Membumikan Kesadaran Berliterasi di Kalangan Guru dan Siswa

Membumikan Kesadaran Berliterasi di Kalangan Guru dan Siswa, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah guna meningkatkan daya baca siswa. Sedangkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menggerakkan literasi bangsa dengan menerbitkan buku-buku pendukung kepada siswa berbasis kearifan lokal. Semua guru harus aktif di dalam kegiatan GLS di lingkungannya bekerja. Karena guru itu ditiru maka harus dipercaya siswanya dengan memberikan berbagai contoh dan teladan. Bila guru aktif dalam berliterasi maka siswa-siswanya akan termotivasi mencontohnya.

Guru harus memiliki kesadaran penuh tentang literasi, agar kesadaran literasi mengembang dan tidak hanya berhenti di dalam kelas. Guru harus menyadari bahwa kegiatan literasi tidak sekedar membaca dan menulis. Namun banyak kegiatan berbau literasi. Diantaranya perpustakaan, majalah dinding, pojok baca, baca tulis Al-Quran, resensi buku, sinopsis, sinematografi, jurnalistik. Guru juga harus menyadari bahwa kegiatan literasi adalah mengembangkan kegiatan bernalar, dan kegiatan-kegiatan tersebut bisa melalui ekstra kurikuler. Kemudian dikembangkan dengan mengikuti atau bahkan mengadakan berbagai lomba bertema literasi.

Guru harus mampu mencontohkan literasi kepada para siswanya. Tentu semua harus dimulai dari diri sendiri. Selanjutnya ditularkan kepada siswa, sehingga guru harus berani untuk  memulai dan berani menjadi contoh bagi lingkungannya. Aktivitas literasi yang dilakukan guru harus tampak dalam aktivitas kesehariannya. Seperti meminjam buku-buku di perpustakaan. Meskipun terkesan sepele namun sebenarnya hal itu adalah awal yang besar. Dengan memulai menulis di majalah dinding baik bagi guru dan siswa merupakan awal berliterasi menuju kegiatan selanjutnya yang lebih besar. Hingga menuju Sagusabu dan Samusabu (Satu Murid Satu Buku)

Membaca tidak hanya membaca buku, majalah, atau berita online, namun kemampuan membaca sunatullah, yaitu alam sekitar kita. Menulis juga bukan hanya menulis laporan kesadaran literasi harus benar-benar tertanam pada guru dan siswa. Semua dimulai dengan keyakinan dan keberanian untuk memulai. Ingat pepatah pernah mengatakan, ‘perjalanan satu mil dimulai dari satu langkah’.
Oleh Silvia Mulyaning Diar

Baca Juga :  Dampak Negatif Dan Positif Penggunaan Gadget Terhadap Prestasi Siswa
Tags: