Pentingnya Karateristik Moral Pada Siswa Mi

ABSTRAK
Karakteristik moral sangat melekat bagi para orang tua, karena pentingnya karateristik moral bagi kehidupan sehari-hari. Moral bertujuan untuk melatih kepekaan anak terhadap lingkungan sekitarnya. Hal ini dapat ditanamkan sejak dini di lembaga pendidikan yang pertama, MI sebagai lembaga pendidikan yang pertama memiliki kewajiban untuk mendidik moral pada usia yang cukup pas dalam pengenalan pendidikan moral. Dengan demikian mendidik moral di MI merupakan hal yang sangat efektif dalam perilaku anak untuk masa mendatang. Jika anak tersebut sudah ditanamkan moral dalam berbicara dalam perilakunya di usia dini mereka akan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari, dengan begitu sampai di masa yang akan dating hal itu akan melekat pada dirinya. Saat ini banyak kasus yang mencerminkan lunturnya moral pada siswa, seperti bullying, kekerasan. Bahkan hal seperti itu sudah biasa dikalangan pelajar padahal hal seperti itu dapat menyebabkan trauma yang mendalam bagi korbannya. Disini peran orang tua sangat dibutuhkan dalam menumbuhkan rasa keterbukaan dan peningkatan moral pada anak, agar mereka mau menghormati orang lain.
Keywords: pentingnya karateristik moral
 Pentingnya Karateristik Moral Pada Siswa Mi

Pentingnya Karateristik Moral Pada Siswa Mi

PENDAHULUAN
Perkembangan globalisasi diindonesia semakin meningkat, dengan didukung oleh kemajuan iptek yang semakin merajalela dikalangan masyarakat. Tak hanya orang dewasa anak kecil sudah mengenal hp bahkan orang tua tidak ragu membelikan hp untuk anaknya. Dampak dari arus globalisasi sendiri sudah sangat terlihat seperti mulai lunturnya budaya Indonesia dan tergantikan oleh budaya-budaya luar yang banyak digemari kalangan remaja.

Banyaknya kejadian yang mencerminkan ketimpangan moral pada masyarakat sudah buakn rahasia umum lagi. Terjadi bermacam-macam perilaku yang mencerminkan moralitas yang rendah. Seperti para pemimpin yang tidak dapat dicontoh karena korupsi, melalaikan tanggung jawabnya dan masih banyak lagi. Hal ini tidak hanya terjadi dikalangan pemerintahan namun dalam lingkungan sekitar banyak ditemukan kasus-kasus yang merupakan dampak dari lunturnya moral masyarakat Indonesia.

Kurangnya perhatian orang tua maupun guru menjadi faktor utama rendahnya moral anak. Jika anak dari kecil tidak diajarkan tentang moral dan sopan santun, maka hingga dewasa ia akan terbiasa untuk bersikap seenaknya. Oleh sebab itu sebagai calon orang tua dan guru sudah waktunya untuk menanamkan nilai moral sejak dini kepada anak, karena itu akan menentukan sikapnya dimasa depan.

Manfaat dalam penerapan nilai moral sejak dini ialah dapat mempermudah proses pembelajaran secara umum, untuk mencegah kenakalan remaja. Anak MI dituntut untuk memiliki moral, karena seusia mereka mudah dalam berteman jika mereka tidak memiliki moral maka akan mudah terpengaruh. Oleh sebab itu moral harus ditanamkan sejak dini dan secara seimbang kepada anak.

Anak sangat membutuhkan moral bukan hanya untuk perilaku sehari-hari tetapi juga dalam pengembangan minat dan bakatnya. Misalnya dalam prestasi akademik anak pasti membutuhkan interaksi dengan orang lain, moral menjadi faktor utama dalam hal tersebut. Dalam pengembangan bakatnya kita juga dapat meningkatan kualitas moral pada anak tersebut. Salah satunya yaitu dengan sering mengajaknya untuk bersosialisasi dengan teman-teman sekitanya.

Baca Juga :  Pentingnya Literasi Keluarga dalam Sekolah

Dimasa milenial seperti saat ini kualitas moral pada anak sangat menurun, karena kurangnya sosialisasi saat berkumpul. Mereka memang berkumpul bersama namun malah asyik dengan gadgetnya masing-masing. Bukan rahasia umum lagi anak MI sudah diperbolehkan menggunakan hp oleh orang tua. Hal tersebut sudah termasuk kerusakan moral sejak dini, anak cenderung individualisme dan kurang terbuka dengan lingkungan sekitar.

Efek globalisasi sangat dirasakan oleh para orang tua. Seperti kasus bullying yang sudah tidak asing bagi orang tua. Bullying merupakan salah satu contoh kerusakan moral dikalangan pelajar, tidak pandang usia mulai dari MI hingga Sma mungkin itu sudah hal yang sering terjadi. Hal tersebut merupakan contoh dari rusaknya moral pada siswa. Mereka menganggapnya sepele padahal itu dapat berdampak buruk pada psikis korban bullying, sehingga memubuatnya trauma.

Moral dapat dibentuk melalui beberapa hal seperti pendekatan, pembiasaan, penanaman sejak dini, hal itu perlu dilakukan secara perlahan untuk menumbuhkan nilai moral pada siswa. Pendidikan moral juga dapat menumbuhkan karakter pada anak MI, karakter itu dapat tumbuh karena kebiasaan, turunan, maupun akhlak yang ada dalam dirinya. [1]

PEMBAHASAN
Moral merupakan akhlak yang ada dalam diri seseorang sesuai dengan kebiasaan dan tindakan yang dilakukan bersifat positif. Moral erat hubungannya dengan sosialisasi terhadap orang lain oleh sebab itu dalam setiap individu harus memiliki moral yang baik agar dapat melakukan proses sosialisasi dengan baik. Seseorang yang bersifat individualisme itu berarti moral yang ada dalam dirinya kurang diasah dan dikembangkan. [2]

Pengertian moral menurut Hurlock adalah moral termasuk perilaku manusia yang terjadi karena kebiasaan mereka sendiri, atau bisa juga dari adat yang ada dilingkungan hidup mereka. Hal itu dapat berkembang sesuai perkembangan zaman ditandai dengan kemampuan mereka untuk membedakan perbuatan yang baik maupun yang buruk.[3]

Moral meurut kamus besar bahasa Indonesia dibagi menjadi 3 yaitu:
1. Suatu hal yang diajarkan untuk mengetahui baik maupun buruk dari kejadian dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari
2. Moral juga merupakan kondisi mental yang dapat mengondisikan perasaannya.
3. Suatu hal atau perilaku yang dapat diketahui melalui cerita maupun kejadian langsung.[4]

Moralitas memiliki tiga komponen, yaitu :
1.      komponen afektif atau emosional
Komponen ini terdiri dari bermacam-macam karateristik dalam diri sesorang.
2.      Komponen kognitif
Komponen kognitif merupakan tindakan dari proses belajar pemahaman tentang bagaimana berperilaku sesuai moral atau adat yang ada.
3.      Komponen perilaku
Komponen perilaku menjelaskan tentang bagaimana sesorang berperilaku sesuai dengan moral yang tertanam dalam dirinya.[5]

Dalam perkembangnnya nilai moral harus ditanamkan sejak dini agar mereka mampu memilah-milah sesuatu yang baik maupun yang buruk. Sehingga dalam masyarakat mereka dapat mempraktekannya karena sudah tertanam sejak dini. Usia MI sangat tepat dalam meningkatkan pemahaman akan pentingnya moral dalam diri seseorang.

Baca Juga :  Uji Analisis Data Eksploratori Dan Konfirmatori

Usia yang tepat dalam pengembangan dan pembentukan moral pada anak ialah pada saat mereka duduk di bangku madrasah ibtidaiyah. Saat itu mereka akan mulai dikenalkan dengan beberapa keadaan yang mengharuskan mereka untuk berperilaku yang baik. Hal itu dapat dipahami melalui penanaman moral. Moral tidak hanya bermanfaat dalam lingkungan sekolah namun juga dapat bermanfaat di lingkungan sekitarnya.

Pendidikan moral bukan hanya tanggung jawab guru disekolah mereka namun peran orang tua adlah tombak terpenting dalam proses tumbuhnya rasa saling menghargai dan tolong menolong dan semua itu ada dalam nilai moral yang ada dalam dirinya. Moral terlihat sepele namun dampaknya sangat besar bagi kehidupan masa depan.

Secara umum nilai moral dapat sangat bermanfaat untuk peningkatan kedisiplinan anak dalam berbuat sesuatu. Mereka cenderung berfikir terlebih dahulu sebelum berbuat sesuatu. Memikirkan akibat apa yang akan terjadi sebelum melakukan sesuatu. Dengan begitu nilai moral nya akan bekerja.

Moral sangat bermanfaat untuk meningkatkan sikap saling menghormati terhadap orang yang lebih tua. Jika nilai moral sudah ditanamkan sejak dini mereka akan tau bagaimana cara bersikap atau cara berbicara kepada orang yang lebih tua, maupun gurunya disekolah. Mereka akan lebih terbiasa jika sudah ditanamkan sejak kecil.

Peran guru sangat penting dalam proses belajar mengajar sehingga guru harus mempunyai cara mereka sendiri agar pesan yang akan diberikan dapat tersampaikan kepada siswa dengan baik. Dalam pendidikan karateristik guru dituntut untuk dapat menuntun siswanya sesuai dengan minat dan bakat yang mereka miliki.[6]

Semakin pesatnya perkembangan zaman saat ini membuat peran guru sangat penting dalam menuntun siswanya agar tidak mudah terpengaruh dengan era globalisasi. Guru dituntut untuk memiliki dedikasi yang tinggi untuk menanamkan moral kepada siswanya. Jika siswa sudah dibekali dengan moral pasti mereka mampu mengendalikan egonya. Semakin tinggi moral maka akan semakin tinggi pula kedudukan pendidikan diindonesia. Namun seiring waktu moral semakin terkikis oleh kebiasaan dan perilaku yang mencontoh budaya luar [7]

Perkembangan terhadap sistem belajar mengajar  yang mulai tergantikan oelh teknologi membawa dampak besar bagi para guru untuk lebih meningkatkan peranan dan kompetensinya, karena proses pembelajaran dan hasil belajar siswa ditentukan oleh peranan dan kompetensi guru dalam mendidik. Guru yang kreatif akan mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan mengelola kelas menjadi lebih menyenangkan sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat yang optimal. Sebagaimana yang dikemukakan Adam & Decey (basic principleof student teaching) dalam kompetensi guru antara lain guru sebagai pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, partisipan, motivator dan konselor. Berikut bertujuan agar kemampuan atau kompetensi profesionalitas dari seorang guru sangat menentukan mutu pendidikan tidak hanya dalam mata pelajaran umum namun juga agama, moral, dan akhlak sehingga guru sebagai main person harus lebih meningkatkan kompetensinya karena guru juga harapan terbesar orang tua untuk anak-anak mereka.[8]

Baca Juga :  Kurangnya Lapangan Pekerjaan di Pulau Jawa

Melihat dari perkembangan pembelajaran yang ada, mewajibkan guru untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman sehingga mereka merasa senang saat belajar, seperti saat sedang belajar kepada sesama teman sebaya supaya mereka dapat saling bertukar pikiran dan belajar dengan cara mereka sendiri. Untuk itu kompetensi menjadi ukuran kemampuan guru dalam mendidik agar menghasilkan profesionalisme yang diharapkan bangsa dan negara.

KESIMPULAN
Moral terbentuk karena perkembangan pikiran akan suatu hal tentang baik dan buruknya, serta apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan dalam kehidupan. Tujuan pendidikan moral salah satunya agar terlaksana prinsip moral secara universal atau merata kepada semua orang seperti, hak tentang kebebasan maupun keadilan. Moral juga berkaitan dengan karateristik seseorang hanya dengan melihat sikap atau perilakunya orang dapat menilai moral seseorang baik atau buruk, tergantung dengan kebiasaan mereka. Oleh sebab itu kita harus sadar akan pentingnya nilai moral pada anak zaman sekarang yang perlahan mulai luntur. Perkembangan teknologi membuat anak zaman sekarang cenderung menyepelekan moral, hal itu dapat berdampak buruk bagi lingkungan sekitarnya. Banyaknya kasus bullying atau kekerasan pada anak disebabkan oleh moral yang sudah hilang

DAFTAR PUSTAKA
1.       Haines et al, 2019. “STUDI EVALUASI KINERJA GURU KELAS MI BERSERTIFIKASI IJAZAH NON-PGMI TERHADAP KOMPETENSI PEDAGOGIK DAN PROFESIONAL DI KABUPATEN MAGELANG.” Journal of Chemical Information and Modeling 53, no. 9 (2013): 1689–99. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004.
2.       Mahasiswa, Pada, Yang Mengajar, D I Sekolah, Dasar Dan, and Madrasah Ibtidaiyah. “Syamil PROGRAM STUDI PGMI IAIN SAMARINDA : STUDI” 6, no. 2 (2018): 233–46.
3.       MI, MEMBANGUN KECERDASAN MORAL PADA SISWA. “MEMBANGUN KECERDASAN MORAL PADA SISWA MI,” 1385, 1–20.
4.       Nudyansyah. “Peningkatan Moral Berbasis Islamic Math Character,” 2018. http://www.riset.unisma.ac.id/index.php/jpm/article/download/724/723.
5.       Pendidikan, Jurnal, Madrasah Ibtidaiyah, Creative Commons, Attribution Non, and International License Available. “JPMI : Jurnal Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Volume 1 Nomor 3 Juli 2019 e-ISSN: -” 1 (2019).
6.       Thomas, Lickona. Educating for Character (Mendidik Untuk Membentuk Karakter). jakarta: Bumi Aksara, 2013.

Catatan Kaki
[1] Nudyansyah, “Peningkatan Moral Berbasis Islamic Math Character,” 2018, http://www.riset.unisma.ac.id/index.php/jpm/article/download/724/723.
[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Moral
[3] http://beritajambi.co/read/2017/04/28/970/pengertian-moral–nilai-dan-fungsi-moral-bagi-kehidupan-manusia
[4] MEMBANGUN KECERDASAN MORAL PADA SISWA MI, “MEMBANGUN KECERDASAN MORAL PADA SISWA MI,” 1385, 1–20.
[5] Lickona Thomas, Educating for Character (Mendidik Untuk Membentuk Karakter) (jakarta: Bumi Aksara, 2013).
[6] Jurnal Pendidikan et al., “JPMI : Jurnal Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Volume 1 Nomor 3 Juli 2019 e-ISSN: -” 1 (2019).
[7] 2019 Haines et al, “STUDI EVALUASI KINERJA GURU KELAS MI BERSERTIFIKASI IJAZAH NON-PGMI TERHADAP KOMPETENSI PEDAGOGIK DAN PROFESIONAL DI KABUPATEN MAGELANG,” Journal of Chemical Information and Modeling 53, no. 9 (2013): 1689–99, https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004.
[8] Pada Mahasiswa et al., “Syamil PROGRAM STUDI PGMI IAIN SAMARINDA : STUDI” 6, no. 2 (2018): 233–46.
Oleh Devi Sakinatus Shofiyah

Tags: