Corona Membuat Kehidupan Sosial Keluar Dari Zona Nyaman

Tahun 2020, Tuhan mempunyai sebuah skenario yang tidak pernah terfikirkan oleh manusia. Dunia diguncang hebat pada tahun 2020 ini oleh sebuah virus baru yang mematikan. Virus ini menyerang pada sistem pernafasan manusia, lebih tepatnya menyerang pada paru-paru. Virus ini di namakan dengan virus coronaatau covid-19.

Tahun 2020, Tuhan mempunyai sebuah skenario yang tidak pernah terfikirkan oleh manusia. Dunia diguncang hebat pada tahun 2020 ini oleh sebuah virus baru yang mematikan. Virus ini menyerang pada sistem pernafasan manusia, lebih tepatnya menyerang pada paru-paru. Virus ini di namakan dengan virus corona atau covid-19.

Sebenarnya virus ini tidak mematikan jika daya tahan tubuh kita tinggi. Sampai saat ini belum juga ditemukan obat untuk menyembuhkan dari virus ini, sekali lagi jika daya tahan tubuh kita kuat maka virus ini akan mati dengan sendirinya. Virus ini juga bisa musnah jika kita menerapkan cara hidup sehat, seperti halnya sepulang dari luar rumah mencuci tangan dengan air dan sabun atau cukup dengan hand sanitizer, rajin olah raga, menjaga pola makan dan masih banyak lagi, namun karena proses penyebarannya yang sangat cepat membuat masyarakat ketakutan, belum lagi virus ini dapat menyerang siapa pun baik muda maupun tua, bayi maupun dewasa, saya pernah menonton berita yang menyatakan seorang bayi terkena virus corona di China, seketika itu saya merasa kasihan dan mawas diri.

Virus corona ini banyak menimbulkan dampak pada aspek-aspek kehidupan manusia didunia. Salah satunya berdampak pada kehidupan sosial. Virus ini menyebar dengan cepat, jadi perlu tindakan nyata untuk menanganinya. Mayoritas negara-negara didunia ini mengambil langkah untuk pencegahan penyebaran virus ini dengan cara lockdown. Tidak banyak juga negara yang berssikap bodoh amat terhadap virus ini.

Presiden jokowi tergolong kepala negara yang cepat daan tanggap terhadap kasus virus corona ini. Korban yang terpapar virus corona meningkat cepat dari hari ke hari. Hal itu membuat pak Jokowi bergerak cepat mengambil langkah pencegahan penularan corona seperti halnya kebijakan social distancing, phiysical distancing, sekolah daring atau pun kuliah daring, mengapa Jokowi tidak melakukan lockdown seperti negara-negara lain? Karena keadaan bangsa Indonesia belum mampu untuk melakukan hal  tersebut. Masih banyak masyarakat yang berekonomi rendah sehingga tidak punya tempat untuk bernaung, perputaran ekonominya pun akan sangat terganggu, dan juga belum tersedianya bahan pokok yang mampu dibuat pesangon selama lockdown berlangsung, apalagi wilayah indonesia sangat luas, masyarakatnya majemuk, banyak ragam budayanya, tentu pegawai negara seperti polisi dan TNI tak akan mampu menangani gejolak masyarakat yang akan terjadi, maka keluarlah kebijakan social distancingdanphysical distancing.

Kebijakan tersebut memang dirasa sangat mengganggu aktifitas sehari-hari bahkan interaksi sosial yang biasanya kita lakukan dengan wajar. Kebijakan yang diupayakan sangat sulit diterapkan karena ciri khas masyarakat Indonesia adalah gotong royong membantu sesama. Apa lagi masyarakat desa yang sangat kental dengan budaya gotong royongnya, perlu penekan khusus untuk menerapkan kebijakan tersebut. Awal-awal kebijakan pak Jokowi diterapkan masyarakat di desa masih banyak yang kolot, bersikap bodoh amat dengan kebijakan tersebut. Masih banyak yang nekat keluar rumah tanpa keperluan mendesak, masih banyak warung kopi yang buka dan dipenuhi anak-anak remaja, masih nekat mengadakan hajatan pernikahan.

Baca Juga :  Pengertian Penilaian

Kebijakan physical distancing pada masyarakat desa semakin ditekankan. Setiap paginya beberapa polisi dan TNI berkeliling kepelosok pelosok desa memantau bagaimana keseharian masyarakat desa semenjak kebijakan tersebut di terapkan. Tak jarang polisi tersebut memberi penyuluhan-penyuluhan di warung kopi dan tempat-tempat ramai yang biasanya dibuat untuk berkumpul. Namun apakah kalian tau kebijakan physical distancing tak hanya membatasi ruang gerak masyarakat namun juga menjaga pikirin kita untuk selalu berpikir positif jangan sampai kebijakan ini malah mengekang pikiran kita, menjadikan orang-orang yang terkena COVID 19 sebagai suatu hal yang perlu di jauhi, dan kita merasa terlalu was was sehingga menimbulkan kecemasan diri, bukan seperti itu, maksud adanya kebijakan ini adalah agar masyarakat mengurangi aktivitas bertemu dan menambah kegiatan untuk keluarga dirumah, kembali melakukan hobi yang tertunda sehingga interaksi antar keluarga yang biasanya minim mendapat waktu lebih banyak.

Para perantau pun merasa nasipnya teriris, dengan adanya kebijakan physical distancing ini mereka diminta tetap menetap didaerah rantauannya. Kerinduan akan kebersamaan dengan keluarga semakin menjadi-jadi, apa lagi tak jarang ditanah rantauan kegiatan mereka hanya tidur-tiduran karena larangan bekerja. Pikirnya semakin miris tak ada guna ditanah rantauan tanpa ada uang yang dapat dikirimkan. Ditanah rantauan mereka memutar otak bagaimana cara bertahan hidup dengan uang sisa yang ada. Pengobat rindu mereka hanya pulang tapi keadaan tak mampu merealisasikannya. Untung saja teknologi dapat sedikit membantu mengobati rindu dengan bersapa ria lewat video call whatsapp. Lalu bagaimana nasip para perantau yang handphonenya masih jadul, pengobat rindunya tak ada. Mereka hanya pasrah mengirim salam rindu pada bait do’a setiap harinya.

Kehidupan sosial era COVID-19 yang bisa dikatakan miris mengapa demikian?, yang beruang yang berkuasa. Para kaum menengah keatas dengan seenaknya belanja semua kebutuhan sehari-hari atau kebutuhan bulanan. Mereka memborong kebutuhan pokok, sembako-sembako dengan egois tanpa memikirkan bagaimana nasip para kaum bawah, untuk membeli beras dan lauk untuk makan sehari saja masih bingung uang dari mana yang digunakan untuk membelinya. Sedangkan saat ini juga terjadi PHK besar-besaran. Tak jarang para pekerja membanting setir 180 derajat dari pekerjaan semula. Mencari peluang-peluang kerja yang sesuai dengan kondisi saat ini.

Baca Juga :  Pengertian Pengukuran

Pola kehidupan sosial di era COVID-19 ini sangat bergantung pada perkembangan teknologi. Mengapa demikian? Karena kebijakan pembatasan sosial ini membuat masyarakat terhalang bertatap muka atau berinteraksi maka perkembangan teknologi menjawab masalah tersebut, dengan whatsapp bisa dibuat grup perihal rekan kerja, teman sekelas sekolah atau kuliah, bahkan organisasi lainnya, atau dengan aplikasi zoom bisa dibuat diskusi organisasi, diskusi rekan kerja, bahkan presentasi mahasiswa dengan fitur vidcall berjamaah. Demi lancarnya tugas menghibur masyarakat yang tetap stay at home program televisi di design dengan siaran-siaran bertemakan stay at home, para artis, penyanyi, pelawak menghibur lewat vidcall berjamaah di rumah masing-masing tanpa harus datang ke studio televisi seperti biasanya.

Keadaan kehidupan sosial di era COVID-19 ini membuat manusia terlena, terlalu sibuk memperhatikan masa sekarang tanpa pernah berfikir kedepannya bagaimana. Pola kehidupan sosial kedepannya bisa jadi akan seperti ini dan juga bisa lebih baik lagi, mengapa demikian? Dari peristiwa COVID-19 ini dapat dibuat sebagai ulasan aspek kehidupan sosial apa yang perlu diperbaiki untuk kedepannya. Seperti halnya kurangnya infrastruktur teknologi yang memadai, di masa akan datang hal itu mampu dibenahi. Dan pola kehidupan yang seperti ini akan menimbulkan rindu berkumpul dengan teman kuliah, teman kerja, teman sekolah atau teman organisasi. Alhasil jika keadaan sudah membaik maka yang rindu akan dituntaskan dengan sebuah acara temu kangen tanpa sibuk dengan gadget masing-masing, melainkan sibuk bercerita bagaimana, apa saja aktifitas yang dilakukan selama mengkarantina diri dirumah. Yuyun Fitrianti

Tags: