Langkah-langkah Pemilihan Media dalam Proses Pembelajaran

Langkah-langkah pemilihan media audio-visual berupa film dalam proses pembelajaran hendaknya memperhatikan hal-hal berikut :

  1. Film harus dipilih sesuai dengan tujuan pembelajaran. Hubungan film dengan tujuan pembelajaran menurut Andreson (1987:116-117), yaitu : Film untuk tujuan kognitif dapat digunakan untuk mengajarkan pengenalan makna sebuah konsep, seperti konsep jujur, sabar, demokrasi, dan lain-lain. Dan film juga dapat digunakan untuk mempengaruhi sikap dan emosi.
  2. Guru harus mengenal film yang tersedia dan terlebih dahulu melihatnya untuk mengetahui manfaatnya bagi pelajaran.
  3. Sesudah film dipertunjukkan, perlu diadakan diskusi, yang juga perlu dipersiapkan sebelumnya. Agar siswa melatih diri untuk mencari pemecahan masalah, membuat dan menjawab pertanyaan.
  4. Sebaiknya film tertentu perlu diputar dua kali atau lebih untuk memperhatikan aspek-aspek tertentu.
  5. Supaya siswa tidak memandang film sebagai media hiburan belaka, yang mana siswa diberi wawasan untuk memperhatikan bagian-bagian tertentu.
  6. Sesudah itu dapat di beri pertanyaan atau di uji coba seberapa banyak yang dapat mereka tangkap dari film itu.

Dalam rangkaian kegiatan untuk mewujudkan  gagasan menjadi program film atau video secara bertahap menurut Arief S. Sadiman, dkk. (1990:156-158) hendaknya dilakukan melalui pembuatan synopsis, storyboard atau perangkat gambar cerita, skrip atau naskah program, dan scenario atau naskah produksi.(Falahudin, 2014)

  1. Synopsis, yaitu gambaran secara ringkas dan padat tentang tema atau pokok materi yang akan digarap. Tujuan utamanya untuk mempermudah pemesan menangkap konsepnya, mempertimbangkan kesesuaian gagasan dengan tujuan yang ingin dicapainya.
  2. Storyboard (perangkat gambar cerita ), adalah rangkaian kejadian yang akan divisualkan dalam bentuk gambar atau sketsa sederhana pada kartu berukuran kurang lebih 8×12 cm. Tujuan pembuatan storyboard ini antara lain untuk melihat apakah tata urutan peristiwa yang akan divisualkan telah sesuai dengan garis cerita atau plot maupun sekuens belajaranya. Storyboard juga dapat digunakan sebagai moment-moment pengambilan menggantikan apa yang lazim disebut shooting breakdown.
  3. Skrip atau naskah program, yaitu keterangan-keterangan yang didapat dari hasil eksperimen atau coba-coba dengan storyboard tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk skrip atau naskah program menurut tata urutan yang dianggap sudah benar. Dalam pembuatan film maupun video, skrip atau naskah program ini merupakan daftar rangkaian pristiwa yang akan dipaparkan gambar demi gambar dan penuturan demi penuturan menuju tujuan perilaku belajar yang ingin dicapai. Tujuan utama suatu skrip atau naskah program adalah sebagai peta atau bahan pedoman bagi sutradara dalam mengendalikan penggarapan substansi materi ke dalam suatu program. Karena itu skrip yang baik akan dilengkapi dengan tujuan, sasaran, synopsis, treatment.
  4. Scenario atau naskah produksi, yaitu petunjuk operasional dalam pelaksanaan produksi atau pembuatan program. Jadi perbedaan dengan skrip yaitu bahwa skrip terutama ditujukan untuk bahan pegangan sutradara sementara scenario sangat bermanfaat bagi teknisi dan kerabat produksi yang akan melaksanakannya dengan tanggung jawab teknisi operasional.
Baca Juga :  Penerapan Akhlaq Pada Pendidikan Karakter Di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Gresik Pada Era Globalisasi

Secara teknis ada banyak istilah yang digunakan dalam pengambilan gambar film, menurut Arief S. Sadiman teknik dasar dalam pengambilan gambar untuk film adalah long shot, medium shot, dan close up. Long shot adalah pengambilan yang memperlihatkan latar secara keseluruhan dalam segala dimensi dan perbandingannya, sedangkan medium shot yaitu pengambilan subjek yang pokok secara lebih dekat dan membuat detail yang kurang perlu, dan close up yaitu pengambilan yang memfokuskan pada subjeknya atau bagian tertentu. (Sadiman, 2012)

Penemuan medium film atau gambar hidup yang sering disebut dengan movie dalam bahasa inggris ini adalah proses kopleks yang melibatkan sejumlah trobosan. Gambar hidup, seperti yang kita ketahui sekarang, tidak mungkin terjadi tanpa ditemukannya teknologi fotografi dan perekaman suara.

Semua ide dibalik gambar hidup muncul dengan penemuan bahwa kalau serangkaian gambar diam berurutan yang diletakkan rapat-rapat ditunjukkan berganti-ganti dengan kecepatan tinggi, sehingga orang yang melihatnya akan mengalami ilusi seolah-olah terdapat gerakan.

Saat ini dengan berkembangnya teknologi, peralatan film sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan teknologi perfilman yang serba digital, telah memberikan kemudahan kepada kita sebagai praktisi pendidikan, untuk meningkatkan dan mengembangkan pemanfaatan film-film pendidikan yang lebih kreatik dan inovatif.

Tags: