Pembelajaran matematika materi perkalian Menggunakan alat peraga untuk siswa mi/sd

ABSTRAK:
Berdasarkan kejadian yang terjadi saat ini dikalangan pelajar, mata pelajaran matematika selalu dianggap paling sulit. Hal ini bisa terjadi dikarenakan penyampaian materi yang teoritis sehingga terkesan membosankan bagi siswa. Selain permasalahan metode pembelajaran yang hanya penyampaiannya berdasarkan teori yang ada di buku, guru di kelas juga tidak memberikan penunjang pembelajaran dalam menyampaikan materi seperti, penggunaan media alat peraga sebagai alat bantu untuk menunjukkan secara detail materi yang bersangkutan. Alat peraga juga dapat membantu siswa agar mendapatkan gambaran yang lebih realistis dan lengkap, sehingga materi dapat lebuh mudah dipahami. Diantara fungsi pembelajan menggunakan metode alat peraga adalah: (1) untuk menarik perhatian siswa untuk berkonsentrasi pada pembelajaran yang ditampilkan dengan makna visual (2) memudahkan pelajar menangkap pelajaran dengan realistis.
Kata kunci: media alat peraga, gambaran yang realistis, matematika dianggap sulit
alat peraga

ABSTRACT
Based on the events that occur today among students, mathematics is always considered the most difficult. This can happen because the delivery of theoretical material that seems boring to students. In addition to the problem of learning methods that are only delivered based on the theory in the book, the teacher in the class also does not provide learning support in conveying material such as, the use of media as teaching aids to show in detail the material concerned. Teaching aids can also help student to get a more realistic and complete picture, so that the material can be more easily understood. Among the learning functions using the teaching aids method are: (1) to attract students attention to concentrate on learning that is displayed with visual meaning (2) makes it easy for students to catch the lesson realistically.
Keywords: media props, realistic image, mathematic is considered difficult

Pembelajaran matematika materi perkalian  Menggunakan alat peraga untuk siswa mi/sd

PENDAHULUAN
Matematika merupakan salah satu diantara mata pelajaran yang ada di Indonesia yang dimana mata pelajaran matematika selalu ada disetiap jenjang pendidikan di Indonesia mulai dari sekolah tingkat dasar sampai tingkat perguruan tinggi.  Melihat begitu urgennya pelajaran matematika ini maka pelajar harus benar-benar menguasai dan memahaminya dengan baik. Namun peristiwa yang terjadi saat ini adalah sebagian pelajar di Indonesia beranggapan bahwa pelajaran matematika adalah mata pelajaran yang paling sulit, sehingga menyebabkan proses pembelajaran yang kurang maksimal dan hasil tes yang diberikan oleh guru pun menjadi rendah dan tidak memuaskan. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah karena pembelajaran di Indonesia lebih menekankan pada penguasaan keterampilan dasar (basic skills) daripada penekanan penerapan matematika seperti dalam konteks kehidupan sehari-hari, berkomunikasi dan berhubungan  secara matematis, serta bernalar secara matematis. Menurut pendapat Ashari, ia adalah wakil Himpunan Matematikawan Indonesia (HMI atau IndoMS) yang memberikan pernyataan  bahwa pembelajaran matematika pada saat ini memiliki karakteristik yaitu mengarah hanya pada tujuan kelulusan ujian sekolah atau nasional.

Yang berarti materi yang diberikan hanya terarah pada kemampuan berpikir yang prosedural, komunikasi satu arah, pengaturan ruang kelas yang terkesan monoton, rendahnya kemampuan ketrampilan, mengandalkan pada buku peganagan, lebih dominan soal rutin, dan pertanyaan tingkat rendah.  Proses belajar mngajar yang seperti ini menjadikan pendidikan di Indonesia yang masih terkesan konvensional dan tertingal dengan beberapa negara lain, sehingga dapat membuat siswa menjadi pasif dalam proses belajar mengajar yang berakibat pada rendahnya hasil atau nilai yang diperoleh siswa pada proses belajar mengajar. Tran Vui (Shadiq, 2009:9) menyataka bahwa sebagian guru matematika di yang adaa Indonesia, dan sebagian para guru matematika di Asia Tenggara cenderung menggunakan model pembelajaran tradisional yang dikenal dengan beberapa istilah seperti: pembelajaran terpusat pada guru (teacher centered approach), pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif (deductive teaching), ceramah (expository teaching), maupun whole class instruction. Padahal, terlalu dominannya peran guru di sekolah sebagai seorang yang memberi ilmu atau sumber ilmu sehingga siswa dianggap sabagai wadah yang akan diisi ilmu oleh guru. Padahal di era perkembangan zaman yang semakin pesat ini, jika seorang guru hanya menggunakan model pembelajaran yang konvesional maka pendidikan di Indonesia akan tertingal dengan negara-negara lainnya. Semua itu akhirnya berujung pada rendahnya hasil belajar Siswa, (Sastrawati:2011). 

Baca Juga :  Pendidikan Karakter Untuk Membangun Peradaban Bangsa

Salah satu tanda bentuk keberhasilan pada proses belajar mengajar adalah ditunjukkan dengan dikuasainya materi pembelajaran oleh siswa serta hasil yang baik. Salah satu faktor keberhasilan dalam proses belajar mengajar adalah kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran di kelas. Pembelajaran dapat dikatakan berhasil apabila antara siswa dan guru dapat membangun suasana yang kondusif sehingga tingkat pemahaman materi pada pembelajaran menjadi baik sehingga berdampak pada hasil nilai tes yang bagus. Agar pembelajaran dapat berhasil dan kondusif maka guru harus lebih inovatif dan kreatif dalam memberikan materi yang mana penyampaian materi tersebut harus bisa membuat pelajar tertarik kepada proses pembalajaran. Salah satu kiat-kiat yang dapat dijadikan agar pelajar tertarik untuk belajar matematika adalah seorang guru tidak hanya terfokus pada materi yang ada di buku. Namun guru harus memiliki cara khusus untuk menarik muridnya dengan menggunakan alat penunjang belaja mengajar. Menurut Sudono Anggani, “untuk membangun tujuan pembelajaran agar tercapai tujuan sesuai yang diinginkan, maka guru dapat menggunakan media pembelajaran yang tepat”. Digunakannya media dalam pembelajaran yaitu agar dapat menjembatani antara konsep-konsep matematika yang abstrak menjadi lebih kongkrit, sehingga siswa dapat memahami yang disajikan guru. Untuk itu, maka penggunaan media dalam proses pembelajaran sangat diperlukan demi tercapainya tujuan pembelajaran secara optimal.

Dengan menggunakan media, siswa akan lebih mudah memahami konsep yang dipelajari, karena pembelajarannya melibatkan aktivitas fisik dan mental dengan kegiatan melihat, meraba, dan memanipulasi alat peraga yang sejalan dengan karakteristik siswa sekolah dasar yang memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan tertarik untuk mengekplorasi situasi di sekitar mereka dengan perasaan senang dan gembira. Untuk siswa pada jenjang tingkat dasar yaitu SD yang berumur antara tujuh sampai dengan 12 tahun pada dasarnya perkembangan intelektualnya termasuk dalam tahap operasional kongkret, sebab berpikir logiknya didasarkan atas manipulasi fisik dari obyek-obyek. Dengan kata lain, penggunaan media dalam pembelajaran matematika di SD sangat diperlukan, karena sesuai dengan tahap berpikir anak.  Dengan menggunakan media/alat peraga yang tepat, maka anak akan lebih menghayati matematika secara nyata berdasarkan fakta yang jelas dan dapat dilihatnya. Sehingga siswa lebih mudah memahami materi yang diajarkan.

Oleh karena itu, pembelajaran matematika di MI/SD tidak terlepas dari hakikat matematika dan hakikat dari peserta didik tersebut. Media diartikan sebagai perantara atau pengantar. Menurut Briggs dalam Wina Sanjaya, media adalah alat untuk memberikan perangsang bagi peserta didik supaya terjadi proses belajar. Maka dari itu dalam mengenalkan konsep bilangan matematika pada anak usia dini sebaiknya menggunakan media yang konkrit sehingga anak lebih mudah untuk memahami dan untuk lebih mengerti. Agar siswa dapat memahami matematika dengan baik di perlukan konsep dasar matematika yang diajarkan di MI/SD, untuk memudahkan hal tersebut maka diperlukan media dalam matematika, salah satunya adalah media menggunakan alat peraga pada siswa MI/SD yang cara berfikirnya masih bersifat kongkrit. Dalam tulisan ini akan dibahas media alat peraga yang efisien untuk siswa MI/SD dalam pembelajaran matematika 

Pembahasan
A.    Pembelajaran Matematika Materi Perkalian MI/SD
Materi perkalian di MI/SD diperkenalkan biasanya sejak kelas 3 oleh karena itu untuk mempermudah pemahaman materi perkalian, maka perlu adanya cara pemahaman konsep yang matang. Untuk mencapai pemahaman yang bermakna pada pembelajaran matematika maka harus diarahkan pada pengembangan kemampuan koneksi matematik antar berbagai ide sehingga peserta didik mampu mengaplikasikan apa yang telah dipahami dalam kegiatan belajar. Jika peserta didik telah memiliki pemahaman yang baik, maka peserta didik mampu memberikan jawaban yang pasti pada setiap pertanyaann yang diberikan. 

Baca Juga :  Relakan atau tidak sama sekali

B.    Materi Hitung Perkalian dan Operasinya
Operasi perkalian adalah penskalaan satu bilangan dengan bilangan lain (penjumlahan berulang). Seperti pada perkalian 4 x 5 dapat diartikan 5+5+5+5 = 20 sedangkan 5 x 4 dapat diartikan 4+4+4+4+4= 20. Secara bentuk konseptual, tidak sama dengan 5 x 4 tidak sama dengan 4 x 5, tetapi jika dilihat hasilnya maka 4 x 5 = 5 x 4. Dengan demikian operasi Perkalian memenuhi sifat pertukaran” (Karim, 1996: 101).
Operasi hitung ini adalah salah satu dari empat operasi dasar di dalam aritmatika dasar (yang lainnya adalah penjumlahan, pengurangan dan pembagian).
Operasi perkalian, menurut Negoro (Djafar, 2008:10) adalah “penjumlahan berulang atau penambahan bilangan yang sama. Contoh. pada penjumlahan pada suku sama misalnya 5 + 5 + 5 + 5 yang merupakan penjumlahan berulang serta dapat di sajikan dalam bentuk 4×5 dan disebut perkalian 4 dan 5”.

Sedangkan menurut Soesilowati (2011:35) “Perkalian adalah bentuk lain dari penjumlahan berulang. Untuk siswa yang baru belajar mengenai perkalian, ada hal yang harus ditekankan bahwa yang sama adalah hasil perkaliannya saja, pengertian perkalainnya atau gambarannya tetap berbeda. Jadi, hasil perkalian dari 3 x 1 = 1 x 3 = 3 tetapi pengertiannya adalah berbeda. Contoh konkretnya adalah soal minum obat pengertian perkalian 3 x 1 adalah obat itu diminum tiga kali sehari sebanyak satu butir setiap kali minum. Berbeda sekali pengertiannya dengan 1 x 3 yang artinya bahwa obat itu diminum satu kali sehari sebanyak tiga butir satu kali minum. Jadi, untuk benar-benar memahami konsep perkalian siswa harus paham dan trampil melakukan operasi penjumlahan”. Operasi perkalian memenuhi sifat identitas. Misalnya ada sebuah bilangan yang jika dikalikan dengan setiap bilangan, maka hasilnya tetap bilangan itu sendiri. Bilangan tersebut adalah 1. Jadi jika a x 1 = a. Operasi perkalian juga memenuhi sifat pengelompokan. Untuk setiap bilangan a, b, dan c berlaku: (a x b) x c = a x (b x c). Misalkan untuk operasi bilangan cacah (3 x 4) x 5 = 3 x (4 x 5). Selain sifat-sifat tersebut, operasi perkalian masih mempunyai satu sifat yang berkaitan dengan operasi penjumlahan. Sifat ini menyatakan untuk bilangan a, b, dan c berlaku: a x (b + c) = (a x b) + (a x c). Sifat ini di sebut dengan sifat penyebaran atau distributif (Karim, 1996: 102).

C.    Macam-macam Alat Peraga yang Dapat dijadikan untuk Menghitung Perkalian
1.    Menggunakan kelereng
Menurut Pendapat Febiyanti(2012) “Kelereng merupakan mainan kecil berbentuk bulat yang terbuat dari kaca atau tanah liat. Kelereng merupakan salah satu alat yang dapat digunakan sebagai media untuk materi perkalian. Ukuran kelereng sangat bermacam macam, umumnya inci (1,25 cm) dari ujung keujung”. Salah satu keuntungan dari menggunakan kelereng adalah selain lebih menarik, bentuknya yang halus dan padat serta tidak mudah rusak membuat kelereng cocok dijadikan media untuk materi empat operasi dasar di dalam aritmatika dasar, yaitu materi dari bab penjumlahan , pengurangan, perkalian dan pemabagian. Kelereng merupakan suatu benda yang sering dimainkan oleh anak-anak MI/SD. Bentuknya yang sederhana dan mudah dibawa kemana-mana. Kelereng termasuk ke dalam alat peraga dalam media pembelajaran, bentuknya yang nyata membuat kelereng dapat dijadikan media dalam proses pembelajaran. Alat peraga yaitu sesuatu yang dapat digunakan untuk menyatakan pesan, merangsang, perasaan dan perhatian atau kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong proses belajar.
2.    Menggunakan /Lidi
Lidi adalah semacam kayu kecil dan agak tipis yang biasanya kita kenal dengan sapu lidi untuk menyapu. Selain untuk menyapu lidi juga dapat digunakan sebagai alat untuk menghitung perkalian. Model pembelajaran ini dapat dipakai untuk menjelaskan konsep satuan, puluhan, dan ratusan untuk siswa MI/SD kelas awal. Salah satu cara mengaplikasikan lidi dalam menghitung adalah mengumpulkan lidi dalam bentuk lepas (sebagai satuan), bentuk ikatan berjumlah masing masing sepuluh, dan bentuk ikatan dari ikatan sepuluhan (disebut seratusan). Model ini digunakan agar para siswa dapat menemukan gambaran yang realistis dalam menghitung perkalian. Model ini juga dapat digunakan untuk menjelaskan konsep numeral (lambing bilangan), kesamaan bilangan, operasi (penjumlahan, pengurangan, perkalian).

Baca Juga :  Peran Pendidik Dalam Pembentukan Karakter Siswa

D.    Kesimpulan
Matematika merupakan disiplin ilmu yang memiliki karakteristik tersendiri, dibandingkan dengan disiplin ilmu yang lain matematika adalah disiplin ilmu yang memiliki pemikiran yang tinggi dan logis. Dapat dikatakan bahwa, matematika berkaitan dengan konsep-konsep abstrak yang tersusun secara hirarkis dan penalarannya bersifat deduktif. Hal tersebut tentu akan membawa pengaruh pada terjadinya proses belajar mengajar matematika. Pembelajaran matematika di tingkat sekolah dasar merupakan salah satu mata pelajaran yang selalu menarik karena adanya perbedaan yang khas, khususnya antara hakikat peserta didik dan hakikat matematika. Untuk itu diperlukan adanya perantara yang menjembatani dan yang menetralisir perbedaan tersebut. Siswa tingkat sekolah dasar mulai mengalami perkembangan yang kompleks pada tingkat berpikirnya. Sesuai dengan tahap perkembangannya, untuk mengatasi dan memecahkan masalahnya melalui kegiatan yang berinteraksi langsung dengan benda-benda atau lingkungan di sekitarnya secara nyata.  Siswa di sekolah dasar terutama pada kelas awal, masih cenderung berpikir konkrit dalam memahami suatu situasi atau. Untuk memahami situasi atau masalah tersebut, maka diperlukan bantuan penunjang seperti alat peraga agar pemahaman siswa dapat menjadi realistis atau nyata. Alat peraga tidak hanya dapat membantu untuk memahami konsep-konsep dalam matematika, tetapi juga sebagai media untuk memecahkan situasi atau masalah yang sedang dihadapi.

Daftar pustaka
Amir, Almira, and M Si. “PEMBELAJARAN MATEMATIKA SD DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA MANIPULATIF Oleh: Almira Amir, M.Si 1,” n.d., 72–89.
Anwary, Nurlis, and Fkip Universitas Jambi. “Dengan Menggunakan Kelereng Sebagai Media Pembelajaran Di Kelas Iii Pada Tema 7 ( Perkembangan Teknologi ) Sd Negeri 66 / Iv Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Dengan Menggunakan Kelereng Sebagai Media Pembelajaran Di Kelas Iii Pada Tema 7 Sd Neg” 7 (2017): 1–13.
Jambi, Smpn Muaro. “Siti Homsah: Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP Universitas Jambi Page 1,” 2014.
Lestari, Dwi. “Studi Perbedaan Hasil Belajar Matematika Siswa Yang Diajar Menggunakan Model Pembelajaran Problem Based Learning Dan Model Pembelajaran Konvensional Di Kelas VIII SMPN 5 Kota Jambi,” 2014, 1–9.
Oleh : Fithrotuzzahroh

Tags: