Pembiasaan Berpikir Kritis Dalam Pembelajaran Ipa Tingkat Sekolah Dasar

ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan penerapan paradigma integrasi-interkoneksi untuk pengembangan sikap spiritual bagi peserta didik pada materi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Sekolah Dasar Kelas 6 serta dapat mengetahui pemanfaat pola berpikir kritis siswa terhadap pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Kata kunci : Berpikir kritis, pembelajaran, Siswa

ABSTRACT
The purpose of this study was to study the development of application og the intergratuion-interconnection paradiga for the devevelopment of spiritual attitudes for student in Elementary School
Keyword: Critical thingking, learning, student

Pembiasaan Berpikir Kritis Dalam Pembelajaran Ipa Tingkat Sekolah Dasar

PENDAHULUAN
Di era globalisasi saat ini kemampuan berpikir kritis sangatlah penting dalam kehidupan sehari-hari, namun untuk mengembangkan pola berpikir kritis siswa harus melewati proses pembiasaan dari siswa itu sendiri. Pembiasaan ialah proses pembentukan sikap dan perilaku yang menetap dan otomatis melalui pembelajaran yang berulang-ulang.[1] Pada hakikatnya manusia dikaruniai berbagai macam potensi terutama dalam berpikir untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan khususnya pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), maka pengembangan pola berpikir kristis sangatlah berperan.[2] Dalam peranan pendidik , guru memerlukan daya kekreatifitasan yang tinggi untuk memahami karakteristik siswa dalam bersikap, berpikir[3] serta peran guru dalam metode pembelajaran yang menggunakan masalah atau  kondisi nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis. Peran guru sangatlah penting dalam memberikan teknik pembelajaran kepada para siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

Oleh karena itu, guru hendaknya membatasi peran fasilitator dan mitra pembelajaran siswa dengan menyajikan situasi berpikir untuk siswa pada masalah autentik dalam suatu materi melalui penerapan konsep dan fakta.[4] Pada anak usia SD / MI antara 6 sampai 12 tahun , anak banyak mengalami perubahan, baik fisik maupun mental hasil perpaduan faktor intern maupun dari luar, yaitu lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan yang tidak kurang pentingnya adalah pergaulan dengan teman sebayanya Kemampuan berpikir kritis yang mampu dikembangkan enam aspek perkembangan anak usia dini sangat perlu ditumbuhkan dan dibiasakan tanpa anak sadari dengan mengajak anak untuk memecahkan suatu masalah dan  mengembangkan ide yang dimiliki oleh siswa. Dengan berpikir kritis siswa tidak hanya menerima informasi secara langsung begitu saja melainkan dengan mempertanyakannya, sehingga kelak siswa tersebut dapat menilai suatu informasi dan memecahkan masalah dengan tepat dan akurat.[5] Dalam pembelajaran Ilmu Pengatahuan Alam (IPA) merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan mencari tau tentang alam sekitar secara sistematis dengan demikian siswa tidak harus terpaku pada konsep materi saja, tetapi dengan memberi pengalaman secara langsung. Namun media dan bahan ajar yang beredar langsung ke lapangan saat ini belum sesuai dengan harapan pemerintah. Ilmu Pengatahuan Alam (IPA) ini diharapkan dapat menjadikan wahana bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan, sikap dan nilai ilmiah serta mempersiapkan siswa menjadi warga Negara yang berwawasan sains dan teknlogi.[6]

Dalam menghadapi suatu permasalahan seseorang tidak hanya memikirkan bagaimana jalan keluar dari masalah tersebut, melainkan memahami apa permasalahan yang telah terjadi, menganalisis dan mengevaluasi hasilnya setelah itu ambil keputusan atau tindakan. Siswa seharusnya mempunyai kemampuan berpikir yang tinggi untuk menyelesaikan masalah yang kompleks,[7] berpikir kritis dan rasional agar bisa mengahadapi tantangan zaman yang  semakin kompleks. Maka dari itu siswa harus meningkatkan pola pikir kritis yang berkaitan dengan pelajaran dengan cara meningkatkan memberikan penjelasan yang sederhana mengasah kemampuan bertanya memiliki kriteria yang tepat, mengamati lalu mengevaluasi. Adapun manfaat dalam berpikir kritis ialah menjadi pribadi yang disukai banyak orang, tidak mudah tertipu, dapat menyelesaikan masalah , dapat membedakan fakta dan opini , menemukan pengalaman baru menjadikan pribadi yang mandiri dan mudah memahami sudut pandang orang lain.[8] Namun pada kenyataannya pembelajaran dikelas belum sampai ke arah ke sana ,pembelajaran di sekolah masih berpusat pada guru,sehingga hanya akan menjadikan siswa sebagai penerima ilmu saja maka dari itu siswa kurang terbiasa membangun pengetahuannya sendiri dan batas kemampuannya hanya sampai pada mengerjakan sooal-soal kategori rendah saja.

Baca Juga :  Strategi Dan Metode Pembelajaran Matematika Yang Efektif Bagi Siswa Mi Al Hikmah Kalidawir

Dalam era globalisasi saat ini, tantangan dari berbagai macam aspek kehidupan sangatlah banyak dikarenakan pesatnya perkembangan Ilmu Pengethuan dan Teknologi (IPTEK) yang mendorong setiap bangsa untuk meningkatkan daya saing bangsa agar mampu berkompetisi dalam persaingan global dengan menerapkan lima fase model pembelajaran induktif yaitu : 1) fase pengenalan pelajaran, 2) fase terbuka (mengembangkan kemampuan yang dimiliki siswa), 3) fase konvergen (mencermati informasi yang diperoleh), 4) fase penutup dan 5) fase aplikasi.[9]

METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data dengan membaca beberapa artikel dan berita. Tujuan menggunakan metode penelitian adalah untuk mendapatkan gambaran pembelajaran tentang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) serta dapat mengetahui pola berpikir kritis siswa dalam pembelajaran Ilmu Pengtahuan Alam(IPA).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan, dapat didiskripsikan bahwa ada peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran IPA di kelas IV SD Negeri Karangtalun 1 dari pra siklus ke siklus I dan dari siklus I ke siklus II. Dari hasil analisis dan hasil observasi pra siklus diperoleh prosentase kemampuan siswa dalam berpikir kritis 16,67%. atau hanya 3 siswa yang mencapai nilai ketuntasan dalam berpikir kritis. Dengan nilai terendah dari kemampuan berpikir kritis siswa adalah 42 sedangkan nilai tertinggi hanya 71.

Dan rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis siswa pra siklus adalah 51,39. Dari hasil analisis dan hasil observasi siklus I diperoleh pada siklus I pertemuan 1 diperoleh prosentase ketuntasan kemampuan siswa dalam berpikir kritis 22,22% atau hanya 4 siswa yang tuntas. Dengan nilai terendah adalah 50 dan nilai tertinggi 79. Pada siklus II pertemuan 2 diperoleh prosentase ketuntasan kemampuan siswa dalam berpikir kritis 94,44% atau 17 siswa yang tuntas. Dengan nilai terendah adalah 67 dan nilai tertinggi 96. Dan rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis siswa pada siklus II pertemuan 2 adalah 83,10.  Jenis metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengambilan yang bertujuan untuk memperoleh wawasan tentang pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan mengetahui kondisi alamiah di kelas

Baca Juga :  Pentingnya Iptek Dalam Pembelajaran Bagi Peserta Didik Di Sekolah Dasar

Berdasarkan pemaparan diatas pembiasaan berpikir kritis sangatlah penting bagi kehidupan sehari-hari kita yang hidup di perkembangan zaman ini dan bermaksud untuk mengetahui perkembangan pola berpikir kritis siswa dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

KESIMPULAN
Dapat disimpulkan dari penelitian diatas bahwa pola berpikir kritis terhadap siswa harus ditumbuhkan mulai sejak dini agar siswa mampu menghadapi masalah yang ada dan dapat meengetahui. Agar siswa mampu berkompetisi dalam persaingan global dengan menerapkan lima fase model pembelajaran induktif yaitu : 1) fase pengenalan pelajaran, 2) fase terbuka (mengembangkan kemampuan yang dimiliki siswa), 3) fase konvergen (mencermati informasi yang diperoleh), 4) fase penutup dan 5) fase aplikasi.

DAFTAR PUSTAKA
Alam, Ilmu Pengetahuan, Pembelajaran Ipa, Sekolah Dasar, Pendidikan Ipa, Pembelajaran Ipa, and Menurut Sulistyorini, ‘Agar Anak Berpikir Kritis Dalam Pembelajaran IPA’, September, 2018
Desiani, Natalia, ‘Menumbuhkan Perilaku Berpikir Kritis Sejak Anak Usia Dini’, Cakrawala Dini, 5.1 (2015), 1–6
Kritis, Berpikir, ‘Berpikir Kritis Adalah’, 2019
Matematika, Pembelajaran, ‘Navel ’ s Blog’
Organisasi, Struktur, Pimpinan Fakultas, Biro Administrasi, Kalender Akademik, Kurikulum Pembelajaran, Jadwal Perkuliahan, and others, ‘Artikel Universitas KH . A . Wahab Hasbullah’
‘Pendidikan Melalui Proses Pembiasaan Bangun Sekolah Pakai’, 2017
ST22 Consulting, ‘5 Cara Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif’, 2018 <https://st22consulting.id/5-cara-meningkatkan-kemampuan-berpikir-kreatif/>
Without, Education, ‘EDUCATION WITHOUT 7 Manfaat Berpikir Kritis Dan Metode Mencapainya’

 Catatan Kaki
[1] Pembelajaran Matematika, ‘Navel ’ s Blog’.
[2] ‘Pendidikan Melalui Proses Pembiasaan Bangun Sekolah Pakai’, 2017.
[3] Struktur Organisasi and others, ‘Artikel Universitas KH . A . Wahab Hasbullah’.
[4] Natalia Desiani, ‘Menumbuhkan Perilaku Berpikir Kritis Sejak Anak Usia Dini’, Cakrawala Dini, 5.1 (2015), 1–6.
[5] Ilmu Pengetahuan Alam and others, ‘Agar Anak Berpikir Kritis Dalam Pembelajaran IPA’, September, 2018.
[6] Berpikir Kritis, ‘Berpikir Kritis Adalah’, 2019.                                                                                                                        
[7] ST22 Consulting, ‘5 Cara Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif’, 2018 <https://st22consulting.id/5-cara-meningkatkan-kemampuan-berpikir-kreatif/>.
[8] Education Without, ‘EDUCATION WITHOUT 7 Manfaat Berpikir Kritis Dan Metode Mencapainya’.
[9] Alam and others.                      

Baca Juga :  Penelitian Tindakan Kelas ; Sebuah pengantar

Oleh : Gres jesy faiha islami                                                                                                                                                    

Tags: