Relakan atau tidak sama sekali

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan, yang tak luput dari kesalahan dan dosa. Manusia tempat salah dan lupa, ia bertobat dan akan mengulangi kesalahannya lagi. Terkadang ia berjanji tidak akan mengulangi lagi, tapi suatu saat akan muncul pikiran untuk mengulanginya sekali lagi, lalu bertaubat dan berjanji untuk tidak mengulaginya kembali. Tapi itulah khakikat manusia, pemilik hawa nafsu, memiliki syahwat untuk melakukan kesalahan kembali. Namun, semua akan kembali kepada dirinya sendiri, dan bergantung dengan seberapa kuat benteng yang dibuat.

Seorang remaja berusia kurang lebih 15 tahun hingga berkepala dua yang memiliki jiwa emosional yang sangat kuat, disaat tersebut pastinya ia menginginkan segalanya dan harus digapai dengan berbagai cara. Terkadang saking semangatnya, mereka menghalalkan cara untuk menggapai hasil tersebut. Ia selalu ingin dipandang oleh semua orang.   

Jika ada teman yang lebih darinya dia akan merasa iri hati dan merasa dendam. Perasaan itu akan selalu terbesit dalam benaknya, dan itu sebenarnya yang menjadi penghambat keberhasilannya. Rasa tidak puas itu yang akan menghantui perjalanan karirnya. Ia selalu merasa ada yang kurang dalam pencapaiannya. Dia memiliki hati yang kurang lapang, hal ini akan menyakiti dirinya sendiri.

Anak muda tersebut lelah dengan cara pandang yang lama. Kenapa semakin hari ia semakin memburuk perangainya. Bukan semakin membaik, malah sebaliknya. Ia selalu ingin memperbaiki dirinya, tapi ada satu rasa yang sulit dihentikan yaitu rasa dendam dan iri hati. Dan suatu hari, dia mendapatkan motivasi entah darimana dan bagaimana, semua seakan sudah teratur dari sananya. Dia mencari sudut pandang lain, yaitu apasih yang akan didapat dari semua ini? kenapa dia harus mengejar sedemikian rupa, dengan mengorbankan waktu dan tenaga untuk suatu yang sia-sia. Reputasi? Ketenaran? Uang? Harta? Tahta? Atau hal fana yang lainnya. Semua hanya ilusi dunia, memang itu ada tapi tidak ada nilainya. Semua terasa membahagiakan tapi saat sudah didapat sudah diraih dengan susah payah apa yang didapat? Semua terasa hampa, tidak ada secuil kebahagiaan yang terukir disana. Manusia akan merasa kurang kurang kurang dan kurang terus setiap harinya.

Semua telah diatur oleh sang Pencipta, ada garis masing masing untuk kehidupan setiap orang. Dia mengambil sudut pandang dengan satu kata yaitu “RELAKAN”, ya satu kata berjuta makna. Ada hikmah yang lebih indah dibalik kata itu. Dia merelakan apa yang sebenernya tidak bisa didapat, dia mengejar namun jika terlalu jauh dia akan merelakan semuanya. Dengan merelakan tersebut ada hadiah dari tuhan yang lebih indah dibanding sesuatu yang dikejar sebelumnya. Maha benar Allah atas segala firmannya.

Baca Juga :  Dampak Negatif Dan Positif Penggunaan Gadget Terhadap Prestasi Siswa

Adakah diantara kalian yang sama dengan kisah si pemuda ini? ya semua itu wajar sekali terjadi diantara kita. Perasaan itu selalu terbesit diantara benak kita, bagaimana kita menampisnya, sedikit atau banyak akan terselip dipikiran kita. Dendam dan iri hati semua berasal dari ketidakpuasan diri, dan kurang bersyukurnya jiwa ini. mulai sekarang ambilah sudut pandang yag berbeda. Semua kembali serahkan kepada yang maha kuasa, Lepaskan semua beban yang mengganjal di pikiran kita, relakan dan jangan berharap sesuatu itu akan kembali. Niscaya akan dikembalikan oleh yang maha pencipta. Allah tau kadar terbaik untuk kita, kita hanya ciptaan-Nya yang hanya mengira-ngira kebutuhan sesuai hawa nafsu, sesuai dengan keegoisan masing masing. Allah sutradara terbaik di semesta ini. dan sekali lagi, bahwa Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Berprasangka baiklah pada Allah, maka prasangka tersebut akan menjadi nyata. Semoga Allah mengampuni dosa dosa kita. Amiin…

Tags: