Penerapan Pendidikan Karakter Disiplin Di Madrasah Ibtida’iyah Islamiyah Sumberwudi

Abstrak
Penelitian ini sangat bertujuan untuk menggali, mengkaji, dan mendiskripsikan pendidikan karakter di Madrasah Ibtidaiyahdan di harapkan dapat ditemukannya kebijkan yang sangat mendukung untuk keberhasilan pendidikan karakter tersebut. Penelitian ini dengan  menggunakan pendekatan secara Kualitatif. Penelitian ini dilakukan di MI Islamiyah, dengan subjek kepala sekolah, guru, karyawan dan siswa. Data ini dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik pemeriksaan keabsahan data yang digunakan yaitu dengan menggunakan Teknik Triangulasi. Dengan adanya hasil penelitian di MI Islamiyah Sumberwudi ini dilakukan melalui 8 kebijakan, yaitu : (1) Membuat pogram pendidikan karakter. (2) Menetapkan aturan sekolah dan aturan kelas. (3) Melakukan Sholat Dhuha dan Sholat Dhuhur berjama’ah. (4) Membuat Rananh Afektif di Madrasah. (5) Memantau perilaku kedisiplinan di rumah melalui buku penghubung siswa. (6) Peran Orang Tua kepada anak dalam Pendidikan Karakter Disiplin. (7) Peran Komite sekolah dalam Meingkatkan Mutu Pendidikan Karakter. (8) Menciptakan Iklim Kelas yang Kondusif bagi Murid untuk berperilaku atau bersikap Disiplin
Kata Kunci: Pendidikan Karakter Disiplin, Madrasah Ibtidaiyah.
Abstract
This study aims to explore, study, and describe character education in Madrasah Ibtidaiyah and it is hoped that there are policies that strongly support the success of character education. This research uses a qualitative approach. This research was conducted at MI Islamiyah, with the subject of principals, teachers, employees and students. This data is collected through observation, interviews, and documentation. Data validity checking techniques used are using the Triangulation Technique. With the results of research at MI Islamiyah Sumberwudi, this was done through 8 policies, namely: (1) Creating a character education program. (2) Establish school rules and class rules. (3) Performing Dhuha Prayer and Dhuhr Prayer in congregation. (4) Making effective Rananh in Madrasas. (5) Monitor discipline behavior at home through student contact books (6) Role of Parents to Children in Disciplinary Character Education (7) Role of School Committees in Improving Quality of Character Education (8) Creating Conducive Conditions in the Class for Students to behave or become Disciplined.
Keywords: Disciplinary Character Education, elementary school.

Penerapan Pendidikan Karakter Disiplin Di Madrasah Ibtida’iyah Islamiyah Sumberwudi

PENDAHULUAN Pendidikan adalah proses perubahan tingkah laku, penambahan ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup agar peserta didik menjadi lebih dewasa dalam pemikiran dan sikap.1 Pendidikan merupakan usaha untuk membentuk murid tersebut menjadi warga negara yang baik (tahu akan hak dan kewajibannya serta mampuu untuk berperilaku yang sesuai dengan karakter Pancasila.  Sedangkan Karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada satu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap,dan perilaku yang ditampilkan. Nilai-nilai pendidikan karakter hendaknya mulai dikenalkan sedari dini, yaitu ketika anak mulai sekolahpendidikan anak usia dini, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengahatas, hingga memasuki perguruan tinggi. Nilai-nilai tersebut sampai kapan pun harus dijaga, dan bahkan dilestarikan sampai akhir hayat, untuk menjaga kesatuan Republik Indonesia.

Pendidikan karakter adalah sistem yang menanamkan nilai nilai karakter pada peserta didik, mengandung komponen pengetahuan, adanya kemauan dan tindakan melalui melaksanakan nilai nilai, baik terhadap Tuhan yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, sesama lingkungan masyarakat, sehingga akan terwujudnya insan kamil. 2

Penguatan pendidikan karakter di era sekarang merupakan hal yang sangat penting dilakukan untuk mengingat akan banyaknya peristiwa yang menunjukkan terjadinyakrisis moral  itu baik di kalangan anak – anak, remaja ataupun orang tua. Oleh sebab  itu, penguatan dalam pendidikan karakter itu perlu dilaksanakan sedini mungkin dan harus dimulai dari lingkungan keluarga, Madrasah, dan meluasnya ke dalam lingkungan masyarakat. Salah satu dari nilai karakter itu yang perlu kita kembangkan adalah kedisiplinan, karena kedisiplinan tersebut mencerminkan kepribadian kita. Nilai karakter disiplin juga sangat penting dimiliki oleh setiap manusia, agar suatu saat muncul nilai-nilai karakter yang baik lainnya. Pentingnya penguatan nilai karakter ini harus didasarkan pada alasan, bahwa sekarang ini banyak tejadinya pelaku yang menyimpang yang bertentangan dengan norma kedeisiplinan tersebut.

Dengan adanya pendidikan karakter ini bertujuan agar semua peserta didik sebagai penerus bangsa itu wajib untuk mempunyai akhlaq dan moral yang baik, untuk menciptakan kehidupan negeri ini yang adil, aman dan makmur. Tujuan pendidikan ini dimuat dalam Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003, Tentang “Sistem Pendidikan Nasional” yang menyebtkan bahwa Pendidikan itu adalah:  Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar. Pendidikan Nasional ini berfungsi untuk mengembangkan kemampuan anak dan membentuk watak anak itu serta mengabdi pada peradaban bangsa

Tujuan Pendidikan dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyebutkan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar,  Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”  proses belajar agar peserta didik secara aktif dengan cara membangun potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sementara itu, di dalam kebijakan nasional, antara lain itu  ditegaskan bahwa pembangunan karakter bangsa merupakan kebutuhan asasi dalam proses berbangsa dan bernegara.

Masnur Muhlis menuliskan dalam bukunya, dikatakan bahwa pendidikan karakter itu merupakan upayayang harus melibatkan semua pihak baik rumah tangga, keluarga, masyarakat dan lingkungan madrasah tersebut. Pembentukan dalam pendidikan karakter ini tidak akan behasil selama lingkungan pendidikan itu tidak akan berkesinambungan dan keharmonisan bersatu.untuk membangun karakter watak seorang murid melalui pendidikan yag mutlak untuk diperlukan, bahkan tidak bisa untuk ditunda dengan meneladani kisah para tokoh yang patut untuk kita teladani.

Untuk berperilaku disiplin terhadap aturan yang telah ditetapkan pemerintah.  Perilaku tidak disiplin juga sering ditemui di lingkungan sekolah, termasuk sekolah dasar. Sebagai contoh perilaku tidak disiplin tersebut antara lain datang ke sekolah tidak tepat waktu, tidak memakai seragam yang lengkap sesuai dengan yang tercantum dalam tata tertib sekolah, duduk atau berjalan dengan se- enaknya menginjak tanaman yang jelas-jelas sudah dipasang tulisan “dilarang menginjak tanaman”, membuang sampah sembarangan, mencorat coret dinding sekolah, membolos sekolah, mengumpulkan tugas tidak tepat waktu, tidak menggunakan seragam sesuai aturan, dan lain-lain. 

Terjadinya perilaku yang tidak disiplin di Madrasah tersebut sangat menunjukkan bahwa telah terjadi dipermasalahan dalam hal pendidikan karakter disiplin. Munculnya faktor perilaku tidak disiplin itu menunjukkan bahwa pengetahuan yang terkait dengan karakter yang didapatkan oleh siswa yang ada di Madrsah itu tidaklah membawa dampak yang positifterhadap perubahan perilaku menyimpang sisa sehari-harinya. Pada dasarnya siswa itu tahu bahwa perilakunyaitu tidak benar teteapi mereka itu tidak memiliki kemampuan untuk membiasakan dirinya untuk menghindari perulaku yang salah. Hal ini merupakan dalam sebuah proses pendidikan karakter yang terjadi, bisa saja pendidikan karakter yang dilakukan selama ini baru tahap pengetahuan saja, Belum sampai pada perasaan dan perilaku yang berkarakter disiplin tersebut.

Pendidikan formal harus memiliki peran yang terpenting dalam membangun karakter bangsa dan bernegara, dikarenakan dengan adanya pendidikan peserta didik yang berusaha untuk dibekali berbagai pengetahuan dan ketrampilan supaya bisa hidup di tengah-tengah masyarakat.

Pembahasan dalam tulisan ini didukungoleh hasil penelitian dan kajian kepustakaanyang harus diawali dengan pemahaman sebuahgagasan pengembangan karakter, kemudianpemahaman tentang pentingnyapendidikan Al-Quran.

METODE Adapun penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakanpenelitian kualitatif (qualitative research) dengan menggunakan pendekatan yang bersifat deskriptif dan eksplanotoris . Pendekatan tersebut berupaya untuk menjawab “apa” yang terjadi, sedangkan eksplanotoris untuk menjawab “mengapa” dan “bagaimana”ang kemudian akan dituagkan dalam bentuk tulisan.
Dalam hal tesebut, penelitian ini sanagt difokuskan pada “ Penerapan Pendidikan karakter disiplin di MI Islamiyah Sumberwudi rasah Ibtidaiyah Islamiyah. Penelitian ini dilaksanakan di  MI Islamiyah. MI Islamiyah Sumberwudi beralamat di Jl Sumberwudi Karanggeneng Lamongan 62254..
Adapun teknik penumpulan data ini yang harus digunakan dalam penelitian adalah :
a.    Observasi. Metode observasi ini merupaka suatu penyelidikan yang dijalankan secara sistematik dan disengaja digunakan untuk menggunakan alay indra terhadap kejadian – kejadian tersebut. Teknik ini dilakukan dengan melalui pengamatan secara langsung dan intensif.
b.    Wawancara. Dengan adanya wawancara tersebut, digunkan untuk mendapatkan keterangan – keterangan lisan melalui percakapan secara langsung sebaiknya dilakukan dengan cara berhadapan muka dengan yang akan diwawancarai (interviewee) tersebut.
Wawancara digunakan untuk menjaring data atau informasi yang berkaitan dengan berbagai kebijakan yang dilakukan sekolah dalam pelaksanaan pendidikan karakter disiplin. Observasi dilakukan untuk melihat implementasi pendidikan karakter disiplin melalui pembelajaran di kelas. Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data tentang tata tertib sekolah dan rencana pembelajaran yang dibuat oleh guru.

Baca Juga :  Hakikat Pendidikan Karakter Pada Anak Usia Dini

HASIL DAN PEMBAHASAN
Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Sumberwudi yang terletak di daerah Desa Sumberwudi, Kabupaten Lamongan. Madrasah ini termasuk dalam madrasah yang menggunakan jalur pendidikan formal untuk jenjang Madrasah Ibtidaiyah. MI Islamiyah ini dikelol dalam naungan lembaga pendidikan pesantren dan dapat bantuan dari masyarakat sekitar. Madrasah ini berstatus Madrasah Swasta, bukan Madrasah Negeri.
Dalam upaya untuk mendukung  sebuah keberhasilan  pendidikan karakter disiplin di MI Islamiyah Sumberwudi ini  perlu dilakukan dengan berbagai kebijakan oleh Madrasah. Dalam pelaksanaan kebijakan tersebut sekolah menjalin kerjasama yang baik antara kepala sekolah, guru, karyawan, orang tua, dan komite sekolah. Berbagai kebijakan yang dilakukan oleh  MI Islamiyah Sumberwudi tersebut adalah sebagai berikut.

Program Pendidikan Karakter
Program pendidikan karakter ini merupakan salah satu program madrasah yang di laksanakan di MI Islamiyah. Di dalam program pendidikan tersebut yang harus dikembangkan yaitu Karakter Disiplin. Untuk penyusunan/pembuatan program pendidikan karakter ini perlu untuk melakukan melibatkan guru, orang tua, dan siswa. Dengan adanya hal tersebut, akan mengingatkan kita bahwa untuk mendukung  keberhasilan progam pendidikan karakter itu perlu untuk campur tangan dari pihak Madrasah (Guru), Orang Tua, dan Masyarakat. 2
Demikian pula yang terjadi di MI Islamiyah Sumberwudi Lamongan bahwa orang tua perlu ikut serta terlibat secara aktif dalam mendukung keberhasilan dari program pendidikan karakterdisiplin yang dibuat oleh pihak Madrasah. 
Menetapkan Perturan Madrasah dan Peraturan  yang ada di Kelas
Peraturan ini bertujuan untuk membekali anak dengan pedoman perilaku yang telah disetujui dalam situasi tersebut. Misalnya dalam sebuah peraturan Madrasah, perturan ini memuat apa yang harus dilakukan oleh Murid dan apa saja yang tidak oleh dilakukan oleh setiap Murid, baik berada di lingkungan Madrasah. Tujuan untuk diadakannya tata tertib adalah untuk menciptakan atau membentuk suatu kondisi yang menunjang terhadap suatu suatu kelancaran, ketertiban dan suasana damai disaat pembelajaran berlangsung. Tata tertib Madrasah merupakan patokan atau standart untuk hal – hal tertentu.

Sesuai dengan keputusan Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah nomor 158/C/Kep/T.8. Ketertiban berarti sebuah kondisi dinamis yang akan menimbulkan keserasian, keselaraan dan berkesinambungan dalam tata hidup ketertiban Madrasah tersebut dapat dituangkan dalam sebuah tata tertib Madrasah.  Tata tertib Madrasah ini dapat diartikan sebagai ikatan atau peraturan yang harus depenuih setiap warga madrasah selama proses belaar mengajar itu berlangsung. Pelaksanaan tata tertib tersebut bsa berjalan dengan baik selagi guru, aparat madrasah dan murid itu telah mendukung tata tertib madrasah itu sendiri, kurangnya dukungan tersebut akan mengakibatkan kurangnya berartinya tata tertib madrasah tersebut untuk diterapkan.
Peraturan sekolah berupa tata tertib merupakan sebuah kumpulan aturan – aturan yang dibuat secara tertulis dan mengikat di lingkunga madrasah tersebut.  Dari kesimpulan tersebut dapat kita pahami bahwa tata tertib  madrasah itu sebagai aturan yang berlaku di madrasah sehingga dapat berlangsunya secara efektif danefisien dan disusun secara operasional guna untuk mengatur tingkah laku dan sikap murid, guru dan karyawan ang ada di madrasah tersebut. Pelaksanaanya merupakan sarana untuk meningkatkan disiplin belajar mereka yang dapat berjalan dengan baik.

Tata tertib yang ada di MI Islamiyah Sumberwudi  Lamongan meliputi hal – hal berikut : (1) Masuk Sekolah ; Semua siswa wajib datang ke sekolah sebelum jam 06.45 untuk mengikuti apel pagi. Murid yang terlambat datang ke madrasah tidak diperkenankan masuk kelas sebelum izin/lapor ke guru piket / guru BK. Siswa yang tidak bisa megikuti pelajaran(absen/sakit/izin keperluan keluarga) harus memakai surat izin dan apabila sakit lebih dari 3 hari harus mengirimkan surat izin dari dokter, siswa yang absen lebih dari batas maksimum tanpa surat izin maka akan di peringatkan terlebih dahulu dan yang masih absen tanpa keterangan maka akan dikembalikan ke orang tua (dikeluarkan) dari pihak sekolah. (2) Kewajiban : Murid  wajib mentaati semua peraturan/tata tertib yang ada di madrasah. Wajib  untuk mentaati/mematuhi semua guru yang ada di madrasah. Murid ikut serta dalam menjaga nama baik madrasah. Ketika hendak keluar kelas harus izin Ustadz/Ustadzah yang ada di  dalam kelas. Murid wajib mengucapkan salam ketika akan masuk kelas/ ruangan lainnya. Murid harus berada di luar kelas saat jam istirahat berlangsung. Ketika murid akan meninggalkan madrasah sebelum pembelajaran selesai, maka harus izin kepada kepala madrasah atau Ustadz/Uatadzah. Murid wajib berdo’a ketika sebelum dan selesai jam pelajaran. Wajib menjaga kebersihan lingkungan madrasah. Menjaga/merawat buku yang telah dipinjamkan dari madrasah. Wajib untuk mengikuti Ekstrakulikuler. Wajib untuk mengikuti Sholat Dhuha dan Sholat Dhuhur berjama’ah.wajib mengikuti upacara bendera. Setiap murid wajib untuk menggunakan atribut sekolah (Kaos kaki putih, Sepatu hitam, berikat pinggang berlogo MI ).  Apabila guru tidak berkenan untuk hadir, wajib untuk memberi tugas kepada murid/kelas tersebut.(3) Larangan; Membawa sepeda motor ke Madrasah. Membawa senjata tajam atau alat yang membahayakan lainnya. Murid dilarang berambut panjang, menyemir dan berkuku panjang. Dilrang untuk membuang sampah sembarangan. Dilarang untuk menggoda atau mengejek teman sehingga menimbulkan perkelahian. Merokok di luar atau di dalam lingkungan Madrasah. Membawa HP/alat elektronik lainnya. Dilarang untuk meninggalkan Madrasah selama pembelajaran berlangsung tanpa izin dari guru piket/guru BK. Dilarang untuk menggunakan accecoris/perhiasan yang berlebihan. Mengganggu jalannya pembelajaran. 3

Melakukan Sholat Dhuha dan Sholat Dhuhur Berjama’ah
Dengan melaksanakan Sholat dhuha dan sholat dhuhur berjama’ah itu  merupakan salah satu kegiatan yang sangat berpengaruh dalam  menegakkan kedisiplinan siswa di MI Islamiyah Sumberwudi Lamongan. Melalui kegiatan ini, siswa dilatih untuk tertib dalam melakukan ibadah. Pembiasaan tersebut menghasilkan siswa untuk berdisiplin dalam beribadah. Selain itu juga

Membuat Ranah afektif di Madrasah
Ranah afekteif itu merupakan salah satu kebijakan yang dilakukan di MI Islamiyah guna untuk menginternalisasikan nilai – nilai karakter  disiplin siswa tersebut. Ranah afektif ini bertujuan untuk menhukur minat dan sikap yang dapat dibentuk dengan tanggung jawab, kerjasama, disiplin, komitmen, kepercayaan diri, jujur, menghargai pendapat orang lain, dan kemampuan untuk mengendalikan diri seorang murid.
Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. 4 Keterampilan  afektif dari suatu proses dan hasil untuk menekankan pada bagaimana murid itu bersikap dan bertingkah laku di dalam lingkungan masyarakatnya. Pemikiran atau perilaku yang dapat di klarifasikan sebagai ranah afektif. Pertama, perilaku itu akan melibatkan perasaan dan emosi seseorang. Kedua, perilaku itu merupakan tripikal seseorang.
Menurut Nana Sudjana, pembelajaran dalam ranah afektif, yaitu : Pembelajaran yag berkaitan dengan sikap yang terdiri dari 5 aspek, yakni : Peneriman, Jawaban/Reaksi, Penilaian, Organisasi, dan Internasionalisasi.

Adapun tingkatan ranah afektif menurut taksonomi Karthwohl ada 5, yaitu : 4
a.    Penerimaan (Receiving/Attending)
Penerimaan yang dimaksud yakni merupakan kepekaan dalam bentuk keinginan untuk menerima dan memperhatikan terhadap fenomena yang terjadi. Diantara kegiatan yang menunjukkan penerimaan antara lain :
a.    Merasa senang untuk mengerjakan soal Matematika
b.    Senang akan melaksanakan Kedisiplinan
c.    Senang mendengarkan musik
d.    Senang akan membaca Puisi, Cerita dan membaca Buku
e.    Senang melakukan kerjasama atau gotong royong.
b.    Respon ( Responding)
Respon itu merupakan sikap perhatian dan partisipasi aktif peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Adapun kegiatan pembelajaran yang menggunakan respon, antara lain:
a.    Bertanya
b.    Mentaati peraturan yang ada
c.    Mengerjakan tugas
d.    Menunjukkan empati
e.    Melakukan intropeksi
f.    Mengungkapkan perasaan
g.    Meminta maaf setelah melakukan kesalahan
h.    Senang akan kebersihan dan Kerapian
i.    Ikut serta dalam mendamaikan orang yang bertengkar.
c.    Acuan Nilai (Valuing)
Acuan nilai tersebut merupakan keyakinan atau sikap yang menunjukkan derajat internalisasi dan komitmen – komitmen terhadap nilai – nilai  yang berlaku di lingkungan peserta didik.  Valuing ini memiliki motivasi agar berperilaku  yng berdasarkan nilai – nilai yang pasti. Kegiatan belajar ini yang bersangkutan dengan Valuing, antara lain :
a.    Mengaprealisasikan nilai karya seni
b.    Menunjukkan simpati kepada korban pelanggaran HAM
c.    Menunjukkan Keprihatinan terhadap peristiwa atau aktifitas yang tidak sesuai dengan nilai
d.    Melakukan upaya dalam melestarikan lingkungan hidup.
e.    Berperilaku Disiplin.
d.    Organisasi (Organization)
Merupakan organisasi yang mengorganisasikan nilai – nilai yang relavan kedalam suatu system yang didasarkan saling berhubungan antar nilai. Kegiatan belajar secara Organizing, diantaranya :
a.    Mendudukung pelaksanaan kedisiplinan
b.    Bertanggung jawab terhadap suatu perilaku.
e.    Membentuk Karakter (Characterization)
Merupakan system nilai yang akan dijadikan karakter disiplin secara terorganisasikan dan konsisten. Kegiatan belajar ini menunjukkan :
a.    Rajin,tepat waktu, disiplin
b.    Mempertahankan hidup sehat
c.    Berdiskusi dalam memecahkan suatu masalah.

Baca Juga :  Dampak Negatif Dan Positif Penggunaan Gadget Terhadap Prestasi Siswa

Menurut BNSP ada 5 tipe karakter afektif yang sangat penting, diantarnya yaitu : Sikap, Minat, Konsep Diri, Nilai dan Moral. Kegiatan ranah afektif ini akan difokuskan pada pembinaan khusus kepada murid dala hal yang berperilaku tertib saat memasuki kelas, melangkah, mengucapkan salam, berjabat tangan kepada sesama murid, meletakkan tas sesuai dengan tempat duduknya secara rapi, dan lain sebagainya. Melalui kegiatan ranah afektif ini murid dilibatkan secara aktif dalam penegakan disiplin di MI Islamiyah Sumberwudi Lamongan.

Memantau perilaku kedisiplinan murid di rumah melalui buku penghubung  siswa.
Buku penghubung merupakan salah satu kebijakan yang dilakukan di MI Islamiyah Sumberwudi Lamongan untuk memantau perilaku disiplin murid di rumah.buku ini merupakan alat bantu guru untuk memantau kegiatan murid di rumah dalam hal kedisiplinannya saat melakukan ibadah, belajar, dan kegiatan lainnya yang berkaitan dengan pengembangan disiplin murid.
Kebijakan adanya buku penghubung ini sebagaimana upaya untuk melakukan monitoring terhadap perilaku murid di rumah untuk diamati guru secara satu persatu. Buku penghubung menjadi alat atau sarana sebagai pengganti komunikasi langsung. Pengguna utamanya adalah Murid, dimana pesan dari guru itu dituliskan pada 

buku penghubung tersebut, selanjutnya buku penghubung itu dapat dibaca oleh orang tua. Pesan tersebut dapat diterima orang tua tanpa bertamu langsung dengan guru.
Buku penghubung ini dapat melatih murid dalam sikap disiplin untuk menulis informasi tanpa menundanya. Murid akan terbiasa untuk menulis informasi pada buku penghubung itu sesegera mungkin setelah guru memberikan intruksi. Kemampuan menulis murid yang masih rendah ini dapatdilatih dengan sering menggunakan buku penghubung.

Peran Orang Tua kepada anak dalam Pendidikan Karakter Disiplin
Keterlibatan peran Orang Tua dalam mendukung keberhasilan pendidikan karakter disiplin yang dilakukan oleh Madrasah adalah hal terpenting yang tidak boleh diabaikan. Kegiatan ini sangat dilakukan dengan tujuan agar orang tua dapat melakukan program pendidikan karakter disiplin yang dikembangkan di sekolah dalam kegiatan anak – anak yang dilakukan sehari-hari.

Orang tua merupakan pendidikan pertama bagi anak. Terutama pada anak usia dini,dimana pada masa itu adalah masa yang sangat penting bagi perkembangan potensianak bahwa pada usia dini merupakan usia emas yang tidak akan berulang, karena masa pentng dalam pembentukan dasar – dasar kepribadian, kemampuan berfikir, kecerdasan, ketrampilan dan kemampuan untuk bersosialisasi. Melihat kondisi sekarang dan yang akan datang, anak – anak usia remaja ini mulai jarang untuk memiliki nilai  karakter berdudi luhur. Contoh : Kurang sopan terhadap orang yang lebih tua, berbicara dengan tidak sopan, tidak tahu waktu, dan lain sebagainya.

Medidik anak itu bukanlah bukanlah suatu perkara yang mudah. Orang tua yang salah dalam mengasuh anaknya itu akan menghasilkan “produk” anak yang membangkan, tidak dapat menghormati orang lain, tidal mengenal tata krama atau sopan santun, nakal, tidak dapat di nasehati, dan lain – lain. Berikut  faktor cara asuh anak yang dapat menjadikan anak tersebut menjadi produk yang salah dan tidak diharapkan oleh orang tua. Kurangnya pengawasan, kurangnya  kasih sayang orang tua kepada anaknya. Sehingga anak itu tidak memiliki waktuuntuk mendengar apa kata hati dan keinginan mereka. 5 Orang tua tidak boleh memarahi ataupun melarang anaknya apabila anak itu bertanya, sebaiknya jika anak itu bertanya hendaknya kita menjawab dengan persepsi yang berbeda agar anak itu tidak berfikiran negatif atau buruk, karena biasanya anak itu mempunya rasa penasaran yang tinggi, apabila anak itu bertanya tentang masalah yang dialami oleh orang tuanya.

Orang tua itu sebaiknya mengajarkan anaknya tentang kemandirian dan keederhanaan agar anak itu tidak terbiasa dalam keadaan yang berlimpah materi. Selain itu juga sifat mandiri anak merupakan hal yang sangat penting karena untuk menghindari sifat anak yang malas. Sebagai orang tua juga harus mengajarkan anak tentang peduli dengan  sesamaadalah suatu tindakan yang baik dimana anak tersebut dapat lebih baik untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Orang tua juga harus mengajarkan apa arti tanggung jawab, agar terbiasa bisa bertanggung jawab atas segala tugas dan kewajibannya.

Peran keluarga dalam mendisiplikan anaknya dengan melakukan kontrol terhadap perilaku anak di rumah. Salah satu caranya dalam mengkontrol kedisiplinan yaitu, dengan menonton TV, main game, mengerjakan Pr, belajar, beribadah, dan lain- lain. Jika ada perilaku anak yang menyimpang, maka peran orang tua itu perlu untuk mencari solusina sehingga perilaku yang menyimpang itu dapat diatasi, dan anak dapat kembali berperilaku yang sesuai dengan aturan yang ada.
Oleh karena itu, peran orang tua dan semua anggota keluarga di rumah itu sangat penting untuk membentuk karakter yang sangat baik sejak dini. Keluarga itu sebagai tempat pembentukan karakter anak, yang mana karakter yang terbentuk di lingkungan keluarga dapat terbawa ke lingkungan sekolah maupun masyarakat. 6

Peran Komite sekolah dalam Meingkatkan Mutu Pendidikan Karakter
Komite sekolah adalah suatu badan atau lembaga madiri yang memberikan wadah bagi masyarakat guna untuk meingkatkan mutu, pemerataan dan efesiensi pengelolahan pendidikan dan proses belajar mengajar, baik dalam pendidikan prasekolah, jalur pendidikan sekolah, maupun jalur pendidikan luar sekolah. Komite sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung keberhasilan pendidikan karakter disiplin di sekolah. Alasan perlunya masyarakat yang terlibat dalam pendidikan karakter diseipin ini mengingat bahwa interaksi anak tidak hanya terbatas dengan guru dan teman sebaya serta orang tua saja, akan tetapi mereka juga dapat berinteraksi dengan masyarakat lain yang lebih luas.

Paradigma baru yang lahir karena adanya pergerseran penyelenggaraan pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi. Melahirkan adanya pemberian otonomi yang luas dan nyata pada daerah. Pemberian otonomi ini dimaksudkan untuk menjadikan daerah itu lebih mandiri dan lebih memberdayakan masyarakatnya.

Komite sekolah sebagai wadah masyarakat dalam berpartisipasi terhadap peningkatan mutu pelayanan dan hasil pendidikan di sekolah, keberadaannya itu sudh semestinya bertumpu pada landasan tersebut. Oleh karena itu, pembentukannya harus diperhatikan pembagian peran sesuai posisi dan otonomi yang ada itu, adapun peran yang dijalankan komite sekolah adalah : 7
a.    Memberi pertimbangan dalam menentukan dan melaksanakan kebijakan pendidikan
b.    Pendukung, baik yang berwujud finansial, pemikiran, maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan
c.    Pengontrolan dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan pengeluaran pendidikan
d.    Mediator anatara pemerintah dengan masyarakat. 

Baca Juga :  Landasan dan tujuan Manajemen Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah

Sebagai realisasi dari peran komite sekolah serta manifestasi dari sistem pendidikan yang demokratis.  maka Komite Sekolah harus melaksanakan akuntabilitas sebagai berikut :
a.    Komite sekolah harus menyampaikan hasil kajian pelaksanaan progam sekolah kepada Stakeholder secara periodik, baik berupa keberhasilan maupun kegagalan dalam pencapaian tujuan dan sasaran program sekolah.
b.    Menyampaikan laporan pertanggung jawaban bantuan masyarakat, baik berupa materi (dana) maupun non materi ( tenaga, pikiran) kepada masyarakat dan lingkungan sekolah tersebut.

Pentinya keterlibatan masyarakat yang dalam hal ini diwakili oleh komite sekolah yang didasari dengan alasan bahwa masyarakat yang baik secara langsung itu maupun tidak langsung akan memberi pengaruh yang positif terhadap pembentukan karakter peserta didik, hal ini senada degan pendapat pendapat Mulyasa  bahwa terdapat pengaruh yang diberikan oleh lingkungan masyarakat yang positif terhadap pembentukan karakter perserta didik. Komite sekolah ini dalam mendukung keberhasilan pendidikan karakter disiplin siswa ini dapat berperan sebagai mitra bagi sekolah dalam proses pengembangan karakter siswa. Kerjasama ini dapat diwujudkan dalam b hal merumuskan suatu progam secara materiil maupun non materiil, memotivasi orang tua siswa untuk terlibat secara aktif, mengevaluasi pelaksanaan program dan sebagainya.

Menciptakan Iklim Kelas yang Kondusif bagi Murid untuk berperilaku atau bersikap Disiplin
Lingkungan madrasah yang kondusif itu sangat penting untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan pendidikan karakter disiplin di lingkungan Madrasah. Lingkungan yang kondusif ini meliputi lingkungan yang fisik dan lingkungan non fisik.
Proses pemelajaran itu seharusnya mampu untuk menciptakan suasana kelas atau iklim kelas yang kondusif untuk terciptanya kualitas proses pembelajaran tersebut dan guna untuk meningkatkan prestasi belajar murid. Iklim kelas yang memungkinkan murid itu untuk selalu berperilaku disiplin sangat baik untuk mendukung keberhasilan internalisasi nilai karakter disiplin, terutama di Madrasah Ibtidaiyah. Iklim kelas adalah kondisi lingkungan kelas dalam hubungannya dengan kegiatan pembelajaran. Iklim kelas merupakan suasana yang ditandai oleh adanya pola interaksi atau komunikasi antara guru dengan murid, murid dengan murid yang lainnya.  

Di dalam kelas juga perlu ditegakkan aturan yang diberlakukan bagi semua warga kelas. Aturan berfungsi sebagai standar perilaku yang harus ditaati oleh seluruh warga kelas. Berhubungan dengan peranan aturan atau norma di dalam kelas Nucci & Narvaez  menjelaskan bahwa dalam pendidikan moral perlu melibatkan dukungan otoritatif norma. Dalam konteks ini pengertian “norma” dianggap bersinonim dengan “aturan,” atau “standar perilaku”
Faktor yang diperhatikan dalam menciptakan  iklim kelas yang kondusif, antara lain : 8
a.    Melakukan  pendekatan dalam pembelajaran yang hendaknya berorientasi yang memusat bagaimana murid yag sedang belajar dalam kelas.
Proses pembelajaran yang dilaksanakan hendaknya bertujuan untuk memberikan peluang aktif murid tersebut. Dengan pendekatan ini guru dapat menggunakan pendektan konstruktivisik adalah dengan membantu murid dalam membangun pengetahuan.  Diharapkan dalam proses pembelajaran ini menjadi lebih berkualitas dan bermakna bagi murid sehingga dapat meningkatkan kompetensi dan prestasi belajar murid tersebut.
b.    Pemberian penghargaan oleh guru terhadap murid yang berpartisipasi aktif dalam kelas setiap proses pembelajaran. Dengan cara memuji murid, memberikan nilai tambahan, atau yang lainnya.

Kegitan pembelajaran ini akan mendorong murid untuk berani dalam mengemukakan pendapatnya, dan berani dalam mengkritis materi pembelajaran yang sedang dibahas. Sehingga murid terbiasa untuk berfikir kritis, kreatif, dan terlatih untuk mengemukakan pendapat tanpa ada rasa minder atau rendah hati. Hendaknya guru itu tidak menilai murid dari segi kearifannya saja, akan tetapi akan memperhatikan sikap penghargaan  terhadap aktivitas bersama teman – temannya dan kemampuan dalam bekerjasama dengan orang lain.
c.    Hendaknya seorang guru harus bersikap demokratis atau tegas dalam proses pembelajaran.
Kemampuan guru dalam menanamkan sifat demokratis ini sangat berpengaruh terhadap pencapaian misi pendidikan, dan menciptakan proses pembelajaran yang kondusif, bermakna dan berkualitas.
d.    Setiap permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran itu sebaiknya dibahas secara dialogis.
Dalam permasalahan ini akan mampu mengembangkan pemikiran murid yang kritis dalam membahas dan menyelesaikansetiap permasalahan yang muncul saat proses pembelajaran.
e.    Lingkungan kelas itu seharusnya disetting sedemikian rupa sehingga semangat belajar murid itu bisa termotivasi dan mendorong terjadinya proses pembelajaran tersebut.
Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam menyetting lingkungan kelas yang konduktif adalah dengan mengatur tempat duduk murid degan variatis atau sesuai keinginan murid sehingga murid itu tidak akan jenuh dengan tempat duduknya,pengaturan tempat duduk ini dapat dilakukan sesuai kebutuhan dan strategi pembelajaran yang digunakan tersebut. Memanfaatkan dinding ruang kelas sebagai sarana media penunjang pembelajaran lebih baiknya hasil karya murid tersebut di tempelkan pada dinding kelas atau papan info bukan malah dibuat coret – coretan murid. Hendaknya pembaruan poster atau media penunjang diganti setiap bulannya.
f.    Menyediakan berbagai alat bantu belajar atau sumber informasi yang berkaitan dengan sumber ajar yang dapat diakses atau dipelajari murid itu dengan cepat.
Keberadaan berbagai jenis sumber belajar yang  memadai di lingkungan sekolah cukup membantu siswa untuk membangun dan mengkonstruksi pengetahuannya sendiri.  Jenis sumber belajar tersebut bisa dalam bentuk: buku, modul, pembelajaran berprograma, audio, video, dan lain sebagainya. Hal ini akan mempermudah siswa untuk dapat belajar sesuai dengan kemampuan dan karakteristik  gaya belajarnya  masing-masing.
Selain itu juga dapat dilakukan dengan cara :
a.    Penugasan kepada siswa yang lebih banyak diarahkan untuk memanfaatkan sumber belajar yang ada di lingkungan sekolah. 
b.    Membuat kontrak belajar dan membuat aturan kelas.
c.    Mengembangkan kemandirian siswa untuk mengkreasikan ruang kelas sesuai dengan kreativitas masing-masing warga kelas.

PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan penelitian ini yang dilakukan di MI Islamiyah Sumberwudi Lamongan dapat disimpulkan bahwa untuk mendukung kerberhasilan dalam pendidikan karakter disiplin di MI Islamiyah ini perlu dibuat 8 kebujakan Madrasah, yaitu : Membuat pogram pendidikan karakter. Menetapkan aturan sekolah dan aturan kelas. Melakukan Sholat Dhuha dan Sholat Dhuhur berjama’ah.  Membuat Rananh Afektif di Madrasah. Memantau perilaku kedisiplinan di rumah melalui buku penghubung siswa. Peran Orang Tua kepada anak dalam Pendidikan Karakter Disiplin. Peran Komite sekolah dalam Meingkatkan Mutu Pendidikan Karakter.  Menciptakan Iklim Kelas yang Kondusif bagi Murid untuk berperilaku atau bersikap Disiplin.
Pentingnya pendidikan karakter disiplin bagi murid ini merupakan keperluan yang sangat wajib yang tidak terbantahkan lagi. Pendidikan karakter ini bertujuan untuk menyelenggarakan pendidikan yang bisa mengarah pada pencapaian pembentukan karakter, pengembangan nilai – nilai karakter berbangsa dan berakhlak mulia pada peserta didik.

Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat memberikan saran Perlu untuk melalkukan evaluasi agar dapat mengukur kadar efektivitas dan efisiensi program pendidikan karakter melalui proses pembelajaran tersebut.

Daftar pustaka
Putri  dini palupi. Pendidikan Karakter Pada Anak Sekolah Dasar di Era Digital. 2018;2(1).
Pustka K. Pendidikan Karakter Disiplin. 2013:13-63.
Shohib. TATA TERTIB MURID MI ISLAMIYAH SUMBERWUDI-KARANGGENENG. 2019:2019.
Pratiwi  deni setya. RANAH AFEKTIF DALAM PEMBELAJARAN DI MI DALAM KURIKULUM 2013 Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas individu. 2017;(15480076).
Utami  suerlin diah. Peranan Orang Tua Dalam Mendidik Anak. 2019:1-6.
Rahmasari S. Peran Orangtua dalam Pendidikan Karakter Anak. 2019:1-7.
Misbah M. Peran dan Fungsi Komite Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan. 2009;14(1):1-15.
 ali muhtadi. MENCIPTAKAN IKLIM KELAS (CLASSROOM CLIMATE) YANG KONDUSIF DAN BERKUALITAS DALAM PROSES PEMBELAJARAN. :1-10.

Oleh : Nadia Aulia Al Karima

Tags: