Perbedaan Tes Penempatan (Placement Test) dengan Tes Diagnostik (Diagnostic Test)

Tes Penempatan (Placement Test)

Dari segi fungsi tes yang ada di sekolah terbagi menjadi empat, salah satunya tes penempatan (placement tes). Tes penempatan adalah tes yang diberikan untuk menentukan tempat, tingkatan, kelompok belajar yang akan dimasuki oleh peserta didik mana yang paling tepat dalam proses pembelajaran. Tes penempatan juga bisa diberikan untuk mengetahui keadaan, kondisi, kemampuan peserta didik sebelum proses belajar dimulai, karena tes penempatan digunakan untuk penempatan pada program pendidikan atau program belajar mengajar yang tepat sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Placement test atau tes penempatan ini sudah dikenal sebagai ujian yang akan diberikan kepada peserta didik yang mau memasuki sebuah institusi untuk menentukan tingkatan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki dalam bidang tertentu. Sehingga bisa memperoleh kelompok yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Dalam sebuah institusi keberadaaan placement test atau tes penempatan itu sangat penting, jika tidak ada placement tes akan menimbulkan kesulitan dalam hal pengelompokan atau penentuan tempat atau tingkatan yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu.

Sudah umum tes penempatan diberikan atau dibuat sebagai pretest, karena tingkat kesukaran soalnya relatif rendah.Dimana tujuan utamanya dari tes penempatan adalah untuk mengetahui apakah peserta didik memiliki keterampilan minimal yang diperlukan untuk mengikuti suatu program belajar dan untuk mengetahui sampai dimana peserta didik telah menguasai materi pembelajaran, memperoleh pengalaman belajar dan mencapai tujuan pembelajaran yang tercantum dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dimana pretest tidak jauh berbeda dengan tes hasil belajar (Zainal, 2013: 36).

Pelaksanaan tes penempatan biasanya dilakukan diawal pembelajaran. hal ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kemampuan yang telah dimiliki oleh peserta didik (Djemari, 2012: 111). Fungsi tes penempatan digunakan untuk mendukung seberapa jauh pengetahuan awal peserta didik dalam suatu bidang studi (Suwarto, 2012: 127). Dengan menggunakan tes penempatan dapat membantu untuk melakukan tindak lanjut terhadap kemampuan awal yang dimiliki pesera didik. Tindak lanjut yang dapat dilakukan yaitu memberikan tambahan pelajaran yang bisa mendukung atau meningkatkan kemampuan peserta didik.

Baca Juga :  Strategi Dan Metode Pembelajaran Matematika Yang Efektif Bagi Siswa Mi Al Hikmah Kalidawir

Langkah-langkah pelaksanaan tes penempatan dapat dilakukan dengan beberapa tahapan diantaranya:

  1. Menyediakan tes tertulis
    1. Menentukan tingkat kelulusan  untuk masing-masing tingkatan sesuai dengan jenjang kriteria
    1. Melakukan pemeriksaan terhadap tes yang dilakukan dengan menggunakan pertimbangan jenjang kriteria yang telah dibuat
    1. Hasil jenjang kriteria  menjadi hasil penentuan sejauh mana level seseorang

 Menurut vidi (2014) Persiapan pelaksanaan tes penempatan ada beberapa tahapan yang didasarkan pada faktor-faktor pertimbangan: (1) faktor usia peserta yang mengikuti placement test yang dikategorikan menurut jenjang sekolah (2) faktor latar belakang pendidikan peserta yang mengikuti placement test. Kedua faktor diatas digunakan untuk bahan pertimbangan dalam melaksanakan placement test.

Tes penempatan (placement test) bisa berbentuk tes tertulis dan tes lisan atau wawancara. Tes tertulis bisa berupa tes pilihan ganda dan tes uraian yang telah dipersiapkan sebelumnya. Tes ini terbagi menjadi beberapa tingkatan pertanhyaan mulai dari dasar sampai tingkat tindak lanjut yang ,merujuknpada tingkat keterampilan. Tes lisan dirancang untuk memberi gambaran lebih lanjut dari kemampuan produktif pesrta yang mengikuti placement test. Bentuk pertanyaan disesuaikan dengan keterampilan yang telah ditentukan. Pertanyaannya bersifat fleksibel tetapi tetap dalam pengelompokan yang telah diadaptasi. Dalam tes penempatan yang sudah disusun juga perlu dilaksanakan analisis butir soal yang dilakukan secara kualitatif berdasarkan kaidah penulisan butir soal. Aspek yang akan dianalisa yaitu materi, konstruksi, bahasa, dan  kunci jawaban.

Tes Diagnostik (Diagnostic Test)

  1. Pengertian Tes Diagnostik

Menurut Depdiknas (2007:3) diagnostik adalah istilah suatu prose untuk mengidentifikasi atau mengetahui gejala-gejala yang ditimbulkan. Dalam pembelajaran istilah diagnostik dapat direalisasikan dengan sebuag test, Dengan tujuan untuk mengetahui kelibihan dan kelemahan- kelemahan yang dimiliki oleh siswa dalam pembelajaran. Sedangkan menurut Suwarto (2012 : 114) tes diagnostik adalah test yang digunakan untuk mengetahu kelemahan dan kesalahan dalam memahami sebuah konsep atau yang biasa dinamakan dengan miskonsepsi  pada toik tertentu dalam sebuah pembelajaran sehingga diketahui respon dari siswa dan memperbaiki kelemahannya. Tes diagnostik adalah rangkaian tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan peserta didik sehingga hasil  dari test tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk memberikan tindak lanjut berupa penanganan atau tindakan yang tepat dan sesuai dengan kelemahan yang dimiliki siswa. Tes ini dapat dilakukan pada awal pembelajaran, selama proses pembelajaran, dan akhir pembelajaran. Pada tahap awal tes ini dilakukan kepada para calon siswa sebagai input, untuk mengetahui pengetahuan awal dan sebagai prasyarat yang harus dikuasai siswa. Pada tahap proses guru melakukan tes diagnostik untuk mengetahui materi mana yang belum dikuasai oleh siswa agar nantinya guru dapat segera memberi perlakuan yang tepat, agar pengetahuan yang diberikan kepada siswa dapat tersampaikan secara merata dan tidak adasiswa yang tertinggal. Untuk tahap akhir tes diagnotik digunakan untuk mengetahui sejauh mana siswa dapat memahami materi-materi yang telah diajarkan oleh guru.

  • Fungsi Test Diagnostik
Baca Juga :  Perbedaan dan Persamaan Penilaian Acuan Norma (PAN) dan Penilaian Acuan Patokan (PAP)

Fungsi dialakuaknnya tes diagnostik ini adalah digunakan untuk mengidentifikasi atau mengetahui masalah atau kesulitan yang dialami siswa,  kemudian dilakunnya perencanaan terhadap tindak lanjut yang berupa upaya-upaya  pemecahan sesuai masalah atau kesulitan yang telah teridentifikasi. diagnostik dirancang untuk mendeteksi kesulitan belajar peserta didik sehingga dalam menyusun tes diagnostik harus diupayakan didesain sesuai dengan format dan respon yang dimiliki oleh tes diagnostik.  Selain itu tes diagnostik dikembangkan berdasar analisis terhadap sumber- sumber kesalahan atau kesulitan yang mungkin menjadi penyebab munculnya masalah siswa, dan pada tes ini sebaiknya menggunakan soal-soal uraian, karena soal uraian lebih dapat menunjukkan materi mana yang memang benar-benar menjadi kelemhan dari siswa. Semisal menggunakan soal pilihan ganda siswa akan cenderung menggunakan pertimbangan atau angan angan saja ketika menjawab dan itu tidak akan menghasilkan informasi yang lengkap, atau soal pilihan ganda yang disertakan dengan alasannya juga termasuk efektif untuk tes diagnostik ini. Alahkah baiknya juga bahwa soal-soal pada tes digolongkan sesuai bab materi sehingga mampu menangkap informasi secara lengkap dan mudah untuk mengidentifikasikan kelemahan dari siswa, dan dapat dilakukan upaya untuk mengambil keputusan dalam mencari jalan pemecahannya

Tags: