Langkah Islam dalam Menghadapi Globalisasi

Penguatan keislaman akan menjadi pegangan kita menghadapi Globalisasi. Kisah – kisah rasul yang menjdi tauladan untuk kita. seperti kata pepatah ”Tak kenal maka tak sayang”. Pelajaran penting dari fenomena-fenomena tersebut adalah bahwa dalam dunia yang penuh dengan kreasi ini, penuh dengan tantangan yang mengglobal seperti saat ini, yang harus kita lakukan adalah merasionalisasikan pemahaman yang kita yakini secara terbuka yang dilandasai oleh ‘penguasaan’ atas ilmu pengetahuan atau kemampuan ‘mendialogkan islam’ secara global dengan bahasa zamannya. Sehingga ketika melangkah itu dengan kepastian, ketika bersikap itu dengan ketegasan tanpa ragu sedikitpun.

Dan peran ‘berani tampil’ ini merupakan langkah cerdas yang lebih kontekstual dengan kondisi manusia saat ini. Karena tampilannya adalah tampilan yang mengedepankan kewarasan intelektual dan bukan emosional semata. Untuk selanjutnya, biarlah dunia menonton dan segera menjadikan islam sebagai referensi utama peradabannya.

Yang jelas, kebangkitan umat islam akan menjadi catatan sejarah dengan berbagai dinamika yang memiliki syarat-syaratnya tersendiri; yang tanpa itu kebangkitan hanya sekedar menjadi wacana dan tidak akan pernah ada dalam realitas kehidupan dan sejarah. Untuk itu, yang kita lakukan adalah merumuskan syarat-syarat itu, agar proposal kepemimpinan umat yang sering didengungkan bisa diwujudkan sesegera mungkin.

Kaderisasi atau regenerasi dan penyolidan simpul-simpul umat dan anak bangsa. Yang jelas, generasi muda mesti menceburkan diri dalam realitas umat. Generasi muda harus membawa diri ke ruang-ruang komunitas umat secara langsung. Hidup bersama mereka, memberikan pengarahan atas apa yang mereka bingungkan, memberikan jawaban atas apa yang mereka tanyakan. Sehingga yang terjadi adalah pembentukan pola pikir, pola tingkah, pola sikap dan seterusnya; dan tidak berhenti pada komunikasi dan hubungan berdasarkan kepentingan sesaat.

Artinya, Indonesia harus menjadi inisiator sekaligus pelaku utama kebangkitan islam dalam merekayasa peta baru peradaban dunia. Jika ini yang menjadi titik tolak obsesinya, maka dalam waktu yang tidak lama kebangkitan islam akan menjadi kenyataan, dan itu berawal dari Indonesia. Negeri ini adalah sebuah negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia. Karena itu, negeri ini idealnya mesti menjadi pelaku utama dalam meretas peran-peran besarnya sebagai juru bicara kebaikan-kebaikan Islam di belahan dunia.

Baca Juga :  Pengertian Moral Atau Etika

Kalau kita membaca sejarah kenabian Muhammad Saw., maka kita akan mendapatkan catatan penting bahwa kekuatan jaringan dan masifikasi diplomasi adalah dua hal yang menyatu dan tak terpisahkan dalam agenda perjalanan dakwahnya. Dengan dua kekuatan ini Rasulullah SAW. dan para sahabatnya mampu membangun sebuah peradaban besar sampai Madinah. Beliau dan para sahabatnya menjalin hubungan politis, ekonomis bahkan lintas budaya dengan berbagai suku dan tokoh-tokoh yang ada. Dari sini bisa kita pahami bahwa awal penyebaran islam diskenario oleh manusia-manusia yang sangat unggul dalam diplomasi untuk membumikan islam. Selain itu, tentu mereka juga memiliki keluasan jaringan. Sehingga sampai saat ini kita bisa melihat bagaimana islam itu berkembang dan diakui bahkan diyakini oleh banyak manusia sebagai satu-satunya ‘dien’ yang mampu menyeting peradaban untuk waktu yang cukup lama.

Melalui ayat tersebut juga bisa dipahami bahwa rahasia kekuatan umat islam terletak pada mafhum mukhalafah (pemahaman kebalikan) dari akhir ayat tersebut, yakni kefaqihan ummat pada agamanya. Kuncinya ada pada al-fiqh. Yang dimaksud al-fiqh di sini bukanlah fiqih dalam terminologi ilmu hukum Islam semata. Lebih dari itu, al-fiqh  sesuai dengan makna dasarnya adalah al-fahmud-daqiq atau pemahaman yang mendalam mengenai substansi dan berbagai sisi agama dan peradabannya. Jadi mengetahui (al-‘ilm) saja tidak cukup, perlu ditingkatkan ke level memahami (al-fahm). Tapi memahami juga tidak cukup, perlu pendalaman hingga pada tingkat pemahaman yang mendalam (al-fiqh) atau al-fahmud-daqiq.

Tags: