Upaya Guru Dalam Meningkatkan Nilai Kearifan Lokal Melalui Pelajaran IPS Sejarah Di Sekolah

Abstrak Seiring berkembangnya zaman, sebuah nilai-nilai budaya yang berkembang pada masyarakat mulai terjadi degradasi atau kemrosotan bahkan mulai dilupakan oleh generasi penerusnya. Namun disisi lain sebenarnya yang perlu dikembangkan terlebih dahulu adalah budaya lokal agar tetap bisa mengikuti perkembangan zaman dan cocok digunakan dimana pun tempatnya untuk era globalisasi yang sudah mencapai tingkat dewasa ini. Kemudian tidak menutup kemungkinan yang akan terus mengembangkan segala budaya yang telah ada adalah generasi yang sudah mampu mempelajari situasi dan kondisi kemudian mampu untuk merealisasikan sebuah pengetahuan
Kata Kunci generasi,nilai budaya
Nilai Kearifan Lokal
Abstract  As the times develop, cultural values that develop in society begin to occur degradation or decline even begin to be forgotten by the next generation. But on the other hand actually what needs to be developed first is the local culture so that it can keep up with the times and is suitable to be used wherever the place is for the era of globalization which has reached the level of today. Then do not rule out the possibility that will continue to develop all cultures that already exist is a generation that has been able to learn the situation and conditions and then able to realize a knowledge.
Keywords generation, cultural values

Upaya Guru Dalam Meningkatkan Nilai Kearifan Lokal Melalui Pelajaran IPS Sejarah Di Sekolah

A.    LATAR BELAKANG
Di dalam suatu generasi penerus bangsa baik secara individual maupun kelompok harus memiliki kemampuan mental yang kuat untuk menghadapi situasi apapun dan disertai dengan kemampuan intelektual untuk membedakan sesuatu yang pantas dan bermanfaat untuk kemudian hari. Fungsi generasi penerus bangsa adalah untuk mencari sebuah informasi untuk disebar luaskan kepada masyarakat dengan tujuan agar antara masyarakat dan generasinya sama-sama mengetahui informasi yang saat itu beredar.

Tetapi pada umumnya masalah yang terjadi saat ini dikarenakan kurangnya informasi dan komunikasi antara masyarakat dan generasi yang mengakibatkan hilangnya kepribadian suatu bangsa serta nilai budaya yang terkandung didalamnya. Kondisi yang demikian juga berasal dari terus berkembangnya sebuah ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini. Sebuah daerah atau negara dapat dikatakan memiliki ketahanan apabila di dalamnya terdapat sebuah budaya yang terus berkembang dari generasi ke generasi yang pada hakekatnya memiliki tujuan yang berkaitan dengan kebudayaan dan kepribadian suatu bangsa atau daerah itu sendiri.

Negara indonesia merupakan negara yang didalamnya terdapat bermacam suku bangsa, yang dalam suku bangsa itu sendiri memiliki beraneka ragam adat istiadat, agama, kesenian, mata pencaharian, bahasa, dan lain sebagainya. Oleh karena itu keanekaragaman tersebut harus selalu dilestarikan dan dikembangkan melalui proses pendidikan agar tetap mempertahankan nilai-nilai luhur yang terkadung didalam suatu keanekaragaman tersebut. Untuk mempertahankan atau melestarikan sebuah kebudayaan, maka kebudayaan itu sendiri harus memiliki nilai-nilai moral, spiritual, dan nilai etis. Karena sebenarnya dalam sebuah kebudayaan tidak ada hal-hal yang negatif tetapi ada unsur-unsur yang digunakan untuk mengatur sebuah norma dalam kehidupan bermasyarakat  Kebudayaan juga memiliki fungsi dan peranan yang sangat penting di masyarakat antara lain untuk mengatur hubungan antar manusia, melindungi diri seseorang dari alam, dan sebagai wadah mengekspresikan perasaan.

Akan tetapi dengan adanya kebudayaan,maka seseorang harus menghadapi tantangan yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia tersebut. Karena faktanya memang kebudayaan lah yang dapat melestarikan kehidupan seseorang sehingga hidupnya tetap berlangsung, maka disinilah letak fungsi kebudayaan yang sebenarnya karena jati diri suatu bangsa dilihat melalui kearifan budaya lokal yang dimilikinya. Identitas budaya lokal sangat penting untuk menjadi khazanah atau kekayaan yang pada akhirnya dapat menyumbang kebudayaan nasional yang ada.
Nilai budaya dan pendidikan sangatlah memiliki keterkaitan yang cukup kuat untuk menumbuhkan sifat dan watak seseorang. Sebuah budaya dikenalkan kepada generasi seterusnya karena diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki dan kebijaksanaan yang cukup kuat untuk melestarikan kebudayaan yang sudah ada. Dengan memahami sebuah kebudayaan, peserta didik diharapkan mampu mengambil manfaat dari nilai kebudayaan tersebut.
  
Pendidikan berbasis kearifan lokal adalah sebuah pendidikan yang berfungsi untuk lebih melekatkan peserta didik kepada sesuatu yang sudah konkret ada kemudian melestarikannya. Penanaman nilai kearifan lokal dapat dilakukan melalui pembelajaran muatan lokal di setiap sekolah kemudian tidak lupa untuk menunjukkan secara langsung bukti konkret sebuah budaya yang dipelajari oleh peserta didik tersebut. Pendidikan dan kearifan lokal sangatlah memiliki keterkaitan karena di era globalisasi seperti ini,peran guru dalam membimbing peserta didik untuk menjaga dan melestarikan kearifan lokal sangatlah besar. Seorang guru merupakan pelaku pendidik yang dapat menghasilkan peserta didik yang lebih maju dalam berpikir dan lebih bijaksana dalam hal apapun.

Guru pada dasarnya adalah pendidik yang mengabdika dirinya dengan mengamalkan ilmu yang telah di dapat untuk kemajuan suatu bangsa melalui sebuah pendidikan. Tidak hanya guru, melainkan masyarakat juga memiliki peranan yang sangat besar untuk mengenalkan budaya lokal kepada generasi penerus yang diharapkan dapat menjadi generasi penerus yang mampu bersaing dalam era globalisasi terlebih pada era 4.0 seperti yang terjadi saat ini.

Baca Juga :  Teori, Model dan Strategi Kognitif dalam pembelajaran

B.    METODE PENELITIAN
Beberapa metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni, sebuah prosedur penelitian yang menghasilkan sebuah data yang deskriptif  yang bisa berupa lisan atau kata-kata tertulis dan sesuai dengan perilaku yang telah diamati atau biasa disebut dengan metode penelitian kualitatif. Beberapa alasan menggunakan metode ini yakni dilihat dari banyaknya pertimbangan. Salah satunya yaitu penelitian ini bersifat menguraikan dan menggambarkan segala sesuatu dengan apa adanya, maksutnya adalah data yang dikumpulkan merupakan penalaran, hal ini merupakan salah satu cara penerapan yang secara kualitatif, data disajikan secara langsung antara peneliti dengan koresponden, yang disebabkan lebih pekanya dan lebih menepatkan diri sesuai dengan apa yang ada. Penelitian disini adalah tentang bagaimana proses pembelajaran sejarah di MI Darussalam Krian oleh calon guru untuk menanamkan nilai kearifan lokal serta bagaimana peserta didik di MI tersebut mengimplementasikan nya. Penelitian ini bertempat di MI Darussalam Krian dengan informan guru IPS dan peserta didik di sekolah tersebut.

Metode ini menerapkan beberapa teknik dalam pengambilan data,yaitu : 1) Melakukan wawancara kepada guru dan peserta didik yang ada di MI Darussalam, 2) Melakukan observasi terhada proses pembelajaran yang berlangsung di kelas MI Darussalam, 3) Melakukan dokumentasi terhadap segala perencanaan, pembelajaran serta cara penilaian guru di MI darussalam. Validasi data menggunakan triangulasi teknik serta triangulasi sumber dengan analisis data yang menggunakan tiga tahapan yaitu : reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan yang tahapan ini biasanya disebut sebagai tahapan interaktif.

C.    HASIL DAN PEMBAHASAN
UPAYA GURU DALAM MENINGKATKAN NILAI KEARIFAN LOKAL MELALUI PEMBELAJARAN IPS SEJARAH DI SEKOLAH.
Upaya guru dalam meningkatkan nilai kearifan lokal yang dilakukan melalui pembelajaran IPS sejarah. Untuk menumbuhkan sifat kesadaran diri dalam meningkatkan nilai kearifan lokal dengan cara menyadari pentingnya hubungan antara sejarah dan pendidikan.
Pembelajaran IPS sejarah di MI Darussalam Krian yang dijadikan sebagai media dalam meningkatkan nilai kearifan lokal yang penerapannya yakni peserta didik mempelajari sejarah yang berkaitan dengan kebudayaan yang ada di indonesia baik setelah islam masuk atau sebelum islam masuk di indonesia. Masuknya islam di Indonesia sangat membawa pengaruh yang cukup besar pada budaya yang ada di saat itu dan disebabkan oleh akulturasi antara budaya islam dn budaya selain islam yang sudah terlebih dahulu berkembang di indonesia. Dalam pelajaran ini peserta didik juga mempelajari segala sesuatu yang menyangkut tentang kebudayaan di masa lampau yang keberadaannya masih ada hingga sekarang. Dikarenakan sejarah dalam suatu bangsa itusecara tidak langsung dapat memunculkan nilai-nilai luhur yang ada pada diri bangsa indonesia maka kebijakan berkarakter tentang suatu bangsa tersebut juga berasal dari sejarah.

Baca Juga :  Contoh Cara Review Jurnal

Implementasi dari kurikulum 2013 yaitu dengan melakukan pendekatan secara saintifik yang dilakukan dengan mengamati sesuatu yang ada, menalar apa yang terjadi, bertanya tentang sesuatu yang tidak dipahami, yang dari cara-cara tersebut diharapkan peserta didik dapat mencoba untuk lebih berpikir secara sistematis. Di MI Darussalam sendiri sudah menerapkan kurikulum 2013 sejak tahun 2016, yang dengan kurikulum ini peserta didik lebih di dekatkan dengan realita yang ada di kehidupan saat ini. Cara yang digunakan yakni melalui membaca buku sejarah, memperlihatkan vidio atau film tentang kebudayaan yang telah ada dizaman dahulu hingga sekarang, serta memperlihatkan perilaku masyarakat di era globalisasi saat ini.

Penerapan pendekatan saintifik kurikulum 2013 dengan melakukan pemutaran vidio tentang kebudayaan mulai zaman sebelum islam masuk di indonesia hingga zaman sekarang. Setelah melakukan pemutaran vidio tersebut, guru bertanya kepada peserta didik yang ada dikelas tersebut tentang pemahaman mereka atas vidio yang telah diputar. Selanjutnya guru memberikan penjelasan atas apa yang telah mereka pahami dan membenarkan jika ada pemahaman peserta didik yang kurang benar.

Dari sinilah sangat dibutuhkan peserta didik yang aktif dan lebih didekatkan pada realita saat ini. Kemudian peserta didik akan dapat menyadari pengetahuan yang dimiliki olrh dirinya. Dari hal ini maka perasaan seorang peserta didik tidak akan merasa bahwa mereka digurui,tetapi peserta didik secara tidak langsung akan menyadari dan mulai berperilaku sesuai dengan kemauan hatinya tanpa paksaan dari pihak manapun melainkan muncul dari kesadaran diri dan hati peserta didik itu sendiri.(Budiyanto, 2016)

Berdasarkan hasil penilitian yan dilakukan oleh peneliti di MI Darussalam, pelaksanaan pembelajaran di sekolah tersebut berawal dari guru yang memberi salam terhadap peserta didik kemudian menyapa mereka, setelah itu guru mulai masuk kedalam materi tetapi sebelum masuk pada materi, guru bertanya kepada peserta didik tentang pengertian dari akulturasi, kemudian guru akan mulai menjelaskan materi agar setiap peserta didik ikut aktif dalam proses pembelajaran dengan cara guru memberikan pertanyaan mengenai kerifan-kearifan lokal yang ada di indonesia yang mungkin peserta didik telah mengetahuinya.

Melalui interaksi peserta didik dengan lingkungannya dapat menjadikan peserta didik sendiri lebih memahami apa yang ada di lingkungan sekitarnya. Pengalaman yang dialami peserta didik tersebut menjadikan peserta didik dapat mengaitkan apa yang ada di lingkungan nya dengan materi-materi yang telah dipelajarinya mengenai akulturasi budaya yang ada di indonesia. Sehingga dengan adanya pemahaman peserta didik terebut didukung pula dengan keadaan yang nyata dan dapat menimbulkan kesadaran diri akan adanya nilai kearifan lokal yang ada di negara indonesia.(Susilo & Irwansyah, 2019)

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, bahwa peserta didik sebenarnya mengetahui apa yang telah mereka lakukan tetapi mereka tidak menyadari bahwa hal itu termasuk kearifan lokal. Kebanyakan dari peserta didik mengikuti kegiatan yang aktif dan bersangkutan dengan kebudayaan daerah, bahkan sebenarnya hal tersebut dapat dijadikan pijakan awal agar mereka dapat ikut serta dalam menjaga dan melestarikan budaya kearifan lokal yang ada di indonesia.

Strategi lain yang digunakan oleh guru di MI Darussalam ini tidak hanya melalui penanaman sikap cinta kearifan lokal, melainkan didukung dengan silabus dan RPP yang didalamnya berisi tentang segala materi tentang kebudayaan yang ada di indonesia. Melalui dua hal tersebut dapat digunakan sebagai pedoman guru dalam menyampaikan materi pada peserta didik saat berlangsungnya proses pembelajaran mengenai kearifan lokal yang ada di indonesia.

Namun dalam fakta yang ada, dalam RPP yang dijadikan pedoman guru saat melakukan pembelajaran dikelas tidak terdapat materi mengenai penanaman sifat cinta kebudayaan dan kearifan lokal yang ada di indonesia, maka dari itu guru harus dapat mengembangkan sendiri pembelajaran yang telah ada, dengan tujuan menunjukkan kebudayaan yang ada di indonesia.

Beberapa kendala yang dialami guru yakni tidak adanya waktu khusus untuk memperdalam nilai kearifan lokal dikarenakan memang tidak adanya alokasi waktu dari sekolah sendiri, seperti tidak adanya waktu khusus untuk peserta didik bersama mengetahui kearifan lokal secara langsung yang ada di indonesia. Dan kendala berikutnya yakni kesulitannya interaksi antara peserta didik dengan guru dikarenakan banyaknya peserta didik yang bersikap semaunya meski tidak semuanya seperti itu

Baca Juga :  Kelebihan dan Kekurangan Lingkungan Sebagai Media Pembelajaran

Secara keseluruhan peneliti menemukan bahwa sudah banyak peserta didik yang paham atas adanya kearifan lokal yang ada di indonesia meskipun tidak terlalu mendalam dan tidak secara keseluruhan setidaknya banyak yang sudah dapat memahami hal tersebut kemudian muncul rasa kesadaran diri untuk menjaga dan melestarikan kearifan lokal yang ada di indonesia saat ini.(Pendidikan et al., 2016)

D.    IMPLEMENTASI NILAI KEARIFAN LOKAL
Implementasi kearifan lokal yang bersifat nyata dapat dibuktikan dengan cara mengadakan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan bernilai kearifan lokal seperti : menari, membatik, bermusik, yang tidak hanya dapat didapatkan di lingkup sekolah melainkan dapat juga didapatkan di lingkup luar sekolah seperti : pentas seni, karnaval budaya serta acara lainnya yang bernilai kearifan lokal.
Kearifan lokal yang tidak berwujud dapat diterapkan oleh guru kepada peserta didik melalui memberikan cerita atau kisah-kisah sejarah kebudayaan di zaman dahulu seperti mitos atau cerita-cerita rakyat yang mengandung unsur tradisional mengenai sejarah-sejarah kebudayaan mulai dari zaman dulu hingga zaman sekarang.
Bentuk-bentuk kearifan lokal sebenarnya tidak hanya berupa tarian dan musik melainkan dapat berupa norma, etika, adat istiada setempat, kepercayaan dan aturan-aturan setempat.
Penanaman nilai kearifan lokal di MI Darussalam dilakukan melalui kegiatan ekstrakulikuler yang menunjang kearifan lokal yang meliputi seni musik, seni batik, seni tari, dan lain-lain.

E.    SIMPULAN DAN SARAN
Penanaman nilai kearifan lokal melalui pembelajaran sejarah di MI Darussalam, guru tidak menggunakan perencanaan, tetapi  guru mengembangkan mennamkan kearifan lokal serta mengembangkannya dengan RPP sebagai pedomah pembelajaran yang dimiliki oleh peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan mereka sendiri.

Apabila peserta didik memiliki wawasan yang luas maka akan mempermudah interaksi peserta didik dengan lingkungannya dan mempermudah peserta didik dalam menjalani proses pembelajaran. Beberapa kendala penanaman kearifan lokal yaitu kurangnya alokasi waktu dari sekolah baik untuk pembelajaran didalam ruangan maupun diluar ruangan agar lebih berinteraksi dengan lingkungannya.
Kurangnya pemahaman peserta didik dalam mengimplementasikan nilai kearifan lokal tersebut juga menjadi kendala akan sampainya pemahaman guru terhadap peserta didik, seperti nilai religius, nilai etika, nilai estetika. Kemudian penanaman nilai kearifan lokal juga dapat melalui kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah seperti ekstrakulikuler yang dapat menjadi objek pendukung akan tercapainya tujuan penanaman kearifan lokal kepada para peserta didik di era milenial seperti ini.

UCAPAN TERIMA KASIH
Peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada segenap staff dan karyawan, guru, serta peserta didik di MI Darussalam yang telah menyempatkan waktu untuk saya melakukan wawancara dan penelitian. Peneliti juga mengungkapkan permohonan maaf apabila dalam peneliti melakukan wawancara dan penelitian peneliti melakukan kesalahan yang baik secara di sadari atau pun tidak disadari. Dan ucapan terima kasih kepada segala pihak yang telah berkontribusi dalam penyelesaian artikel ini yang idak dapat peneliti sebutkan satu persatu
DAFTAR RUJUKAN
Budiyanto, B. (2016). Model Fungsionalisasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal (Local Genius) Dalam Kebijakan Hukum (Legal Policy) Daerah Di Provinsi Jawa. III(1), 69–85. Retrieved from http://repository.unissula.ac.id/5587/
Pendidikan, J., Pendidikan, G., Usia, A., Volume, D., Tahun, N., Pendidikan, J., … Tahun, N. (2016). KEMAMPUAN BERBAHASA INGGRIS ANAK KELOMPOK A1 Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha Abstrak e-Journal Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Ganesha. 4(2).
Susilo, A., & Irwansyah, Y. (2019). Pendidikan Dan Kearifan Lokal Era Perspektif Global. SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Kajian Sejarah, 1(1), 1–11. https://doi.org/10.31540/sdg.v1i1.193
Oleh Priska Surya Silvana

Tags: