No. 1: “Jika dipanggil orang tua langsung datang”.
Pada pertanyaan ini yang terdapat dalam angket kuisioner, menunjukkan hanya 10 anak saja dari 26 peserta didik yang ketika dipaggil orang tuanya langsung datang. Hal ini menunjukkan bahwa saat ini nilai nilai moral yang dimiliki anak berkurang, keadaan ini sangat memperihatinkan. Sudah sangat jelas sekali apabila menyakiti hati orang tua sangatlah berdampak buruk. Namun, hal itu kini kurang mendapatkan perhatian khusus dari seorang anak. Seorang anak akan tumbuh berkembang belajar dari pengalaman[5]. Anak saat ini dituntut untuk melakukan keterampilan seperti menyampaikan hal yang tidak disukainya dan yang membahayakan dirinya[6]
Tabel 1.2

·  Pertanyaan No. 2: “Berbicara dengan yang lebih tua menggunakan bahasa krama”.
Pada pertanyaan ini yang terdapat dalam angket kuisioner, menujukkan hanya 10 anak saja dari 26 peserta didik yang kesehariannya menggunakan bahasa krama kepada yang lebih tua. Keperibadian yang baik merupakan hasil dari pendidikan karakter yang ditanamkan sejak kecil. Pendidikan karakter pula yang kelak menjadi tolak ukur keberhasilan yang ditanam ketika sudah bermasyarakat.[7] Pesan moral yng terkandung dalam bahasa krama sendiri yaitu mengajarkan kepada kita untuk menjai masyarakat yang menjunjung tinggi kesopanan[8]. Bukan hanya mengajarkan kesopanan bahasa juga mengajarkan untuk menghargai dan menghormati kepada orang yang lebih tua dengan bertutur kata yang halus serta sopan santun[9]. Fenomena yang terjadi saat ini, seperti yang sudah dijelaskan dalam hasil respondenmenunjukkan bahwa kurangnya penggunaan bahasa jawa. Hal ini disebabkan mereka berfikir jika bahasa jawa merupakan bahasa kunoatau tidak modern dan akan mempengaruhi kemajuan pada dirinya[10].

Baca Juga :  Penerapan Akhlaq Pada Pendidikan Karakter Di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Kedamean Pada Era Globalisasi

Tabel 1.3

· Pertanyaan No.3: “Ketika hendak berangkat sekolah salim dan salam kepada orang tua”.
Pada pertanyaan ini yang terdapat dalam angket kuisioner, menunjukkan bahwa seluruh peserta didik melakukan hal tersebut ketika hendak beragkat ke sekolah. Hal ini terlaksana karena adanya kebiasaan yang sudah dilakukan sejak kecil sebagaimana pendidkan karakter yang telah diajarkan orang tua sejak kecil. Sopan santun kepada orang tua maupun orang lain sangatlah penting. Sebab, sopan santun merupakan sikap hormat dan tertib yang dapat dilihat dari tingkh laku[11]. Pendidikan anak merupakan tanggung jawab orang tua, namun hal itu bukan hanya dari orang tua saja karena anak juga bisa belajar dari sekolah dan lingkungan disekitarnya[12].

Tabel 1.4

·  Pertanyaan N0. 4: “Meminta maaf jika melakukan kesalahan”.
Pada pertanyaan ini yang terdapat dalam angket kuisioner, menunjukkan hasil yang sama antara peserta didik yang meminta maaf apabila melakukan kesalahan dan yang tidak meminta maaf yaitu 13 anak dari 26. Meminta maaf ketika berbuat kesalahan merupakan hal yang menunjukkan bahwa anak memiliki moral yang bagus dan tingkat kesadaran diri yang tinggi. Karena pada saat ini sangat banyak orang yang tidak mau mengakui kesalahannya justru membalikkan jika yang bersalah orang lain. Dalam hasil penelitian kami pada bagian ini, peserta didik jelas VI di MI Islamiyah Banjarsari Buduran Sidoarjo menghasilkan bagian rata antara yang mengakui kesalahannya kemudian meminta maaf dan yang tidak. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada setengah bagian anak yang memiliki nilai moral yang tinggi.

Tabel 1.5

·  Pertanyaan No. 5: “Mengucapkan terima kasih apabila dibantu”
Pada pertanyaan ini yang terdapat dalam angket kuisioner, menunjukkan hanya 11 anak saja dari 26 peserta didik yang mengucapkan terima kasih apabila telah dibantu. Pembudayaan mengucap terima kasih sejak kecil sangat perlu sekali, ketika si anak terbiasa melakukan hal baik sejak kecil hal tersebut akan melekat pada dirinya hingga seterusnya dan sebaliknya apabila dari kecil pendidikan karakter yang ditanamkan oleh orang tuanya berupa hal buruk, maka hingga seterusnya pun hal buruk itu terus melekat. Sama halnya dengan mengucapkan kata terima kasih, pada dasarnya kata tersebut sangatlah mudah untuk diucapkan namun sisi egoisme seseorang yang terlalu tinggilah yang menjadikan gengsi untuk mengucapkan hal itu. Faktor yang mendukung adanya tidak kepedulian atas hal remeh adalah lingkungannya. Lingkungan mengajarkan segala hal baik dan buruk.

Tabel 1.6

·  Pertanyaan No.6: “Mengucapkan permisi apabila hendak melewati orang”.
Pada pertanyaan ini yang terdapat dalam angket kuisioner, menunjukkan hanya 10 anak saja dari 26 peserta didik yang permisi apabila hendak melewati orang. Sejak si anak di usia dini hingga mereka remaja, mereka akan mengikuti tingkah laku yang ada disekitarnya terutama orang tuanya. Mengajarkan sikap sopan santun dan berbudi pekerti yang baik tidaklah mudah. Namun, cara mendidik tersebut sangatlah baik untuk menentukan keperibadian si anak agar kelak mengikuti norma-norma yang berlaku di masyarakat[13]. Mengikuti norma-norma yang berlaku pada masyarakat sangat dibutuhkan untuk mejadikan diri lebih baik.

Tabel 1.7

·  Pertanyaan No.7: “Sering berkata kasar dan keras kepada orang tua”.
Pada pertanyaan ini yang terdapat dalam angket kuisioner, menunjukkan hanya 8 anak saja yang melakukan hal tersebut, sedangkan 18 anak yang lain tidak melakukannya. Kurangnya perhatian orang tua pada perkembangan anak disebabkan oleh kesibukan bekerja menjadikan anak berlaku kurang sopan seperti membentak orang tua, mengacuhkan orang tua, dll. Terbukanya akses informasi dari segala sumber juga merupakan faktor kurangnya sopan santun. Disinilah sangat dibutuhkan perhatian orang tua dan memunculkan media pembelajaran yang menarik agar si anak tertarik untuk belajar sopan santun[14]. Ketika sang anak merasa mendapatkan perhatian yang berlebih dari orang tua dia tidak akan membangkang, berkata kasar. Dia akan memenuhi segala hal yang diminta orang tuanya, dan begitupun sebaliknya ketika anak ditinggal workaholic mereka akan merasa kesepian. Dan dari rasa kesepian itulah mereka mencari perhatian dari orang tuanya dengan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan seperti narkoba, mencuri, tindak kriminal, dll.

Tabel 1.8

·  Pertanyaan No.8: “Suka mencemooh teman yang tidak bisa”.
Pada pertanyaan ini yang terdapat dalam angket kuisioner, menunjukkan ada 16 anak dari 26 peserta didik yang suka mencemooh apabila temannya tidak bisa. Seiring dengan perkembangan zaman yang ada, dimana anak zaman sekarang disebut sebagai iGeneration mereka mengakses hal apapun dengan mudah dalam dunia internet. Dari hal yang ditonton itulah akan mereka tiru di kehidupan nyata seperti berkelahi, bullying, dipojokkan, mencemooh, dsb. Kekerasan psikologisini sangat berbahaya terhadap kepercayaan diri anak yang ditindas tersebut. Kebanyakan anak yang dijadikan korban adalah anak yang pendiam, memiliki fisik yang lemah, dan anak yang memiliki sedikit teman[15].

Tabel 1.9

·  Pertanyaan No.9: “Suka bermain gadget di warkop”.
Pada pertanyaan ini yang terdapat dalam angket kuisioner, menunjukkan hanya 7 anak saja yang suka bermain gadget di warkop. Mungkin hal ini jaran dilakukan oleh siswa SD dan MI melihat dari hasil penelitian kami. Namun, tidak pada anak SMP dan jenjang seatasnya dimana mereka yang mulai belajar mencari jati diri mereka menganggap bahwa yang mereka lakukan aalah hal yang benar. Ketika meminta izin ke orang tua masing masing mereka menggunakan alibi mengerjakan tugas dan nyatanya sangat sedikit sekali kebenarannya mereka justu lebih asik bermain game dan tidak memperdulikan hal disekitarnya. Kemerosotan nilai moral pada remaja inilah yang sangat memperihatinkan untuk kemajuan bangsa. Hal remeh saja kurang diperhatikan, apalagi sikap nilai moral dan budaya.

Baca Juga :  Ide-Ide Dan Strategi Manajemen Madrasah Ibtidaiyah

Tabel 1.10

·  Pertanyaan No.10: “Berani berbicara keras kepada guru”.
Pada pertanyaan ini yang terdapat dalam angket kuisioner, menujukkan ada 12 anak dari 26 peserta didik yang berani berbicara dengan intonasi yang keras kepada gurunya. Hal ini terjadi disebabkan kesalahan dari gurunya, sebab anak tidak mungkin membangkang ketika gurunya bersikap baik dan lembut kepada siswanya. Guru adalah orang tua kedua bagi anak, dikarenakan dari guru juga anak diajarkan utuk bersikap sopan santun, memiliki moral, etika, dll. Dalam akronim bahasa jawa guru adalah “digugu lan ditiru” hal ini sangat jelas sekali bahwa segala hal yang melekat pada guru tersebut akan diikuti oleh sang murid.penanaman moral tidak hanya dilakukan saat proses pembelajaran tetapi ketika diluar kelaspun juga bisa.ketika anak sudah memiliki nilai moral yang bagus sebgai guru harus membimbing agar anak tersebut tetap memiliki nilai moral. Karena ketika anak sudah memiliki dasar niali moral dia akan lebih mudah melakukan sesuatu[16].

Tabel 1.11

·  Pertanyaan No.11: “Membuang sampah pada tempatnya”.
Pada pertanyaan ini yang terdapat dalam angket kuisioner, menunjukkan hanya 11 anak saja dari 26 peserta didik yang membuang sampah pada tempatnya. Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa peserta didik sudah mulai mengerti kesadaran akan hal menjaga kebersihan lingkungan sekolah dalam Al-Quran banyak sekali ayat yang menjelaskan bahwa Allah menyukai keindahan dan membenci orang yang berbuat kerusakan. Dari Al-quran pula kita dapat menumbuhkan jiwa keberanian, keadilan pada anak untuk memerangi kedzaliman dan kebodohan[17].
Tabel 1.12

·  Pertanyaan No.12: “Mematuhi aturan sekolah”.
Pada pertanyaan ini yang terdapat dalam angket kuisioner, menunjukkan hanya 5 anak saja yang tidak mengikuti aturan sekolah. Peraturan ditegakkan karena ada pelanggaran, jadi jika ada peraturan yang ditegakkan sedikit mengekang itu merupakan bentuk dari kedisplinan. Peraturan yang mengekang bukan bertujuan untuk menyiksa pesrta didik, melainkan untuk mengajarkan arti tanggung jawab dan kedisplinan dalam segala hal. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian diatas bahwasannya hanya 19,2% saja yang melanggar dari sekian banyak jumlah peserta didik.

Tabel 1.13

·  Pertanyaan No.13: “Tidak berbohong pada orang tua dan guru”.
Pada pertanyaan ini yang terdapat dalam angket kuisioner, mununjukkan bahwa hanya 10 anak dari 26 peserta didik yang suka berbohong. Kurangnya perhatian baik dari guru maupun orang tua memicu adanya hal ini. Ketika anak diperhatikan dan dalam suatu posisi orang tuanya dianggap sebagai teman, sahabat dia akan mencurahkan segala hal kepadanya tanpa ada rasa takut dan tidak enak hati. Berbohong kepada orang tua sangat sulit karena dia terbiasa terbuka dengan orang tuanya , berbeda dengan anak yang tidak menceritakan segala keluh kesahnya kepada orang tua dengan alasan takut atau orang tuanya sibuk. Hal itu sangat memicu terjadinya si anak berbohong. Begitupun dengan guru selain posisinya sebagai pendidik ketika dalam kelas, guru juga mampu menjadi tempat sharing para peserta didiknya disaat diluar jam pembelajaran. Seorang anak pasti sangat membutuhkan tempat untuk menerima segala keluh kesahnya. Dari 10 anak yang suka berbohong tersebut dikarenakan mereka merasa takut kepada orang tuanya maupun gurunya.

Tabel 1.14

·  Pertanyaan No.14: “Suka mengikuti budaya budaya luar negeri”.
Pada pertanyaan ini yang terdapat dalam angket kuisioner, menunjukkan bahwa hasil antara yang melakukan dan tidak seri 13 anak. Kemajuan teknologi tidak dapat dihindri lagi, dimana segala informasi bisa didapat hanya dalam hitungan detik. Tak heran jika saat ini banyak sekali orang yang gandrung akan budaya luar negeri tanpa padang usia. Anak yang usianya masih dikatakan anak-anak namun mereka sudah bergaya seperti orang dewasa atau bergaya yang sesuai dengan trend yang ada. Seperti kegemaran anak-anak yang sangat menggandrungi K-pop apapun yang idola mereka lakukan dia juga melakukan tanpa tau apa baik dan buruknya. Kemajuan teknologi sangat berbahaya bagi anak-anak yang tanpa bimbingan dari orang tua. Sebab, mereka akan mengikuti semua yang ada tanpa telebih dahulu disaring. Dan hal itu akan melunturkan nilai budaya pada anak, bukan hanya nilai budaya saja yang menghilang nilai moralpun ikut luntur, jiwa nasionalismenya pun akan ikut tergerus. Sebagai generasi bangsa hendaknya dapat memilih dan memilah mana yang baik dan buruk.
Tabel 1.15

·  Pertanyaan No.15: “Lebih sering bermain hp daripada belajar”.
Pada pertanyaan yang terakhir ini dalam angket kuisioner, menunjukkan bahwa hampir keseluruhan peserta didik melakukan hal tersebut. Dari 26 peserta didik hanya 6 anak saja yang tidak sering bermain hp. Kepedulian orang tua pada anak sangat penting, ketika sang anak melihat orang tuanya, gurunya, lingkungannya lebih tertarik pada handphone masing masing maka dapat dipastikan bahwa anak tersebut juga tidak bisa terlepas dari handphone, karena anak belajar segala hal dari mereka. Interaksi sosian dlam keluarga sangat dibutuhkan karena semakin sering dalam keluarga tersebut melakukan interaksi sosial anak merasa diperhatikan dan motivasi untuk belajar semakin meningkat, tidak hanya motivasi belajar saja, kemandirian belajar juga meningkat dan hal ini bisa menjadikan meningkatnya prestasi belajar peserta didik[18]

KESIMPULAN
Sopan santun pada peserta didik kelas VI MI.Islamiyah Banjarsari Buduran Sidoarjo perlu adanya bimbingan baik dari orang tua maupun guru. Dari data yang telah diambil melalui pembagian angket kuisioner menunjukkan hasil yang kurang memuaskan dari segi kepedulian dan lain-lain. Dimana kepedulian terhadap sesama dan disekitarnya sangat perlu ditingkatkan, dengan bantuan guru dan orang tua yang selalu siap mendukung. Faktor faktor lunturnya sopan santun dikarenakan kurangnya perhatian orang tua terhadap anak[19]. Sebab pendidikan dasar seorang anak merupakan orang tua, jadi orang tuanya lah yang mengajarkan pendidikan karakter pada anak yang akan menjadi tolak ukur dikemudian hari. Ada juga faktor yang mendukung lunturnya sopan santun pada peserta didik yaitu kemajuan teknologi yang sangat cepat dalam mengakses segala hal, dan dari apa yang dilihat oleh anak itulah yang akan dipraktekkan.

Baca Juga :  Pembelajaran matematika materi perkalian Menggunakan alat peraga untuk siswa mi/sd

DAFTAR PUSTAKA
Arini Rizqy Karimah & Dholina Inang Pambudi, M. Ragil Kurniawan, ‘KEKERASAN DI DUNIA MAYA: SURVEY TERHADAP SISWA SD DI KABUPATEN SLEMAN’, Jurnal Pemikiran Dan Pengembangan SD, Volume 6, (Halaman 96-106)
Atiqa Sabardila, Liza Tri Handayani, ‘Wujud Dan Pola Penalaran Nilai Kepedulian, Kreatif, Dan Sopan Santun Materi Ajar Bahasa Indonesia Dalam Buku Siswa Kelas VII KURIKULUM 2013’, Jurnal Penelitian Humaniora, Vol. 18, N, 57–76
Bahri, Saiful, ‘IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MENGATASI KRISIS MORAL DI SEKOLAH’, TA’ALLUM, VOL.03, No (2015), 57
Djuwita, Puspa, ‘PEMBINAAN ETIKA SOPAN SANTUN PESERTA DIDIK KELAS V MELALUI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI SEKOLAH DASAR NOMOR 45 KOTA BENGKULU’, Jurnal PGSD: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 10 (1), Hal.27-36
I Made Arsana, Didik Wahyudi, ‘PERAN KELUARGA DALAM MEMBINA SOPAN SANTUN ANAK DI DESA GALIS KECAMATAN GALIS KABUPATEN PAMEKASAN’, Nomor 2 Vo, hal 290-304
Masjid, Akbar Al, ‘PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN AFEKTIF DALAM PEMBELAJARAN UNGGAH-UNGGUH BAHASA JAWA DI SEKOLAH DASAR’, Trihayu: Jurnal Pendidikan Ke-SD-An, Vol. 2, No, hlm. 9-18
‘Model Pembelajaran Assure Umtuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri Balikpapan’ <https://www.academia.edu/8753005/PENERAPAN_MODEL_PEMBELAJARAN_ASSURE_UNTUK_MENINGKATKAN_HASIL_BELAJAR_SISWA_KELAS_X_SMA_NEGERI_4_BALIKPAPAN>
Mulyaningsih, Indrati Endang, ‘PENGARUH INTERAKSI SOSIAL KELUARGA, MOTIVASI BELAJAR, DAN KEMANDIRIAN BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR’, Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, Vol. 20, N
noor hasyim, dea faustina shaula, ‘Menanamkan Konsep Tata Krama Pada Anak Melalui Perancangan Game Edukasi’, JURNAL INFORMATIKA UPGRIS, VOL.3, NO. (2017)
Nurfadhilah, ‘ANALISIS PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MEMPERSIAPKAN PUBERTAS MENUJU GENERASI EMAS INDONESIA 2045’, JPD: Jurnal Pendidikan Dasar <https://doi.org/10.21009/JPD.010.09>
Rahmawati, Isna, ‘PENINGKATAN NILAI-NILAI SOSIAL MELALUI METODE PERMAINAN DALAM PEMBELAJARAN IPS DI MI AL HUDA BOYOLALI’, AI-Bidayah, Vol. 2 No., 255–88
Rosma Elly & Nurul Aini, Ruslan, ‘PENANAMAN NILAI-NILAI MORAL PADA SISWA DI SD NEGERI LAMPEUNEURUT’, Jurnal Ilmiah Mahasiswa Prodi PGSD FKIP Unsyiah, Volume 1 N, 68–77
Sunu Dwi Antoro, Ujiningsih, ‘Pembudayaan Sikap Sopan Santun Di Rumah Dan Di Sekolah Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Karakter Siswa’
Surya Fajar Rasyid, Syaiful Bahri, ‘FENOMENA KEDWIBAHASAAN DI SEKOLAH DASAR; SEBUAH KONDISI DAN BENTUK KESANTUNAN BERBAHASA’, Jurnal Bidang Pendidikan Dasar (JBPD), vol.2, No. <http: ejournal.unikama.ac.id/index.php/JBPD>
Suyadi, Suyadi, ‘MEMBANGUN KARAKTER ANAK DENGAN METODE KISAH QUR’ ANI’, Al Bidayah <https://doi.org/10.14421/al-bidayah.v2i2.110>
Tri handayani, Endang Hagestiningsih, ‘Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Pembias PENGGUNAAN BAHASA JAWA SISWA DI SD KARANGMULYO YOGYAKARTA’, Trihayu: Jurnal Pendidikan Ke-SD-An, 4, 415–19
ZAINUDDIN, H.M, I.M. HAMBALI, ‘Model Piranti Olah Pikir-Emosi Untuk Menumbuhkembangkan Cinta Budaya Bangsa Siswa Sekolah Dasar’, MIMBAR, Vol. 31, N, 351–58

Catatan Kaki :
[1]Puspa Djuwita, ‘PEMBINAAN ETIKA SOPAN SANTUN PESERTA DIDIK KELAS V MELALUI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI SEKOLAH DASAR NOMOR 45 KOTA BENGKULU’, Jurnal PGSD: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 10 (1), Hal.27-36.
[2]I.M. HAMBALI ZAINUDDIN, H.M, ‘Model Piranti Olah Pikir-Emosi Untuk Menumbuhkembangkan Cinta Budaya Bangsa Siswa Sekolah Dasar’, MIMBAR, Vol. 31, N, 351–58.
[3]Endang Hagestiningsih Tri handayani, ‘IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBIASAAN PENGGUNAAN BAHASA JAWA SISWA DI SD KARANGMULYO YOGYAKARTA’, Trihayu: Jurnal Pendidikan Ke-SD-An, 4, 415–419.
[4]Saiful Bahri, ‘IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MENGATASI KRISIS MORAL DI SEKOLAH’, TA’ALLUM, VOL.03, No (2015), 57.
[5] Isna Rahmawati, ‘PENINGKATAN NILAI-NILAI SOSIAL MELALUI METODE PERMAINAN DALAM PEMBELAJARAN IPS DI MI AL HUDA BOYOLALI’, AI-Bidayah, Vol. 2 No., 255–88.
[6] Nurfadhilah, ‘ANALISIS PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MEMPERSIAPKAN PUBERTAS MENUJU GENERASI EMAS INDONESIA 2045’, JPD: Jurnal Pendidikan Dasar <https://doi.org/10.21009/JPD.010.09>.
[7] Bahri.
[8] Syaiful Bahri Surya Fajar Rasyid, ‘FENOMENA KEDWIBAHASAAN DI SEKOLAH DASAR; SEBUAH KONDISI DAN BENTUK KESANTUNAN BERBAHASA’, Jurnal Bidang Pendidikan Dasar (JBPD), vol.2, No. <http: ejournal.unikama.ac.id/index.php/JBPD>.
[9] Tri handayani.
[10] Akbar Al Masjid, ‘PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN AFEKTIF DALAM PEMBELAJARAN UNGGAH-UNGGUH BAHASA JAWA DI SEKOLAH DASAR’, Trihayu: Jurnal Pendidikan Ke-SD-An, Vol. 2, No, hlm. 9-18.
[11] Liza Tri Handayani Atiqa Sabardila, ‘Wujud Dan Pola Penalaran Nilai Kepedulian, Kreatif, Dan Sopan Santun Materi Ajar Bahasa Indonesia Dalam Buku Siswa Kelas VII KURIKULUM 2013’, Jurnal Penelitian Humaniora, Vol. 18, N, 57–76.
[12] Ujiningsih Sunu Dwi Antoro, ‘Pembudayaan Sikap Sopan Santun Di Rumah Dan Di Sekolah Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Karakter Siswa’.
[13] Didik Wahyudi I Made Arsana, ‘PERAN KELUARGA DALAM MEMBINA SOPAN SANTUN ANAK DI DESA GALIS KECAMATAN GALIS KABUPATEN PAMEKASAN’, Nomor 2 Vo, hal 290-304.
[14] dea faustina shaula noor hasyim, ‘Menanamkan Konsep Tata Krama Pada Anak Melalui Perancangan Game Edukasi’, JURNAL INFORMATIKA UPGRIS, VOL.3, NO. (2017).
[15] M. Ragil Kurniawan Arini Rizqy Karimah & Dholina Inang Pambudi, ‘KEKERASAN DI DUNIA MAYA: SURVEY TERHADAP SISWA SD DI KABUPATEN SLEMAN’, Jurnal Pemikiran Dan Pengembangan SD, Volume 6, (Halaman 96-106).
[16] Ruslan Rosma Elly & Nurul Aini, ‘PENANAMAN NILAI-NILAI MORAL PADA SISWA DI SD NEGERI LAMPEUNEURUT’, Jurnal Ilmiah Mahasiswa Prodi PGSD FKIP Unsyiah, Volume 1 N, 68–77.
[17] Suyadi Suyadi, ‘MEMBANGUN KARAKTER ANAK DENGAN METODE KISAH QUR’ ANI’, Al Bidayah <https://doi.org/10.14421/al-bidayah.v2i2.110>.
[18] Indrati Endang Mulyaningsih, ‘PENGARUH INTERAKSI SOSIAL KELUARGA, MOTIVASI BELAJAR, DAN KEMANDIRIAN BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR’, Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, Vol. 20, N.
[19] ‘Model Pembelajaran Assure Umtuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri Balikpapan’ <https://www.academia.edu/8753005/PENERAPAN_MODEL_PEMBELAJARAN_ASSURE_UNTUK_MENINGKATKAN_HASIL_BELAJAR_SISWA_KELAS_X_SMA_NEGERI_4_BALIKPAPAN>
Oleh: Umrotul Khoiroh Ummah.

Tags: