Sejarah Perkembangan Kurikulum di Indonesia

  • Whatsapp
Undangan Digital
Kurikulum di Indonesia dipengaruhi oleh adanya tatanan sosial politik di Indonesia. Negara-negara penjajah yang tinggal di wilayah Indonesia juga ikut mempengaruhi sistem pendidikan di Indonesia. Persekolahan anak-anak pribumi untuk golongan non priyayi menggunakan pengantar bahasa daerah, Namanya sekolah desa 3 tahun.
Mereka yang berhasil menyelesaikannya boleh melanjutkan ke sekolah sambungan selama 2 tahun. Dari sini mereka bisa melanjutkan guru atau mulo pribumi selama 4 tahun, inilah sekolah paling atas untuk bangsa pribumi biasa. Untuk golongan pribumi masyarakat bangsawan bisa memasuki His Inlandsche School selama 7 tahun, mulo selama 3 tahun, ada Algemene Middlebare School selama 3 tahun.

Indonesia telah mengalami 12 kali perubahan kurikulum selama 70 tahun merdeka. Rinciannya adalah pada zaman orde lama atau pada saat presiden Soekarno berkuasa, pernah terjadi 3 kali perubahan, yaitu kurikulum rencana pembelajaran tahun 1947, kurikulum rencana Pendidikan sekolah dasar tahun 1964, dan kurikulum sekolah dasar pada tahun 1968.

Pada zaman Orde Baru (Orba) atau zaman presiden Soeharto berkuasa, terjadi 6 kali pergantian kurikulum, yaitu Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) tahun 1973, Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, dan Revisi Kurikulum 1994 pada tahun 1997. Usai zaman Orba berakhir atau dimulainya masa reformasi terjadi 3 kali perubahan kurikulum, yaitu Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2004, Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP) tahun 2006 dan terakhir Kurikulum 2013.

Bacaan Lainnya

Kurikulum 1947

Kurikulum ini merupakan kurikulum pertama sejak Indonesia merdeka. Kurikulum 1947 atau disebut juga rentjana kurikulum. Perubahan arah kurikulum lebih pada politis , dari orientasi Pendidikan belanda ke kepentingan nasional. Saat itu ditetapkan asas pendidikan ditetapkan Pancasila. Kurikulum ini ada ketika masa merdeka. Oleh sebab Pendidikan yang diajarkan lebih mengara pada pembentukan karakter pada warga negara Indonesia. Kurikulum 1947 kemudian disempurnakan dengan kurikulum 1952

Baca Juga :  Corona Membuat Kehidupan Sosial Keluar Dari Zona Nyaman
Kurikulum 1964

Kurikulum ini dirancang pada akhir pemerintahan presiden Soekarno. Isu yang berkembang pada saat itu adalah pembelajaran akan dibentuk dengan suasana aktif, kreatif, dan produktif sehingga para pendidik diharuskan untuk membimbing peserta didik agar mampu memecahkan masalah. Cara belajar yang dijalankan berupa metode gotong royong terpimpin.[1] Selain itu pemerintah juga menetapkan hari sabtu sebagai krida yang mana bertujuan agar anak-anak dapat melatih kesenian, olahraga, dan kebudayaan yang disukai oleh anak. Pada kurikulum ini terjadi perubahan pada penilaian rapot untuk kelas I dan II yang semula menggunakan angka 1-100 menjadi huruf A,B,C, dan D. Kurikulum 1968

Pos terkait