Keberhasilan Pembelajaran

Kualitas pembelajaran pada pendidikan anak usia dini dapat dilihat dari segi proses dan dari segi hasil. Dari segi proses, pembelajaran dikatakan berhasil dan bekualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (85%) anak terlibat secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat yang besar, dan rasa percaya pada diri sendiri.

Dari segi hasil, pembelajaran dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri anak seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (85%). Lebih lanjut proses pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila masukan merata, menghasilkan output yang banyak dan bermutu tinggi, serta sesuai dengan kebutuhan, perkembangan masyarakat, dan pembangunan.

Untuk memenuhi tuntutan tersebut, perlu dikembangkan pengalaman belajar yang kondusif untuk membentuk manusia yang berkualitas tinggi, baik mental, moral, maupun fisik. Hal ini berarti pembelajaran harus ditekankan pada penghayatan yang disertai pengalaman nilai-nilai konatif, afektif, yang dimanifestasikan dalam perilaku (behavioral skill) sehari-hari. Metode serta strategi pembelajaran dan permainan yang kondusif perlu dikondisikan untuk mengembangkan potensi anak secara optimal.

Keberhasilan pembelajaran anak usia dini dapat dilihat dalam jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang, dengan kriteria sebagai berikut:

Jangka Pendek sekurang-kurangnya 85% isi dan prinsip-prinsip pembelajaran dapat dipahami, diterima, dan diterapkan oleh anak didik dan guru di kelas.

  1. Sekurang-kurangnya 85% peserta didik merasa mendapat kemudahan, senang dan memiliki kemauan belajar yang tinggi.
  2. Anak-anak berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.
  3. Materi yang dikomunikasikan sesuai dengan kebutuhan anak dan mereka memandang bahwa hal tersebut akan sangat berguna bagi kehidupannya kelak.
  4. Pembelajaran yang dikembangkan dapat menumbuhkan minat belajar lebih lanjut (continuing).

Jangka Menengah

  1. Adanya umpan balik terhadap para guru tentang pembelajaran yang dilakukannya bersama anak-anak.
  2. Anak-anak menjadi insan yang kreatif dan mampu menghadapi berbagai permasalahan yang dihadapinya.
  3. Anak-anak tidak memberikan pengaruh negatif terhadap masyarakat lingkungannya dengan cara apa pun.
Baca Juga :  Komponen-Komponen Teori Elaborasi

Jangka Panjang

  1. Adanya peningkatan mutu pendidikan, yang dapat dicapai oleh PAUD melalui kemandirian dan inisiatif kepala sekolah dan guru dalam mengelola dan mendayagunakan sumber-sumber belajar.
  2. Adanya peningkatan efisiensi dan efektivitas pengelolaan dan penggunaan sumber belajar, melalui pembagian tanggung jawab yang jelas, transparan, dan demokratis.
  3. Adanya peningkatan perhatian serta partisipasi warga dan masyarakat sekitar yang dicapai melalui pengambilan keputusan bersama.
  4. Adanya peningkatan tanggung jawab PAUD kepada pemerintah, orang tua, dan masyarakat pada umumnya berkaitan dengan mutu layanan, baik dalam intra maupun ekstrakurikuler.
  5. Tumbuhnya kemandirian, bersifat adaptif dan proaktif serta memiliki karakter dan jiwa kewirausahaan yang tinggi (ulet, inovatif, dan berani mengambil risiko).
  6. Terwujudnya proses pembelajaran yang interaktif, motivatif, menyenangkan, menantang, dan memberikan ruang gerak yang leluasa kepada peserta didik.
  7. Terciptanya iklim sekolah yang aman, nyaman dan tertib sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan tenang dan menyenangkan (enjoyable learning).
  8. Adanya proses evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.

Tags: