Story Telling Dapat Meningkatkan Nilai Moral Pada Anak Mi

ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan karena saat ini nilai moral anak sangat rendah. Nilai moral.akan terlihat ketika anak melakukan aktivitas sehari – hari yang tidak mencerminkan moral seperti sopan santun dan akhlak yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui  serta meningkatkan nilai moral pada anak yang dilakukan melalui metode bercerita dan juga untuk mengetahui kelemahan kelebihan penggunaan metode  bercerita ini. Materi cerita yang disampaikan seperti cerita tentang sejarah nabi, dogeng dan lainnya. Nilai moral yang terkandung dalam sebuah cerita adalah nilai sopan santun, menghargai teman, jujur, dan arti menolong sesama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ada 2 yaitu metode observasi dan wawancara secara langsung kepada siswa dan guru.
Keyword : nilai moral, metode bercerita
Story Telling

Story Telling Dapat Meningkatkan Nilai Moral Pada Anak Mi

PENDAHULUAN 
Setiap orang tua memiliki keinginan agar anaknya tumbuh dan berkembang menjadi anak yang pintar, rajin, Cerdas dan berakhlakul karimah. Kelak menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Dan juga berguna bagi nusa, bangsa, dan setiap manusia  Salah satu yang harus dikembangkan adalah dengan memberikan pendidikan pada anak . Dalam undang-undang sistem pendidikan nasional (2003) dinyatakan bahwa : pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik  secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,masyarakat, bangsa,dan  Negara.[1].

Pada anak usia dini yang pertama kali harus dikembangkan adalah pendidikan moral setiap anak. Menurut Hurlock, istilah moral berasal dari kata latin mos (moris), yang berarti adat istiadat, kebiasaan, peraturan/nilai-nilai atau tata cara kehidupan. Sedangkan moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai- nilai atau prinsip-prinsip moral.[2] Pendidikan moral pada anak harus dimulai dari lingkungan keluarga karena pendidikan pertama bagi anak yaitu keluarga. kemudian masyarakat atau sekolah. Di lingkungan keluarga anak harus di didik dengan perilaku yang baik diajarkan nilai-nilai moral dan diterapkan di kehidupan sehari-hari. Di dalam lingkungan keluarga harus menanamkan pendidikan kepribadian dan keagamaan untuk anaknya. Demikian juga pendidikan di lingkungan sekolah juga memiliki peranan penting bagi anak. Di lingkungan sekolah anak dirangsang dan dibentuk karakter agar memiliki kepribadian yang baik dan menaati aturan atau norma-norma yang berlaku di sekolah dan masyarakat.  Pengembangan nilai moral pada anak sangat berpengaruh untuk mencapai petumbuhan anak dan pendidikan anak.

Pada anak – anak nilai moral terlihat ketika anak dapat bertingkah laku yang baik dan dapat membedakan antara yang baik dan buruk. Namun saat ini nilai moral pada anak banyak yang telah hilang dan tidak diterapkan dalam kehidupan. Karena saat ini anak sejak dini telah terpengaruhi oleh perkembangan globalisasi. Bahkan dilingkungan keluarga orang tua tidak memperhatikan tingkah laku anak dan tidak menanamkan nilai moral dikarenakan kesibukan bekerja kadang juga lingkungan anak itu tidak mendukung seperti cara pergaulannya yang tidak baik sehingga berdampak kepada rendahnya nilai moral pada anak. Moral merupakan ajaran baik buruk yang diterima mengenai sikap, kewajiban yang meliputi akhlak, budi pekerti, serta asusila. Moral meliputi 3 aspek yaitu kognitif, afektif, dan perilaku.[3]

Guru dan orang tua perlu membantu anak dalam menumbuhkan nilai moral melalui salah satu aktivitas pembelajaran yang menyenangkan dan tidak membosankan. Peran orang tua serta guru sangat diperlukann dalam menjadikan anak itu  tumbuh kembang menjadi pribadi yang baik dan berkembang melalui komunikasi yang baik. Salah satu cara untuk mengenalkan nilai-nilai moral pada anak adalah dengan metode bercerita. Bercerita merupakan salah satu kegiatan yang bersifat seni karena erat kaitanya dengan keindahan dan sandaran kepada kekuatan kata-kata yang dipergunakan untuk mencapai tujuan.[4] Selain itu, penerapan metode bercerita dapat membiasakan diri anak terbuka mengekspresikan rasa senang dan rasa senangnya terhadap berbagai hal yang dialaminya.[5]  dapat mengembangkan nilai menghargai teman ,sopan santun, dan tanggung jawab. Akan tetapi, seorang guru ketika bercerita sebaiknya menggunakan teknik bercerita yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, baik bahasa ketika nenyampaikan cerita ,media dalam menunjang cerita agar lebih menarik, ataupun langkah-langkah yang digunakan dalam  memaparkan cerita. Cerita juga dapat mendorong perkembangan moral anak karena beberapa sebab antara lain pertama menghadapkan anak kepada situasi yang mengandung “konsiderasi” yang sedapat mungkin sesuai dengan yang dihadapi anak dalam kehidupan sehari-harinya.[6] Sampai saat ini metode bercerita  masih menjadi cara guru atau orang tua dalam menanamakan sikap moral pada anak.

Manfaat bercerita pada anak yaitu  1). membentuk pribadi moral anak dengan bercerita anak dapat bertingkah laku dengan baik. Baik bertingkah dilingkunagan masyarakat maupun sekolah 2).  Menyalurkan imajinasi dan fantasi dengan bercerita anak dapat berimajinasi atau dengan kata lain berkhayal tentang apa yang diceritakan. 3). Memacu kemampuan verbal anak bercerita mendorong anak bukan hanya menyimak melainkan juga senang bercerita.[7] 4). Mengasah otak kanan anak. Karena otak kanan berfungsi dalam perkembangan emosi, kreativitas, berimajinasi, dan berkhayal. 5). Melatih kemampuan berbahasa siswa. Bercerita dapat diartikan sebagai istilah seni komunikasi. Salah satu alat komunikasi adalah dengan bahasa. Karena, disampaikan dengan bahasa yang menarik, dongeng pun bisa digunakan sebagai metode memperkenalkan kepada siswa.[8]

Baca Juga :  Bahaya Gadget Pada Anak Di Bawah Umur

Menurut dhieni langkah-langkah untuk memulai bercerita adalah 1). Mengatur tempat duduk anak supaya anak-anak nyaman ketika mendengarkan cerita. 2). Perlu adanya  alat peraga seperti boneka, gambar agar anak termotivasi atau bersemangat dalam mendengarkan cerita. 3). Memberikan kesempatan anak untuk menebak apa judul cerita tersebut. 4). Kemudian memberi tahu judul cerita yang sebenarnya. 5). Anak memperhatikan guru yang sedang bercerita sesuai alur cerita. 4). Setelah selesai bercerita guru memberi kesempatan kepada anak untuk bertanya dan memberikan kesempatan untuk memberi sedikit kesimpulan. Agar anak dapat berpendapat sesuai dengan keinginanya 5). Setelah selesai becerita guru bertanya tetang isi cerita, tokoh cerita,alur cerita, isi gambar, amanat yang dapat diambil dari kisah tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak untuk meceritakan  kembali cerita tersebut di depan umum. Hal itu dilakukan agar anak dapat berani berbicara di depan umum[9]

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif  yaitu mencari fakta atau kebenaran. Subjek penelitiannya adalah siswa – siswi dan guru di MI Al – fahmi Tambak wedi langgar gang kutilang No.20

Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara. wawancara dilakukan untuk menjaring data dan informasi yang berkaitan dengan penanaman nilai moral pada anak, pengaruh terhadap keberhasilan penanaman nilai moral, dan kelemahan serta kelebihan  yang dihadapi ketika bercerita. Sebagai bahan analisis definisi diperoleh dari buku-buku, jurnal yang ditulis oleh para ahli dan naskah-naskah dari internet atau artikel.

HASIL PENELITIAN
Metode bercerita dapat mengubah etika anak karena sebuah cerita mampu menarik anak untuk menyukai dan memperhatikan, serta merekam peristiwa serta imajinasi yang ada dalam cerita tersebut. Selain itu bercerita dapat memberikan pengalaman dan pembelajaran moral melalui sikap para tokoh dalam cerita tersebut. Untuk mengetahui peranan metode bercerita dapat meningkatkan nilai moral pada anak di MI al fahmi tambak wedi langgar gang kutilang No.20. adapun observasi dalam penelitian ini terbagi menjadi 2 yaitu observasi tempat dan observasi informasi.

1.      Obervasi tempat.
Berdasarkan observasi yang dilakukan di MI Al fahmi merupakan sekolahan yang berada di tambak wedi langgar gang kutilang No.20 surabaya. Sekolah ini walaupun dikatakan sekolahan yang masih swasta tetapi di lingkungan sekolahan memiliki suasana yang indah,nyaman,bersih karena banyak pepohonan dan tanaman. Dan juga guru dan siswa nya ramah. Kemudian di kelas meja dan kursi pun tertata dengan rapi. Dinding-dinding dihiasi dengan lukisan kaligrafi,asmaul husna, pemandangan pun tertata dengan rapi.

2.      Hasil observasi informasi
Informasi dalam penelitian ini adalah siswa dan guru yang terlibat secara langsung dalam penelitian ini adalah siswa kelas 4 dan juga guru kelas 4 bernama bu ni’mah M.Pd.
Kegiatan selanjutnya melakukan wawancara kepada narasumber yaitu bu ni’mah M.Pd. dan siswa kelas 4. Diperoleh data sebagai berikut.

a.       Hasil wawancara guru.
Ibu ni’mah selaku guru yang mengajar di MI Al fahmi metode bercerita tidak sering diterapkan dalam kegiatan pembelajaran. Tetapi juga termasuk salah satu trik untuk meningkatkan  nilai moral. Untuk anak kelas 1-2 masih menggunakan metode bercerita setiap saat karena anak kelas 1-2 adalah masa dimana peralihan dari TK ke MI dan juga anak di usia seperti itu mereka lebih senang mendengarkan guru bercerita. Dengan mendengar guru bercerita anak dapat berfikir dan berimajinasi tentang apa yang didengar sehingga anak lebih kreatif dalam melakukan sesuatu.

Baca Juga :  Karakteristik Madrasah

Ketika dijenjang kelas 3-6 metode bercerita masih diterapkan tetapi media yang digunakan sudah berbeda. Di kelas 3-6 guru lebih banyak memberikan video di proyektor sebagai alat pembelajaran. Di dalam video tersebut guru memberikan video tentang akhlak. Di mana dengan video tentang akhlak tersebut siswa dapat  bersikap dengan sesame,arti menghargai teman, binantang, terhadap lingkungan. Setelah selesai pembelajaran dengan media audio visual tersebut. Guru memberikan umpan balik kepada siswa. Seperti guru bertanya siapa saja tokoh yang terlibat, apa saja pesan moral yang dapat diambil dari kisah tersebut, agar siswa dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari dan juga dapat memotivasi siswa.

Kemudian dijenjang kelas 4 setelah ditayangkan audio visual tersebut guru tidak lagi bertanya kepada siswa melainkan guru memberikan tugas yaitu semacam meresume. Siswa menyalinkan kembali cerita tersebut tetapi dengan mengunakan bahasa mereka sendiri kemudian pesan moralnya. Guru pun memberikan sebuah masalah kecil seperti seandainya itu terjadi di lingkungan kita  apa yang harus dilakukan, dan seandainya ada teman kita seperti itu apa yang harus dilakukan. Kemudian siswa memberikan solusi atau pendapat tentang masalah tersebut. Dengan itu siswa dapat berfikir kreatif, berimajinasi dan mengembangkan fikiran mereka. Dan siswa juga dapat menegerti arti membantu sesame, menolong teman, dan menghargai orang lain.

Dan diakhir guru memberikan sebuah penguatan atau kesimpulan dari video tersebut. Bahwa sebagai mahluk social kita harus peduli sesama, sikap mengharagi teman, sopan santun, dan kahlak yang baik.
Di dalam pembelajaran dengan metode bercerita tidak hanya bercerita tentang akhlak tetapi bercerita tentang segala hal. Seperti tentang agama yaitu bercerita tentang kisah rasulullah , kemudian jika bahasa Indonesia dengan memperkenalkan budaya Indonesia tentang beraneka ragam busana, makanan di Indonesia, tari-tarian, adat istiadat yang berkembang di Indonesia. Mengenalkan pahlawan-pahlawan setiap daerah. Agar setiap siswa mengetahui berbagai macam kekayaan yang ada di Indonesia terutama yang dimiliki di Indonesia.

Di MI al fahmi tidak semua pembelajaran dengan meode bercerita. Kalau tentang olahraga biasanya lebih ke praktek. Kemudian mengadakan permainkan. Dimana dalam kegiatan permainan itu ada banyak yang dapat diambil seperti kejujuran, sportifitas, harus menerima kekalahan. Dan itu jika anak dapat melakukan permainan itu anak dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari ketika bermain dengan teman atau yang lain. Jika tentang IPA biasanya langsung terjun ke lapangan ketika belajar tentang tumbuh-tumbuhan maka kita meneliti secara langsung bagaimana proses fotosintesis dan lain-lain.

Dalam melakukan metode bercerita tidaklah begitu mudah tetapi ada kelemahan juga kelebihannya. Ketika metode bercerita diterapkan di jenjang kelas 1-2 mereka masih bisa tenang tidak ramai. Dan biasannya anak di masa itu sangat antusias ketika guru bercerita apalagi cerita yang disampaikan itu tentang dongeng, atau tentang kehidupan sehari-hari. Biasannya cerita yang disampaikan itu terjadi di kehidupan sehari-hari mereka sehingga membuat mereka lebih tertarik. Di dalam sebuah cerita banyak pelajaran atau hikmah atupun pesan-pesan moral yang dapat dijadikan siswa sebagai contoh dan diterapkan dikehidupan mereka.

Kemudian dijenjang kelas 3-4 siswa biasanya ramai ketika guru menjelaskan dengan metode bercerita. Dan juga biasanya siswa bosen lebih-lebih kadang siswa mengantuk atau yang lainnya. Untuk mengantisipasi itu biasanya guru menayakan sebuah video dimana video tersebut banyak mengandung pesan moral untuk diteladani dan diterapkan. Karena apa kadang ada guru yang tidak mengespresikan diri ketika bercerita sehingga membuat siswa tidak antusias dalam mendengarakan cerita dan juga siswa kurang memahami cerita yang disampaikan. Kelemahan lainnya adalah ketika menggunakan media video visual kadang-kadang listrik mati. Dan itu juga menjadi kendala dan penyebab pembelajaran kurang maksimal.

Baca Juga :  Pentingnya Literasi Keluarga dalam Sekolah

b.      Hasil wawancara siswa.
Menurut salah satu siswa di MI AL Fahmi bahwasanya ketika guru menggunakan metode bercerita ketika mengajar itu kadang membosankan dan membuat siswa itu ramai dengan teman ataupun siswa itu berbicara dengan teman sebangkunya. Sehingga membuat proses pembelajaran kurang kondusif Oleh karena itu seorang guru harus mempunyai strategi atau cara menyampaikan cerita itu tidak membosankan.

Ada juga siswa yang mengatakan bahwa mereka sangat senang ketika guru menggunakan metode bercerita apalagi bercerita tentang dongeng. Dari dongeng yag diceritakan oleh guru. Siswa memiliki tokoh favorit yang menjadi idola dan mereka mengikuti tingkah laku seorang tokoh itu dan menimplementasikan dikehidupannya.

PENUTUP
Setelah dilakukan penelitian. Berdasarkan data yang diperoleh mengenai metode bercerita untuk meningkatkan moral pada anak yang diterapkan di sekolah Mi Al Fahmi Surabaya. Dapat disimpulkan bahwa deengan menggunakan metode bercerita guru dapat menanamkan nilai-nilai moral anak. Nilai-nilai moral pada anak terlihat ketika siswa bisa sopan santun, menghargai sesama, kerja sama, bersikap baik, dan hal-hal yang baik yang dapat ditiru atau dicontoh dari alur cerita yang dibawakan.

Dalam menggunakan metode cerita ini seorang guru harus mempunyai sikap sabar karena kadang-kadang siswa ada yang menyukai cerita yang dibawakan ada juga yang tidak. Seorang guru harus berekspresi ketika menyampaikan cerita agar siswa dapat memahami. Cerita yang dibawakan harus sesuai dengan tumbuh kembang anak. Dengan bercerita diharapkan anak dapat berimajinasi, berkhayal, berkomunikasi dengan baik, dan memiliki kreativitas yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
Jayanti, ni kadek eka, Ketut Pudjawan, and kluh ayu Turtayani. “Penerapan Metode Bercerita Berbasis Kearifan Lokal Untuk Meningkatkan Moral Anak Kelompok B Paud Widya Laksmi” 4, no. 2 (2016).
Lestari, myrna apriany, Eli Hermawati, and rijalul panji Palah. “Mengembangkan Keterampilan Mahasiswa PGSD Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Moral Siswa SD Kelas Rendah Melalui Metode Mendongeng” 03 (2016).
M, Mansyur. “Pengembangan Nilai Moral Anak Melalui Metode Bercerita Pada Kelompok B Di TK Pembina Kota Kendari” 26 (2019): 97–112.
Ma’rifah, Neli. “Implementasi Metode Bercerita Dan Bernyanyi Pada Pembelajaran Nilai-Nilai Agama Dan Moral Di Taman Kanak-Kanak Diponegoro 08 Banjarsari Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas,” 2015.
Trisnawati, and Ilmi Muyasaroh. “Penanaman Nilai Moral Melalui Metode Bercerita Di Raudhatul Athfal Raudhatul Islah Margosari Pagelaran Utara Pringsewu” 1, no. 1 (2015): 61–67.
Widianti, ida ayu komang sri, Ni Ketut Suarni, and Nice Maylani Asril. “Penerapan Metode Bercerita Dengan Media Gambar Untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Pada Anak” 3, no. 1 (2015).
Zulfitri, and Damayanti Celara. “Implementasi Metode Mendongeng Dalam Mengembangkan Potensi Siswa SD,” 2018.

Catatan kaki :
[1] Trisnawati and Ilmi Muyasaroh, “Penanaman Nilai Moral Melalui Metode Bercerita Di Raudhatul Athfal Raudhatul Islah Margosari Pagelaran Utara Pringsewu” 1, no. 1 (2015): 61–67.
[2] Mansyur M, “Pengembangan Nilai Moral Anak Melalui Metode Bercerita Pada Kelompok B Di TK Pembina Kota Kendari” 26 (2019): 97–112.
[3] myrna apriany Lestari, Eli Hermawati, and rijalul panji Palah, “Mengembangkan Keterampilan Mahasiswa PGSD Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Moral Siswa SD Kelas Rendah Melalui Metode Mendongeng” 03 (2016).
[4] ni kadek eka Jayanti, Ketut Pudjawan, and kluh ayu Turtayani, “Penerapan Metode Bercerita Berbasis Kearifan Lokal Untuk Meningkatkan Moral Anak Kelompok B Paud Widya Laksmi” 4, no. 2 (2016).
[5] Jayanti, Pudjawan, and Turtayani.
[6] Neli Ma’rifah, “Implementasi Metode Bercerita Dan Bernyanyi Pada Pembelajaran Nilai-Nilai Agama Dan Moral Di Taman Kanak-Kanak Diponegoro 08 Banjarsari Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas,” 2015.
[7] M, “Pengembangan Nilai Moral Anak Melalui Metode Bercerita Pada Kelompok B Di TK Pembina Kota Kendari.”
[8] Zulfitri and Damayanti Celara, “Implementasi Metode Mendongeng Dalam Mengembangkan Potensi Siswa SD,” 2018.
[9] ida ayu komang sri Widianti, Ni Ketut Suarni, and Nice Maylani Asril, “Penerapan Metode Bercerita Dengan Media Gambar Untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Pada Anak” 3, no. 1 (2015).

Oleh : Imro’atus sholihah

Tags: