Model Pengmbangan Pembelajaran Matematika Terhadap Siswa Madrasah Ibtidaiyah

Abstrak
Tujuan saya memebuat model pengembangan pembelajaran mata pelajaran matematika ini adalah agar siswa dapat meningkatkan prestasi belajar dan keaktifan pada proses pembelajaran. Sedangkan untuk guru konsep ini sangat penting guna untuk pembelajaran dikelas, agar siswa tidak jenuh dan monoton dalam proses pembelajaran. Jadi guru dan siswa juga ikut turut aktif dalam proses pembelajaran. Dengan model make a match melibatkan semua siswa ikut bergerak aktif dalam proses pembeljaran, make a match dapat membuat siswa berfikir secara logis.  Jika menggunakan model pembelajaran kooperatif (TAI) dapat membuat siswa aktif juga berfikir secara kritis dan logis karena model TAI ini sering digunakan untuk memecahkan sebuah masalah. Adapun cara untuk meningkatkan proses pembelajaran matematikan dengan menggunakan prblem based learning (PBL),  model ini juga menuntut keaktifan dan kekreatifan siswa dikarenakan model ini menggunakan masalah di dunia nyata siswa masing-masing.
Keyword: model pengembangan,proses pembelajaran matematika

Model Pengmbangan Pembelajaran Matematika Terhadap Siswa Madrasah Ibtidaiyah

Pendahuluan
Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah merupakan sekolah tingkat  awal untuk menanamkan konsep dasar bagi anak, sehingga konsep-konsep yang akan diterima anak untuk membuka daya pikirnya dalam menghadapi pendidikan kejenjang berikutnya. Sardiman (1996) mengatakan proses belajar mengajar adalah proses komunikasi antara pendidik dan siswa, semisal proses penyampaian pesan melalui saluran atau media tertentu ke penerima pesan. Kegiatan belajar mengajar di kelas merupakan dunia komunikasi tersendiri antara guru dan siswa agar saling bertukar pikiran. Untuk mengembangkan ide dan pembelajran.[1]

Di dalam dunia pendidikan pada era sekarang tidak lepas dari adanya perkembangan kurikulum. Perkembangan Kurikulum 2013 mengharapkan dapat menghasilkan insan negara ini yang produktif, kreatif, inovatif dan aktif melalui penguatan sikap, keterampilan dan pengetahuan yang padu. Materi pembelajaran matematika yang telah dikembangkan dalam kurikulum 2013 dianggap sangat penting antara matematika dengan angka dan tanpa angka, Agar siswa menguasai dalam menghadapi pembelajaran matematika dapat terwujud dengan baik maka siswa harus dapat memahami konsep dalam pembelajaran matematika. Pembelajaran tematik terpadu bertujuan untuk menfokuskan siswa terhadap tema tertentu. Pembelajaran ini merupakan pembelajaran yang menggunakan tema sebagai penyambung antara kegiatan pembelajaran yang saling memadukan antara beberapa mata pelajaran dan sekaligus dalam satu kali tatap muka (Mawardi, 2014: 109). Pemahaman konsep ini ialah dasar dari pemahaman prinsip dan teori, hal ini merupakan sesuai dengan jenjang kognitif tahap pemahaman menurut Bloom, sehingga dapat memahami prinsip dan teori  siswa terlebih dahulu  harus dapat memahami konsep-konsep matematika, jika mereka mengharapkan dapat  menguasai matematika dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal dapat dilihat oleh guru melalui hasil  belajar.[2]

Penggunaan Pembelajaran matematika sebagai salah satu mata pelajaran MI/SD memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan hidup siswa. Matematika merupakan ilmu universal, ilmu yang umum yang disajikan dan diterima disemua pendidikan  yang dapat mendasari perkembangan teknologi modern dan mempunyai peran penting dalam berbagai ilmu, dan memajukan pola pikir manusia. Mata pelajaran matematika harus diberikan kepada seluruh peserta didik mulai dari sekolah dasar saat ini agar siswa dapat berfikir secara logis, analisis dan kritis.[3]

Selama ini proses pemebelajaran matematika hanya berlangsung dengan metode-metode siswa hanya duduk dan diam diatas kursi, pendidik hanya sebagai pusat perhatian perhatian selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Peserta didik hanya meniru, mendengarkan dan mencotoh persis apa yang diajarkan oleh pendidik. Terkadang pendidik lebih memfokuskan dalam menghafal rumus untuk memecahkan suatu masalah dalam matematika. Sebaiknya sebagai guru matematika harus bisa menggunakan proses pembelajaran matematika agar bisa memahami dengan baik. Dalam hal ini keaktifan siswa selama belajar matematika sebagai salah satu faktor yang dapat memprngaruhi pemahaman materi yang diajarkan oleh guru.

Dalam proses pembelajaran matematika dikelas, tingkat SD/MI cenderung membosankan dikarenakan pada saat proses pembelajaran siswa duduk terus dan juga gurunya tidak bisa menguasai kelas. Sehingga proses pembelajaran tidak efektif siswa cenderung tidak dapat memahami apa yang disampaikan oleh guru. Guru hanya memfokuskan pada penghafalan rumus untuk memecahkan masalah. Menurut Thoha (Kompas, 18 Juni 2009), untuk memecahkan masalah dalam matematika, fokus para guru lebih menekan siswa untuk dapat menghafal rumus daripada membantu siswa untuk memahami konsep-konsep matematika dan mengkaitkannya dengan pembentukan cara berpikir logis. Dengan adanya pembelajaran matematika yang seperti ini dapat menghambat kreativitas siswa.[4]

Untuk mencapai suatu tujuan pendidikan yang diharapkan dalam proses belajar mengajar, seorang guru dituntut untuk dapat menguasai kompetensi dengan baik dan sesuai dengan rencana proses pembelajaran (RPP) serta kurikulum yang berlaku. Penguasaan kompetensi yang baik terhadap pembelajaran matematika, sangat berkaitan erat dengan daya upaya komponen yang berpengaruh dalam dunia pendidikan. Selain itu, menurut Wong (2013) keahlian dari seorang guru merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam menentukan pembentukan  prestasi siswa. Oleh karena itu, peningkatan kualitas pengajaran matematika harus selalu berupaya dan mampu mengatasi tuntutan zaman.[5]

Baca Juga :  Pengaruh Gadget Terhadap Konsentrasi Siswa Sekolah Dasar Kelas 5 Sdn Wedoro Waru Sidoarjo

Model pengembangan yang akan dilakukan guru harus terarah sesuai dengan tujuan agar apa yang diharapkan bisa terwujud. Proses pengembangan yang ditempuh agar mendapatkan produk pembelajaran yang berkualitas juga yang menyenangkan dan menantang dibagi dalam 4 (empat) tahapan, yaitu: (1) tahap pengkajian awal, (2) tahap perancangan, (3) tahap realisasi dan (4) dan evaluasi. Agar data yang diperoleh dapat dianalisis dan diarahkan untuk menjawab pertanyaan- pertanyaan apakah metode pembelajaran dan instrumen yang dikembangkan dapat  memenuhi kriteria kevalidan dan keefektifan atau belum. Data keefektifan model pembelajaran dapat diukur berdasarkan indikator keefektifan pembelajaran yang meliputi empat tahapan yaitu (1) kemampuan guru mengelola pembelajaran, (2) aktivitas siswa, (3) ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal, dan (4) respon siswa terhadap komponen dan kegiatan pembelajaran.[6]

KONSEP
Pelajaran matematika merupakan pelajaran yang rata-rata tidak disenangi oleh kalangan siswa, mulai dari SD/MI sampai SMA. Apalagi pembeajaran matematika dikalangan peserta didik yang masih duduk dibangku SD/MI, yang menganggap pelajaran ini sulit dipelajari, tidak menyenangkan membosankan, killer, dan ada juga yang menganggap  pelajaran matematika sebagai momok dalam dunia sekolah. Hal-hal seperti itu dapat menurunkan prestasi belajar matematika bagi siswa. Karena siswa takut dengan pelajaran matematika. Dalam hal ini pendidik harus bisa memberikan pembelajaran yang sanagat menyenangkan untuk siswa, agar siswa menjaadi senang dan suka pada pelajaran matematika.

Untuk mengatasi masalah siswa yang kurang suka dengan pembelajaran matematika  maka dibutuhkan solusi berupa penggunaan model-model pembelajaran baru yang lebih menyenangkan agar dapat memotivasi siswa untuk melakukan kegiatan belajar pada pembelajaran matematika. Salah satunya dengan model pembelajaran  make a match atau mencari pasangan. Model pembelajaran make a match merupakan suatu model pembelajaran active learning yang dapat dilakukan dalam kelas yang beranggotakan banyak yang berkisar 40 siswa, model pembelajaran ini dapat diterapkan secara individu maupun kelompok. Dengan menggunaan model seperti ini guru dapat menerapkan dengan menggunakan kartu–kartu yang berisikan pertanyaan dan kartu yang berisikan jawaban. Pada penerapannya siswa diminta untuk mengambil pasangan kartu yaitu pertanyaan dan jawaban, sebelum batas waktu yang  ditentukan dan siswa yang dapat mencocokan kartunya akan diberi poin.[7] Jika model ini diterapkan harus dengan melaksanakan tahapan-tahapan kegiatan yang direncanakan: a.Memberikan salam b.Melakukan appersepsi c.Memberikan motivasi kepada siswa untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. d.Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dipelajari oleh siswa. e.Menyampaikan materi pembelajaran dengan menerapkan langkah-langkah dari model pembelajaran make a match yaitu sebagai berikut:

1) pendidik membagi siswa ke dalam 2 kelompok.
 2) Pendidik membagikan kartukepada kelompok, kelompok pertama diberi kartu tipe A yaitu berisikan  kartu pertanyaan dan kelompok kedua diberi kartu tipe B yaitu berisikan kartu jawaban.
3) Mengatur posisi kelompok, yaitu kelompok pertama dan kedua berdiri saling berhadap-hadapan.
4) guru membunyikan peluit atau memukul meja  sebagai tanda agar kelompok kedua tersebut saling bergerak agar dapat mencari pasangan pertanyaan dan jawaban setelah itu mulai untuk berdiskusi jika seudah menemukan pertanyaan dan jawaban.
5) Meminta kelompok yang sudah selesai diskusi untuk menuliskan dan membacakan hasill diskusinya di depan teman-temannya atau didepan kelas “apakah pasangan pertanyaan- jawaban benar?”
6) guru dan semua siswa menilai dan menyimpulkan pembelajaran siswa yang sudah maju kedepan.
7) guru juga harus  memberikan tes individu untuk mengetahui hasil dari proses belajar mengajar yang bersifat individu.[8]

Baca Juga :  Story Telling Dapat Meningkatkan Nilai Moral Pada Anak Mi

Dengan menggunakan berbagai macam model pembelajaran adapun model pembelajaran untuk mengantisipasi kurangnya keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran matematika, Dari berbagai macam model pembelajaran disini  saya akan menjelaskan tentang model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI). Penerapan pembelajaran kooperatif Team Assisted Individualization (TAI) diharapkan akan mampu meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa. Dengan mendapatkan teori baru mengenai kurangnya keaktifan siswa dalam proses pembelajaran di kelas melalui model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI). Pembelajaran kooperatif tipe TAI  ini dikembangkan oleh Slavin. Model ini mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individualisme siswa. Tipe ini khusus dirancang guna untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Dalam hal ini kegiatan pembelajarannya lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah. Ciri khas pada tipe TAI ini  yaitu setiap siswa secara individual mempelajari materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar individual tadi dibagikan disetiap kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok, dan seluruh anggota kelompok harus bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama, Langkah-langkah:

1) Guru memberikan tugas yang sudah dipersiapkan kepada semua siswa untuk mempelajari materi pembelajaran secara individu.
2) Guru memberikan kuis pertanyaan secara individu kepada siswa yang dapat menjawab kuis tersebut untuk mendapatkan skor dasar atau skor awal.
3) Guru harus membentuk kelompok,. setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa dengan potensi yang berbeda
4) Hasil belajar siswa secara individu didiskusikan didalam kelompok masing-masing. Dalam diskusi kelompok, setiap anggota kelompok saling memeriksa jawaban teman satu kelompok.
5) Guru hanya memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari tersebut.
6) Guru memberikan apresiasi kepada kelompok berdasarkan perolehan nilai  tinggi untuk peningkatan hasil belajar individu dari skor dasar ke skor kuis.[9]

Adapun tahapan selanjutnya dalam meningkatkan proses belajar matematika. Untuk meningkatkan proses pembelajaran matematika juga memperbaiki kualitas pembelajaran dalam bidang ini bisa di gunakan metode yang inovatif yaitu dengan model problem based learning (PBL).HS Barrows ( dalam supinah 2010:18) menyatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah suatu metode pembelajaran yang didasarkan pada prinsip menggunakan masalah sebagai titik awal pembelajaran dan integrasi untuk pengetahuan baru. Dari di atas memiliki karakteristik seperti masalah dalam pembelajaran tersebut.

Dalam hal nyata yang merupakan masalah, kolaboratif, pembelajaran dan juga komunikatif dengan bekerja dalam kelompok, yang sangat mengutamakan belajar secara mandiri. jadi pembelajaran ini berpusat pada metode pembelajaran yang dimana siswa di tuntut untuk memecahkan suatu masalah dengan dunia nyata, pembelajarannya kolaboratif, komunikatif, dan kooperatif dengan bekerja dalam kelompok, dan sangat mengutamakan belajar mandiri. Jadi Problem Based Learning adalah model pembelajaran yang berpusat pada siswa yang memecahkan masalah yang terkait pada dunia nyata ataupun dalam masalah yang di alami meraka setiap harinya, dalam satu kelompok. Dengan demikian dalam metode ini  berkaitan namun melalui kegiatan pemecahan masalah untuk menemukan konsep itu sendiri.[10]

Kesimpulan
Lebih baik guru harus mernerapkan model pembelajaran sesuai dengan materi yang diajarkan dan disampaikan, merencanakan dan mempersiapkan pembelajaran dengan baik dan benar, dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh siswa dalam menyampaikan materi pembelajaran, dan lebih luwes dalam menyikapi macam-macam pendapat siswa agar pembelajaran berjalan dengan optimal dan kondusif. Pada saat proses pembelajaran guru juga harus bisa menarik perhatian siswa agara siswa mau memperhatikannya. Jika siswa mulai jenuh guru harus memberikan ice breaking dan juga memotivasi siswa agara semangat kembali. Hasil belajar siswa sebaiknya selalu ditingkatkan dengan cara melakukan perbaikan terus menerus terhadap proses pembelajaran, agar proses pembelajaran menjadi lebih baik lagi.

Baca Juga :  Penerapan Pendidikan Karakter Disiplin Di Madrasah Ibtida’iyah Islamiyah Sumberwudi

Daftar Rujukan
Ani Indriawati, Moch. “Penerapan Model Problem Based Learning (Pbl) Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Matematika.” Joyful Learning Journal 2, no. 1 (2013): 54–61.
Ayu, Shindia, Rega Puspita, and Nursiwi Nugraheni. “Peningkatan Kualitas Pembelajaran Geometri Berbasis Discovery Learning Melalui Model Think Pair Share.” Joyful Learning Journal 2, no. 3 (2013): 1–9.
Budiharti, Budiharti, and Jailani Jailani. “Keefektifan Model Pembelajaran Matematika Realistik Ditinjau Dari Prestasi Belajar Dan Kreativitas Siswa Sekolah Dasar.” Jurnal Prima Edukasia 2, no. 1 (2014): 27. https://doi.org/10.21831/jpe.v2i1.2642.
Francisco, Alecsandro Roberto Lemos. “Penggunan Komik Sebagai Media Pembelajaran.” Journal of Chemical Information and Modeling 53, no. 9 (2013): 1689–99. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004.
Putri, Rizki Harlinda, and Nyoto Hardjono. “Jurnal Riset Teknologi Dan Inovasi Pendidikan Peningkatan Hasil Belajar Tematik Melalui Penerapan Model Problem Based Learning Dengan Media Mind Mapping” 2, no. 1 (2018): 87–101.
Sukmaningrum, Puji Sucia, Financial Performance, Islamic Insurance, I Pendahuluan, Latar Belakang, Mohd Yahya Mohd Hussin, Fidlizan Muhammad, et al. “No 主観的健康感を中心とした在宅高齢者における 健康関連指標に関する共分散構造分析Title.” Jurnal Teknologi 1, no. 1 (2013): 69–73. https://doi.org/10.11113/jt.v56.60.
Tarigan, Daitin. “Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Dengan Menggunakan Model Make A Match Pada Mata Pelajaran Matematika Di Kelas V SDN 050687 Sawit Seberang.” Kreano: Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif 5, no. 1 (2014): 56–62. https://doi.org/10.15294/kreano.v5i1.3278.
Yuwono, I. Pengembangan Model Pembelajaran Matematika Secara Membumi. Vol. 1, 2006.
Ani Indriawati, Moch. “Penerapan Model Problem Based Learning (Pbl) Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Matematika.” Joyful Learning Journal 2, no. 1 (2013): 54–61.
Ayu, Shindia, Rega Puspita, and Nursiwi Nugraheni. “Peningkatan Kualitas Pembelajaran Geometri Berbasis Discovery Learning Melalui Model Think Pair Share.” Joyful Learning Journal 2, no. 3 (2013): 1–9.
Budiharti, Budiharti, and Jailani Jailani. “Keefektifan Model Pembelajaran Matematika Realistik Ditinjau Dari Prestasi Belajar Dan Kreativitas Siswa Sekolah Dasar.” Jurnal Prima Edukasia 2, no. 1 (2014): 27. https://doi.org/10.21831/jpe.v2i1.2642.
Francisco, Alecsandro Roberto Lemos. “Penggunan Komik Sebagai Media Pembelajaran.” Journal of Chemical Information and Modeling 53, no. 9 (2013): 1689–99. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004.
Putri, Rizki Harlinda, and Nyoto Hardjono. “Jurnal Riset Teknologi Dan Inovasi Pendidikan Peningkatan Hasil Belajar Tematik Melalui Penerapan Model Problem Based Learning Dengan Media Mind Mapping” 2, no. 1 (2018): 87–101.
Sukmaningrum, Puji Sucia, Financial Performance, Islamic Insurance, I Pendahuluan, Latar Belakang, Mohd Yahya Mohd Hussin, Fidlizan Muhammad, et al. “No 主観的健康感を中心とした在宅高齢者における 健康関連指標に関する共分散構造分析Title.” Jurnal Teknologi 1, no. 1 (2013): 69–73. https://doi.org/10.11113/jt.v56.60.
Tarigan, Daitin. “Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Dengan Menggunakan Model Make A Match Pada Mata Pelajaran Matematika Di Kelas V SDN 050687 Sawit Seberang.” Kreano: Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif 5, no. 1 (2014): 56–62. https://doi.org/10.15294/kreano.v5i1.3278.
Yuwono, I. Pengembangan Model Pembelajaran Matematika Secara Membumi. Vol. 1, 2006.

Catatan Kaki
[1] Alecsandro Roberto Lemos Francisco, “Penggunan Komik Sebagai Media Pembelajaran,” Journal of Chemical Information and Modeling 53, no. 9 (2013): 1689–99, https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004.
[2] Rizki Harlinda Putri and Nyoto Hardjono, “Jurnal Riset Teknologi Dan Inovasi Pendidikan Peningkatan Hasil Belajar Tematik Melalui Penerapan Model Problem Based Learning Dengan Media Mind Mapping” 2, no. 1 (2018): 87–101.
[3] Shindia Ayu, Rega Puspita, and Nursiwi Nugraheni, “Peningkatan Kualitas Pembelajaran Geometri Berbasis Discovery Learning Melalui Model Think Pair Share,” Joyful Learning Journal 2, no. 3 (2013): 1–9.
[4] Budiharti Budiharti and Jailani Jailani, “Keefektifan Model Pembelajaran Matematika Realistik Ditinjau Dari Prestasi Belajar Dan Kreativitas Siswa Sekolah Dasar,” Jurnal Prima Edukasia 2, no. 1 (2014): 27, https://doi.org/10.21831/jpe.v2i1.2642.
[5] Budiharti and Jailani.
[6] I Yuwono, Pengembangan Model Pembelajaran Matematika Secara Membumi, vol. 1, 2006.
[7] Daitin Tarigan, “Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Dengan Menggunakan Model Make A Match Pada Mata Pelajaran Matematika Di Kelas V SDN 050687 Sawit Seberang,” Kreano: Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif 5, no. 1 (2014): 56–62, https://doi.org/10.15294/kreano.v5i1.3278.
[8] Tarigan.
[9] Puji Sucia Sukmaningrum et al., “No 主観的健康感を中心とした在宅高齢者における 健康関連指標に関する共分散構造分析Title,” Jurnal Teknologi 1, no. 1 (2013): 69–73, https://doi.org/10.11113/jt.v56.60.
[10] Moch. Ani Indriawati, “Penerapan Model Problem Based Learning (Pbl) Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Matematika,” Joyful Learning Journal 2, no. 1 (2013): 54–61.
Oleh : Masyrifatur Rahma

Tags: