Penerapan Akhlaq Pada Pendidikan Karakter Di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Gresik Pada Era Globalisasi

Abstrak
Pendididkan akhlaq sangatlah penting di pelajari  sejak anak usia dini. Terutama di era globalisasi kini Istilah “globalisasi”, dapat berarti alat dan dapat pula berarti ideologi. Ketika diartikan sebagai alat maka globalisasi sangat netral. artinya bisa mengandung hal-hal positif, ketika dimanfaatkan untuk hal-hal. untuk itu perlu perhatian khusus dalam hal penerapan pendidikan akhlaq ini .pendidikan lingkungan hidup / lingkungan sekitar membuktikan bahwa MI Negeri 1 Kedamean memiliki langkah yang baik dalam akhlaq di sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendidikan akhlak dalam pengembangan pendidikan karakter yang ada di madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Kedamean berjalan dengan baik, efektif dan kondusif walaupun masih ada yang  belum sempurna. Nilai karakter yang dikembangkan guru akhlak dalam kegiatan pendidikan akhlak yaitu nilai religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, rasa ingin tahu, semagat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, gemar membaca, peduli sosial.
Kata kunci:  akhlaq, pendidikan karakter

Penerapan  Akhlaq Pada Pendidikan Karakter  Di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Gresik  Pada Era Globalisasi

Pendahuluan
Pendidikan akhlaq merupakan permasalahan utama yang menjadi tantangan bangsa akan kokoh apabila akhlaq nya juga kokoh dan sebaliknya, suatu bangsa akan runtuh bila akhlaq penduduknya rusak.Pendidikan akhlaq adalah pendidikan mengenai dasar-dasar moral (akhlaq ) dan keutamaan perangai, tabi’at yang harus dimiliki dan harus dijadikan kebiasaan oleh anak sejak kecil hingga ia menjadi mukallaf. Tidak diragukan lagi bahwa keutamaan-keutamaan moral, perangai, dan tabi’at merupakan salah satu buah iman yang mendalam, dalam perkembangan religius yang benar.

Sedangkan pada era globalisasi saat kini perkembangan dan kemajuan teknologi berkembang sangat pesat. Sehingga memudahkan kita atau anak-anak mendapat informasi dan dapat menhetahui kebudayaan yang berbeda- beda. Hal ini juga berdampak pada perkembangan anak yang cenderung gampang menyerap informasi dan menirunya. Tidak menuntut kemungkinan bahwa akan sangat mudah akhlaq seseorang rusak atau runtuh jika tidak diarahkan dengan baik dan benar.

Bangsa kita, bangsa indonesia dikenal dengan bangsa yang makmur dengan penduduk yang arif dan ramah. Namun, realitanya hanya sekedar cerita saja. maka, Disitulah letak pendidikan akhlaq yang harus ditanamkan dalam diri kita terutama sejak kecil. Oleh karena itu di sini akan membahas tentang bagaimana sikap dan peranan  pendidikan akhlaq di Madrasah ibtidaiyah pada era globalisasi saat ini. Sebagai asumsi pendidikan akhlaq memberikan suatu warna tersendiri dalam menghadapi dampak negatif arus globalisasi.

Akhlak dalam kehidupan manusia menduduki tempat penting sekali dalam baik sebagai anggota masyarakat dan bangsa, sebab jatuh bangun, jaya hancurnya, sejahtera rusaknya suatu bangsa dan masyarakat dan tergantung pada akhlaknya masyarakatnya. Apabila akhlaknya baik, maka baik pula lahir batinnya dan sebaliknya jika jelek akhlaknya, jelek pula lahir batinyya. Akhlak merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia, tanpa akhlak, manusia akan hilang derajat kemanusiaannya sebagai makhluk yang mulia.

Dalam mengambarkan salah satu langkah awal mendidik akhlaq yang benar adalah menanamkan pendidikan agama islam yang benar dan benar kepada anak sedini mungkin. Sehingga anak-anak dapat menerima nilai-nilai perilaku yang baik dengan mudah, serta terbiasa berperilaku sejak kecil.[1] Untuk itu sangat dibutuhkan kemampuan guru yang kompeten dala mengajar pendidikan akhlaq.peran guru akidah akhlaq harus optimal dilakukan, agar anak mampu menyerap nila-nilai murni dari pembelajaran pendidikan agama islam yang diterimanya, kemudia ia mampu mengambil hikmah nya. Sehingga tertanam dan akan mempengaruhi pembentukan akhlaq yang diharapkan yaitu, akhlaq yang baik dan benar.

Membahas tentang akhlak dan karakter merupakan hal yang sangat penting.  Akhlak dan karakter adalah  hal terpenting dalam membedakan manusia dengan makhluk yang lain seperti hewan. Manusia tanpa akhlak dan karakter adalah manusia yang sama dengan hewan. Manusia yang berakhlak dan berkarakter kuat dan baik secara individual maupun sosial ialah mereka yang memiliki akhlak dan karakter yang kuat dan baik. Mengingat begitu urgennya akhlak dan karakter maka institusi pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menanamkan melalui proses pembelajaran.

Oleh karena itu orang tua, guru, dan siapapun yang bertanggung jawab terhadap pendidikan, harus membiasakan dan melatih anak berakhlak mulia, sesuai dengan keadaan zaman yang sedang dihadapi saat ini, agar kelak peserta didik (siswa-siswa SD ) bisa mempunyai akhlak yang baik tanpa harus ketinggalan jaman. bagaikan anak panah lepas dari busurnya menentang, mengatasi permasalahannya sendiri, namun memiliki keunggulan akhlak yang baik dan luhur.
Untuk menumbuhkan dan mengembangkan akhlak yang mulia, diperlukan
lembaga-lembaga pendidikan yang menjadikan pembinaan akhlak sebagai isu sentral, dan keberadaannya merupakan salah satu sarana untuk membangun kebaikan.[2]

Baca Juga :  Pendidikan akhlak anak Madrasah ibtidaiyyah di era disrupsi

Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 (MIN) Gresik merupakan salah satu madrasah yang memperhatikan pentingnya akhlak yang mulia bagi siswa. Hal ini berdasarkan penuturan kepala sekolah adalah untuk menanamkan nilai-nilai akhlak yang mulia kepada setiap siswa, maka perlu diajarkan siswa berkata jujur, baik dan sopan, dan berbudi pekerti yang baik terhadap sesama teman, orang tua, guru serta lingkungan. Sehingga nantinya menjadi anak yang berkarakter.Pendidikan akhlak sangat penting bagi siswa untuk mewujudkan dan meningkatkan disiplin dan karakter siswa dilingkungan sekolah dan dilingkungan masyarakat.

Pihak sekolah Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 kedamean merasa sangat perlu untuk mengajarkan dan mendidik akhlak bagi para siswa. dan Para guru menilai bahwa pendidikan akhlak sangat besarnya terhadap pembinaan disiplin dan karakter siswa dan siswi di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Gresik. Pendidikan akhlak dan karkter bukan hanya diajarkan oleh guru bidang studi pelajaran Akidah Akhlak, tetapi pendidikan akhlak harus diajarkan oleh setiap guru yang ada di sekolah tersebut, misalnya guru pelajaran umum seperti bahasa inggris, ilmu penghetahuan alam dan Matematika juga berkewajiban untuk melakukan pendidikan akhlak, dan juga halnya guru olahraga, juga berkewajiban mengajarkan tentang akhlak.

Kajian Teori
1.pengertian pendidikan
Pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah proses mengubah sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang, dalam mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran, proses, latihan, perbuatan dan cara mendidik.[3]
Dalam istilah Asing pendidikan itu disebut “Paedagogik”. Perkataan ini berasal dari bahasa Yunani Kuno, terdiri dari dua suku kata, yaitu Paes dan Gogos, Paes artinya anak dan Gogo artinya penuntun. Jadi paedagogos artinya penuntun anak. Mulanya “paedagogik” dimaksudkan budak yang pandai dan dewasa yang diserahkan dan ditugaskan untuk mengantar anak tuannya ke sekolah sambil membawa alat-alat sekolahnya. Kadang-kadang budak tersebut diberi wewenang penuh untuk bertindak sebagai pendidik anak tuannya tersebut. Pengertian tugas ini kemudian diperluas menjadi kewajiban membimbing moral dan tingkah laku anak, sehingga sekarang istilah “Paedagogik” berarti ahli didik atau pendidik.

Dalam Islam, ada beberapa penyebutan untuk pendidikan yaitu: tarbiyah, ta’lim dan ta’dib. Yang secara keseluruhan menghumpun semua kegiatan proses pendidikan seperti, mengajar, memilih, membina, memelihara, menyucikan jiwa dan mengingatkan manusia kedalam hal-hal yang baik.[4]

2. Pengertian akhlaq
Secara bahasa, kata akhlak berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata akhlaqa, yukhliqu, ikhlaqan yang berarti al-sajiyah (perangai), al-tabi’ah (kelakukan, tabiat, watak dasar), al’adat (kebiasaan), al-muru’ah (peradaban yang baik) dan al-din (agama). Menururt imam al ghozali dalam bukunya yunahar ilyas yang berjudul kulliyah akhlaq menyebutkan bahwa akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.[5]

Berdasarkan pengertian akhlak yang dikemukakan oleh Ibn Miskawaih ini dapat dikatakan bahwa dalam setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia terdapat jiwa yang mendorong manusia.Manusia memiliki akhlak yang bermacam-macam, hal ini dapat dibuktikan pada perbuatan yang dialami oleh manusia dalam masa pertumbuhannya dari satu keadaan ke keadaan lainnya sesuai dengan lingkungan yang mengelilinginya dan pendidikan yang diperolehnya.[6]

Akhlak melekat dalam diri seseorang, bersatu dengan perilaku dan perbuatan.Jika perilaku yang melekat itu buruk, disebut akhlak yang buruk atau akhlak mazmumah. Sebaliknya, apabila perilaku tersebut baik disebut akhlak mahmudah. Akhlak merupakan tingkah laku yang mengakumulasi aspek keyakinan dan ketaatan sehingga tergambarkan dalam perilaku yang baik. Yang mana artinya akhlak merupakan pola tingkah laku yang tercermin dari perilaku seseorang dalam kesehariannya.Ini artinya akhlak merupakan perilaku yang tampak (terlihat) dengan jelas, baik dalam kata-kata maupun perbuatan yang dimotivasi oleh dorongan karena Allah. Baik dan buruk akhlak didasarkan kepada sumber nilai, yaitu Alquran dan Sunnah Rasul.

Pendidikan akhlak ialah pendidikan perilaku, atau proses mendidik, memlihara, membentuk, dan memberikan latihan mengenai akhlak seseorang, dalam pengertian yang sederhana, pendidikan akhlak diartikan sebagai proses pembelajaran akhlak.  Dengan demikian pendidikan akhlak merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan disengaja untuk memberikan bimbingan, baik jasmani maupun rohani, melalui penanaman nilai-nilai Islam, latihan moral, fisik menghasilkan perubahan kearah positif, yang nantainya dapat diaktualisasikan dalam kehidupan, dengan kebiasaan bertingkah laku yang baik, memiliki fikiran yang jernih dan berbudi pekerti yang luhur menuju terbentuknya manusia yang berakhlak mulia. Pendidikan akhlak muncul sebagai respon terhadap kemorosotan akhlak masyarakat yang sampai pada saat ini dalam fenomena keseharian menunjukkan, perilaku yang belum sejalan dengan niali-nilai kemanusiaan sehingga muncul berbagai persoalan, dengan demikian kedudukan pendidikan akhlak sangat diperlukan.

3. Pengertian karakter
Secara etimologi,[7] kata karakter (Inggris:character) berasal dari bahasa yunani, eharassien yang berarti “to engrave”. Kata “to engrave” itu sendiri dapat diterjemahkan menjadi mengukir, melukis, memahatkan, atau menggoreskan. Arti ini juga sama salam bahasa Inggris yang berarti juga mengukir, melukis, memahatkan, atau menggoreskan.

Baca Juga :  Langkah-langkah Pemilihan Media dalam Proses Pembelajaran

Sigmund Freud dalam Syaiful menyatakan, karakter adalah kumpulan nilai yang mewujud dalam suatu sistem daya juang yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku. Dari itu dapat kita pahami bahwa ciri dari berkarakter itu adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat dan berwatak yang baik. Secara akademik, makna dari pendidikan karakter sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang tujuannya untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dapat memberikan keputusan baik buruk, memelihara apa yang baik itu, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Dalam konteks pendidikan Islam, maka pendidikan karakter adalah pendidikan mengenai dasar-dasar moral dan keutamaan perangai, tabiat yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak sejak usia dini. Ditegaskannya, bahwa keutamaan moral atau perangai atau karakter adalah buah dari Iman yang mendalam dan perkembangan religius yang benar dalam peribadi anak harus benar-benar terbina dengan baik.
Jadi, sangat penting upaya pendidikan karakter untuk setiap siswa karna pada dasarnya manusia lama-kelamaan akan membutuhkan suatu karakter untuk mengembangkan potensi dan jati diri yang ada dalam diri mereka kelak

METODE PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk menghetahui pelaksanaan pembentukan akhlaq pada karakter siswa MI Negeri 1 kedamean Gresik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menelaah fenomena sosial dalam suasana yang berlangsung secara wajar atau alamiah. Peneliti berperan sebagai pengamat dalam proses penerapan akhlaq pada pendidikan karakter di MI Negeri 1 kedamean. Instrumen penelitian yang digunakan adalah menggunakan teknik pengumpulan data, wawancara serta pengamatan dalam proses pembelajaran. Serta melalui observasi, dan dokumentasi.

Lokasi dalam penelitian ini adalah MIN 1 Gresik Kecamatan Kedamean pemilihan tempat ini adalah karena sekolah ini memenuhi kriteria penelitian ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus yang merupakan salah satu penelitian deskriptif, dengan studi ini diharapkan dapat diungkap secara mendalam mengenai akhlak siswa di MIN 1 Gresik.

Teknik pengumpulan data dengan menggunakan wawancara, observasi, studi pustaka, dokumentasi. Sampel yang dijadikan objek penelitian sebanyak 3 orang guru dan kepala sekolah pada MIN 1 Gresik yang mengetahui materi dalam penelitian ini.
Data dan informasi yang diperoleh dari lapangan dianalisis dengan berpedoman kepada kerangka landasan analisis pada pendekatan masalah, yaitu untuk mengetahui perkembangan akhlak siswa di MIN 1 Gresik.

Perumusan Masalah :
Berdasarkan penelitian, maka permasalahan dapat dirumuskan:
“bagaimana  penerapan pendidikan akhlaq siswa pada MIN 1 Kedamean ?”
 Tujuan Penelitian :
Tujuan penelitian adalah untuk memberikan jawaban atas pertanyaan diatas. Adapun tujuan penelitian adalah untuk menghetahui penerapan pendidikan akhlaq pada siswa MIN 1 Gresik.

Pembahasan dan hasil
Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Gresik merupakan salah satu sekolah madrasah ibtidaiyah kebangaan daerah setempat sekaligus menjadi satu-satunya sekolah MI di kecamatan kedamean kabupaten Gresik. Yang mana menjadi sekolah adiwiyata pada tahun 2014 dan terakreditasi “A”. sekolah ini menggunakan kurikulum 2013, dan memiliki situs resmi min1gresik@gmail.com / www.min1gresik.sch.id. Pada awalnya Madrasah Ibtidaiyah Negeri Kedamean adalah sebuah lembaga pendidikan Islam yang berdiri di bawah naungan Departemen Agama RI. Sebelum Madrasah Ibtidaiyah Negeri Kedamean ini berdiri sudah ada lembaga pendidikan atau madrasah swasta, yaitu Madrasah Ibtidaiyah Raden Paku yang didirikan pada Tahun 1958 oleh para tokoh Agama yang dipelopori oleh H. Musthofa. Dengan segala usaha dan upaya serta do’a masyarakat muslim, maka terwujudlah lembaga pendidikan swasta yaitu MI Raden Paku. Keinginan masyarakat terhadap pendidikan madrasah adalah sebagai tempat atau wadah untuk membekali anak-anak atau generasi muda untuk menimba ilmu dan ketrampilan serta dapat mengamalkannya bagi umat manusia.

Seiring dengan perkembangan zaman yang selalu berubah sehingga mendorong himmah bagi para pengurus madrasah swasta tersebut untuk meningkatkan standart mutu dan kualitas pendidikan yang sejajar dengan pendidikan umum atau pendidikan yang sudah maju dengan berbagai sarana dan fasilitas bagi berlangsungnya pendidikan tersebut.

Dengan pertimbangan dan kesepakatan bersama, maka madrasah ini diusulkan untuk dinegerikan. Setelah usulan diajukan tepatnya pada tahun 1980 menjadi Madrasah Ibtidayah Negeri dengan jumlah murid sebanyak 268 siswa dan tenaga pendidik sebanyak 7 orang guru negeri dan dibantu oleh 4 guru swasta. Dan akhirnya madrasah ini dapat berjalan dengan baik seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju sampai sekarang.

dengan segudang prestasi yang telah diraih oleh madrasah ini dan tenaga pendidik yang profesional maka sangatlah baik pendidikan akhlaq yang diajarakan oleh para pendidik dan karena lingkungan yang memenuhi dan mendukung proses pembentukan pendidikan karakter dan penyampaian pendidikan akhlaq namun, peran serta wali murid atau keluarga juga sangat penting dalam proses pembentukan akhlaq pada siswa. Bukan hanya peran serta pihak dan lingkungan sekolah.kegiatan yang ada disekolah juga sangat mendukung denga pendidikan akhlaq ini. Seperti, pembacaan dirosah al-qur’an sebelum masuk kelas, shalat dhuha, shalat jama’ah dhuhur, istighosah setiap jumat minggu pertama.

Baca Juga :  Strategi Guru Dalam Membentuk Karakter Siswa Mi

Berdasarkan evaluasi penerapan pendidikan akhlaq yang ada di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Gresik yaitu guru mendapat dua tugas bagian. Pertama guru melakukan tugas evaluasi harian dengan memperhatikan sopan santun siswa di kelas setiap harinya baik didalam dan diluar kelas. Kedua, guru melakukan evaluasi di akhir semester dan melakukan ujian semester.Strategi yang digunakan pun secara uswatun hasanah yang mana dengan situasi dan lingkungan sekolah yang mendukung proses penerapan pendidikan akhlaq.

KESIMPULAN
Berdasarkan penelitaian dan evaluasi yang dilakukan oleh penulis, dapat disimpulkan tentang penerapan pendidikan akhlaq di era globalisasi pada siswa sekolah Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Gresik, berikut kesimpulan yang tertera:
1.      Implementasi pendidikan akhlaq yang diterapkan di sekolah MIN 1 Gresik sangatlah bagus dan termasuk sangat optimal.  karena kegiatan sekolah baik didalam maupun diluar kelas berasaskan islam dan mengacu pada penilaian akhlaq dan sopan santun. Ini berdasarkan pengakuan tenaga pendidik dan kepala sekolah yang memantau langsung kegiatan siswa di sekolah.

2.      Hasil observasi dan proses pelaksanaan pendidikan akhlak dalam pengembangan pendidikan karakter diMadrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Gresik, bahwa Evaluasi dari implemntasi pendidikan akhlak di akhir semester dan juga setiap hari di keseharian siswa. Setiap bertemu dengan guru, siswa selalu mengucapkan salam dan mencium tangan. Kemudian siswa juga setiap hari tanpa diinstruksikan, siswa langsung mengambil wudu dan mengerjakan salat zuhur berjamaah. Hal ini menggambarkan nilai-nilai religius telah tertanam pada diri siswa. Evaluasi tidak hanya dilakukan guru akidah akhlak saja namun juga kepada kepala sekolah dan guru mata pelajaran yang lain turut berperan dalam evaluasi pendidikan akhlak dan karakter khususnya di lingkungan madrasah. Proses evaluasi dilaksanakan setiap hari dalam proses belajar dan pembelajaran. Kemudian setelah mengobservasi kegiatan belajar- mengajar,  nilai karakter percaya diri terlihat ketika siswa dengan semangat mempresentasikan salah satu materi pendidikan akhlak dihadapan teman-temannya. Kemudian setiap bertemu guru siswa selalu memberi salam sambil mencium tangan. . Sementara itu Evaluasi juga dilakukan di akhir semester dengan melakukan ujian akhir semester. Pihak yang berperan dalam proses evaluasi pendidikan akhlak yaitu selain guru akidah akhlak sendiri, kepala sekolah dan guru mata pelajaran lain juga turut terlibat dalam kegiatan evaluasi pendidikan  akhlak.

3.      Sikap dalam menghadapi perkembangan era globalisasi. Hal ini juga perlu banyak pengkajian dari berbagai warga sekolah. Perlu adanya koordinasi dengan wali murid dirumah karena terkadang akhlaq siswa tidak dinilai hanya ketika disekolah atau bertemu guru saja tetapi bagaimana siswa menyikapi dengan lingkungan sekitar. Hal ini telah diteliti oleh penulis dengan wawancara bersama beberapa wali murid, yang mengatakan bahwa pendidikan  akhlaq di madrasah sangat berpengaruh di kehidupan luar kelas. Seperti contoh siswa selalu memberi salam ketika sampai dirumah dan mencium tangan ayah atau ibu mereka. Namun, dalam hal ini hanya beberapa saja yang berhasil di praktekkan dirumah.

Daftar pustaka
https://kbbi.web.id/didik
Jalil, Abdul. “Karakter Pendidikan Untuk Membentuk Pendidikan Karakter Abdul Jalil Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus.” Jurnal Pendidikan Islam 6 (2012).
Nugroho, hestu (universitas pamulang). “Pembentukan Akhlak Siswa.” Jurnal Mandiri 2, no. 1 (2018): 65–86.
Sirait, Ibrahim, Dja Siddik, and Siti Zubaidah. “Implementasi Pendidikan Akhlaq Dalam Pengembangan Pendidikan Karakter Di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Medan,” n.d.
susilo, hanisa. “Penanaman Nilai-Nilai Akhlaq Pada Siswa,” 2014, 40.
Yusra, Nelly. “Implementasi Pendidikan Akhlak Di Sekolah Dasar.” Potensia: Jurnal Kependidikan Islam 2, no. 1 (2016): 45–70.

Catatan Kaki :
[1]hestu (universitas pamulang) Nugroho, “Pembentukan Akhlak Siswa,” Jurnal Mandiri 2, no. 1 (2018): 65–86.
[2] Nelly Yusra, “Implementasi Pendidikan Akhlak Di Sekolah Dasar,” Potensia: Jurnal Kependidikan Islam 2, no. 1 (2016): 45–70.
[3] https://kbbi.web.id/didik
[4] Abdul Jalil, “Karakter Pendidikan Untuk Membentuk Pendidikan Karakter Abdul Jalil Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus,” Jurnal Pendidikan Islam 6 (2012).
[5] hanisa susilo, “Penanaman Nilai-Nilai Akhlaq Pada Siswa,” 2014, 40.
[6] Nugroho, “Pembentukan Akhlak Siswa.”
[7] Ibrahim Sirait, Dja Siddik, and Siti Zubaidah, “Implementasi Pendidikan Akhlaq Dalam Pengembangan Pendidikan Karakter Di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Medan,” n.d.

Oleh RISALAH AZIZAH

Tags: