Pengertian Pengukuran

Pengukuran, penilaian, evaluasi, dan tes merupakan istilah yang hampir sama. Perbedaannya terletak pada fokus dan ruang lingkupnya. Pengukuran diartikan sebagai pemberian angka pada status atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh orang, hal atau obyek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas.

Pengukuran yang dilakukan bertujuan untuk menilai. Pengukuran ini dilakukan dengan jalan menguji hal yang ingin dinilai seperti kemajuan belajar dan sebagainya.

Menurut Mahrens, pengukuran dapat diartikan sebagai informasi berupa angka yang diperoleh melalui proses tertentu. Menurrut Arikunto (2010), pengukuran adalah membandingkan sesuatu dengan suatu ukuran.

Arikunto dan Jabar (2004) menyatakan pengertian pengukuran (measurement) sebagai kegiatan membandingkan suatu hal dengan satuan ukuran tertentu sehingga sifatnya menjadi kuantitatif.

Dalam dunia pendidikan, yang dimaksud dengan pengukuran sebagaimana disampaikan Cangelosi (1995), adalah pengumpulan data melalui pengamatan empiris. Proses pengumpulan ini dilakukan untuk menaksir apa yang telah diperoleh siswa setelah mengikuti pelajaran selama waktu tertentu. Pengukuran dapat diartikan sebagai sebuah proses atau aktivitas untuk menentukan kuantitas. Dalam hal ini objeknya berupa siswa, guru, sekolah ataupun gedung sekolah. Kegiatan pengukuran menjadi lebih rumit dan kompleks apabila digunakan untuk mengukur aspek-aspek psikologi seseorang seperti motivasi, sikap, minat, kreativitas, moralitas dan gejala psikologi lainnya. Pengukuran dalam dunia pendidikan contohnya, guru dapat mengukur penguasaan atau pemahaman pengetahuan tentang satu atau beberapa pokok bahasan pada mata pelajaran tertentu[1].

Dalam melakukan pengukuran, dapat menggunakan alat pengukur berupa tes ataupun nontes. Tes adalah sejumlah pertanyaan kepada taste yang memiliki jawaban benar atau salah. Sedangkan non tes adalah pertanyaan maupun pernyataan yang ditanggapi oleh taste atau responden dan tidak memiliki jawaban benar atau salah. Instrumen non tes biasanya berbentuk kuisioner atau inventori. Kuisioner biasanya diminta untuk memberikan pendapat atau dapat juga berupa lembar pengamatan, penilaian diri dan penilaian antar teman.[2]

Pengukuran dilihat dari cara melakukannya, dapat dikategorikan secara langsung maupun tidak langsung. Pengukuran langsung maksudnya proses penyekoran atau pemberian angka atas obyek yang diukur dilakukan secara langsung dengan melakukan cara dan kriteria tertentu. Contohnya mengukur berat dan tinggi badan siswa menggunakan timbangan dan alat ukur tinggi badan. Hasil pengukuran secara langsung menghasilkan pengukuran dengan ketepatan atau validitas yang tinggi, karena mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Sedangkan pengukuran tidak langsung adalah pengukuran yang dilakukan melalui indikator-indikator tertentu yang menggambarkan karakteristik obyek tertentu. Contohnya, seorang guru ingin mengetahui atau mengukur kompetensi siswa maka seorang guru dapat meminta siswa untuk melakukan serangkaian tugas dengan indikator-indikator tertentu. Hasil pengukuran tidak langsung pada umumnya tidak setepat pengukuran langsung.

Baca Juga :  Pengertian Moral Atau Etika

Menurut Zainul dan Nasution (2001) pengukuran memiliki dua karakteristik utama, yaitu: (1) penggunaan angka atau skala tertentu dan (2) menurut suatu aturan atau formula tertentu. Tanpa melakukan pengukuran, seorang guru tidak akan mengetahui kemajuan proses belajar mengajar yang dikelolanya. [3]

Pengukuran berdasarkan tujuannya dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :

  1. Pengukuran yang dilakukan untuk digunakan keperluan tertentu dan bukan untuk menguji sesuatu, misalnya : pengukuran dalam membuat pakaian. Penjahit pakaian akan mengukur panjang lengan, lebar bahu, panjang kaki, panjang bahu, ukuran pinggang dan sebagainya.
  2. Pengukuran yang dilakukan untuk maksud menguji, misalnya : pengukuran untuk menguji daya tahan batu batrai, pemakaian bahan bakar kendaraan dalam jarak tertentu dan sebagainya.
  3. Pengukuran untuk tujuan memberikan nilai, pengukuran ini dilakukan dengan cara menguji. Misalnya : untuk menilai hasil belajar peserta didik dalam rapor, maka pendidik melakukan ujian baik dalam bentuk tes maupun non tes. Pengukuran jenis ketiga inilah yang pada umumnya dikenal dalam pembelajaran. [4]

Untuk melakukan pengukuran, harus diupayakan terjadinya kesalahan seminim mungkin. Oleh karena itu, dirancang alat ukur yang dapat menghasilkan hasil pengukuran valid dan reliabel.

Terjadinya kesalahan pengukuran dapat bersumber atau berasal dari tiga hal, yaitu berasal dari alat ukur yang dipakai, objek yang diukur dan yang melakukan pengukuran. Misalnya suatu tes tidak dilakukan ujicoba terlebih dahulu dan dilakukan analisis butir, sehingga tidak diketahui tingkat kesulitan, daya beda, validitas dan reliabilitasnya. Dan kesalahan yang berasal dari objek yang diukur contohnya, guru mengadakan ulangan setelah peserta didik mengikuti kegiatan olahraga, sehingga mengikuti ujian dalam kondisi fisik yang lelah. Fungsi dan tujuan dari pengukuran adalah :

  1. Pengukuran berfungsi untuk mendapatkan hasil perbandingan atau nilai yang diperoleh ketika pengukuran tersebut selesai dilakukan.
  2. Pengukuran bertujuan untuk membandingkan sesuatu dengan satu ukuran yang serupa.
Baca Juga :  Pengertian Penilaian

[1] Dr. Undang Rosidin, Evaluasi dan Asesmen Pembelajaran(Yogyakarta : Media Akademi, 2017) hal 2

[2] Prof Dr. H. Djalali, Dr. Muljono, Pengukuran dalam Bidang Pendidikan(Diterbitkan Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta) hal 5

[3] Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan(Jakarta : Bumi Aksara, 2013) hal 5

[4] Ibid. Hal 7

Tags: