Gemar Berliterasi di Tengah Pandemi

Berliterasi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pengembangan diri dan wawasan. Budaya berliterasi ini dapat kita terapkan kapanpun dan dimanapun. Termasuk juga untuk mengisi kegiatan selama pandemi Covid-19 belum berakhir. Tentu dengan adanya aktivitas menarik seperti baca dan tulis ini akan membuat hari-hari kita lebih produktif.

Berliterasi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pengembangan diri dan wawasan. Budaya berliterasi ini dapat kita terapkan kapanpun dan dimanapun. Termasuk juga untuk mengisi kegiatan selama pandemi Covid-19 belum berakhir. Tentu dengan adanya aktivitas menarik seperti baca dan tulis ini akan membuat hari-hari kita lebih produktif.

Akan tetapi, tak semua individu menyukai literasi. Terlebih lagi generasi muda yang pada era digital ini lebih kecanduan game online. Namun, hal tersebut bukan berarti menyurutkan semangat dalam berliterasi. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menyikapi pudarnya minat membaca dan menulis di kalangan generasi muda.

Pertama, adanya gadget bisa dialihfungsikan. Dari yang semula hanya digunakan untuk bermain game online atau sekedar chatingan di media sosial, kini menjadi salah satu pintu gerbang literasi itu sendiri. Misalnya saja para pecandu game online bisa menulis tips dan trik bagaimana mereka bisa menghasilkan uang hanya dari permainan. Hal tersebut akan jauh lebih bermanfaat daripada hanya sekedar bermain game saja. Selain bisa menghasilkan uang dari game, pecandu game online tersebut juga bisa mengirimkan tulisan mereka ke media koran atau web lainnya. Ibaratnya sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

Kedua, munculnya minat berliterasi dapat didukung oleh lingkungan yang tepat dan dengan siapa mereka bergaul. Hal ini bisa dikarenakan pada masa remaja mereka cenderung untuk mencari jati diri mereka. Bahkan ada yang menyebutnya fase “Imitasi” atau meniru lingkungan dan orang-orang sekitarnya. Jadi, disini sangat diperlukan peran dari teman, guru, maupun orang tua untuk menanamkan budaya yang positif.

Ketiga, dalam penanaman budaya literasi, harus diimbangi dengan kesabaran. Setiap proses pasti akan membutuhkan waktu. Mereka akan belajar secara perlahan-lahan untuk menjadikan literasi sebagai kebiasaan. Untuk itu, tak akan cukup apabila tidak diimbangi dengan kesabaran. Sebab, untuk menjadikan sesuatu kebiasaan sangatlah diperlukan ketelatenan dan konsisten yang cukup tinggi.

Baca Juga :  Pembelajaran matematika materi perkalian Menggunakan alat peraga untuk siswa mi/sd

Keempat, selama musism pandemi ini kita bisa menerapkan istilahnya sistem kejar target. Hal tersebut bisa merubah mindset generasi muda yang semula “nanti saja” menjadi”kalau sekarang bisa, kenapa harus ditunda?”. Jadi, pembiasaan diri bisa disetting melalui hal ini. Sehingga generasi muda akan lebih disiplin dan produktif dalam bekerja.

Selain cara tersebut, menjadi gemar berliterasi di tengah pandemi masih dapat dilakukan dengan banyak upaya. Tinggal bagaimana cara kita mengatur waktu dan memiliki niatan yang cukup kuat. Sehingga, selama mengisi hari-hari dirumah akan menjadi lebih produktif daripada hari-hari biasanya.

Disamping itu, kita juga akan memperoleh manfaat yang besar dari gemar berliterasi. Misalnya saja, kita dapat mengabadikan momen dalam sebuah karya tulis. Tentu hal ini akan menjadi dambaan tiap manusia. Karena waktu tidak memiliki kesempatan kedua untuk diulang. Jadi, hargailah tiap detik dalam kehidupan dengan mengisinya hal-hal positif yang akan membuat pola pikir dan dirimu menjadi setingkat lebih di atas dari hari sebelumnya.

Tags: