Pembiasaan Berpikir Kritis Dalam Pembelajaran Ipa Tingkat Sekolah Dasar

  • Whatsapp

ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan penerapan paradigma integrasi-interkoneksi untuk pengembangan sikap spiritual bagi peserta didik pada materi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Sekolah Dasar Kelas 6 serta dapat mengetahui pemanfaat pola berpikir kritis siswa terhadap pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Kata kunci : Berpikir kritis, pembelajaran, Siswa

ABSTRACT
The purpose of this study was to study the development of application og the intergratuion-interconnection paradiga for the devevelopment of spiritual attitudes for student in Elementary School
Keyword: Critical thingking, learning, student

Bacaan Lainnya

Pembiasaan Berpikir Kritis Dalam Pembelajaran Ipa Tingkat Sekolah Dasar

PENDAHULUAN
Di era globalisasi saat ini kemampuan berpikir kritis sangatlah penting dalam kehidupan sehari-hari, namun untuk mengembangkan pola berpikir kritis siswa harus melewati proses pembiasaan dari siswa itu sendiri. Pembiasaan ialah proses pembentukan sikap dan perilaku yang menetap dan otomatis melalui pembelajaran yang berulang-ulang.[1] Pada hakikatnya manusia dikaruniai berbagai macam potensi terutama dalam berpikir untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan khususnya pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), maka pengembangan pola berpikir kristis sangatlah berperan.[2] Dalam peranan pendidik , guru memerlukan daya kekreatifitasan yang tinggi untuk memahami karakteristik siswa dalam bersikap, berpikir[3] serta peran guru dalam metode pembelajaran yang menggunakan masalah atau  kondisi nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis. Peran guru sangatlah penting dalam memberikan teknik pembelajaran kepada para siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

Baca Juga :  Pentingnya Iptek Dalam Pembelajaran Bagi Peserta Didik Di Sekolah Dasar

Oleh karena itu, guru hendaknya membatasi peran fasilitator dan mitra pembelajaran siswa dengan menyajikan situasi berpikir untuk siswa pada masalah autentik dalam suatu materi melalui penerapan konsep dan fakta.[4] Pada anak usia SD / MI antara 6 sampai 12 tahun , anak banyak mengalami perubahan, baik fisik maupun mental hasil perpaduan faktor intern maupun dari luar, yaitu lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan yang tidak kurang pentingnya adalah pergaulan dengan teman sebayanya Kemampuan berpikir kritis yang mampu dikembangkan enam aspek perkembangan anak usia dini sangat perlu ditumbuhkan dan dibiasakan tanpa anak sadari dengan mengajak anak untuk memecahkan suatu masalah dan  mengembangkan ide yang dimiliki oleh siswa. Dengan berpikir kritis siswa tidak hanya menerima informasi secara langsung begitu saja melainkan dengan mempertanyakannya, sehingga kelak siswa tersebut dapat menilai suatu informasi dan memecahkan masalah dengan tepat dan akurat.[5] Dalam pembelajaran Ilmu Pengatahuan Alam (IPA) merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan mencari tau tentang alam sekitar secara sistematis dengan demikian siswa tidak harus terpaku pada konsep materi saja, tetapi dengan memberi pengalaman secara langsung. Namun media dan bahan ajar yang beredar langsung ke lapangan saat ini belum sesuai dengan harapan pemerintah. Ilmu Pengatahuan Alam (IPA) ini diharapkan dapat menjadikan wahana bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan, sikap dan nilai ilmiah serta mempersiapkan siswa menjadi warga Negara yang berwawasan sains dan teknlogi.[6]

Pos terkait