Maraknya Pernikahan Dini Di Era Millenial

Millenial, istilah yang tak asing ditangkap oleh pendengaran kita, generasi millenial ini biasanya disebut dengan generasi Y, artinya generasi yang lahir pada tahun1980-1990 atau pada awal tahun 2000 dan seterusnya. Pada era Millenial ini peradaban teknologi informasi dan komuniksi semakin berkembang pesat, seperti adanya smartphone, laptop, televisi, akses-akses seperti itulah yang membuat informasi dari berbagai dunia dapat disajikan dengan cepat dan praktis. Tentunya setiap bangsa harus selalu mengikuti laju perkembangan tersebut, apalagi bagi generasi millennial, bagi generasi muda suatu hal yang wajib untuk selalu update akan dinamika peradaban yang terus merangkak maju, untuk itu eksistensi pemuda harus dinamis, dan progressif, karena peran pemuda di tengah-tengah masyarakat sangat relevan di era kekinian.

Tak dapat dipungkiri, dinamika kehidupan Global telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap eksisitensi kaum muda, baik dalm ranah agama, sosial, budaya dan politik. Berbicara mengenai pemuda maka suatu hal yang biasa jika bersangkutpaut dengan problematika, menghiraukan pun rasanya tak adil, karena dari hari ke hari problematika generasi muda semkain pelik, salah satunya yaitu maraknya pernikahan dini.Pernikahan merupakan hak setiapmanusia, seseorang yang melaksanakan acara terssebut tentu sudah memikirkan secara matang agar tidak menyesal seluruh hidup, pernikahan bagi manusia sendiri merupakan suatu hal yang kompleks karena dengan menikah manusia akan memperoleh keseimbangan hidup baik secara biologis, social dan psikologis. Dengan menikah juga maka akan muncul bibit-bibit unggul yang akan meneruskan estafet perjuangan peradaban bangsa, namun untuk menciptakan bibit yang nggul dibutuhkan bangunan keluarga yang berkualitas, dan untuk mencapai hal tersebut perlu adanya pondasi yang kuat.

Dewasa ini, pernikahan muda dikalangan remaja bukan lagi biasa disebut sebagai tradisi karena telah lama berkarat dalam konstelasi fakta social di Indonesia, terutambagi anak-anak usia muda, pernikahan dini telah melewati fase dari berbagai era, termasuk di era kontemporer, yang mana merupakanera meningkatnya Pendidikan akan tetapi peningkatan pernikahan dini makin  terus bergerak tak dapat dihentikan, memang untuk sebagian orang tidak meratanya Pendidikan dapat memicu timbulnya nikah dini, lemahnya kualitas Pendidikan tersebut karena saranadan prasarana belum terpenuhi secara kompleks, nyatanya jika Pendidikan tak mempu membendung laju pernikahan dini, bahkan jika dilihat saat ini trend nikah dini ini semakin eksis di kalangan remaja ibukota, terbukti dengan adanya pasangan muda yang memilih menikah dini hanya karena ikut-ikutan. Lantas mengapa hal ini bias terjadi? Dan bagaimana dampak yang ditimbulkan  bagi generasi muda, tentunya hal tersebut berpengaruh terutama dalam aspek ekonomi, social dan masyarakat.dilihat dari segi agama adalah baik, dalam al-quran (QS. Al Hujuraat (49):13)Juga disebutkan bahwa allah menciptakan manusia berpasang pasang, bahwa dengan menikah Pernikahan dini maka hubungan kedua orang (laki dan perempuan) menjadi halal, maka dari itu menikah juga disebut ibadah agar semua nya dapat terjaga antara garis keturunan , penjagaan mata , penjagaan kemaluan , dll . maka dari itu dianjurkan untuk segera menikah. 

Baca Juga :  Tujuan dan Orientasi hidup manusia dalam islam

Rasulullah saw juga berkata “Wahai generasi muda, barangsiapa diantara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barang siapa belum mampu hendaknya berpuasa sebab ia dapat mengendalikanmu”. (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud). Dengan begitu dari baik buruknya mungkin pernikahan dini merupakan sebuah solusi, inilah salah satu dasar munculnya pernikahan dini karena mereka beranggapan, daripada melakukan hal hal yang negtaiv seperti pacaran, mabauk-mabukan, berjudi dan lain sebagainya, maka pilihan orang tua dalah lebih baik menikah.  Akan tetapi dalam pernikahan pastilah timbul resiko yang harus diemban oleh setiap pasangan, salah satunya dalam segi biologis, dapat mengganggu kesehatan seperti HIV, AIDS, dan Komplikasi medis. Tak hanya itu maraknya pernikahan dini tanpa persiapan ilmu dan mental yang matang dapat menimbulkan goncangan terhadap stabilitas rumah tangga, dan berbagai problematika baru pada kehidupan, seperti pengangguran, kemiskinan, dan lain-lain.

Maraknya pernikahan dini khususnya di Indonesia menjadi sorotan tersendiri, karena dalam undang-undang telah diatur bagaimana dan siapa yang berhak melaksanakan pernikahan, di antara undang-undangnya berbunyi:UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 7 (1) Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun.Pasal 6 (2) Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin kedua orang tua b. UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 26 (1) Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk: mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak 1) menumbuh kembangkan anak sesuai dengankemampuan, bakat dan minatnya dan; 2) mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak.

Baca Juga :  Sejarah Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Menurut Fatimah hurin Jannah salah seorang yang mendukung pencegahan perkawinan anak mengatakan jika terkadang para remaja tidak berpikir secara matang saat memutuskan untuk menikah. Mereka menganggap jika menikah merupakan hal yang mudah dan menyenangkan tanpa tahu apa dampak yang akan dihadapi setelah menikah. pernikahan muda dengan pernikahan dini berbeda, dapat dikatakan pernikahan dini itu karena dilakukan sekitar umur belasan tahun.

Trending pernikahan dini ini disebabkan oleh beberapa factor diantaranya, adanya motif ekonomi, sebagian orang tua memiliki harapan atas keamanan social dan finansial sehingga setuju dengan pernikahan dini, adanya pengaruh budaya dari luar, contohya banyak fim-film luar yang menayangkan adegan romantic bahkan dewasa yang di pertontonkan bgi remaja, tentunya hal tersebut menimbulkan rangsangan negative bagi yang melihat, selanjutnya karena adanya keluarga yang harmonis, sehingga menyebabkan anak berpikiran dangkal dan melegalkan pernikahan dini. Padahal sebelum menikah harus mampu dari Ekonomi, mampu dari segi fisik , mampu dari segi mental, mampu dari segi pikiran , mampu dari agamanya, mampu sosialnya, dan mampu pendidikanya.

Jika kita tidak mampu untuk memenuhi apa yang ada di atas, bias saja mengancam hubungan pernikahan, apalagi saat nikah muda stabilitas emosi masih dalam masa labil, artinya masih naik turun jika ingin menuangkan kebahagiaan didalmnya dibutuhkan komitmen saling percaya, kejujuran dan saling memahami, jika tidak bebagai problematika akan timbul ke permukaan rumah tangga seperti, terjadinya perceraian, memang perceraian sering terjadi pada pernikahan duni,  dikarenakan saat anak-anak seusia mereka asyik menikmati masa muda, pasangan nikah dini sudah disibukkan dengan urusan rumah tangga contohnya, bagaimana mengurus rumah, anak, mengumpulkan uang dan lain sebagainya, akibat lainnya karena nikah muda membuat anak putus sekolah padahal Pendidikan sangat penting dalam hidupnya, masyarakat dan negara, di bidang kesehatan pernikahan dini dapat menimbulkan kanker servik karena diusia muda Rahim belum siap untuk melaksanakan tugasnya dengan optimal, masih rentan penyakit, selain itu resiko besarnya dapat menimbulkan kematian bayi. Dan masih begitu banyak lagi dampak negative dan positif pernikahan dini.

Baca Juga :  Dampak Virus Corona Terhadap Ekonomi Global

Saran saya pertimbangkanlah secara optimal dan matang jika akan memilih untuk melaksanakan pernikahan dini, dengan melihat untung ruginya, bagi para orang tua di harapkan sebisa mungkin untuk mengerti keadaan anak, bagaimana baiknya agar anak tidak salah dalam mengambil langkah, untuk kita generasi muda, kita bisa menggalangkan edukasi bagi para orang tua, remaja-remaja, peran guru disini juga sangat berpengruh untuk memotivasi para anak didiknya untuk melanjutkan sekolah sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Wahyu Hidayatulloh

Tags: