Perlunya Pendidikan Berpikir Kritis

ABSTRAK
Pada hakikatnya, pendidikan berpikir kritis sangat diperlukan baik untuk memecahkan masalah atau mencari solusi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan angket untuk mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan pendapat siswa terhadap perlunya pendidikan berpikir kritis. Sampel penelitian adalah Siswa MTsN Sidoarjo. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sangat diperlukan pendidikan berpikir kritis pada Siswa MTsN Sidoarjo dengan presentase 85%.
Kata Kunci : Pendidikan, Berpikir Kritis, Angket

 Perlunya Pendidikan Berpikir Kritis

PENDAHULUAN
Seseorang dapat dikatakan berhasil dalam kehidupannya antara lain berasal dari kemampuan berpikirnya. Pengembangan berpikir kritis dalam pembelajaran sering dilupakan dari perhatian kita. Sistem pendidikan lebih mengutamakan pada penyampaian informasi daripada pengembangan kemampuan berpikir. Padahal informasi belum bisa membuat pengetahuan sampai pikiran manusia, informasi hanya bisa membuat keputusan dan memecahkan masalah.[1] Keterampilan berpikir kritis tidak dapat dikembangkan dengan sendirinya, keterampilan ini harus dilatih.[2]

Menurut Paul berpikir kritis merupakan suatu keterampilan berpikir tingkat tinggi yang dapat digunakan dalam berbagai keadaan, meliputi penggunaan bahasa, membuat kesimpulan, membuat keputusan serta memecahkan masalah.[3]

Berpikir kritis juga merupakan kegiatan mengevaluasi dan mempertimbangkan suatu kesimpulan yang akan diambil saat menentukan beberapa faktor pendukung untuk membuat keputusan.[4]

Pola berpikir kritis sangatlah penting dalam pembelajaran maupun dalam kehidupan sehari-hari, beragam manfaat yang diperoleh dari kemampuan berpikir kritis ini yang mendorong pendidik untuk dapat melatih dan mengembangkan kemampuan ini kepada peserta didik.[5]

Peserta didik diharapkan dapat memiliki keterampilan berpikir kritis sehingga dapat mencari solusi yang tepat untuk memecahkan masalah baik permasalahan dalam pembelajaran maupun dalam kehidupan sehari-hari.[6]

Kemampuan berpikir kritis dapat mengajarkan peserta didik untuk memikirkan cara mereka membuat kesimpulan, memecahkan maslah, menganalisa konsep, teori dan penjelasan.[7]
Dengan ini, alasan saya memilih meneliti tentang perlunya berpikir kritis dalam pendidikan dikarenakan dapat membangun dan mengeksplor kerangka berpikir yang baik dan mempunyai peranan yang besar dalam meningkatkan proses dan hasil belajar.[8]

Baca Juga :  Penerapan Akhlaq Pada Pendidikan Karakter Di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Gresik Pada Era Globalisasi

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan angket untuk mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan pendapat siswa terhadap pentingnya pendidikan berpikir kritis. Sampel penelitian adalah Siswa MTsN Sidoarjo. Siswa yang dilibatkan dalam penelitian adalah berjumlah 10 orang.[9]
Disini ada 3 tahap dalam penelitian :
Tahap Perencanaan
Tahap ini dilakukan dengan pembuatan lembar observasi atau angket yang berbentuk essay.

Tahap Observasi

Tahap observasi  dilakukan guna menganalisis serta mengamati terhadap perlunya pendidikan berpikir kritis pada Siswa MTsN Sidoarjo.

Tahap Penyimpulan
Tahap Penyimpulan ini dilakukan untuk mengetahui pentingnya pendidikan berpikir kritis pada Siswa MTsN Sidoarjo.

Rata-rata penilaian presentase angket
Gambar 1. Rumus Presentase Angket

Pembahasan
Analisis data hasil penelitian dilakukan untuk mengetahui pentingnya pendidikan berpikir kritis pada Siswa MTsN Sidoarjo. Data yang diperoleh dari penggunaan angket berupa pertanyaan essay yang berjumlah 8 soal.

Setelah data hasil penelitian terkumpul kemudian data tersebut di hitung berdasarkan Gambar 1. Dari Tabel 1 dan Gambar 2 dapat diketahui bahwa Pertanyaan 1 Siswa yang bisa membedakan pendapat yang salah dan benar (100%), Pertanyaan 2 Siswa yang paham pemikiran yang jelas sumbernya (80%), Pertanyaan 3 Siswa yang bisa menyelesaikan suatu masalah tentang pelajaran (90%), Pertanyaan 4 Siswa yang bisa menanggapi masalah menggunakan logika (90%), Pertanyaan 5 Siswa yang berani mengambil keputusan (80%), Pertanyaan 6 siswa yang mampu mengungkapkan pendapat (90%), Pertanyaan 7 Siswa yang berani mengambil resiko (80%), Pertanyaan 8 Siswa yang bisa mengetahui informasi yang penting (90%), Pertanyaan 9 Siswa yang bisa memahami pendapat yang berubah-ubah  (60%), Pertanyaan 10 Siswa yang bisa membedakan fakta atau khayalan (90%).
 

Tabel 1 dan Gambar 2 menunjukkan bahwa sangat diperlukan penerapan pendidikan berpikir kritis pada Siswa. Dapat dibuktikan dari hasil data penelitian di MTsN Sidoarjo.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa perlunya pendidikan berpikir kritis di MTsN Sidoarjo sangat diperlukan dengan presentase 85%.
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan diatas, disarankan agar diterapkan sistem berpikir kritis dalam pendidikan atau proses pembelajaran.[10]

Baca Juga :  Manajemen Pendidikan Karakter Aud Di Tk Aba Wonocolo Surabaya

DAFTAR PUSTAKA
Anggraini, Dyan Novi, Laila Khamsatul Muharrami, Wiwin Puspita Hadi, and Ana Yuniasti Retno. “Profil Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMP Negeri 1 Menganti Kabupaten Gresik Dengan Menggunakan Teknik Probing Prompting Dalam Pembelajaran Guided Discovery Learning,” 2019, 117–23.
Fitriani, Rita, and Ade Ari Irawan. “Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik SMP Kelas VII Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah.” Bioedusiana 3, no. 1 (2018): 8–14.
Indrawati, Henny. “Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Mahasiswa Melalui Implementasi Model Controversial Issues Pada Mata Kuliah Ekonomi Sumber Daya Manusia Dan Alam,” 2012, 63–70.
Jirana, Mohammad Amin, Endang Suarsini, and Betty Lukiati. “Analisis Keterampilan Berpikir Kritis Mahasiswa Pada Mata Kuliah Evolusi Di Universitas Sulawesi Barat,” 2016, 953–58.
Kustyorini, Yunita, and Mohan Taufiq Mashuri. “Penerapan Pembelajaran Diskusi Analogi Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa,” 2019, 2–6.
Ramalisa, Yelli. “Proses Berpikir Kritis Siswa SMA Tipe Kepribadian Thinking Dalam Memecahkan Masalah Matematika.” Edumatica 03, no. 01 (2013): 42–47.
Redhana, I Wayan. “Model Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk Peningkatan Keterampilan Pemecahan Masalah Dan Berpikir Kritis.” Pendidikan Dan Pengajaran 46, no. 1 (2013): 76–86.
Wulandari, Ana Yuniasti Retno. “Implementasi Media Pembelajaran Berbasis ICT Untuk Program Studi Pendidikan IPA,” 2017, 90–93.
Zubaidah, Siti. “Berpikir Kritis : Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Yang Dapat Dikembangkan Melalui Pembelajaran Sains,” 2010, 1–14.

Catatan Kaki :
[1] Siti Zubaidah, “Berpikir Kritis : Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Yang Dapat Dikembangkan Melalui Pembelajaran Sains,” 2010, 1-14.
[2] Yelli Ramalisa, “Proses Berpikir Kritis Siswa SMA Tipe Kepribadian Thinking Dalam Memecahkan Masalah Matematika,” Edumatica 03, no. 01 (2013): 42–47.
[3] Dyan Novi Anggraini et al., “Profil Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMP Negeri 1 Menganti Kabupaten Gresik Dengan Menggunakan Teknik Probing Prompting Dalam Pembelajaran Guided Discovery Learning,” 2019, 117–23.
[4] Henny Indrawati, “Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Mahasiswa Melalui Implementasi Model Controversial Issues Pada Mata Kuliah Ekonomi Sumber Daya Manusia Dan Alam,” 2012, 63–70.
[5] Rita Fitriani and Ade Ari Irawan, “Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik SMP Kelas VII Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah,” Bioedusiana 3, no. 1 (2018): 8–14.
[6] Ana Yuniasti Retno Wulandari, “Implementasi Media Pembelajaran Berbasis ICT Untuk Program Studi Pendidikan IPA,” 2017, 90–93.
[7] Yunita Kustyorini and Mohan Taufiq Mashuri, “Penerapan Pembelajaran Diskusi Analogi Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa,” 2019, 2–6.
[8] Jirana et al., “Analisis Keterampilan Berpikir Kritis Mahasiswa Pada Mata Kuliah Evolusi Di Universitas Sulawesi Barat,” 2016, 953–58.
[9] I Wayan Redhana, “Model Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk Peningkatan Keterampilan Pemecahan Masalah Dan Berpikir Kritis,” Pendidikan Dan Pengajaran 46, no. 1 (2013): 76–86.
[10] Anggraini et al., “Profil Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMP Negeri 1 Menganti Kabupaten Gresik Dengan Menggunakan Teknik Probing Prompting Dalam Pembelajaran Guided Discovery Learning.”

Oleh : Silvia Mulyaning Diar

Tags: